• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GAMBARAN DATA PAJAK HOTEL

B. Pengertian Pajak Daerah

Pemungutan pajak daerah yang saat ini didasarkan pada Undang undang Nomor 18 Tahun 1997 sebagaimana telah diubah menjadi Undang- undang Nomor. 34 tahun 2000 dengan mengatur pengertian tentang Pajak Daerah, yang disebut dengan Pajak Daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang- undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan daerah.

Sedangkan pengertian pajak daerah menurut Erly Suandi (2000 : 41) yaitu, pajak yang wewenang pemungutannya ada pada pemerintah yang pelaksanaanya dilakukan oleh Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda), pajak daerah diatur dalam undang- undang dan hasilnya akan masuk ke Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Menurut Mardiasmo (2003 :98) pajak daerah yaitu iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan balas jasa langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan

pemerintah daerah dan pembangunan daerah juga menigkatkan sumber penerimaan daerah. Sedangkan menurut Rochmat Soemitro (1997 :110) Pajak Daerah adalah pajak yang dipungut oleh daerah- daerah yang diantaranya yaitu daerah yang mengetahui darimana sumber pendapatanya yang berasal dari daerah itu sendiri seperti, provinsi, kotapraja, kabupaten/ kota.

Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pajak daerah merupakan pungutan oleh daerah dan bertujuan untuk pembiayaan rumah tangga daerah dimana pajak tersebut dipungut dalam rangka meningkatkan pembangunan daerah bersangkutan dan menyederhanakan berbagai pungutan daerah dalam rangka mengurangi biaya tinggi serta menyederhanakan sistem dan administrasi perpajakan untuk memperkuat pondasi penerimaan daerah khususnya daerah kabupaten/ kota, dengan mengefektifkan jenis pajak tertentu yang potensial guna kepentingan daerah tersebut.

C. PENGERTIAN PAJAK HOTEL 1. Pengertian Pajak Hotel

Pajak Hotel merupakan salah satu sumber pendapatan asli daerah kabupaten Asahan yang telah memberikan kontribusinya terhadap penerimaan daerah, yang dikenakan atas beberapa kriteria tertentu sesuai dengan pengertian pajak hotel itu sendiri. Adapun pengertian Pajak Hotel menurut Peraturan Daerah Kabupaten Asahan Nomor 13 Tahun 2001 tentang Pajak Hotel di Kabupaten Asahan adalah pajak atas hotel pelayanan hotel dan penginapan. Pengertian pajak hotel selanjutnya disebut

pajak adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan Peraturan Perundang- undang yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan Pemerintah Daerah dan Pembangunan Daerah.

Hotel adalah bangunan yang khusus disediakan bagi orang untuk menginap/ istirahat, memperoleh pelayanan dan atau fasilitas lainnya dengan dipungut bayaran, termasuk bangunan lainnya yang menyatu, dikelola dan dimiliki oleh pihak yang sama, kecuali untuk pertokoan dan perkantoran.

Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan pengertian hotel tersebut adalah :

a. Hotel merupakan suatu bangunan, lembaga, perusahaan atau badan usaha akomodasi.

b. Menyediakan fasilitas pelayanan saja yakni penginapan, makanan dan minuman serta jasa lainnya.

c. Fasilitas dan pelayanan tersebut dipergunakan untuk umum. d. Hotel berfungsi sebagai tempat tinggal sementara waktu. 2. Subjek, Objek, Dasar Pengenaan dan Tarif Pajak Hotel.

Pada Pajak Hotel dikenal istilah Subjek Pajak, yang berdasarkan peraturan daerah kabupaten Asahan Nomor 13 Tahun 2001 tentang Pajak Hotel Kabupaten Asahan adalah orang pribadi dan/ atau badan yang melaksanakan pembayaran atas pelayanan hotel/ penginapan.Sementara itu, yang menjadi wajib pajak adalah pengusaha hotel/ penginapan yang menerima/ memungut pembayaran dari subjek

pajak. Adapun pengertian pengusaha hotel dari kalimat di atas adalah perorangan atau badan yang menyelenggarakan usaha hotel/ penginapan untuk dan atas namanya sendiri atau untuk dari atas nama pihak yang menjadi tanggungannya.

Konsumen yang menikmati pelayanan hotel merupakan subjek pajak yang membayar (menanggung) sedangkan pengusaha hotel bertindak sebagai wajib pajak yang diberikan kewenangan umtuk memungut pajak dari konsumen (subjek pajak) dan melaksanakan kewajiban perpajakan lainnya.

