A. Tinjauan Teori
5. Badan Usaha Milik Desa (BUMDES)
Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) secara etimologi berasal dari bebarapa kata yaitu badan usaha yang diartikan kesatuan yuridis (hukum), teknis, dan ekonomis yang bertujuan mencari laba atau keuntungan sedangkan milik dapat diartikan sebagai kepemilikan atau kepunyaan sementara Desa adalah kesatuan wilayah yang dihuni oleh sejumlah keluarga yang mempunyai sistem pemerintah sendiri (KBBI). Dengan demikian, Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) merupakan usaha yang dilakukan oleh sistem pemerintahan yang terdapat hukum yang menaungi secara teknis dalam sektor perekonomian masyarakat.
Maryunani mendefinisikan bahwa bumdes adalah lembaga usaha yang dikelola oleh masyarakat dan pemerintah desa dalam upaya memperkuat perekonomian desa dan membangun kerekatan sosial masyarakat yang dibentuk berdasarkan kebutuhan dan potensi desa (Maryunani, 2008:35).
Menurut Rismawati dalam skripsinya (2018) Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) merupakan lembaga usaha yang bergerak dalam bidang pengelolaan aset-aset dan sumberdaya ekonomi desa dalam kerangka pemberdayaan masyarakat desa. Pengaturan BUMDES diatur di dalam pasal pasal 213 ayat (1) Undang-Undang No. 32 Tahun 2004, bahwa desa dapat mendirikan Badan Usaha Milik Desa sesuai dengan kebutuhan dan potensi. Selain itu juga diatur dalam Peraturan Pemerinth Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa, yang didalamnya mengatur tentang Badan Usaha Milik Desa (BUMDES), yaitu pada Pasal 78-81, Bagian Kelima tentang Badan Usaha Milik Desa, serta yang terakhir dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2010 tentang Badan Usaha Milik Desa.
28
Adapun ciri utama yang membedakan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) dengan lembaga ekonomi komersial pada umumnya, menurut Maryunani (2008:
51). Yaitu:
a) Badan usaha ini dimiliki oleh desa dan dikelola secara bersama.
b) Modal usaha bersumder dari desa 51% dan dari masyarakat 49% melalui penyertaan modal (saham atau andil).
c) Operasionalisasinya menggunakan falsafah bisnis yang berakar dari budaya lokal (local wisdom).
d) Bidang usaha yang dijalankan berdasarkan pada potensi dan hasil informasi pasar.
e) Keuntungan yang diperoleh ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan anggota dan masyarakat melalui kebijakan desa (village policy).
f) Difasilitasi oleh Pemerintah, Pemprov, Pemkab, Dan Pemdes.
g) Pelaksanaan operasionalisasi dikontrol secara bersama (Pemdes, BPD, Anggota).
h) Pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah dilakukan melalui musyawarah desa.
Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) sebagai suatu lembaga ekonomi modal usahanya dibangun atas inisiatif masyarakat dan menganut atas mandiri, ini berarti pemenuhan modal Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) harus bersumber dari masyarakat. Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) dapat mengajukan pinjaman modal kepada pihak luar seperti kepada pemerintah desa atau pihak ketiga. Hal ini sesuai dengan peraturan perundang-undangan No. 6 tahun 2014.
29
2. Ruang lingkup Badan Usaha Milik Desa (BUMDES)
Dengan kehadiran Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) ini diharapkan desa menjadi lebih mandiri dan masyarakatnya pun menjadi lebih sejahtera. Tetapi mengingat Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) masih termasuk hal baru dalam keberadaanya, maka tak lupuk di dalam praktek, beberapa kendala muncul justru terkait dalam proses pembentukannya. Pertama, belum ada dasar hukum yang memayungi tentang keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) di desa.
Walaupun sebenarnya secara tersirat semangat untuk melembagakan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) telah diamantkan dan dipayungi dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, sebagaimana diamanatkan dalam BAB VII bagian kelima yang menyatakan Pemerintah Desa dapat mendirikan Badan Usaha Milik Desa sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa dengan harapan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan desa. Sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan pendirian Badan Usaha Milik Desa (BUMDES), maka berdasarkan pasal 78 Peraturan Pemerintah 72 Tahun 2005 tentang Desa, dijelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten/Kota perlu menetapkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Tata Cara Pembentukan dan Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES).
