BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Pembelajaran Langsung
Secara bahasa direct instruction berasal dari dua kata bahasa Inggris direct dan instruction. Direct dalam bahasa Indonesia berarti langsung, sebenarnya, dan instruction berarti instruksi, pengajaran, pelajaran. Sehingga secara bahasa direct instruction dapat diartikan sebagai pengajaran langsung atau instruksi langsung.
Istilah “instruksi langsung” telah digunakan oleh beberapa peneliti untuk merujuk pada suatu model pengajaran yang terdiri atas penjelasan guru mengenai konsep atau keterampilan baru terhadap siswa.
Penjelasan ini dilanjutkan dengan meminta siswa menguji pemahaman mereka dengan melakukan praktik di bawah bimbingan guru (praktik yang terkontrol, controlled practice), dan mendorong mereka meneruskan praktik di bawah bimbingan guru (praktik yang dibimbing, guided practice).
Tampubolon (2013:89) mengemukakan bahwa pembelajaran langsung (direct instruction) merupakan pembelajaran yang berpusat pada pendidik dengan teknik pembelajaran ekspositori, yaitu pemindahan pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik secara langsung. Model pembelajaran langsung ini dirancang untuk menciptakan lingkungan belajar terstruktur dan berorientasi pada pencapaian akademik.
Arends (dalam Trianto, 2007:29) menyatakan bahwa model pengajaran langsung adalah salah satu pendekatan mengajar yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah. Istilah lain model pengajaran langsung antara lain; training model, active teaching model, mastery teaching, explicit instruction (Trianto 2007:29).
Pengajaran langsung merupakan salah satu model pembelajaran yang dirancang untuk mengajarkan pengetahuan dan skill-skill dasar yang dibutuhkan siswa untuk pembelajaran berikutnya, dan efektivitas strategi ini dalam ruang kelas sudah banyak ditulis dalam bentuk penelitian-penelitian. Keterampilan-keterampi l an berhi tung (mate mati ka) dan me mbaca merupakan dua contoh pengetahuan dasar yang harus dikuasai oleh siswa, baik oleh siswa yang tengah mempelajari strategi menulis, siswa kimia yang tengah mempelajari untuk menyeimbangkan persamaan-persamaan, maupun oleh siswa-siswa geografi yang tengah menggunakan garis bujur dan garis lintang untuk menunjukkan suatu lokasi dengan tepat. Pengajaran langsung sangat berguna, utamanya ketika ada skill-skill yang dapat dipetakan menjadi langkah-langkah spesifik. Apalagi, strategi ini sudah sejak dulu disadari sangat efektif untuk diterapkan pada siswa yang kurang cerdas dan memiliki keunikan-keunikan tertentu.
Direct instruction adalah sebuah model pembelajaran menggunakan pendekatan berpusat pada guru yang digunakan untuk mengajarkan pengetahuan dan keterampilan secara langsung yang bertujuan untuk penguasaan pengetahuan dan keterampilan.
Pembelajaran langsung atau direct instruction dikenal dengan sebutan active teaching. Pembelajaran langsung juga dinamakan whole-class teaching. (Agus Suprijono, 2011:46).
B. Pembelajaran Bahasa Indonesia (BI) di Sekolah Dasar
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional. Bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar pendidikan di semua jenis jenjang pendidikan mulai dari pendidikan dasar, menengah hingga pendidikan tinggi. Bahasa Indonesia memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dasar khususnya sekolah dasar (SD) yaitu mempercepat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi karena bahasa Indonesia merupakan sarana berpikir untuk menumbuhkembangkan cara berpikir logis, sistematis, dan kritis.
Bahasa Indonesai (BI) memegang peranan penting dalam kehidupan manusia karena bahasa merupakan alat komunikasi manusia dalam kehidupan sehari-hari. (Iskandarwassid & Sunendar 2009:226).
Oleh karena itu sasaran dari pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar adalah siswa terampil dalam menggunakan bahasa. Sekolah dasar
mempunyai tujuan meningkatkan kemampuan si swa berko muni kasi secara efektif, baik lisan maupun tertulis. Mata pelajaran bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik mempunyai kemampuan sebagai berikut :
1. Berkomunikasi secara efektif dan efisien dengan etika yang berlaku baik secara lisan maupun tertulis.
2. Menghargai bahasa dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara.
3. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan.
4. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual serta kematangan emosional dan sosial.
5. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk meni ngkatka n wawasan.
Bahasa sebagai sarana yang sangat penting dalam berkomunikasi.
Komunikasi akan lancar apabila perbendaharaan kata cukup memadai.
Hal ini disebabkan karena dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak lepas dengan penggunaan bahasa, baik bahasa lisan maupun tulis.
Bahkan ketika mimpi pun manusia selalu menggunakan bahasa. Oleh karena itu pendidikan bahasa merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi manusia.
Dalam kehidupan manusia terutama dalam dunia pendidikan, membaca mempunyai peranan yang sangat penting. Karena membaca
merupakan suatu alat komunikasi yang sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan membaca merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam meraih kemajuan. Dengan jalan membaca kita dapat memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan. Apalagi di masa sekarang ini sebagian besar informasi tersebut disampaikan dalam bentuk tulisan.
Dengan kenyataan tersebut maka menuntut kita pada penguasaan keterampilan membaca. Keterampilan membaca merupakan aspek yang sangat penting terutama bagi orang yang sedang belajar. Karena dalam prosesnya kegiatan belajar itu tidak dapat dipisahkan dari kegiatan membaca. Keberhasilan belajar itu sangat dipengaruhi oleh salah satunya ialah penguasaan keterampilan membaca. Membaca merupakan dasar pemahaman akan konsep-konsep ilmu pengetahuan yang termuat dalam suatu pembelajaran, sebab materi-materi maupun petunjuk tugas-tugas banyak disampaikan melalui tulisan.
Pada hakikatnya belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi.
Oleh karena i tu, pembel a jaran bahasa Indonesi a (BI) di arahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi yang baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan. Dalam pembelajarannya keempat aspek keterampilan berbahasa disajikan dalam porsi yang seimbang dan dilaksanakan secara terpadu. Bahan pembelajaran pemahaman diambil dari bahan mendengarkan, membaca, yang meliputi
kemampuan untuk menyerap gagasan, pendapat, pengalaman, pesan, dan perasaan yang dilisankan atau dituliskan.
Dengan demikian, penguasaan keterampi lan me mba ca perl u pembinaan serta upaya peningkatan. Adapun pembinaan di antaranya dilakukan melalui pendidikan dasar Dalam hal ini sekolah dasar merupakan pembinaan yang pertama untuk membekali anak didiknya dalam bidang penguasaan keterampilan membaca yang bermanfaat bagi anak didik sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2006 disebutkan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia (BI) diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara tulisan ataupun lisan. Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Depdiknas. 2007b : 73) disebutkan bahwa, pembelajaran bahasa Indonesi a di arahkan untuk meni ngkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik secara lisan, maupun tulisan, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan bangsa Indonesia. Selanjutnya disebutkan pula bahwa ruang lingkup pembelajaran bahasa meliputi empat aspek keterampilan berbahasa yaitu:
mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar (SD) bertujuan meningkatkan kemampuan siswa berkomunikasi secara efektif, baik lisan maupun tertulis. Keterampilan membaca sebagai salah satu keterampilan
berbahasa tulis yang bersifat reseptif perlu dimiliki siswa SD agar mereka mampu berkomunikasi secara tertulis. Oleh karena itu, peranan pengajaran bahasa Indonesia khususnya pengajaran membaca di SD menjadi sangat penting. Peran tersebut semakin penting bila dikaitkan dengan tuntutan pemilikan kemahirwacanaan dalam abad informasi.
Pengajaran bahasa Indonesia di SD yang bertumpu pada kemampuan dasar membaca juga perlu diarahkan pada tercapainya kemahirwacanaan.
Pembelajaran bahasa Indonesia memberi bekal kepada siswa terutama mengenai keterampilan berbahasa, khususnya keterampilan membaca. Membaca merupakan keterampilan dasar bagi siswa.
Karena untuk memperoleh keterampilan dan pengetahuan penting lainnya tergantung pada membaca. Dengan membaca siswa akan memperoleh informasi, ilmu, dan pengetahuan serta pengalaman-pengalaman baru. Melalui membaca, dapat diperoleh informasi dan pengetahuan yang berguna bagi kehidupan.