Objek pajak hotel yang dikenakan terhadap pajak hotel adalah setiap pelayanan yang disediakan oleh hotel dengan pembayaran di hotel meliputi :

a. Fasilitas penginapan atau fasilitas tinggal jangka pendek, antara lain : gubuk pariwisata (cottage), motel, wisma pariwisata, hotel, dan losmen.

b. Pelayanan penunjang antara lain telepon, faksimili., telex, fotokopi, pelayanan cuci, setrika, taksi dan pengangkutan lainnya, yang disediakan atau dikelola hotel/ penginapan.

c. Fasilitas olah raga dan hiburan antara lain pusat kebugaran yang disediakan oleh hotel/ penginapan.

d. Jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atu pertemuan di hotel/ penginapan. Pada pajak hotel, tidak semua pelayanan yang diberikan oleh penginapan dikenakan pajak, terdapat beberapa pengecualian yang tidak termasuk objek pajak yaitu :

b. Fasilitas olah raga dan hiburan yang disediakan di hotel/ penginapan dengan pembayaran yang dipergunakan oleh bukan tamu yang menginap di hotel/ penginapan.

c. Pertokaoan, perkantoran, perbankan, salon yang dipakai oleh umum hotel/ penginapan.

d. Pelayanan perjalanan wisata yang diselenggarakan oleh hotel/ penginapan dan dapat dimanfaatkan oleh umum.

Pajak hotel pada dasarnya menganut System Self Assesment, dimana wajib pajak menganut, menyetor, melunasi dan melaporkan pajaknya sendiri berdasarkan kesadaran wajib pajak itu. Dalam menjalankan kewajiban perpajakannya wajib pajak dapat diwakili oleh pihak tertentu yang di perkenankan oleh undang- undang dan peraturan daerah tentang pajak hotel.

Dasar pengenaan pajak hotel adalah jumlah pembayaran yang dilakukan kepada hotel/ penginapan. Sedangkan pembayaran adalah jumlah uang yang harus dibayarkan maupun penggantian yang seharusnya diminta wajib pajak sebagai penukar atas pemakaian jasa tempat penginapan dan fasilitas penunjang termasuk pula semua tambahan dengan nama apapun juga dilakukan berkaitan dengan usaha hotel. Tarif pajak Hotel ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen) dari dasar pengenaan.

D. TATA CARA PEMBAYARAN PAJAK HOTEL

Tata cara pembayaran Pajak Hotel menurut Peraturan Daerah Kabupaten Asahan Nomor : 13 Tahun 2001

Sebagai berikut :

1) Wajib Pajak wajib mempergunakan billbond/ kuitansi/ tanda bukti pembayaran yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah.

2) Pembayaran Pajak yang terutang dilakukan di kas Daerah atau tempat lain yang ditunjuk oleh kepala Daerah, apabila pembayaran pajak dilakukan di tempat lain yang ditunjuk, hasil penerimaan pajak harus disetor ke kas Daerah selambat- lambatnya 1 x 24 jam atau dalam jangka waktu yang ditentukan oleh Kepala Daerah.

3) Pembayaran Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan menggunakan SSPD.

4) Bentuk , jenis, isi, ukuran SSPD, dan tata cara pembayaran serta tanggal jatuh tempo pembayaran pajak terutang ditetapkan oleh Kepala Daerah. 5) Tanda terima dari jumlah pembayaran sebagai dasar pengenaan pajak hotel

berupa Bill Bond/ Kwitansi/ Tanda Bukti Pembayaran dibuat rangkap 3 (tiga) yang penggunaanya harus dibubuhi tanggal dan tanda tangan oleh wajib pajak dan lembaran pertama diberikan kepada subjek pajak lembaran kedua diserahkan kepada Dinas Pendapatan Kabupaten Asahan, Lembaran Ketiga untuk wajib pajak. Sebelum pendapatan Kabupaten Asahan.

7) Warna dan bentuk billbond/ kwitansi/ tamda bukti pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat 4 ditentukan oleh kepala daerah.

8) Pajak yang terutang dilunasi selambat- lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak diterbitkan Surat Tagihan Pajak Daerah (STPD) atau Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB) atau Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT), atau Surat Keputusan Pembetulan atau Surat Keputusan Keberatan, atau Putusan Banding yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah.

9) Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan kepada wajib pajak untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak dengan dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan setelah permohonan wajib pajak memenuhi persyaratan yang ditentukan.

