• Tidak ada hasil yang ditemukan

yang dilakukan untuk mengurangi pencemaran sungai agar tidak terjadi penurunan kualitas air dan dapat digunakan sesuai peruntukannya dan juga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.17 Sedangkan menurut Darmono menyatakan bahwa pencemaran merupakan faktor abiotik, baik secara alamiah maupun karena ulah manusia yang telah melebihi ambang batas toleransi ekosistem biotik disebut sebagai pencemaran atau polusi.

Pencemaran air adalah dimasukkannya suatu zat atau komponen asing kedalam sungai yang dapat menurunkan kualitaas, merusak, dan mencemari aliran-aliran sungai. Tingginya tingkat pencemaran sungai didominasi oleh pembuangan limbah hasil kegiatan rumah tangga secara langsung ke sungai dan limbah hasil pengelolaan perkebunan, pertanian atau industry.18

Pada prinsipnya pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) adalah pengaturan yang mengatur tata guna lahan atau optimalisasi penggunaan lahan untuk kepentingan-kepentingan masyarakat secara rasional serta praktek lainnya. Salah satu karakteristik suatu DAS adalah adanya keterkaitan biofisik anatara daerah hulu sungai dengan daerah hilir melalui daur hidrologi.19

Dalam penanggulangan pencemaran sungai tidak terlepas dari upaya pengelolaan, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, evaluasi dan kegiatan lainya yang mendukung program kegiatan penanggulangan pencemaran untuk

17 Mahyudin, Soemarno, Tri Budi Prayogo. “Analisis Kualitas Air dan Strategi Pengendalian Pencemaran Air Sungai Metro di Kota Kepanjen Kabupaten Malang” dalam jurnal hukum lingkungan J-PAL Vol 6, (Malang: Universitas Brawijaya, 2015). hlm 113

18 Subardan Rochmad, Dipl. Ruang Lingkup Pencemaran

19 Adi Susetyaningsih, “Pengaturan Penggunaan Lahan Di Daerah Hulu DAS Cimanuk Sebagai Upaya Oftimalisasi Pemanfaatan Sumber Daya Air”, hlm 3

wilayah yang memiliki daerah aliran sungai. Menurut Dixon pengelolaan di defenisikan sebagai proses formulasi dan implementasi dari suatu rangkaian kegiatan yang menyangkut sumber daya alam dan manusia dalam suatu DAS dengan memperhitungkan kondisi sosial, politik, ekonomi, dan faktor-faktor institusi yang ada DAS dan disekitarnya untuk mencapai tujuan sosial yang spesifik.20

Istilah pencemaran air dapat dipresepsikan berbeda oleh satu orang dengan orang lainnya mengingat banyak pustaka acuan yang merumuskan defenisi istilah tersebut, baik dalam kamus atau dalam buku teks ilmiah.

Pengertian pencemaran air juga didefenisikan dalam peraturan pemerintah, sebagai turunan dari pengertian pencemaran lingkungan hidup yang didefenisikan dalam Undang-undang. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1990 Tentang Pengendalian Pencemaran Air, pencemaran air didefenisikan sebagai: “pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, atau komponen lain kedalam air oleh kegiatan manusia yang menyebabkan kualitas air sungai menurun serta mengakibatkan air sungai tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.21

Daerah aliran sungai juga didefenisikan sebagai suatu wilayah yang dibatasi oleh pembatas topografi punggung bukit yang menerima, mengumpulkan air hujan serta mengalirkannya melalui anak-anak sungai ke sungai utama selanjutnya dialirkan ke laut atau ke danau. Dapat dikemukakan bahwa DAS merupakan suatu ekosistem, dimana unsur organisme dan lingkungan biofisik berinteraksi secara dinamis dan didalamnya terdapat keseimbangan dari material dan energi. Selain itu penanggulangan pencemaran sungai dapat disebut sebagai pengembangan serta pelestarian wilayah yang

20 Paimin , Irfan Budi Pramono, Dkk. System Perencanaan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Bogor; Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPTKDAS), hlm. 14

21 Lina Warlina, Pencemaran Air: Sumber, Dampak dan Penanggulangannya, hlm. 4

menempatkan DAS sebagai suatu unit pengelolaan sumber daya alam (SDA), yang secara umum untuk mencapai tujuan peningkatan produksi pertanian, perikanan, industry, dan lain sebagainya.22

Tingginya tingkat pencemaran daerah aliran sungai yang disebabkan oleh pembuangan limbah plastik kedalam sungai serta penyalahgunaan pemanfaatan lahan merupakan faktor sungai sering mengalami pencemaran.

