• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Nasionalisme

Dalam dokumen 2 (Halaman 57-61)

PARADIGMA PEMAHAMAN PANCASILA

B. Pengertian Bangsa

1. Pengertian Nasionalisme

Pengertian dari nasionalisme sangat berkaitan erat dengan istilah nation dan nationality. Pengertian dari nation (bangsa) menurut Jacobsen dan Lipman (Aminudin, 1967 dalam Soegito, 2001: 60) adalah suatu cultural unity. Terjadinya cultural unity ini karena suatu masyarakat yang merupakan suatu persekutuan hidup yang berdiri sendiri dimana masing-masing anggota persekutuan

58

hidup itu merasa satu kekuatan dalam ras, bahasa, religi, sejarah, dan adat istiadat yang sama.

Sedangkan nationality adalah menunjukkan satu kesatuan keditian yang khas bagi suatu bangsa (dalam arti politik atau kenegaraan) yang dimanifestasikan dalam bidang social, politik, ekonomi, kebudayaan, ideologi dan psikologi baik ke luar maupun kedalam (Soegito, 2001: 61).

Nasionalisme menurut Suhadi adalah suatu sikap dimana kesetiaan, rasa cinta tanah air seseorang secara total diabdikan kepada bangsa dan negaranya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa nasionalisme adalah faham pendirian dan sekaligus keyakinan suatu bangsa di mana mereka merasa dalam satu ikatan kesatuan dan persatuan sebagai suatu bangsa baik ke luar maupun ke dalam.

Nasionalisme dibedakan menjadi dua, yaitu nasionalisme barat dan nasionalisme timur. Nasionalisme barat ini melahirkan liberalisme, kolonialisme, imperialism, facisme, dan komunisme (Ruslan Abdulgani, dalam Soegito, 2001: 65). Sedangkan nasionalisme timur lebih menekankan pada nation building dan karakter sesuai dengan falsafah dan pandangan hidup masing-masing negara serta ingin mengembalikan harga diri manusia yang menghilang karena kolonialisme dan imperialisme

Pengertian umum nasionalisme, mengacu pada awal pertumbuhannya, nasionalisme dapat dikatakan sebagai sebuah situasi kejiwaan dimana kesetiaan seseorang secara total diabdikan langsung kepada negara bangsa atas nama sebuah bangsa, misalnya para pejuang kemerdekaan mengatakan “lebih baik mati dari pada hidup dijajah”. Nasionalisme seperti ini sangat efektif sebagai alat perjuangan bersama merebut kemerdekaan dari cengkraman colonial, serta dipakai sebagai alat identifikasi untuk mengetahui siapa lawan dan kawan.

Para pengikut nasionalisme berkeyakinan bahwa persamaan cita-cita yang mereka miliki dapat diwujudkan dalam sebuah identitas politik dalam bentuk sebuah wadah yang disebut bangsa (nation). Tujuan bersama dapat direalisasikan dalam bentuk sebuah entitas organisasi politik yang dibangun berdasarkan geopolitik yang terdiri atas populasi, geografis dan pemerintahan yang permanen yang disebut negara atau state.

59

Hubungan antara nasionalisme dengan warganegara sangat erat karena secara hukum peraturan tentang kewarganegaraan merupakan suatu konsekuensi langsung dari perkembangan paham nasionalisme, dan lahirnya negara bangsa (nation) merupakan akibat langsung dari gerakan nasionalisme yang sekaligus telah melahirkan perbedaan pengertian tentang kewarganegaraan dari masa sebelum kemerdekaan. http://harnawatiaj.wordpress.com/

2008/04/16/paradigma-pendidikan-kewargaan/

Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris

“nation”) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Para nasionalis menganggap negara adalah berdasarkan beberapa “kebenaran politik” (political legitimacy). Bersumber dari teori romantisme yaitu “identitas budaya” debat liberalisme yang menganggap kebenaran politik adalah sumber dari kehendak rakyat, atau gabungan kedua teori itu.

Para ilmuwan politik biasanya menumpukan penyelidikan mereka kepada nasionalisme yang ekstrem seperti nasional sosialisme, pengasingan, dan sebagainya.

Nasionalisme merupakan sebuah penemuan sosial yang paling menakjubkan dalam perjalanan sejarah manusia, paling tidak dalam seratus tahun terakhir. Tak ada satu pun ruang sosial di muka bumi yang lepas dari pengaruh ideologi ini. Tanpa nasionalisme, lajur sejarah manusia akan berbeda sama sekali. Berakhirnya perang dingin dan semakin merebaknya gagasan dan budaya globalisme (internasionalisme) pada dekade 1990-an hingga sekarang, khususnya dengan adanya teknologi komunikasi dan informasi yang berkembang dengan sangat akseleratif, tidak dengan serta-merta membawa lagu kematian bagi nasionalisme.