10) Tata cara pembayaran, penyetoran, tempat pembayaran, angsuran, dan penundaan pembayaran pajak diatur dengan keputusan kepala daerah.

E. PENAGIHAN

a. Tata Cara Penagihan

1) Surat Teguran diberikan kepada wajib pajak sebanyak- banyaknya 2 (dua) kali.

2) Surat Teguran pertama sebagai awal tindakan pelaksanaan penagihan pajak dikeluarkan 7 (tujuh) hari sejak saat jatuh tempo pembayaran.

3) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari sejak tanggal Surat Teguran Pertama wajib pajak belum melunasi Pajak Terhutang diberikan Surat Teguran terakhir.

4) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari sejak tanggal Surat Teguran Terakhir, wajib pajak harus melunasi pajak yang terutang.

5) Surat Teguran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikeluarkan oleh pejabat yang ditunjuk.

6) Apabila jumlah pajak yang masih harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu sebagaimana ditentukan dalam Surat Teguran Terakhir, jumlah pajak terutang yang harus dibayar ditagih dengan Surat Paksa.

7) Pejabat yang ditunjuk menerbitkan Surat Paksa segera setelah lewat 21 (dua puluh satu) hari sejak tanggal Surat Teguran Terakhir.

8) Apabila pajak yang harus dibayar tidak dilunasi dalam waktu 2 x 24 jam sesudah tanggal pemberitahuan Surat Paksa, pejabat segera menerbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan.

9) Setelah dilakukan penyitaan dan wajib pajak belum melunasi hutang pajaknya telah lewat 10 (sepuluh) hari sejak tanggal pelaksanaan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, pejabat mengajukan permintaan penetapan tanggal pelelangan kepada Kantor Lelang Negara.

10) Setelah Kantor Lelang Negara menetapkan hari, tanggal, dan tempat pelaksanaan lelang, juru Sita memberikan dengan segera secara tertulis kepada wajib pajak.

11) Bentuk, berjenis, warna, kualitas, dan isi formulir yang dipergunakan untuk pelaksanaan penagihan pajak daerah ditetapkan oleh kepala daerah.

b. Tujuan Penagihan

Penagihan bertujuan sebagai usaha penegakan hukum agar wajib pajak segera memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan perundang – undangan yang berlaku sehingga negara tidak dirugikan .

Kegiatan penagihan terdiri dari 2 macam yaitu :

1. Penagihan aktif yaitu penagihan yang meliputi proses paksaan , sampai pada proses lelang .

2. Penagihan pasif , yaitu penagihan yang dimulai dari proses peringatan sampai terbit surat teguran .

BAB IV

ANALISIS DAN EVALUASI

A. KONTRIBUSI, TARGET DAN REALISASI PENERIMAAN PAJAK HOTEL

1. Kontribusi Penerimaan Pajak Hotel

Pajak Hotel merupakan salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah. Pajak Hotel memberikan kontribusi yang cukup baik bagi Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Asahan, dimana pajak hotel merupakan salah satu pajak daerah yang membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan Daerah Kabupaten Asahan. Dibawah ini daftar penerimaan pajak hotel pada tahun 2006, 2007, 2008 :

Tabel II

Target Penerimaan Pajak hotel pada tahun 2006, 2007, 2008

Tahun Target PAD Realisasi Penerimaan Persentase (%) 2006 60.378.000,00 52.595.000,00 87,11 % 2007 73.934.000,00 68.220.000,00 92,27 %

2008 67.550.000,00 55.195.000,00 81,71%

Keterangan Persentase : Target x 100% Realisasi

Sumber Data : Bidang Penagihan Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Asset Kabupaten As

Dari tabel di atas dapat dianalisa bahwa pajak hotel memberikan kontribusi terhadap Penerimaan Pendapatan Asli Daerah Asahan yang cukup baik. Walaupun

pajak hotel mendapat urutan ke lima dan jumlahnya tidak terlalu besar dari jenis pajak yang lain. Pajak hotel berhasil menghimpun dana sebesar Rp. 55.195.000,00 jumlah tersebut merupakan 81,71 % dari target yang direncanakan oleh Dinas Pendaptan, Pengelolaan Keuangan dan Asset (DPPKA) Kabupaten Asahan pada tahun 2008.