Dapat dikatakan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa kedua bagi sebagian besar anak di Indonesia. Bahasa Indonesia secara formal mulai dipelajari ketika mereka duduk di bangku sekolah dasar. Di sekolah, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, secara lisan dan tertulis, dan untuk menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan Indonesia.
Bagi guru, pembelajaran bahasa Indonesia merupakan suatu tantangan tersendiri, mengingat bahwa BI bagi sebagian besar sekolah di Indonesia merupakan bahasa pengantar yang dipakai untuk menyampaikan materi pelajaran. Pembelajaran bahasa Indonesia berfungsi pula sebagai sarana untuk membantu peserta didik mengemukakan gagasan dan perasaan, berparti si pasi dal am masyarakat dengan menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif (Depdiknas: 2006).
Sekolah perlu meningkatkan kesadaran peserta didik mengenai kekuatan pilihan kata dalam penafsiran berbagai makna dan beragam konteks sosial. Dengan meningkatnya kesadaran peserta tersebut diharapkan tujuan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia dapat tercapai.
Bahasa Indonesia (BI) merupakan alat untuk berkomunikasi baik itu secara lisan maupun tulisan. Berkomunikasi adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Kemampuan berkomunikasi secara utuh adalah kemampuan berwacana yakni kemampuan memahami dan digunakan dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, mata pelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk menge mbangkan ketera mpi l an keterampilan tersebut agar lulusan mampu berkomunikasi dan berwacana dalam bahasa Indonesia pada tingkat literasi tertentu.
Peranan bahasa Indonesia sangat penting dalam kemajuan sumber daya manusia khususnya orang Indonesia, untuk memiliki kemampuan dalam berkomunikasi dalam era informasi dan globalisasi perlu adanya suatu kebijakan dari pemerintah. Hal ini sangat disadari pemerintah, dengan menerbitkan peraturan pemerintah mengenai pengembangan sumber daya manusia. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 yang berkaitan dengan pembangunan sumber daya manusia bidang pendidikan dalam bentuk pengembangan dan peningkatan kualitas kemampuan serta keterampilan guru, murid, dan tenaga kependidikan lainnya.
C. Tujuan Pembelajaran dan Hasil Belajar Siswa
Para pakar teori belajar pada umumnya membedakan dua macam pengetahuan, yaitu pengetahuan dekralatif (dapat diungkapkan dengan kata-kata) adalah pengetahuan tentang sesuatu, sedangkan pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu.
Suatu contoh pengetahuan dekralatif yaitu tekanan adalah hasil bagi antara gaya dan luas bidang benda yang dikenai gaya (p =F/A).
Pengetahuan prosedural yang berkaitan dengan pengetahuan dekralatif di atas adalah bagaimana memperoleh rumus/persamaan tekanan tersebut.
Menghafal hukum atau rumus tertentu dalam bidang studi fisika, kimia, matematika merupakan contoh pengetahuan dekralatif sederhana atau informasi faktual. Berbeda dengan informasi faktual, pengetahuan yang lebih baik tingkatannya memerlukan penggunaan pengetahuan
dengan cara tertentu, misalnya membandingkan dua rancangan penelitian, menilai hasil karya seni, dan lain-lain.
Seringkali penggunaan pengetahuan prosedural memerlukan pengusaan pengetahuan prasyarat yang berupa pengetahuan dekralatif.
Para guru selalu menghendaki agar siswa-siswa memperoleh kedua jenis pengetahuan tersebut, supaya mereka dapat melakukan suatu kegiatan dan melakukan segala sesuatu dengan berhasil.
D. Sintaks atau Pola Keseluruhan dan Alur Kegiatan Pembelajaran
Pada model pembelajaran langsung terdapat lima fase yang sangat penting. Guru mengawali pelajaran dengan penjelasan tentang tujuan dan latar belakang pembelajaran, serta mempersiapkan siswa untuk menerima penjelasan guru.
Pengajaran langsung, menurut Kardi (dalam Trianto, 2007:30) dapat berbentuk ceramah, demonstrasi, pelatihan atau praktek, dan kerja kelompok. Pengajaran langsung dapat digunakan untuk menyampaikan pelajaran yang distraspormasikan langsung oleh guru kepada siswa.
Penyusunan waktu yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran harus seefisien mungkin sehingga guru dapat merancang dengan tepat waktu yang digunakan.
