DISKURSUS KONSEPSI NEGARA ISLAM
A. Pengertian Negara Islam
Memahami Islam selalu bersinggungan dengan semua objek ilmu pengetahuan di alam raya ini. Islam dapat diterjemahkan sebagai problem solving dalam diskursus sosial, politik dan keagamaan yang dilewati umat manusia.1 Hal ini terjadi karena Islam memiliki nilai-nilai yang bersifat universal, sehingga selalu terhubung dengan tuntutan perkembangan zaman.2 Tidak jarang ditemukan bahwa Islam dijadikan sebagai sumber nilai terhadap perkembangan keagamaan dan ideologi politik dalam setiap negara yang mayoritas penduduknya muslim.
Permasalahan penyebutan negara Islam bagi sebagian umat Islam mungkin bagian dari faktor psikologis semata. Umat Islam butuh instrumen simbolik untuk memahami nilai keuniversalan Islam tersebut. Catatan sejarah politik Indonesia menjelaskan bahwa gerakan-gerakan politik yang bernuansa agama Islam hampir selalu berhadapan dengan praktek yang mengklaim sebagai perwakilan Islam.
Implikasi dari fenomena tersebut mengakibat muncul argumentasi yang berbunyi “Islam Yes Partai Islam No”.3
Argumentasi ini menjadi tema pembicaraan yang terus memicu polemik antar sesama cendekiawan di Indonesia, baik cendekiawan yang bergabung dengan partai politik maupun cendekiawan yang menjaga jarak dengan partai politik.
Berbagai literatur tidak jarang ditemukan bahwa bentuk negara Islam sering dihubungkan dengan negara-negara seperti 1 Marshal G.S Hodgson, The Venture of Islam: Iman dan Sejarah dalam Peradaban Islam, terj. Mulyadi Kartanegara, (Jakarta: Paramadina, 2002), hlm.37 2 Murtadha Muttahhari, Falsafah Pergerakan Islam, terj. Mohammad Sidik, (Jakarta, Amanah Press, 1988), hlm.13
3 Nurcholish Madjid, “Masa Depan Bangsa dan Negara”, dalam Jurnal Universitas Paramadina Volume.2, No.2, Januari, hlm.90
Turki, Pakistan, Arab Saudi, Iran dan Syiria.4 Namun tindakan pelabelan negara tersebut tidaklah berlandaskan kajian secara komprehensif.5 Dalam hal ini, sikap mengklaim tentang label negara Islam teresebut telah menghegemoni pikiran publik, sehingga negara-negara tertentu diidentikkan dengan negara Islam.
Berkaitan dengan Islam dan negara, beberapa cendekiawan muslim berbeda persepsi dalam memahaminya, perbedaan tersebut tercipta karena metode dan konteks yang dibicarakan berbeda-beda.6 Dinamika tentang negara Islam terus didiskusikan pasca Rasulullah Saw ketika menjadi pemimpin agama dan negara di Madinah. Banyak prestasi-prestasi dan kemaslahatan yang diciptakan rasul ketika memimpin Madinah, sehingga pengalaman Rasulullah Saw tersebut dijadikan acuan dasar para cendekiawan muslim dalam mengonsepsikan tentang negara Islam.7 Berikut terdapat beberapa pandangan cendekiawan muslim yang membicarakan konsep negara Islam.
1. Fazlur Rahman
Fazlur Rahman sering disebut-sebut sebagai tokoh yang mempersoalkan negara Islam. Akibatnya, diskursus negara Islam ala Fazlur Rahman sampai juga ke ranah publik dan intelektual di Indonesia. Keseriusan Fazlur Rahman dalam meneliti tentang negara Islam ditandai dengan beragamnya aspek yang ia teliti, mulai dari situasi sosial, keagamaan dan politik dari negara 4 Asep Gunawan, Artikulasi Islam Kultural, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014), hlm.114
5 Jhon L. Esposito, Islam dan Pembangunan, cet.II, terj. Sahat Simamora, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), hlm.91
6 Yusuf Al-Qardawi, Meluruskan Dikotomi Agama dan Politik, terj. Khairul Amru Harahap, (Jakarta: Alkautsar, 2008), hlm.18
7 J.Suyuthi Pulungan, Prinsip-Prinsip Pemerintahan dalam Piagam Madinah Ditinjau dari Pandangan Al-Quran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994) hlm.22
Pakistan hingga beberapa negara di Eropa.8 Fazlur Rahman menjelaskan bahwa syarat untuk menyebut suatu negara tidak ditentukan oleh apa agama penduduk negaranya atau pengakuan dari rakyatnya.9 Tetapi istilah negara Islam sangat di tentukan oleh organisasi yang dibentuk rakyatnya dalam rangka keinginan mereka dalam menerapkan nilai-nilai ilahiah.