Menurunnya pajak hotel disebabkan oleh dilakukannya pengawasan terhadap hotel- hotel Melati yang selama ini merupakan sumber pendapatan utama dari pajak hotel, karena hotel Melati merupakan hotel yang banyak ditemukan di kabupaten Asahan. Adapun pengawasan yang dilakukan oleh pemerintahan daerah dilakukan sehubungan dengan banyaknya hotel Melati yang dijadikan sebagai tempat maksiat, yang mengakibatkan bertambahnya jumlah penderita HIV AIDS.

Pemerintah daerah beranggapan bahwa dilakukannya pengawasan terhadap hotel Melati yang berdampak terhadap penurunan penerimaan asli daerah bukanlah masalah bagi pemerintah daerah, karena untuk mendapatkan penerimaan asli daerah dapat mengandalkan sumber pendapatan daerah lainnya tanpa harus mengorbankan kesehatan masyarakat. Selain itu pemerintah daerah juga beranggapan jika tidak dilakukan pengawasan terhadap hotel- hotel melati, pemerintah daerah akan kesulitan bahkan harus mengeluarkan anggaran untuk menanggulangi dampak dari bertambah banyaknya jumlah penderita HIV AIDS.

3. Target dan realisasi Penerimaan Pajak Hotel

DPPKA Kabupaten Asahan dalam setiap tahunnya merencanakan target yang akan dicapai setiap jenis pajak daerah atau retribusi yang dikelola yang telah ditetapkan sebelumnya.

Sebagai mana telah digambarkan dari tabel II di atas maka dapat dilihat dengan jelas bahwa penerimaan pajak hotel di Kabupaten Asahan terhitung dari tahun 2006/ 2008 menigkat setiap tahunnya dengan penjelasan sebagai berikut : Pada tahun 2006 target Rp. 60.378.000,00 dan yang ter realisasi Rp. 52.595.000,00 yang artinya pajak hotel di Kabupaten Asahan ter realisasi sebesar 87,11 % dari target yang telah ditetapkan oleh DPPKA Kabupaten Asahan. Sedangkan pada tahun 2007 target yang ditetapkan menigkat menjadi Rp. 73.934.000,00 dan yang ter realisasi Rp. 68.220.000,00 yang artinya pajak hotel yang ter realisasi adalah sebesar 92,27 % yang jauh lebih besar tahun sebelumnya.Tahun 2008 target pajak hotel mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yaitu menjadi Rp. 67.550.000,00 dan jumlah yang ter realisasi 55.195.000,00 yang artinya pajak hotel ter realisasi 81,71 % dari target yang ditetapkan oleh Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Asset (DPPKA) Kabupaten Asahan.

3. Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Pajak Hotel.

1.) Faktor- faktor yang Mempengaruhi penerimaan pajak hotel adalah : a. Adanya peraturan daerah tentang pajak hotel.

b. Berdirinya hotel dan sejenisnya.

2.) Faktor- faktor yang menghambat Penerimaan Pajak Hotel adalah :

a. Masih adanya wajib pajak yang menyetor pajak tidak sesuai dengan jumlah pajak terutang.

b. Wajib pajak belum sepenuhnya melaporkan dan membayar pajak hotel yang dikutip dari subjek.

c. Masih banyak masyarakat yang belum mendaftarkan usahanya Kepada Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Asset yaitu usaha hotel.

d. Kurangnya Hotel di daerah tersebut.

B. PENYEBAB BELUM TERCAPAINYA TARGET PENERIMAAN PAJAK HOTEL

Pajak hotel pada dasarnya menganut sistem pemungutan self assesment, dimana wajib pajak memungut, menyetor, melunasi dan melaporkan pajaknya sendiri dengan adanya sistem ini menyebabkan :

a. Kesadaran wajib pajak hotel dalam memenuhi kewajiban perpajakanya tidak dilakukan semestinya, hal ini dibuktikan dengan masih adanya wajib pajak hotel yang belum menyampikan surat pemberitahuan pajak daerah (STPD) yang menyebabkan tidak tercapainya target penerimaan asli daerah dari pajak hotel.

b. Dari tabel II di atas kita dapat melihat bahwa pajak hotel pada tahun 2007 meningkat dari tahun 2006, dan pada tahun 2008 terjadi penurunan hal tersebut disebabkan masih banyaknya wajib pajak hotel yang tidak melakukan

kewajibanya dalam membayar hutang pajaknya sehingga terjadi tunggakan pajak.