Secara umum masalah pencemaran dilihat dari media yang dicemari, dapat digolongkan menjadi 3 kelompok, yaitu: pencemaran udara (air pollution), pencemaran air (water pollution), dan pencemaran tanah (soil pollution).

Daerah aliran sungai adalah suatu sistem yang kompleks yang terdiri dari sistem fisik, sistem biologis, dan sistem manusia yang saling berkaitan satu sama lain.23 Air sungai bisa mengalami penurunan kualitas air, jika air tersebut tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan secara normal. Mutu air merupakan tingkat kondisi air yang menunjukan bahwa air sungai tercemar atau tidak tercemar pada suatu sumber air. Status mutu air dapat dilakukan dengan metode indeks pencemaran air.24

Namun dalam penanggulangan pencemaran dan pengelolaan air sungai tidak terlepas dari upaya perencanaan, pemanfaatan, pengendalian serta pemeliharaan lingkungan daerah aliran sungai. Pengendalian pencemaran DAS merupakan salah satu bagian pengelolaan kualitas air, mencakup pencegahan

22 Edy Effendi, Kajian Model Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Terpadu., hlm 3

23 Adi Susetyaningsih, “Pengaturan Penggunaan Lahan di Daerah Hulu DAS Cimanuk Sebagai Upaya Oftimalisasi Pemanfaatan Sumber Daya Air”, hlm 1

24Umbu A. Hamakonda, Bambang Suharto, dkk, “Analisis Kualitas Air Dan Beban Pencemaran Air Pada Sub Das Boentuka Kabupaten Timor Tengah Selata” dalam Jurnal Teknologi Pertanian, Vol. 23, No.1, (Malang: Universitas Brawijaya, 2019), hlm. 56

dan pemulihan kualitas air sungai agar sesuai dengan baku mutu. Sebagai bagian dari mekanisme penegakan hukum dan pengawasan di daerah hilir sungai.25 B. Dasar-dasar Hukum Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS)

Dasar-dasar Hukum Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan landasan hukum dalam pengelolaan dan pelestarian aliran sungai, ada beberapa peraturan yang mengatur tentang Daerah Aliran Sungai diantaranya:

a. Undang-undang Dasar 1945 Pasal 33 Ayat 3

b. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 Tentang Perairan c. Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan d. UU Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konsevasi Alam Hayati dan

Ekosistemnya

e. Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah

f. Undang-undang Nomor 23 Tahun Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup

g. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang h. Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumberdaya Air i. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan

Daerah

j. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan Pemerintah Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten atau Kota

k. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 Tentang Tata Hutan Dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan

25 Hary Setijono, Siti Latifah, Dkk, “Revitalisasi Pengelolaan Hutan Berbasis KPH dan Mendukung Geopark Kaldera Toba”, (Medan: 2015), hlm. 59

l. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007

m. Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2008 Tentang Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan

n. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 52 Tahun 2001 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pengelolaan DAS

o. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup

p. Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

q. Peraturan Gubernur Aceh Nomor 28 Tahun 2010 Tentang Rencana Aksi Pengurangan Risiko Bencana Aceh

r. Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2018 Tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Terpadu26

C. Faktor Penyebab Pencemaran Daerah Aliran Sungai (DAS)

Daerah aliran sungai bentuknya perairan terbuka yang mengalirkan air dan juga sebagait media masukan buangan yang berasal dari kegiatan manusia.

Pemasukkan buangan kedalam sungai mengakibatkan perubahan warna dan bau yang kurang enak yang berasal dari perairan. Sungai yang berada di Desa kilangan, Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh singkil merupakan sungai yang dekat dengan pemukiman penduduk sehingga menimbulkan permasalahan yang paling mencolok terjadi di daerah aliran sungai singkil. Sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan peningkatan kegiatan pembanguna ekonomi di Kabupaten Aceh singkil yang menyebabkan peningkatan buangan limbah.27

26 Heriamariaty, Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Pencemaran Air Akibat Penambangan Emas di Sungai Kahayan, hlm. 536-537

27 Hartina Sabahuddin, Dony, dkk. “Analisis Status Air dan Daya Tampung Beban Pencemaran Sungai Wangu Kota Kendari“, hlm. 19-20

Air sebagai kebutuhan pokok kehidupan manusia. Seperti untuk kebutuhan rumah tangga, untuk lahan pertanian, industri dan juga untuk kolam perikanan. Termasuk sebagai kegunaan air secara konvensional. Air juga diperlukan untuk menunjang kegiatan industri dan teknologi. Kegiatan industri dan teknologi juga membutuhan air.

