BAB VI HUKUM SEBAGAI NORMA
A. Pengertian Norma
Didalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa manusia diciptakan tidak bisa hidup sendiri dan harus saling bergantungan, dan didalam Al-Qur’an juga dijelaskan bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbeda-beda golongan agar mereka bisa saling mengenal.280 Aristoteles seorang filsuf yunani kuno pernah mengatakan bahwa manusia itu adalah makhluk sosial (zoom politicon) tidak bisa hidup sendirian.281 Manusia di dalam menjalani kehidupannya tidak bisa hanya mengandalkan dirinya secara pribadi (individualistik). Didalam kehidupan manusia memerlukan bantuan dari manusia yang lain. Memang sudah takdirnya manusia hidup berdampingan dan saling berinteraksi dengan manusia yang lain.
Interaksi yang terbangun dan terjadi secara lama dan berkelanjutan menghasilkan sebuah komunitas atau perkumpulan-perkumpulan dan menjadi suatu yang komunal, sering kita kenal dengan istilah masyarakat (civil society).282 Manusia hidup bermasyarakat karena terdorong agar kepentingan-kepentingannya atau tuntutan-tuntutannya, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial, terpenuhi dan terlindungi. Manusia hidup bermasyarakat, bukan semata-mata agar kepentingan-kepentingannya terpenuhi, tetapi juga agar kepentingan-kepentingan yang telah terpenuhi itu juga dapat terlindungi. Memang kepentingan-kepentingan manusia yang tidak sedikit itu belum tentu dapat terpenuhi semua, atau dapat terpenuhi namun tidak
280
Al-Qur,an,49:3. 281
Riduan Syahrani, (2013), Op.Cit., hlm. 15 282
Bambang Tedjokusumo, (2014), “Dinamika Masyarakat SebagaiI Sumber Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial”, Geoedukasi Volume III Nomor 1, Maret, hlm. 39
sepenuhnya. Hal tersebut di samping tiap-tiap manusia mempunyai kepentingan yang banyak, alat pemuas atau pemenuhan kepentingan jumlah terbatas, sehingga di antara yang satu dengan yang lain dapat saling bertabrakan.
Manusia hidup bermasyarakat, kemungkinan disebabkan: merasa tertarik satu sama lain; merasa memerlukan bantuan atau perlindungan dari orang lain; merasa mempunyai kesenangan yang sama; merasa mempunyai hubungan kerja dengan orang lain dan lain sebagainya. Disamping itu, sebenarnya ada tuntutan kesatuan biologis yang terdapat pada naluri manusia, yang mendorong manusia hidup bermasyarakat, yaitu antara lain: hasrat untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum, hasrat untuk mengembangkan keturunan; hasrat untuk membela din/kepercayaan. Di dalam perjalanannya kehidupan dalam masyarakat tersebut maka akan muncul perselisihan yang pada akhirnya membentuk lahirnya aturan yang meskipun tidak tertulis maka aturan itu menjadi pegangan dalam masyarakat. Aturan tersebut biasanya bersifat tidak tertulis, namun ditaati dalam masyarakat. Aturan tersebut dikenal dengan istilah norma/kaidah.
Secara etimologi frasa “norma” berasal dari bahasa latin, sedangkan kata “kaidah” berasal dari bahasa arab. Norma berasal dari kata nomos yang berarti nilai dan dipersempit maknanya menjadi norma hukum. Sedangkan kaidah berasal dari kata “qo’idah” yang berarti ukuran atau nilai pengukur.283 Norma menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah aturan atau ketentutan yang mengikat warga kelompok dalam masyarakat, dipakai sebagai panduan, tatanan dan pengendali tingkah laku yang sesuai dan berterima.284 Pengertian norma menurut beberapa ahli, adalah sebagai berikut:
1. John J. Macioni. Menurut John J. Macionis menyatakan bahwa Norma ialah sebuah aturan-aturan
283
Jimmly Asshiddiqie, (2011), Perihal Undang-Undang, Jakarta: Rajawali Pers, hlm 1.