Ketentuan mana meskipun agak terlambat juga diakomodir dalam peraturan teknis yang dikeluarkan oleh Menteri Dalam Negeri melalui pasal 2 ayat (1) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2010. Namun kenyataannya, niat baik dari amanat Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah maupun pengaturan secara teknis melalui permendagri tersebut belum disambut baik oleh Pemrintah kabupaten/Kota dengan indikasi belum adanya Perda yang mengatur
30
tentang Tata Cara Pembentukan dan Pengelolaan, kalaupun ada Perda tersebut seringkali belum mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2010, yang memang hadir terlambat. Sehingga seringkali proses peningkatan legalitas akan terganjal pada legitimasi hukum Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) itu sendiri.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2010, menerangkan bahwa Badan Usaha Milik Desa merupakan Peningkatan kemampuan keuangan pemerintah desa dalam penyelenggaran pemerintahan dan meningkatkan pendpatan masyarakatdari berbagia kegiatan usaha ekonomi masyarakat pedesaan sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa. Artinya adanya potensi desa diimbangi dengan adanya potensi sumberdaya manusia yang kompetitif tidak cukup untuk menaggulangi perekonomian tanpa adanya pihak ketiga yaitu aparatur pemerintah desa dapat menciptakan desa yang maju, berdikasi, dan makmur.
3. Tujuan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES)
Tujuan bumdes yaitu mengoptimalkan pengelolaan aset-aset desa yang ada, memajukan perekonomian desa, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Sifat usaha Badan Usaha Milik Bumdes (BUMDES) adalah berorientasi pada keuntungan. Sifat mengelola usahanya adalah keterbukaan, kejujuran, partisipatif, dan berkeadilan. Fungsi Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) adalah sebagai motor penggerak perekonomian desa, sebagai lembaga usaha yang menghasilkan Pendapatan Asli Desa (PADes), serta sebagai sarana untuk mendorong percepatan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.
31
Sementara itu, adapun tujuan utama didirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan perekonomian desa.
2. Meningkatkan pendapatan asli desa (PADes).
3. Meningkatkan pengelolaan potensi desa sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
4. Menjadi tulang punggung pertumbuhan dan pemerataan ekonomi desa.
Disi lain, Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) merupakan lembaga desa yang dikelola oleh masyarakat dan pemerintah desa dalam upaya memperkuat perekonomian desa dan dibentuk berdasarkan kebutuhan dan potensi desa.
4. Manfaat
Terbitnya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa memimpikan kehidupan desa yang otonom dalam mengelola pemerintah dan kemasyarakatannya. Berlakunya regulasi tentang desa membuka harapan bagi masyarakat desa untuk berubah. Hal tersebut menjadi momentum untuk mendorong lahirnya desa dengan tata kelola yang lebih akuntabel dan transparan, masyarakat desa yang partisipatif, dan perekonomian desa yang menghidupi. Gotong royong masyarakat yang kuat seharusnya berpengaruh pada percepatan pembangunan ekonomi desa.
Pendirian Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) didasarkan pada kebutuhan dan potensi desa sebagai upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) dibangun atas inisiasi masyarakat, yang berdasarkan prinsip kooperatif, partisipatif, emansipatif, transparan, akuntabel, dan berkelanjutan dengan mekanisme berbasis anggota dan pengusahaan
32
mandiri (Ridwan, 2014). Oleh karena itu masyarakatlah yang paling berhak mendapat manfaat dari keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES), baik manfaat langsung maupun tidak langsung.
a. Manfaat ekonomi (PADes)
Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) diharapkan mampu menstimulasi dan menggerakan roda perekonomian di pedesaan. Aset ekonomi yang ada di desa harus dikelola sepenuhnya oleh masyarakat desa. Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) akan bergerak seirama dengan upaya meningkatkan sumber-sumber pendapatan asli desa, menggerakan kegiatan ekonomi masyarakat di mana peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) sebagai institusi payung dalam menaungi ekonomi desa.
b. Manfaat sosial buadaya
Dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat dan pendapatan asli desa (PADes) maka Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) berkontribusi secara sosial untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan lapangan pekerjaan.