C. UPAYA MENINGKATKAN PENERIMAAN PAJAK HOTEL DI KABUPATEN ASAHAN

Dalam upaya meningkatkan penerimaan pajak hotel di kabupaten Asahan. DPPKA Kabupaten Asahan selalu berusaha melakukan berbagai upaya yaitu dengan cara melakukan pemeriksaan objek pajak hotel, yang dilihat dari tingkat hunian dan lama operasional dan penyuluhan pajak dari DPPKA Kabupaten Asahan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam membayar pajak khususnya pajak hotel. Selain itu Pemerintah Kabupaten Asahan juga senantiasa menjaga hubungan baik antara pengusaha hotel dan pemakai hotel.

Kantor Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Asset Kabupaten Asahan senantiasa melakukan pendataan kondisi wajib pajak hotel dan pengawasan terhadap aktivitas yang dilakukan oleh pengusaha hotel disamping itu juga memperhatikan laporan pajak yang telah dibuat oleh pengusaha hotel tersebut.

Pembangunan dan pengadaan sarana senantiasa mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Asahan dengan adanya kemudahan, pengadaan sarana dan prasarana yang ada di kabupaten asahan maka usaha hotel akan senantiasa mengalami kemajuan yang pada akhirnya akan turut menambah Pendapatan Asli daerah Kabupaten Asahan.

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian pada bab- bab sebelumnya, maka dapat dibuat kesimpulan bahwa kontribusi pajak hotel terhadap penerimaan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Asahan cukup baik. Hal itu dapat dilihat melalui keterangan dibawah ini :

1. Pajak Hotel Kabupaten Asahan diatur berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Asahan Nomor 13 Tahun 2001 tentang Pajak Hotel di Kabupaten Asahan.

2. Dalam melaksanakan pemungutan dan pembayaran pajak hotel di Daerah Kabupaten Asahan telah dikatakan baik karena sesuai dengan peraturan daerah.

3. Kontribusi pajak hotel terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Asahan pada Tahun 2008 adalah sebesar Rp. 55.195.000,00 jumlah tersebut merupakan 81,71 % dari target yang direncanakan oleh DPPKA Kabupaten Asahan.

4. Realisasi penerimaan pajak hotel di Kabupaten Asahan pada tahun 2006 adalah sebesar Rp. 52.595.000,00 .

5. Realisasi penerimaan pajak hotel di kabupaten Asahan pada tahun 2007 mengalami peningkatan yaitu Rp. 68.220.000,00. Tetapi pada tahun 2008 mengalami penurunan yaitu Rp. 55.195.000,00.

B. SARAN

1. Disarankan kepada DPPKA Kabupaten Asahan untuk menghimbau para pengusaha hotel didalam membayar pajak hotel merupakan suatu hal yang dapat membantu kerja pemerintah yang pada akhirnya akan melancarkan pembangunan.

2. Pemerintah daerah memfasilitasi atau memberikan kemudahan kepada wajib pajak hotel, yaitu para pengusaha hotel untuk membayar pajaknya.

3. Diharapkan bagi pemerintah daerah Kabupaten Asahan untuk lebih meningkatkan Kontribusi Pajak Hotel Terhadap Pendapatan Asli Daerah dengan cara mensosialisasikan Peratuaran Daerah dan penegak hukum.

4. Diharapkan bagi pemerintah daerah untuk memberikan sanksi terhadap setiap pelanggaran peraturan daerah.

5. Bagi pemerintah daerah hendaknya dapat menjaga setabilitas dan keamanan, serta meningkatkan fasilitas publik guna menarik minat para pengusaha untuk menanamkan modalnya di daerah tersebut, khususnya dibidang perhotelan.

DAFTAR PUSTAKA

Siahaan, Marihot P, 2005, Pajak daerah dan retribusi daerah, PT Raja Grafindo persada, Jakarta.

Soekarwo, S.H. M.Hum, Berbagai Permasalah keuangan daerah , PT Airlangga University Press, Surabaya.

Mardiasmo, Dr. MBA, 2001, Perpajakan Indonesia, Edisi Revisi, Penerbit Andi, Yogyakarta.

Supramono, Prof, SE, MBA, DBA dan Tim, 2005, Perpajakan Indonesia Mekanisme dan Perhitungan, Penerbit Andi, Yogyakarta.

Undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah

Undang-undang nomor 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pusat dan daerah.

Undang –undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Peraturan Daerah Kabupaten Asahan Nomor 13 Tahun 2001 tentang Pajak

Hotel di Kabupaten Asahan.

Peraturan Bupati Asahan Nomor 27 Tahun 2008 tentang Uraian Tugas Jabatan Sturuktural pada Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Asset Kabupaten Asahan.

Dokumen terkait