284
Norma (Def.1) (n.d). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online. Diakses melalui https://kbbi.web.id/norma, 18 Februari 2020.
dan harapan-harapan masyarakat yang memandu sebuah perilaku anggota-anggotanya.
2. Ultrecht. Menurut E. Utrecht menyatakan bahwa
Norma ialah segala himpunan sebuah petunjuk hidup yang mengatur berbagai suatu tata tertib dalam suatu masyarakat atau bangsa yang mana peraturan itu diwajibkan untuk ditaati oleh setiap masyarakat, jika ada yang melanggar maka akan ada tindakan dari pemerintah.
3. Robert Mz. Lawang. Menurut Robert Mz. Lawang
Norma ialah suatu gambaran yang mengenai apa yang diinginkan baik dan pantas sehingga menjadi sejumlah anggapan yang baik dan perlu dihargai seharusnya.
4. Ridwan Halim. Menurut A. Ridwan Halim menyatakan bahwa Norma ialah segala peraturan baik tertulis atau pun tidak yang pada intinya merupakan suatu peraturan yang berlaku untuk sebagai acuan atau pedoman yang harus dipatuhi oleh setiap individu dalam masyarakat.
5. Bagja Waluya. Menurut Bagja Waluya menyatakan
bahwa Norma ialah suatu wujud konkret dari nilai yang merupakan pedoman, yakni yang berisikan suatu keharusan bagi individu atau masyarakat dalam berperilaku.
Jadi secara definitif bisa kita artikan bahwa norma juga adalah nilai-nilai yang menjadi tolak ukur di masyarakat mengenai mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan/dilarang, itulah yang biasa disebut dengan norma yang berkembang dimasyarakat. Norma-norma tersebut disebut juga dengan norma sosial atau kaidah sosial yang merupakan peraturan hidup yang menetapkan atau mengatur bagaimana manusia harus hidup dan bertingkah laku dalam masyarakat. Dia adalah pedoman bersikap dan bertingkah laku dalam masyarakat yang berfungsi sebagai pelindung bagi kepentingan masyarakat itu sendiri baik secara individu maupun sebagai makhluk sosial.
Maka norma sosial ini adalah penjabaran secara konkrit dari nilai-nilai budaya yang ada dalam masyarakat. Hal itu berarti, kaidah sosial pada hakekatnya merupakan perumusan pandangan mengenai perilaku yang seharusnya dilakukan, yang seharusnya tidak dilakukan, yang dilarang dilakukan atau yang dianjurkan untuk dilakukan. Kaidah sosial sifatnya tidak hanya menggambarkan (deskriptif) dan menganjurkan (preskriptif), tetapi sifatnya mengharuskan (normatif). Kaidah sosial merupakan pernyataan atau kebenaran yang fundamental untuk digunakan sebagai pedoman berfikir atau melakukan kegiatan dengan menjelaskan dua atau lebih kejadian (variabel), misalnya: siapa yang tidak sholat, akan masuk neraka; siapa tidak bicara jujur, akan menyesal; siapa tidak sopan dan tidak menghormati orang tua, akan dicemoohkan masyarakat; siapa masuk rumah orang lain harus minta ijin terlebih dahulu; siapa mengendarai mobil lewat jalan tol harus membayar retribusi. Contoh-contoh tersebut merupakan suatu keharusan untuk dilaksanakan atau untuk tidak dilaksanakan, artinya kalau terjadi variabel yang satu, maka harus ada kejadian atau variabel yang lainnya. Variabel-variabel tersebut dapat bertambah, misalnya: siapa yang mencuri akan dihukum, variabelnya dapat bertambah: cara mencurinya, niatnya untuk apa, harus melalui proses pengadilan, harus ada bukti dan adanya sanksi.285