Dalam hal ini air sangat diperlukan agar industri dan teknologi agar dapat berjalan dengan baik. Dalam bidang industri dan teknologi air dipergunakan sebagai:

a. Air proses b. Air pendingin

c. Air ketel uap penggerak turbin d. Air ulilitas dan sanitasi

Apabila air yang diperlukan dalam kegiatan industry dan teknologi itu dalam jumlah yang besar, maka perlu dipikirkan dari mana air tersebut diperoleh. Air yang diambil dari sumber penampungan air tidak boleh menggagu keseimbangan lingkungan. Keseimbangan air tidak hanya berkaitan dengan jumlah volume (debit) air yang digunakan saja tapi tentang pentingnya menjaga air tidak tercemar. Peningkatan jumlah penduduk berakibat pula pada pola perubahan konsumsi masyarakat yang cukup tinggi, dengan luas lahan yang tetap akan mengakibatkan tekanan terhadap lingkungan semakin berat. Berbagai kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang berasal dari pertanian dan industri akan menghasilkan limbah yang memberi menyebabkan penurunan kualitas air sungai.28

28 Mahyudin, Soemarno, dkk, “Analisis Kualitas Air dan Strategi Pencemaran” J-PAL Vol. 6, (Malang: Universitas Brawijaya, 2015), hlm. 106

Salah satu masalah DAS adalah adanya pencemaran pada perairan pesisir. Masalah pencemaran ini disebabkan aktifitas manusia seperti pembukaan lahan untuk pertanian, pengembangan kota dan industri, penebangan kayu, dan penambangan di daerah tangkap air atau daerah aliran sungai (DAS) serta limbah rumah tangga yang tinggal didaerah pesisir. Pembukaan lahan pertanian telah meningkatkan limbah pertanian baik limbah padat maupun cair yang ke perairan melalui aliran sungai. Jumlah industri yang meningkatkan juga akan meningkatkan jumlah limbah terutama limbah cair. Menurut Cicin-Sain dan Knecht pencemaran pada perairan pesisir sebagai dampak dari adanya aktifitas ekonomi menjadi salah satu hal yang perlu ditangani dalam pengelolaan wilayah pesisir yang inovatif.29

Walaupun air merupakan sumber daya alam yang dapat diperberharui, tetapi air dapat dengan mudah mengalami pencemaran oleh aktifitaas manusia.

Air banyak digunakan manusia untuk tujuan bermacam-macam sehingga dengan mudah dapat tercemar. Pencemaran air dapat merupakan masalah regional maupun lingkungan. Dengan demikian banyak sekali penyebab terjadinya pencemaran air ini, yang akhirnya akan bermuara ke lautan sehingga mencemari pantai dan laut sekitarnya.

Ada beberapa penyebab pencemaran daerah aliran sungai diantaranya:

a. Bahan Buangan Padat

Bahan buangan padat yang dimaksud adalah bahan yang berbentuk padat baik yang kasar (butiran kasar) maupun butiran halus. Apabila bahan buangan padat larut di dalam air maka kepekatan atau berat jenis cairan akan buruk dan disertai perubahan warna. Bahan buangan padat yang berbentuk halus sebagian

29 Alex frasisca, “Tingkat Pencemaran Perairan Ditinjau dari Pemanfaatan Ruang Wilayah Pesisir Kota Cilgon”, dalam Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol. 22, (Citangkil-Cilegon, 2011), hlm. 146

ada yang larut dan sebagian lagi tidak dapat larut akan terbentuk koloidal yang melayang dalam air.

b. Bahan Buangan Organik

Bahan buangan organik umumnya berupa limbah yang dapat membusuk atau terdegrasi oleh mikroorganisme. Bahan buangan organik akan dapat meningkatkan populasi mikroorganisme di dalam air sehingga memungkinkan untuk ikut berkembangnya bakteri pathogen.

c. Bahan Buangan Anorganik

Bahan buangan anorganik umumnya berupa limbah yang tidak dapat membusuk dan sulit didegradasi oleh mikroorganisme. Menurut pakar menyatakan bahan buangan anorganik biasanya berasal dari industry yang melibatkan penggunaan unsur-unsur logam.

d. Bahan Buangan Olahan Bahan Makanan

Air lingkungan yang mengandung bahan buangan olahan makanan akan banyak mengandung mikroorganisme, termasuk di dalamnya bakteri phatogen.