Sintaks Model Pengajaran langsungtersebut disajikan dalam 5 (lima) tahap, seperti ditujukkan Tabel 2.1 berikut.
Tabel 2.1 Sintaks Model Pembelajaran Langsung
Fase Peran guru Fase 1
Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
Guru menjelaskan TPK, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, dengan benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap.
Lanjutan Tabel 2.1 Fase 3
Membimbing pelatihan Guru merencanakan dan memberikan bimbingan pelatihan awal.
Fase 4
Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
Mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik. kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari.
Sumber: Kardi & Nur (dalam Trianto, 2007: 31)
Pada fase persiapan, guru memotivasi siswa agar siap menerima presentasi materi pelajaran yang dilakukan melalui demonstrasi tentang keterampilan tertentu. Pembelajaran diakhiri dengan pemberian kesempatan kepada siswa untuk melakukan pelatihan dan pemberian umpan balik tersebut. Guru perlu memberikan kesempatan pada siswa
untuk menerapkan pengetahuan atau keterampilan yang dipelajari ke dalam situasi kehidupan nyata.
E. Lingkungan Belajar dan Sistem Pengelolaan
Pengajaran langsung memerlukan perencanaan dan pelaksanaan yang sangat hati-hati di pihak guru. Agar efektif, pengajaran langsung mensyaratkan tiap detil keterampilan atau isi didefinisikan secara seksama dan demonstarasi serta jadwal pelatihan direncanakan dan dilaksanakan secara seksama. (Kardi dan Nur dalam Trianto, 2007: 32).
Menurut Kardi dan Nur (dalam Trianto, 2007: 32), meskipun tujuan pembelajaran dapat direncanakan bersama oleh guru dan siswa, model ini terutama berpusat pada guru. Sistem pengelolaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru harus menjamin terjadinya keterlibatan siswa, terutama melalui memperhatikan, mendengarkan, dan resitasi (tanya jawab) yang terencana. Ini berarti bahwa lingkungan berorientasi pada tugas dan memberikan harapan baik agar siswa mencapai hasil belajar dengan baik.
F. Penelitian tentang Keefektifan Guru
Landasan penelitian dari model pengajaran langsung dan berbagai komponennya, berasal dari bermacam-macam bidang. Meskipun demikian, data penunjang empirik yang paling jelas terhadap model
pengajaran langsung berasal dari penelitian tentang keefektifan guru yang dilakukan pada tahun 1970-an dan 1980-an.
Penelitian Stelling dan Kaskowitz (dalam Trianto, 2007: 32) menujukkan pentingnya waktu yang dialokasikan pada tugas (time on task). Penelitian ini juga menyumbang dukungan empirik penggunaan pengajaran langsung beberapa orang guru menggunakan metode-metode yang sangat terstruktur dan formal, sedangkan guru-guru yang lain menggunakan metode-metode yang informal, sedangkan guru-guru yang lain menggunakan metode-metode yang informal. Stalling dan koleganya ingin mengungkapkan, manakah di antara program-program itu yang dapat berfungsi baik dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Perilaku guru-guru dalam 166 kelas diamati, siswa-siswa dites. Banyak hal yang dapat diungkapkan pada penelitian itu, namun ada dua hal yang sangat menonjol, yaitu alokasi waktu dan penggunaan tugas (kegiatan) yang menggunakan model pengajaran langsung lebih berhasil dan memperoleh tingkat keterlibatan yang baik daripada mereka yang menggunakan metode-metode informal dan berpusat pada siswa.
Beberapa penelitian tahun 1970, misalnya yang dilakukan oleh Stallings dan rekan-rekannya, menunjukkan bahwa guru yang memiliki kelas yang terorganisasikan dengan baik menghasilkan rasio keterlibatan siswa (time-task-ratios) yang lebih baik daripada guru yang menggunakan pendekatan yang kurang formal dan kurang terstruktur. Observasi terhadap guru-guru yang berhasil, menunjukkan bahwa kebanyakan
mereka menggunakan prosedur pangajaran langsung. (Kardi dan Nur dalam Trianto, 2007: 33).
