• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LAN DASAN TEORI

B. Pajak Penghasilan

1. Pengertian Pajak Penghasilan

Banyak para ahli yang mengemukakan pendapatnya tentang pengertian atau definisi pajak. Menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, SH dalam Mardiasmo (Siti Resmi, 2014:1), “Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal balik (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum”.

Tentang pengertian pajak, S. I. Djajadiningrat (Siti Resmi, 2014:1) menyatakan sebagai berikut:

Pajak sebagai suatu kewajiban menyerahkan sebagian dari kekayaan ke kas negara yang disebabkan suatu keadaan, kejadian, dan perbuatan yang memberikan kedudukan tertentu, tetapi bukan sebagai hukuman, menurut peraturan yang ditetapkan pemerintah serta dapat dipaksakan, tetapi tidak ada jasa timbal balik dari negara secara langsung untuk memelihara kesejahteraan secara umum.

Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa: (1) Pajak dipungut berdasarkan atau dengan kekuatan undang-undang serta aturan pelaksanaannya, (2) dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukan adanya kontraprestasi individu oleh pemerintah, (3) pajak dipungut oleh negara, baik pemerintah pusat maupun maupun pemerintah daerah,

(4) pajak diperuntukan bagi pengeluaran-pengeluaran pemerintah yang bila dari pemasukannya masih terdapat surplus, digunakan untuk membiayai public investment.

Pengertian dua tokoh tersebut tidak jauh berbeda dengan pengertian menurut undang-undang. Menurut Undang-Undang Nomor 16 tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan pasal 1 ayat (1) :

“Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang- Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.

2. Fungsi Pajak

Menurut Mardiasmo (2011:1), terdapat dua fungsi pajak, yaitu: (1) Fungsi Budgetair dan (2) Fungsi Mengatur (Regulerend). Fungsi Budgetair yaitu pajak sebagai sumber dana bagi pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluarannya. Fungsi Mengatur (Regulerend) yaitu pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi, contohnya pajak yang tinggi dikenakan terhadap barang- barang mewah untuk mengurangi gaya hidup konsumtif.

3. Sistem Pemungutan Pajak

Menurut Mardiasmo (2011:7), sistem pemungutan pajak dibagi menjadi tiga, yaitu: (1) Official Assessment System, (2) Self Assessment System, dan (3) With Holding System. Official Assessment System merupakan suatu sistem pemungutan yang memberi wewenang kepada pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak. Ciri-ciri dari sistem ini adalah wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada fiskus, Wajib Pajak bersifat pasif, dan utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak oleh fiskus. Self Assessment System merupakan suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada Wajib Pajak untuk menentukan sendiri besarnya pajak yang terutang. Ciri-ciri dari sistem ini adalah wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada Wajib Pajak sendiri, Wajib Pajak aktif mulai dari menghitung, menyetor, dan melaporkan sendiri pajak yang terutang, fiskus tidak ikut campur dan hanya mengawasi. With Holding System merupakan suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga (bukan fiskus dan bukan Wajib Pajak yang bersangkutan) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak. Ciri-ciri dari sistem ini adalah wewenang dalam menentukan besarnya pajak yang terutang ada pada pihak ketiga. Pihak ketiga ditunjuk sesuai peraturan perundang-undangan perpajakan, keputusan presiden, dan peraturan lainnya untuk memotong serta

memungut pajak, menyetor, dan mempertanggungjawabkan melalui sarana perpajakan yang tersedia (Siti Resmi, 2014:11).

4. Tarif pajak

Jenis-jenis tarif pajak dibedakan menjadi (Siti Resmi, 2014:14):

a. Tarif Tetap adalah tarif berupa jumlah atau angka yang tetap, berapapun besarnya dasar pengenaan pajak. Contohnya adalah Bea Materai.

b. Tarif Proporsional, adalah tarif berupa presentase tertentu yang sifatnya tetap terhadap berapapun dasar pengenaan pajaknya. Semakin besar dasar pengenaan pajak, semakin besar pula jumlah pajak yang terutang dengan kenaikan secara proporsional atau sebanding. Contohnya adalah PPN (tarif 10%), PPh Pasal 26 ( tarif 20%), PPh Pasal 23 (tarif 15% dan 2% untuk jasa lain), dan lain- lain.