Bahan buangan olahan makanan mengandung gugus amin yang apabila didegradasi oleh mikroorganisme akan terurai menjadi senyawa yang mudah menguap dan berbau busuk.

e. Bahan Buangan Cairan Berminyak

Minyak tidak dapat larut dalam air, melainkan akan mengapung di permukaan air bahan buangan cairan berminyak yang dibuang ke air akan mengapung menutup permukaan air. Menurut fardias ada 2 (dua) jenis penyusutan luas permukaan tergantung pada jenis minyak dan waktu. Lapisan minyak dipermukaan air akan menghalangi difusi oksigen, menghalangi sinar matahari sehingga kandungan oksigen di air menjadi menurun.

f. Bahan Buangan Zat Kimia

Bahan buangan zat kimia banyak ragamnya, tetapi yang dimaksud adalah bahan pencemar air berupa sabun (diterjen, shampo, pemutih, dan lainnya. Adanya bahan buangan zat kimia yang berlebihan kedalam air ditandai dengan timbulnya buih-buih sabun pada permukaan air.30

Bambang Pramudyanto menjelaskan bahwa sumber pencemaran daerah pesisir berasal dari kegiatan daratan (Land-bassed pollution). Secara umum kegiatan atau aktifitas di daratan yang berpotensi mencemari lingkungan pesisir dan laut, antara lain adalah :

1). Penebangan hutan (deforestation)

2). Buangan limbah industri (disposal of industrial wastes) 3). Buangan limbah pertanian (disposal of agricultural wastes) 4). Buangan limbah cair domestik (sewegal disposal)

5). Buangan limbah padat (solid waste disposal)

6). Konvensi lahan magrove dan lamun (magrove swamp conversion) 7). Reklamasi di kawasan pesisir ( reclamation)31

D. Dampak Pencemaran Daerah Aliran Sungai (DAS)

Dampak pencemaran adalah suatu perubahan yang terjadi sebagai akibat suatu aktifitas.Aktifitas tersebut dapat bersifat alamiah seperti padatnya tumbuhan eceng gondok, bencana banjir, gempa bumi, longsor, dan bencana alam lainnya. Ada juga aktifitas yang dilakukan manusia misalnya pembuangan

30 Wisnu Arya Wardhana, Dampak Pencemaran Lingkungan, (Yogyakarta: Andi), hlm.

19 31 Bambang Pramudyanto, “Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan di Wilayah Pesisir”, Vol. 4, (Tangerang: 2014), hlm. 26

sampah sembarangan dan penggundulan hutan. 32 Penemaran air dapat berdampak sangat luas, misalnya dapat meracuni air minum, meracuni makanan hewan, menjadi penyebab ketidak seimbangan ekosistem sungai dan danau.

Dampak pencemaran air umumnya dibagi dalam 4 kategori:

1. Dampak terhadap kehidupan biota air 2. Dampak terhadap kualitas air tanah 3. Dampak terhadap kesehatan

4. Dampak terhadap estetika lingkungan 1. Dampak Terhadap Kehidupan Biota Air

Banyaknya zat pencemar pada air limbah akan menyebabkan menurunnya kadar oksigen terlarut dalam air tersebut sehingga mengakibatkan kehidupan dalam air yang membutuhkan oksigen terganggu serta mengurangi perkembangannya. Selain itu kematian juga dapat disebabkan oleh zat beracun yang juga menyebabkan kerusakan pada tumbuhan air. Akibat matinya bakteri-bakteri maka proses penjernihan air secara alami yang seharusnya terjadi pada air limbah juga terhambat. Dengan air limbah menjadi sulit terurai

2. Dampak Terhadap Kualitas Air Tanah

Pencemaran air tanah terjadi dalam skala luas hal ini telah dibuktikan oleh suatu survey penggalian sumur dangkal. Banyak penilitian yang mengindisikan pencemaran tersebut.

3. Dampak Terhadap Kesehatan

Peran air sebagai pembawa penyakit menular bermacam-macam antara lain:

a. Air sebagai media untuk hidup mikroba pathogen

32 Otto Soemarwoto, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, (Jakarta: Gadjah Mada University Press), hlm.38

b. Air sebagai insekta penyebar penyakit

c. Air sebagai media untuk hidup vector penyakit

Ada beberapa penyakit yang masuk dalam kategori water-borne disease, atau penyakit yang di bawa oleh air yang tercemar, yang banyak terdapat didaerah-daerah. Penyakit-penyakit ini dapat menyebar bila mikroba penyebabnya dapat masuk ke dalam sumber air yang dipakai masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan jenis mikroba yang dapat menyebar lewat air antara lain, bakteri, protozoa dan metazoa.