G. Pelaksanaan Pembelajaran Langsung
Sebagaimana halnya setiap mengajar, pelaksanaan yang baik model pengajaran langsung memerlukan tindakan-tindakan dan keputusan-keputusan yang jelas dari guru selama berlangsungnya perencanaan, pada saat melaksanakan pembelajaran, dan waktu menilai hasilnya. Beberapa di antara tindakan-tindakan tersebut dan dapat dijumpai pada model-model pengajaran yang lain, langkah-langkah atau tindakan tertentu merupakan ciri khusus pengajaran langsung. Ciri utama yang unik terlihat dalam melaksanakan suatu pengajaran langsung adalah sebagai berikut:
1. Tugas-tugas Perencanaan
Pengajaran langsung dapat diterapkan di bidang studi apa pun, namun model ini paling sesuai untuk mata pelajaran yang berorientasi pada penampilan atau kinerja seperti menulis, membaca, matematika, musik, dan pendidikan jasmani. Di samping itu, pengajaran langsung juga cocok untuk mengajarkan komponen-komponen keterampilan dari mata pelajaran sejarah dan sains.
a. Merumuskan Tujuan
Untuk merumuskan tujuan pembelajaran dapat digunakan model Mager (dalam Trianto, 2007:34). Mager mengemukakan
bahwa tujuan pembelajaran khusus harus spesifik. Tujuan yang ditulis dalam format Mager dikenal sebagai tujuan perilaku dan terdiri atas tiga bagian.
1) Perilaku siswa, apa yang akan dilakukan siswa/jenis-jenis perilaku siswa yang diharapkan guru untuk dilakukan sebagai bukti bahwa tujuan itu telah dicapai.
2) Situasi pengetesan, di bawah kondisi tertentu perilaku itu akan teramati atau diharapkan terjadi.
3) Kriteria kinerja, diterapkan standar atau tingkat kinerja sebagai standar atau tingkat kinerja yang dapat diamati.
Singkatnya, menurut Mager tujuan yang baik perlu berorientasi pada siswa dan spesifik, mengandung uraian yang jelas tentang situasi penilaian (kondisi evaluasi), dan mengandung tingkat ketercapaian kinerja yang diharapkan (kriteria keberhasilan).
b. Memilih Isi
Kebanyakan guru pemula meskipun telah beberapa tahun mengajar, tidak dapat diharapkan akan menguasai sepenuhnya materi pelajaran yang diajarkan. Bagi mereka yang masih dalam proses mengusai sepenuhnya materi ajar, disarankan agar dalam memilih materi ajar mengacu pada GBPP kurikulum yang berlaku, dan buku ajar tertentu. (Kardi dan Nur dalam Trianto, 2007: 34).
c. Melakukan Analisis Tugas
Analisis tugas ialah alat yang digunakan oleh guru untuk mengidentifikasi dengan baik sebagai hakikat dari suatu keterampilan atau butir pengetahuan yang terstruktur dengan baik,
yang akan diajarkan oleh guru. Ide yang melatarbelakangi analisis tugas ialah, bahwa informasi dan keterampilan yang kompleks tidak dapat dipelajari semuanya dalam kurung waktu tertentu. Untuk mengembangkan pemahaman yang mudah dan pada akhirnya penguasaan, keterampilan, dan pengertian kompleks itu lebih dulu harus dibagi menjadi komponen bagian, sehingga dapat diajarkan berurutan dengan logis dan tahap demi tahap. (Kardi dan Nur dalam Trianto, 2007: 35).
d. Merencanakan Waktu dan Ruang
Pada suatu pengajaran langsung, merencanakan dan mengelola waktu merupakan kegiatan yang sangat penting. Ada dua hal perlu diperhatikan oleh guru: (1) memastikan bahwa waktu yang disediakan sepadan dengan bakat dan kemampuan siswa, dan (2) memotivasi siswa agar mereka tetap melakukan tugas-tugasnya dengan perhatian yang optimal. Mengenal dengan baik siswa-siswa yang akan diajar, sangat bermanfaat untuk menentukan alokasi waktu pembelajaran. Merencanakan dan mengelola ruang untuk pengajaran langsung juga sama pentingnya. (Kardi dan Nur dalam Trianto, 2007: 35).
Menurut Kardi dan Nur (dalam Trianto, 2007 : 57-59) tentang Model Direct Instruction dapat dirangkum sebagai berikut :
1. Salah satu tujuan pembelajaran yang penting dari setiap mata pelajaran di sekolah ialah memperoleh informasi dan keterampilan-keterampilan dasar. Sebelum siswa mempelajari informasi dan keterampilan lanjut, mereka harus terlebih dahulu menguasai informasi dan keterampilan dasar.