B. Tinjauan Empiris
Penelitian terdahuluNo Nama/Tahun Judul
Penelitian Metode Kesimpulan 1 Rismawati/
33
34
35
36
C. Kerangka Konseptual
Penelitian ini menggunakan pusat kajian sistem pembangunan (2007), karena dapat digunakan sebagaia acuan untuk menggambarkan dan menerangkan Peranan Pemerintah Desa Dalam Mengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Di Desa Ulubalang Kecamatan Salomekko Kabupaten Bone.
Ada tujuh variabel dalam pusat kajian dinamika sistem pembangunan (2007).
Yang dapat digunakan untuk Peranan Pemerintah Desa Dalam Mengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDES).
37
Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti gambarkan kerangka konsep yang jelas agar mudah dipahami.
Gambar 2.1 : Kerangka Konsep Sistem Pembangunan Dalam V.
Wiratna Sujarweni (2019) antara Menurut Pusat Kajian Dinamika lain:
1. Kooperatif 2. Partisipatif 3. Emansipatif 4. Transparan 5. Akuntabel 6. Sustainable
7. Peranan pemerintah desa
Peranan Pemerintah Desa Dalam Mengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Di Desa Ulubalang Kecamatan Salomekko Kabupaten Bone
38 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis penelitian
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif.
Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan antar variabel satu dengan variabel yang lain.
Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif yang dimaksudkan dalam peneltian ini, menurut peneliti adalah penulis yang langsung turun ke lapangan untuk mengumpulkan data penelitian.
Sehingga peneliti bisa mengetahui masalah dan pemahaman yang dihadapi Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) di Desa Ulubalang Kecamatan Salomekko Kabupaten Bone. Menurut Sugiyono (2005:1), penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah, sebagai lawannya adalah eksperimen, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.
B. Fokus Penelitian
Menurut Lexy J. Meleong (2010: 97), fokus penelitian dimaksud untuk membatasi penelitian guna memilih mana data yang relevan dan yang tidak relevan, agar tidak dimasukan ke dalam sejumlah data yang sedang
39
dikumpulkan. Fokus penelitian memberikan batasn-batasan hal yang diteliti dan berfungsi memberikan arahan selama proses penelitian, khususnya pada proses pengumpulan data untuk mendapatkan data yang relevan dengan penelitian.
Dalam hal ini fokus penelitian dapat berkembang atau berubah sesuai dengan perkembangan masalah penelitian di lapangan.
Hal tersebut sesuai dengan sifat pendekatan kualitatif yang lentur, yang mengikuti pola pikir empirical induktif, dimana segala sesuatu dalam penelitian ini ditentukan hasil akhir pengumpulan data yang mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Penelitian ini akan dilaksanakan di desa Ulubalng Kecamatan Salomekko Kabupaten Bone, penelitian ini berfokus pada Peranan Pemerintah Desa Dalam Mengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) di Desa Ulubalang Kecamatan Salomekko Kabupaten Bone.
Hal tersebut sesuai dengan sifat pendekatan kualitatif yang lentur, yang mengikuti pola pikir empirical induktif, dimana segala sesuatu dalam penelitian ini ditentukan hasil akhir pengumpulan data yang mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Penelitian ini akan dilaksanakan di desa Ulubalng Kecamatan Salomekko Kabupaten Bone, penelitian ini berfokus pada Peranan Pemerintah Desa Dalam Mengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) di Desa Ulubalang Kecamatan Salomekko Kabupaten Bone.
Fokus dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui Peranan Pemerintah Desa Dalam Mengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) di Desa Ulubalang Kecamatan Salomekko Kabupaten Bone.