Nasionalisme lebih merupakan sebuah fenomena budaya daripada fenomena politik karena dia berakar pada etnisitas dan budaya pramodern. Kalaupun nasionalisme bertransformasi menjadi sebuah gerakan politik, hal tersebut bersifat superfisial karena gerakan-gerakan politik nasionalis pada akhirnya dilandasi oleh motivasi budaya, khususnya ketika terjadi krisis identitas kebudayaan. Pada sudut pandang ini, gerakan politik nasionalisme adalah sarana mendapatkan kembali harga diri etnik sebagai modal

60

dasar dalam membangun sebuah negara berdasarkan kesamaan budaya (John Hutchinson, 1987).

Nasionalisme Indonesia berakar secara "alami" pada budaya lokal tidak memiliki landasan historis yang cukup kuat. Dari sini kita bisa mengambil satu kesimpulan, yang tentunya masih dapat diperdebatkan, bahwa Indonesia baik sebagai konsep bangsa maupun ideology, nasionalisme yang menopangnya adalah produk kolonialisme yang sepenuhnya diilhami oleh semangat modernitas di mana budaya Barat menjadi sumber inspirasi utama.

Makna Nasionalisme, Istilah nasionalisme digunakan dalam rentang arti yang kita gunakan sekarang. Diantara penggunaan-penggunaan itu, yang paling penting adalah :

1. Suatu proses pembentukan, atau pertumbuhan bangsa-bangsa.

2. Suatu sentimen atau kesadaran memiliki bangsa bersangkutan.

3. Suatu bahasa dan simbolisme bangsa.

4. Suatu gerakan sosial dan politik demi bangsa bersangkutan.

5. Suatu doktrin dan/atau ideologi bangsa, baik yang umum maupun yang khusus.

Proses pembentukan bangsa-bangsa itu sangat umum. Proses ini sendiri mencakup serangkaian proses yang lebih khusus dan acapkali membentuk objek nasionalisme dalam pengertian lain yang lebih sempit. Kesadaran atau sentimen nasional, perlu dibedakan dengan seksama dari ketiga penggunaan lainnya.

Gerakan nasionalisme tidak akan dimulai dengan aksi protes, deklarasi atau perlawanan bersenjata, melainkan dengan tampilnya masyarakat sastra, riset sejarah, festival musik dan jurnal budaya.

Bahasa dan simbolisme nasionalisme layak mendapatkan perhatian lebih. dan motif-motif yang ada pun akan berulang kali mucul dihalaman-halaman buku ini. Perlengkapan simbol-simbol nasional hanya dimaksudkan untuk mengekspresikan, mawakili, dan memperkuat batas-batas bangsa, serta menyatukan anggota- anggotanya melalui suatu citra yang sama mengenai kenangan.

Gerakan nasionalis, tentu saja simbolisme nasional tidak dapat diceraikan dari ideologi nasionalisme, penggunaan utama dan final dari istilah tersebut, ideologi nasionalisme memberikan dorongan dan arah bagi simbol maupun gerakan.

61

Ideologi nasionalisme telah didefeniskan dengan berbagai cara tetapi kebanyakan definisi tersebut tumpang tindih dan menyikapkan tema yang sama.

Nasionalisme adalah suatu ideologi yang meletakan bangsa dipusat masalanya dan berupaya mempetinggi keberadannya.

pernyataan ini agak kabur. Kita perlu melangkah lebih jauh dan menetapkan sasaran utamanya, tempat nasionalime barupaya mempertinggi derajat bangsa. Sasaran umum ini ada tiga otonomi nasional, kesatuan nasional dan identitas nasional.

Kerja nasionalisme : suatu gerakan ideologis untuk mencapai dan mempertahankan otonomi, kesatuan, dan identitas bagi suatu populasi yang sejumlah anggotanya bertekad untuk membentuk suatu ” bangsa ” yang aktual atau ” bangsa ” yang pontesial. Inilah definisi kerja yang didasarkan pada unsur umum dari ideal nasionalis yang mempunyai gaya sendiri, sehingga berkarekter induktif. Definisi ini mengikat ideologi pada gerakan yang berorientasi sasaran, karena sebagai ideologi, nasionalisme menetapkan jenis-jenis tindakan tertentu.

konsep inti ideologilah yang menetapkan sasaran gerakan, sehingga membedakannya dengan jenis gerakan lainnya. Kaitan erat antara ideologi dan gerakan tidaklah membatasi konsep nasionalisme sekadar sebagai gerakan yang mengupayakan kemadirian. Kata

‟mempertahankan‟ dalam definisi kerjanya itu mencakup pengaruh nasionalisme.

Dalam dokumen 2 (Halaman 57-61)