2. Untuk tercapainya tujuan seperti yang tertulis pada butir (1), guru menggunakan model direct instruction. Model pengajaran ini mempunyai landasan empirik dan teoretik dari analisis sistem, teori pemodelan tingkah laku, dan penelitian tentang keberhasilan guru dalam mengajar.
3. Dampak instruksional dari model pengajaran langsung ialah mengembangkan penguasaan keterampilan sederhana dan kompleks serta pengetahuan deklaratif yang dapat dirumuskan dengan jelas dan diajarkan tahap demi tahap.
4. Direct Instruction pada umumnya mempunyai lima fase, menjelaskan tujuan pembelajaran dan menyiapkan siswa; mendemonstrasikan atau menjelaskan materi yang akan dipelajari oleh siswa; memberikan bimbingan praktik; mengecek pemahaman siswa dan memberikan balikan; dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih sendiri dan menerapkan hasil belajar.
5. Model Direct Instruction memerlukan lingkungan pembelajaran terstruktur dengan baik dan uraian guru yang jelas.
6. Pada tahap perencanaan perumusan tujuan dan analisis tugas, perlu mendapat perhatian yang seksama.
7. Dalam melaksanakan Direct Instruction, guru perlu memberikan uraian yang jelas, mendemonstrasikan dan memperagakan tingkah laku dengan benar, memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih.
8. Pelatihan perlu dilandasi oleh prinsip-prinsip sebagai berikut : berikan pelatihan singkat dan frekuensi yang tidak berlebihan; Siswa benar-benar menguasai keterampilan yang dilatihkan; Menggunakan pelatihan berkelanjutan atau pelatihan berselang.
9. Direct instruction menuntut pengelolaan kelas yang unik, menarik, dan mempertahankan perhatian siswa dari awal sampai selesainya proses pembelajaran.
10. Pengelolaan kelas yang juga perlu memperoleh perhatian ialah mengatur tempo pembelajaran, kelancaran alur pembelajaran, mempertahankan ketertiban dan peserta siswa, dan menangani dengan cepat penyimpangan-penyimpangan tingkah laku siswa.
11. Penilaian hasil belajar siswa ditekankan pada praktik pengembangan dan penerapan pengetahuan dasar yang sesuai, mengukur dengan teliti keterampilan sederhana dan yang kompleks, serta memberikan umpan balik kepada siswa.
Dari uraian di atas, keterampilan atau kecakapan siswa, baik kognitif mapun fisik harus dijadikan landasan oleh guru ataupun siswa untuk membangun hasil belajar yang maksimal. Karena bagaimanapun
sebelum siswa memperoleh dan memproses sejumlah informasi atau suatu pengetahuan, mereka harus menguasai strategi belajar dahulu, seperti membuat catatan dan merangkum isi bacaan. Begitu juga sebelum siswa mampu berpikir secara kritis, mereka harus mampu terlebih dahulu menguasai dasar-dasar ilmu logika dan begitu juga dengan hal-hal yang lain. Maka di sinilah seorang guru dituntut mampu menguasai metode pengajaran langsung (Direct Instruction) untuk membantu siswa mencapainya dengan maksimal.
H. Langkah-langkah Pembelajaran Model Direct Instruction
Direct instruction model memiliki lima tahapan pembelajaran, yaitu orientasi, presentasi, praktikum yang terstruktur, praktikum di bawah bimbingan, dan praktikum mandiri. Namun, sebelum menerapkan model ini harus melakukan pemeriksaan terhadap pengetahuan dan keterampilan siswa untuk memastikan bahwa mereka memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menjalani beberapa proses dan bisa mendapatkan kebenaran praktik dalam model ini.
Tahap pertama adalah orientasi. Pada tahapan ini guru menyampaikan apa yang menjadi harapan pada proses pembelajaran yang akan dilaksanakan, guru juga menjelaskan tugas-tugas yang akan
Tahap pertama adalah orientasi. Pada tahapan ini guru menyampaikan apa yang menjadi harapan pada proses pembelajaran yang akan dilaksanakan, guru juga menjelaskan tugas-tugas yang akan