40
C. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Ulubalang Kecamatan Salomekko Kabupaten Bone Sulawesi Selatan. Dengan judul penelitian Peranan Pemerintah Desa Dalam Mengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) di Desa Ulubalang Kecamatan Salomekko Kabupaten Bone. Alasan peneliti melakukan penelitian di Desa Ulubalng Kecamatan Salomekko Kabupaten Bone karena untuk mengetahui dan memahami Peranan Pemerintah Desa Dalam Mengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang dilakukan oleh pemerintah desa. Penelitian ini dilakukan selama dua bulan yaitu 15 juli sampai 14 september tahun 2020.
D. Sumber Data Penelitian
Sumber data yang digunakan dalam penelitian adalah sebagian berikut:
1. Data primer
Data primer adalah data pokok yang digunakan untuk mengetahui informasi yang akan diteliti, data primer bertujuan untuk memperkaya dan mempertajam penelitian sebagai penarikan kesimpulan. Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara terstruktur dan bersifat terbuka.
2. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang mempertegas dan mempertajam informasi yang mendukung data primer serta memperjelas peristiwa yang peneliti lakukan sesuai dengan judul penelitian. Data sekunder juga diperoleh dengan cara menelaah dokumen resmi, data pelaksanaan program, peraturan perundang-undangan dan data lain tertulis yang relevan dengan penelitian.
41
3. Informan
Informan yaitu untuk menyampaikan pandangan dan pendapat informan tentang penelitian. Adapun sumber dalam penelitian ini untuk mencari informasi dan data tentang Peranan Pemerintah Desa Dalam Mengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) di Desa Ulubalang Kecamatan Salomekko Kabupaten Bone yaitu 5 orang informan:
1. Kepala Desa Ulubalng Kecamatan Salomekko.
2. Sekretaris Desa Ulubalng Kecamatan Salomekko.
3. Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Desa Ulubalang Kecamatan Salomekko.
4. Sekretaris Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Desa Ulubalang Kecamatan Salomekko.
5. Bendahara Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Desa Ulubalang Kecamatan Salomekko.
E. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi
Hadi dalam Hikmawati (2017) mengemukakan bahwa, “Observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang disusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantarayang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan”. Observasi yang dimaksud dalam penelitian pengamatan yang dilakukan peneliti tentang program Peranan Pemerintah Desa Dalam Mengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) di Desa Ulubalang Kecamatan Salomekko Kabupaten Bone.
42
2. Wawancara
Wawancara adalah proses memperoleh keterangan dengan tujuan peneliti melakukan tanyajawab dengan informan. Sebagai teknik pengumpulan data peneliti menggunakan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apa bila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah reponden sedikit/kecil. Wawancara yang dilakukan dalam peneliti ini terkait Peranan Pemerintah Desa Dalam Mengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) di Desa Ulubalang Kecamatan Salomekko Kabupaten Bone dengan melakukan tanyajawab langsung antara peneliti dan informan penelitian.
Dalam tahapan wawancara ada beberapa cara yang dilakukan oleh peneliti yaitu:
a. Wawancara terstruktur artinya peneliti telah mengetahui dengan pasti apa informasi yang ingin digali dari responden sehingga daftar pertanyaannya sudah dibuat secara sistematis. Peneliti juga dapat mengguanakan alat bantu tape recorder, kamera photo, dan material lain yang dapat membantu kelancaran wawancara.
b. Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara bebas, yaitu peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan yang akan diajukan secara spesifik, dan hanya memuat poin-poin penting masalah yang ingin digali dari responden.
3. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumentasi bisa berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumentas dari
43
seseorang. Dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti yaitu dengan cara mendokumentasikan hal-hal yang berkaitan dengan wawancara, observasi dan lain-lain. Dokumentasi yang dimaksud dalam hal ini berupa dokumen-dokumen, foto, rekaman atau video yang diambil dalam pelaksaan penelitian.
F. Instrumen Penelitian
Instrumen utamanya adalah peneliti sendiri menggunakan alat bantu perekam suara yang terdapat pada handphone yang berfungsi untuk merekam seagala percakapan yang dilakukan peneliti terhadap informan yang terpilih, dan kamera digital untuk dokumentasi serta catatan lapangan yaitu dengan mencatat data yang terkait dengan penelitian yang ditemukan dilapangan.