Berdasarkan penjelasan di atas, dalam upaya mendefinisikan Negara Islam, Fazlur Rahman sangat fleksibel. Artinya bahwa tidak lebih penting memahami negara dari sebuah istilah, apapun nama negaranya, asalkan negara tersebut menerapkan nilai-nilai yang terdapat dalam Al-Quran secarah menyeluruh. Dalam hal ini Fazlur Rahman mencotohkan negara Pakistan. Sebelum terbentuknya negara Republik Rakyat Pakistan (RRP), pada awalnya negara Pakistan tersebut diwarnai dengan nilai-nilai ajaran Hindu. Pasca perjuangan dalam mendirikan negara Pakistan, rakyat Pakistan telah berupaya untuk mendirikan sebuah negara Islam.
2. Husain Haikal
Dalam memahami konsep negara Islam, Husain Haikal berpendapat bahwa tidak terdapat definisi yang baku untuk memahami konsep negara Islam. Negara Islam terbentuk berdasarkan prinsip-prinsip yang terdapat dalam Al-Quran, sehingga tidak mungkin mampu didefinisikan secara total.10
Negara Islam tumbuh dengan tiga prinsip universal, yakni prinsip persaudaraaan sesama manusia, prinsip persamaan antar manusia (egaliter) dan prinsip kebebasan manusia. Melalui prinsip-prinsip 8 Fazlur Rahman, Modernisasi Islam, terj. Taufik Adnan Amal, (Bandung: Mizan, 1990), hlm.17
9 M. Hasbi Amiruddin, Konsepsi Negara Islam Menurut Fazlurrahman, (Yogyakarta: UII Press, 2006), hlm. 83
10 Musdah Mulia, Negara Islam Pemikiran Politik Husain Haikal, (Jakarta: Paramadina, 2001), hlm. 8
tersebut, Husain Haikal menyimpulkan bahwa negara Islam tumbuh melalui sistem pemerintahan yang bersumber dari nilai tauhid yang dipahami secara universal.
Argumentasi Husain Haikal tersebut didukung oleh data sejarah Islam yang terdapat pada corak pemerintahan yang diakibatkan oleh faktor-faktor sosio-historis dan pengaruh dari kebudayaan berbagai bangsa. Oleh karena itu, Islam tidak memandang siapa yang menetapkan bentuk negara Islam. Sehingga Husain Haikal berkesimpulan bahwa disebut negara Islam adalah negara yang menjamin nilai ketauhidan dalam praktek musyawarah, egaliter yang berbalut nilai moralitas dalam Islam.
3. Nurcholish Madjid
Nurcholish Madjid sering merespon wacana negara Islam di Indonesia yang mulai berkembang pada masa orde lama dan orde baru. Dalam hal ini Nurcholish Madjid yang lebih akrab di panggil Cak Nur tersebut memberikan definisi yang berbeda tentang negara Islam. Cak Nur memposisikan negara Islam sama halnya dengan civil society (masyarakat madani). Tentunya konsep
civil society tidak dapat diartikan secara praktis.
Dalam beberapa karya Cak Nur tentang negara dan politik Islam sering kali Cak Nur menghindari penyebutan negara Islam, karena ia lebih menyukai istilah civil society. Civil society merupakan ruh untuk terbentuknya negara yang bernuansa aturan ilahi (negara Islam).11 Civil society tidak hanya sekedar campuran berbagai masyarakat dalam bentuk asosiasi, melainkan sebuah wadah bagi masyarat yang bersunguh-sungguh dalam mewujudkan nilai-nilai universal agama Islam dalam bentuk 11 Nurcholish Madjid, Cita-Cita Politik Islam, (Jakarta: Paramadina, 1999), hlm.147
membentuk peradaban umat manusia (ability).
4. Syafi’i Maarif
Syafi’i Maarif memiliki kerangka fikir yang unik dalam mendefinisikan konsep negara Islam. Menurutnya, Islam tidak dapat diartikan setara dengan negara.12 Alasannya adalah Islam (din) adalah suatu agama yang bersifat immutable (tetap) sedangkan negara (daulah) sesuatu yang bersifat mutable (berubah) sesuai dengan tuntutan ruang dan waktu.
Menurut peneliti, kekhawatiran Syafi’i Maarif dalam mendefinisikan negara Islam tersebut bukan berarti dirinya tidak setuju dengan konsep negara Islam, melainkan dirinya hanya khawatir ketika para khalayak keliru dalam memahami negara dan agama. Sehingga nantinya akan mengaburkan visi keuniversalan Islam itu sendiri.13
Berangkat dari analisis di atas, Syafi’i Maarif berkesimpulan bahwa negara Islam tidak diukur dari penyebutannya yang mengatasnamakan Islam. Namun demikian, negara Islam adalah negara yang memiliki prinsip-prinsip keuniversalan Islam yang menyinari sistem politik suatu negara.