BAB II KAJIAN TEORETIK
2.1 Landasan Teori
2.1.4 Optimisme Akademik
2.1.4.1 Pengertian Optimisme Akademik
52
melibatkan proses berpikir menghubungkan berpikir positif dan mempertahankan sikap positif terhadap peristiwa kehidupan dan situasi.
Pengertian tersebut dijelaskan lebih lanjut oleh Safarina (2016: 21) bahwa optimisme merupakan suatu keyakinan tentang segala yang terjadi saat ini merupakan hal baik yang akan memberikan harapan dimasa depan sesuai apa yang kita angankan. Saat menghadapi suatu kesulitan, seseorang yang optimis yakin bahwa kesulitan baik bagi pengembangan diri dan dibaliknya pasti ada kesempatan untuk mencapai harapan. Waskito (2014: 44) mengartikan optimisme sebagai ciri kehidupan seseorang yang beriman yang merupakan rahasia dibalik keberhasilan disetiap perjuangan. Optimisme menyebabkan lahirnya keyakinan; dari keyakinan memunculkan suatu kesadaran; dari kesadaran melahirkan amaliah dan dari amaliah akan tercapainya hasil-hasil yang diharapkan. Tanpa memiliki optimisme, individu tidak akan mencapai suatu perjuangan. Optimisme memiliki lawan kata yaitu pesimisme. Optimisme diartikan sebagai suatu harapan positif, maka pesimisme diartikan sebagai putus harapan atau putus asa.
Dalam hubungannya dengan proses belajar di sekolah, menurut Toor (2009) optimisme akademik mirip dengan optimisme pada umumnya, namun dengan pengecualian yaitu fokus optimisme akademik lebih kepada domain kehidupan akademik. Optimisme akademik adalah kecenderungan umum untuk mengharapkan hasil positif dari segi personal terkait dengan pengalaman
53
akademis di masa kini dan masa depan (Toor, 2009). Optimisme akademik dapat memberi pengaruh positif terhadap siswa dalam meraih prestasi akademik yang baik di sekolahnya (Adams & Forsyth, 2011).
Seligman dalam Hoy (2006: 79) menjelaskan faktor lain yang mendukung kesuksesan dalam akademik yaitu Optimisme. Menurut Seligman, Optimisme yang dipelajari akan mengubah seseorang dari pesimisme yang dipelajari tidak hanya sebagai individu namun juga sebagai anggota dari kelompok/organisasi. Optimisme yang dijelaskan oleh Seligman tidak hanya Optimisme yang bersifat individual, namun juga Optimisme yang dibangun dalam kelompok/ system. Pada tahun 2006, Hoy mencoba mengembangkan konsep Optimisme dalam setting pendidikan.Penelitian yang mereka lakukan mencoba membuat konstruk baru yang disebut dengan optimisme akademik yang menghubungkannya dengan prestasi akademik.Konstrak Optimisme akademik ini memasukkan elemen kognitif, afektif dan behavioral dalam dimensi penyusunnya.Optimisme akademik dijelaskan dalam tiga dimensi yaitu academic emphasis, collective efficacy dan faculty trust in parents and students.Academic emphasis dijelaskan sebagai adanya fokus yang jelas tentang prestasi akademik dan mengembangkan budaya yang mengapresiasi prestasi.Collective efficacy merupakan kepercayaan dan keyakinan dari guru dan staff sekolah bahwa mereka mampu mendorong siswa untuk berprestasi.Faculty trust adalah kepercayaan bahwa orangtua dan siswa mampu
54
mendukung dalam mendukung upaya peningkatan proses pembelajaran.
Konstrak Optimisme akademik yang disusun oleh Hoy (2006) ini berdasarkan pada tiga pendekatan teori yaitu dari Coleman tentang teori modal sosial (social capital), Optimisme dari Seligman dan teori efikasi dari Bandura.
Konstrak ini disusun untuk menguji teori dari Coleman tentang Social Capital.
Coleman menjelaskan bahwa modal sosial (social capital) dijelaskan dengan fungsinya. Ia melihat modal sosial bukan sebagai satu entitas namun sejumlah entitas yang berbeda, dengan dua elemen umum yaitu : ia terdiri dari sejumlah aspek struktur sosial, dan memfasilitasi aksi dari pelaku- apakah individu atau organisasi dalam struktur. Lebih jauh lagi Hoy (2006 :72) membuktikan bahwa ada properti sekolah lain yang dapat mempengaruhi prestasi akademik yaitu Optimisme akademik. Optimisme akademik juga didasari dari pandangan Seligman, bahwa Optimisme yang dipelajari akan mengubah seseorang dari pesimisme yang dipelajari tidak hanya sebagai individu namun juga sebagai anggota dari kelompok/organisasi. Optimisme yang dijelaskan oleh Seligman tidak hanya Optimisme yang bersifat individual, namun juga Optimisme yang dibangun dalam kelompok/ sistem.