G. Analisis Data
Miles dan Huberman dalam A. Muri Yusuf (2014) menegasaskan, bahwa dalam penelitian kualitatif data yang terkumpul melalui berbagai teknik pengumpulan data yang berbeda-beda, seperti interviu, observasi, kutipan, sari dari dokumen, catatan-catatan melalui tape; terlihat lebih banyak berupa kata-kata daripada angka. Oleh karena itu, data tersebut harus “diproses” dan dianalisis sebelum dapat digunakan.
44
Langkah teknik analisis data dijelaskan sebagai berikut:
Gambar 3.2: Analisa Data Model Miles dan Huberman Sumber : A.Muri Yusuf (2014)
Peneliti melakukan tiga kegiatan analisis data secara serempak, yaitu: (1) reduksi data (data reduction); (2) data display (display data); (3) penarikan kesimpulan/verifikasi.
Miles dan Hubermen (1984: 21-23) mengemukakan tentang ketiga kegiatan tersebut sebagai berikut.
1. Reduksi Data
Reduksi data menunjuk kepada proses pemilihan, pemokusan, penyederhanaan, pemisahan dan pentransformasian data “mentah” yang terlihat dalam catatan tertulis lapangan (written-up field notes). Oleh karena itu reduksi data berlangsung selama kegiatan penelitian dilaksanakan. Ini berarti pula reduksi data telah dilakukan sebelum pengumpulan data di lapangan, yaitu pada waktu penyusunan proposal, pada saat menentukan kerangka konseptual, tempat, perumusan pertanyaan penelitian, dan pemilihan pendekatan dalam
Pengumpulan Data
Display Data
Kesimpulan/
Verifikasi Reduksi
Data
45
pengumpulan data. Juga dilakukan pada waktu pengumpulan data, seperti membuat kesimpulan, pengkodean, membuat tema, membuat cluster, membuat pemisahan dan menulis memo. Reduksi data dilanjutkan sesudah kerja lapangan, sampai laporan akhir penelitian lengkap dan selesai disusun.
Reduksi data adalah kegiatan yang tidak terpisahkan dari analisis data.
Peneliti memilih data mana diberi kode, mana yang ditarik keluar, dan pola rangkuman sejumlah potongan atau apa pengembangan ceritanya merupakan pilihan analisis. Redaksi data adalah suatu bentuk analisis yang mempertajam, memilih, memfokuskan, membuang, dan mengorganisasikan data dalam satu cara, di mana kesimpulan akhir dapat digambarkan dan diverifikasikan.
2. Display Data
Kegiatan utama kedua dalam analisis data display. Display dalam konteks ini adalah kumpulan informasi yang telah tersusun yang membolehkan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Data display dalam kehidupan sehari-hari atau dalam interaksi sosial masyarakat terasing, maupun lingkungan belajar di sekolah atau data display surat kabar sangat berbeda antara satu dengan yang lain. Namun dengan melihat tayangan atau data display dari suatu fenomena akan membantu seseorang memahami apa yang terjadi atau mengerjakan sesuatu. Kondisi yang demikian akan membantu pula dalam melakukan analisis lebih lanjut berdasarkan pemahaman yang bersangkutan.
Bentuk display data dalam penelitian kualitatif yang paling sering yaitu teks naratif dan kejadian atau peristiswa itu terjadi di masa lampau.
3. Kesimpulan/Verifikasi
Kegiatan utama ketiga dalam analisis data yaitu penarikan kesimpulan/verifikasi. Sejak awal pengumpulan data, peneliti telah mencatat dan memberi makna sesuatu yang dilihat atau diwawancarainya. Memo dan memo
46
telah ditulis, namun kesimpulan akhir masih jauh. Peneliti harus jujur dan menghindari bias subjektivitas dirinya.
Luasnya dan lengkapnya catatan lapangan, jenis metodologi yang digunakan dalam pengesahan dan pengelolaan data, serta pengalaman peneliti dalam penelitian kualitatif, akan memberi warna kesimpulan penelitian. Sejak awal peneliti harus mengambil inisisatif, bukan membiarkan data menjadi rongsokan yang tidak bermakna. Reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi harus dimulai sejak awal. Ini berarti apabila proses sudah benar dan data yang dianalisis telah memenuhi standar kelayakan dan konformitas, maka kesimpulan awal yang diambil akan dapat dipercayai.