4. Dampak Terhadap Estetika Lingkungan

Dengan semakin banyaknya zat organik yang dibuang ke lingkungan perairan maka perairan tersebut akan semakin tercemar yang biasanya ditandai dengan bau yang menyengat disamping tumpukan yang dapat mengurangi estetika lingkungan. Masalah limbah minyak atau juga dapat mengurangi estetika. Selain bau, limbah tersebutjuga menyebabkan tempat sekitarnya menjadi licin. Sedangkan limbah detergen atau sabunakan menyebabkan penumpukan busa yang sangat banyak. Ini pun dapat mengurangi estetika.33

Sedangkan dampak pencemaran yang di sebabkan oleh limbah rumah tangga dapat mempengaruhi terhadap kualitas air, sehingga terjadi pencemaran terhadap air misalkan air bekas mandi dan air cucian. Air yang tercemar tidak dapat di gunakan lagi untuk keperluan rumah tangga, air yang sudah tercemar dan kemudian tidak dapat di gunakan lagi sebagai penunjang kehidupan manusia, akan menimbulkan dampak sosial yang sangat luas dan akan memakan waktu lama untuk memulihkannya, padahal air yang di butuhkan untuk keperluan rumah tangga sangat banyak. Air tidak dapat digunakan untuk keperluan industri, kalau air sudah tercemar. Dampak dari pembungan limbah padat organik yang berasal dari kegiatan rumah tangga, limbah padat organik

33 Lina Warlina, pencemaran Air, Sumber, Dampak dan Penanggulangannya, hlm. 17-19

yang didegradasi oleh mikroorganisme akan menimbulkan bau yang diakibatkan penguraian limbah tersebut menjadi yang lebih kecil. Dampak dalam kesehatan yaitu dapat menyebabkan dan menimbulkan penyakit, potensi bahaya kesehatan yang dapat di timbulkan adalah: penyakit diare, kudis dan kurap dan penyakit lainnya yang berasal dari sungai yang tercemar.34

E. Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2018 Tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Terpadu

Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2018 Tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Terpadu mengatur tentang pengelolaan DAS agar selalu di gunakan sesuai dengan kebutuhan meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dalam pemeliharaan, pelestarian, serta pengelolaan DAS. sebagaimana yang diatur dalam pasal 5 Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2018 yang berbunyi:

Ruang lingkup pengaturan pengelolaan DAS terpadu dalam Qanun ini meliputi

a. Wewenang dan tanggung jawab Pemerintah Aceh b. TKPDAS-T

c. Perencanaan d. Pelaksanaan

e. Monitoring dan evaluasi f. Pembinaan dan pengawasan

g. Peran serta dan pemberdayaan masyarakat h. Insentif

i. Penyelesaian sengketa

j. Ketentuan penyelidikan dan penyidikan k. Sanksi administrasi

l. Larangan m. Sumber dana n. Ketentuan pidana

34 Rosmida hasibuan, Analisis Dampak Limbah Atau Sampah Rumah Tangga Terhadap Pencemaran Lingkungan Hidup, Jurnal Ilmiah. Vol. 04. Nomor 01. 2016. hlm 45-46

Pelaksanaan pengelolaan daerah aliran sungai terpadu untuk menjamin kelestarian fungsi das sebagaimana yang diatur dalam pasal 3 yang berbunyi:

Pengelolaan daerah aliran sungai terpadu dimaksudkan untuk menjamin kelestarian fungsi DAS sebagai sumber utama kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya secara serasi, seimbang dan berkesinambungan melalui koordinasi, integrasi, sinkronisasi, dan sinergi antar berbagai pihak dalam:

1. Pemanfaatan ruang, pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan dalam suatu DAS dan

2. Perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi serta pembinaan dan pengawasan pengelolaan DAS.35

Pasal 7 berbunyi pengelolaan DAS dilaksanakan pada:

a. DAS yang dipulihkan daya dukungnya dan b. DAS yang dipertahankan daya dukungnya

c. Pengelolaan DAS sebagaimana yang dimaksud pada ayat 1 huruf a dan huruf b dilakukan dengan mempertimbangkan indikator kinerja DAS.

d. Indikator kenerja DAS sebagaimana yang dimaksud pada ayat 2 ditentukan berdasarkan indikator dari kriteria lahan, tata air, sosial ekonomi dan bidaya nilai investasi bangunan air dan pemanfaatan ruang wilayah.36

Pasal 13 Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2018 Tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Terpadu berbunyi:

a. Pengelolaan DAS terpadu diselenggarakan berdasarkan perencanaan pengelolaan DAS pada masing-masing DAS atau pada SWP atau DAS.

b. Perencanaan sebagaimana yang dimaksud pada ayat 1 dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan pihak terkait serta bersifat lintas sektor, lintas wilayah, serta lintas disiplin ilmu.