Sejak Hoy (2006: 80) mempublikasikan temuannya tentang konstrak baru yang disebut dengan Optimisme akademik, cukup banyak peneliti-peneliti lain yang melakukan penelitian dengan tema yang sama di Amerika, Australia, Afrika, Taiwan, Turki, Korea, Pakistan, Nigeria dan Iran. Penelitian-penelitian
55
ini juga melakukan pengembangan konstrak Optimisme akademik dengan menghubungkannya dengan variabel lainnya selain prestasi akademik, Perkembangan penelitian-penelitian dengan tema Optimisme akademik yang cukup luas di beberapa negara baik Amerika, Afrika, dan Asia membuat peneliti tertarik untuk menggali lebih jauh tentang hubungan optimisme akademik dan efektivitas kinerja.
Kreitner dan Kinicki (dalam Prasetya, 2021:100) optimis akademik merupakan kepercayaan seseorang terhadap kemampuannya untuk menjalankan tugas, di mana optimis berperan penting dalam menentukan keberhasilan seseorang. sedangkan Seligman dalam Sukardi (2006: 45) optimisme berpengaruh terhadap kesuksesan di dalam pekerjaan, sekolah, kesehatan, dan relasi sosial. Hal tersebut membuktikan bahwa sikap optimisme bermanfaat untuk memotivasi seseorang di segala bidang kehidupan. Dalam penelitiannya selama dua puluh tahun, yang melibatkan lebih dari lima ratus ribu orang dewasa dan anak-anak, didapatkan hasil bahwa orang pesimis memiliki prestasi yang rendah atau kurang di sekolah maupun di pekerjaan daripada orang yang optimisme. Maka dari itu Optimisme perlu dimiliki oleh setiap siswa agar mampu meraih kesuksesan, karena dengan Optimisme siswa akan termotivasi untuk menghindari prestasi akademik yang buruk dan berusaha untuk meraih prestasi akademik yang tinggi. Pada realitanya, terdapat siswa yang berprestasi dan tidak berprestasi dalam bidang akademik. Siswa yang berprestasi akademik
56
merupakan siswa yang mampu menjalankan proses belajar serta tugas-tugas di sekolah dengan baik sehingga berujung pada perolehan nilai yang baik yaitu nilai di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM). Namun ada juga siswa yang tidak dapat meraih prestasi akademiknya dengan baik yang cenderung memperoleh nilai di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pangestika (2016) memperoleh hasil bahwa siswa yang tidak berprestasi disebabkan oleh faktor internal yaitu berupa lelah ketika belajar sebesar 63%, kurang termotivasi saat memperoleh soal yang sulit sebesar 83%, sedangkan dari faktor eksternal yaitu kurangnya manajemen waktu belajar di rumah sebesar 51%, merasa takut untuk bertanya dengan guru sebesar 57%, serta keberadaan teman yang mengajak bermain terus menerus sebesar 61%. Hasil penelitian lainnya yang dilakukan oleh Lestari dkk (2016) di Sekolah Menengah Pertama swasta di kota Surakarta telah diperoleh data sebesar 37,5% siswa memiliki Optimisme yang tinggi di bidang akademik ataupun non akademik serta 62,5 % siswa yang memiliki Optimisme rendah di empat bidang akademik dan non akedemik.Kemudian, peneliti melakukan wawancara dengan guru BK, didapatkan gambaran bahwa siswa merasa tidak bahagia ketika berada di sekolah karena takut akan dihukum ketika tidak mengerjakan tugas dan merasa tidak mendapatkan perhatian dari orang lain.
Melalui hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan siswa berinisial AHP yang menduduki peringkat 24 dari 26 siswa di kelas berusaha untuk tetap
57
memperhatikan guru saat menjelaskan materi di kelas meskipun susah untuk dipahami. Oleh karena itu, subjek akan mengerjakan tugas sekolah sesuai dengan apa yang dipahami saja. Kemudian, peneliti juga mewawancarai dengan guru BK di SMP Muhammadiyah 1 Surakarta yang mengatakan bahwa dalam proses belajar mengajar siswa harus memiliki rasa keingintahuan yang tinggi.
Apabila tidak memahami penjelasan materi yang disampaikan guru saat dikelas, maka siswa dituntut aktif di kelas seperti bertanya dan mengeluarkan pendapat. Peneliti juga melakukan wawancara pribadi dengan salah satu wali kelas di SMP Muhammdiyah 1 Surakarta yang menyatakan bahwa di dalam proses belajar mengajar seorang siswa harus memiliki paham keyakinan atas segala sesuatu dan memilik harapan baik di segala hal bidang akademik karena Optimisme dapat membentuk karakter seorang siswa.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa optimisme akademik merupakan kontrol keyakinan atau sikap positif individu dalam mengharapkan hasil positif dari segi personal terkait dengan pengalaman akademisnya di masa kini dan masa depan yang dapat memberi pengaruh positif terhadap siswa dalam meraih prestasi maupun efektivitas kinerja akademik baik.