Disamping itu perlu pula diingat antara reduksi data display data dan penarikan kesimpulan merupakan segitiga yang saling berhubungan. Antara reduksi data dan display data saling berhubungan timbal balik. Demikian juga antara reduksi data dan penarikan kesimpulan/verifikasi; serta antara display data dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Dengan kata lain, pada waktu melakukan reduksi data pada hakikinya sudah penarikan kesimpulan, dan pada waktu penarikan kesimpulan selalu bersumber dari reduksi data atau data yang sudah direduksi dan juga dari display data. Kesimpulan yang dibuat bukan sekali jadi. Kesimpulan menuntut verifikasi oleh orang lain yang ahli dalam bidang yang diteliti, atau mungkin juga mengecek dengan data lain, namun perlu diingat bahwa seandainya menambah data, berarti perlu dilakukan lagi reduksi data display data dan penarikan kesimpulan berikutnya.
47 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Badan Usaha Milik Desa (BUMDES)
1. Profil Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Bangkit Bersama Desa Ulubalang Kecamatan Salomekko Kabupaten Bone.
Organisasi ekonomi perdesaan menjadi bagian penting sekaligus masih menjadi titik lemah dalam rangka mendukung penguatan ekonomi perdesaan.
Oleh karenanya diperlukan upaya sistematis untuk mendorong organisasi ini agar mampu mengelola aset ekonomi strategis di desa sekaligus mengembangkan jaringan ekonomi demi meningkatkan daya saing ekonomi perdesaan. Dalam konteks demikian, Badan usaha milik desa (BUMDES) pada dasarnya merupakan bentuk konsolidasi atau penguatan terhadap lembaga-lembaga ekonomi desa.
Beberapa agenda yang bisa dilakukan antara lain:
Pengembangan kemampuan SDM sehingga mampu memberikan nilai
tambah dalam pengelolaan aset ekonomi desa,
Mengintegrasikan produk-produk ekonomi perdesaan sehingga memiliki
posisi nilai tawar baik dalam jaringan pasar,
Mewujudkan skala ekonomi kompetitif terhadap usaha ekonomi yang dikembangkan,
Menguatkan kelembagaan ekonomi desa,
Mengembangkan unsur pendukung seperti perkreditan mikro, informasi pasar, dukungan teknologi dan manajemen, prasarana ekonomi dan jaringan komunikasi maupun dukungan pembinaan dan regulasi.
48
BUMDES merupakan instrumen pendayagunaan ekonomi lokal dengan berbagai ragam jenis potensi. Pendayagunaan potensi ini terutama bertujuan untuk peningkatan kesejahteran ekonomi warga desa melalui pengembangan usaha ekonomi mereka. Disamping itu, keberadaan BUM Desa juga memberikan sumbangan bagi peningkatan sumber pendapatan asli desa yang memungkinkan desa mampu melaksanakan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan rakyat secara optimal.
Bahwa dengan diterbitkannya Undang-Undan Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Sebagaimana diamanatkan dalam bab X yang menyatakan Desa dapat mendirikan Badan Usaha Milik Desa yang disebut BUM Desa. Pemerintah Desa dapat mendirikan Badan Usaha Milik Desa sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa dengan harapan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan desa. Sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan pendirian BUM Desa, maka berdasarkan Pasal 136 PP Nomor 43 Tahun 2015 Tentang Peraturan Pelaksanaan UU Nomor 6 tentang Desa.
2. NAMA, WAKTU, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA
1) Lembaga ini bernama Badan Usha Milik Desa BANGKIT BERSAMA yang selanjutnya disebut BUMDes BANGKIT BERSAMA.
2) BUMDes BANGKIT BERSAMA didirikan pada tanggal 7 Februari 2016 untuk waktu yang tidak terbatas.
2) BUMDes BANGKIT BERSAMA didirikan pada tanggal 7 Februari 2016 untuk waktu yang tidak terbatas.