35 Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2018 Tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Terpadu. hlm 5-6

36 Ibid-6

c. Penyusunan perencanaan pengelolaan DAS terpadu lintas wilayah Provinsi dilaksanakan oleh unit kerja instansi vertikal terkait dengan berkoordinasi antar pemerintah provinsi.

d. Rencana pengelolaan DAS terpadu menjadi bagian dalam penyusunan rencana pembangunan Aceh.37

Demikian juga dengan ketentuan teknis perencanaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan pengelolaan DAS yang dilakukan oleh Pemerintah baik ditingkat Provinsi maupun ditingkat Kabupaten atau Kota sebagaimana yang dimaksud pada pasal 9 yang berbunyi:

Pemerintah Aceh berwewenang dan bertanggung jawab melaksanakan pengelolaan DAS lintas Kabupaten atau Kota dan dalam kabupaten atau Kota Aceh dengan mempertimbangkan keistimewaan dan kekhususan Aceh.

Pelaksanaan syariah secara formal di Aceh dimulai sejak bergulirnya reformasi.

Dimulai dengan disahkanya Undang-undang Nomor 44 Tahun 1999 Tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Undang-undang ini menegaskan bahwa status keistimewaan Aceh terletak pada kewenangan khusus untuk menyelenggarakan kehidupan beragama, adat, pendidikan, dan ulama dalam menetapkan kebijakan daerah. Lalu pada tahun 2001 Presiden Abdurrahman Wahid kembali memperkuat kedudukan keistimewaan Aceh dengan otonomi khusus melalui pengesahan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus bagi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Melalui Undang-undang Nomor 18 Tahun 2001 inilah Aceh diperkenankan menerapkan syariah sebagai hukum formal, membentuk pengadilan syariah, dan mengartikulasikan aturan-aturan kedalam bentuk qanun.38

37 Ibid-8

38 Zainal Abidin, Dkk, Analisis Qanun-Qanun Aceh Berbasis Hak Asasi Manusia.

Demos. Jakarta 2011 hlm xi.

Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2018 Tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Terpadu, merupakan salah satu peraturan yang mengatur terkait pengelolaan DAS dimana didalam qanun tersebut bertujuan :

a. Mewujudkan kelestarian fungsi dan manfaat sumberdaya alam DAS dalam menunjang peningkatan kesejahteraan masyarakat

b. Mewujudkan tata kondisi air DAS yang optimal meliputi kualitas, kuantitas, dan kontinuitas

c. Mewujudkan kondisi lahan yang optimal sesuai dengan daya dukung dan daya tampung DAS dan

d. Mewujudkan kelestarian DAS yang mendukung upaya mitigasi bencana39

Dalam pasal 8 Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2018Tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Terpadu berbunyi:

a. Pengelolaan DAS terpadu dilakukan pada das prioritas Aceh

b. DAS prioritas Aceh yang dimaksud pada ayat 1 ditetapkan dengan memperhatikan kriteria kebutuhan sumber air domestik, sumber air irigasi dan mitigasi bencana

c. Peneteapan DAS prioritas Aceh sebagaimana yang dimaksud pada ayat 2 dapat dilakukan pada masing-masing SWP atau DAS

d. DAS prioritas Aceh sebagaimana yang dimaksud pada ayat 1 ditetapkan oleh Gubernur sesuai kewenangannya dan dilaporkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Aceh40

Menurut Van Meter dan Van Horn Imple-mentasi kebijakan merupakan suatu proses yang begitu kompleks bahkan tidak jarang bermuatan politis dengan adanya intervensi berbagai-bagai kepentingan. Serta tindakan yang

Menurut Van Meter dan Van Horn Imple-mentasi kebijakan merupakan suatu proses yang begitu kompleks bahkan tidak jarang bermuatan politis dengan adanya intervensi berbagai-bagai kepentingan. Serta tindakan yang

Dokumen terkait