c. Tarif Progresif, tarif berupa presentase tertentu yang makin meningkat dengan makin meningkatnya dasar pengenaan pajak. Tarif progresif dibagi menjadi tiga, yaitu:

1) Tarif progresif-proporsional,tarif berupa presentase tertentu yang makin meningkat dengan meningkatnya dasar pengenaan pajak dan kenaikan presentase tersebut tetap. Contohnya adalah tarif pajak atas PKP bagi wajib pajak orang pribadi dalam

negeri Undang-Undang Pajak Penghasilan Nomor 7 Tahun 1983 Pasal 17.

2) Tarif progresif-progresif, tarif berupa presentase tertentu yang makin meningkat dengan meningkatnya dasar pengenaan pajak dan kenaikan presentase tersebut juga meningkat. Contohnya adalah tarif wajib pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap Undang-Undang Pajak Penghasilan Nomor 17 Tahun 2000 pasal 17.

3) Tarif progresif-degresif, tarif berupa presentase tertentu yang makin meningkat dengan meningkatnya dasar pengenaan pajak, tetapi perubahan presentase tersebut makin menurun. Contohnya pada tabel berikut:

Tabel II.1 Tarif Progresif-Degresif

No Dasar Pengenaan Pajak Tarif Pajak Kenaikan % Tarif 1. Rp50.000.000,00 10% - 2. Rp100.000.000,00 15% 5% 3. Rp200.000.000,00 18% 3%

d. Tarif Degresif, tarif berupa presentase tertentu yang makin menurun dengan makin meningkatnya dasar pengenaan pajak. Contohnya pada tabel berikut:

Tabel II.2 Tarif Degresif

No Dasar Pengenaan Pajak Tarif

Pajak

1. Rp50.000.000,00 10%

2. Rp100.000.000,00 15%

5. Wajib Pajak

Menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009, Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Wajib Pajak memiliki beberapa hak dan kewajiban seperti yang dirangkum Mardiasmo (2011:56). Kewajiban yang dimiliki Wajib Pajak antara lain:

a) Mendaftarkan diri untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

b) Melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP).

c) Menghitung dan membayar sendiri pajak dengan benar.

d) Mengisi dengan benar SPT dan memasukkan ke Kantor Pelayanan Pajak dalam batas waktu yang telah ditentukan.

e) Menyelenggarakan pembukuan/pencatatan. f) Jika diperiksa wajib:

1) Memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang berhubungan dengan penghasilan yang diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas Wajib Pajak, atau objek yang terutang pajak.

2) Memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang dipandang perlu dan memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan.

3) Apabila dalam mengungkapkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen serta keterangan yang diminta, Wajib Pajak terikat oleh suatu kewajiban untuk merahasiakan, maka kewajiban untuk merahasiakan itu ditiadakan oleh permintaan untuk keperluan pemeriksaan.

Hak yang dimiliki Wajib Pajak antara lain:

a) Mengajukan surat keberatan dan surat banding. b) Menerima tanda bukti pemasukan SPT.

c) Melakukan pembetulan SPT yang telah dimasukkan. d) Mengajukan permohonan penundaan penyampaian SPT.

e) Mengajukan permohonan penundaan atau pengangsuran pembayaran pajak.

f) Mengajukan permohonan perhitungan pajak yang dikenakan dalam surat ketetapan pajak.

g) Meminta pengembalian kelebihan pembayaran pajak.

h) Mengajukan permohonan penghapusan dan pengurangan sanksi, serta pembetulan surat ketetapan pajak yang salah.

i) Memberi kuasa kepada orang untuk melaksanakan kewajiban pajaknya.

B. Pajak Penghasilan

1. Pengertian Pajak Penghasilan

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan menjelaskan pengenaan Pajak Penghasilan terhadap subjek pajak berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam satu tahun pajak. Subjek pajak tersebut dikenai pajak apabila menerima atau memperoleh penghasilan. Subjek pajak dalam undang-undang ini disebut Wajib Pajak.

Penghasilan menurut Undang-Undang Nomor 36 tentang Pajak Penghasilan pada pasal 4 ayat (1):

“Penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima oleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apa pun”.

Dokumen terkait