• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2. Pengertian Penataan Permukiman Nelayan

Pembangunan dalam konteks penataan dan pengembangan wilayah adalah berbagai jenis kegiatan baik yang mencakup sektor pemerintah maupun masyarakat dilaksanakan dalam rangka memperbaiki tingkat kesejahteraan hidup masyarakat (Santosa, 2000:27). Penataan merupakan sebuah kegiatan membentuk benda, energi dan proses menuju sebuah kebutuhan dan keinginan yang dimiliki seseorang atau sekelompok manusia (Van der Ryn, 2003:65).

Arahan penataan kawasan yang tepat haruslah sustainable (berkelanjutan).

Prinsip sustainable memiliki poin-poin sebagai acuan dalam melakukan analisa potensi, penataan dan pengembangan didalam masyarakat (Vales, 2001:54) yang meliputi efisiensi energi, Penyesuaian terhadap iklim, membudayakan daur ulang, menghargai pengguna, menghargai lingkungan dan menyeluruh.

Teori penataan dan pengembangan kawasan harus didasarkan interaksi dua arah, yaitu sebuah studi mengenai hubungan saling menguntungkan antara manusia dengan lingkungan terbangun disekitarnya (terkait 3 variabel) : karakteristik manusia sebagai pembentuk karakter lingkungan, lingkungan fisik dan manusia, mekanisme yang menghubungkan antara manusia dengan lingkungan dalam interaksi dua arah.

UU No. 1 Tahun 2011 tentang perumahan dan kawasan permukiman bahwa pemerintah perlu lebih berperan dalam menyediakan dan memberikan kemudahan dan bantuan perumahan dan kawasan permukiman yang berbasis kawasan serta keswadayaan masyarakat sehingga merupakan satu kesatuan fungsional dalam wujud tata ruang fisik, kehidupan ekonomi dan sosial budaya yang mampu menjamin kelestarian lingkungan hidup sejalan dengan semangat demokrasi, otonomi daerah dan keterbukaan dalam tatanan kehidupan masyarakat, berbangsa, bernegara.

Permukiman merupakan suatu masalah yang kompleks yang berhubungan dan terkait dengan sosial,ekonomi, budaya, ekologi, dan sebagainya. Kompleksitas yang terjadi dalam permukiman adalah suatu hal yang wajar mengingat hakekat dan fungsi permukiman begitu luas dalam kehidupan manusia, walaupun tidak dengan sendirinya berarti selalu diperhatikan dan diperhitungkan.

Masalah permukiman berkaitan erat dengan proses pembangunan yang menyangkut masalah sosial, ekonomi dan lingkungan sekkitarnya. Seperti halnya yang dikemukakan oleh Soedarsono (2006:82), bahwa permukiman adalah suatu kesatuan kawasan perumahan lengkap dengan prasarana lingkungan , prasarana umum, fasilitas sosial yang mengandung keterpaduan kepentingan dan keselarasan pemanfaatan sebagai lingkungan kehidupan. Peningkatan konsentrasi permukiman

sering tidak diikuti dengan peningkatan prasarana dan sarana permukiman. Sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk maka bertambah pula kebutuhan terhadap prasarana permukiman.

Sementara Batubara (2006:60) merumuskan bahwa permukiman adalah suatu kawasan perumahan yang ditata secara fungsional, ekonomi dan fisik tata ruang yang dilengkapi dengan prasarana lingkungan, sarana umum dan fasilitas sosial sebagai satu kesatuan yang utuh dengan membudidayakan sumber daya dan dana, mengelola lingkungan yang ada untuk mendukung kelangsungan perikatan mutu kehidupan manusia, memberikan rasa aman, tenteram dan nikmat, nyaman dan sejahtera dalam keserasian dan keseimbangan agar berfungsi sebagai wadah yang dapat melayani kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Studi mengenai penataan permukiman nelayan ini memiliki acuan kepada isu-isu utama baik yang bersifat universal sesuai yang dicanangkan habitat Agenda II maupun yang bersifat lokal dan sesuai dengan lokasi studi, yaitu dari kebijakan dan strategi nasional perumahan dan permukiman. Permukiman sebagai produk tata ruang mengandung arti tidak sekedar fisik saja tetapi juga menyangkut hal-hal kehidupan. Permukiaman pada dasarnya merupakan suatu bagian wilayah tempat dimana penduduk/pemukim tinggal, berkiprah dalam kegiatan kerja dan kegiatan usaha, berhubungan dengan sesama pemukim sebagai suatu masyarakat serta memenuhi berbagai kegiatan kehidupan.

Menurut Doxiadis (2001:45), permukiman merupakan totalitas lingkungan yang terbentuk oleh lima unsur utama, yaitu :

1. Alam (nature), lingkungan biotik maupun abiotik. Permukiman akan sangat ditentukan oleh adanya alam baik sebagai lingkungan hidup maupun sebagai sumber daya seperti unsur fisik dasar.

2. Manusia (antropos), permukiman dipengaruhi oleh dinamika dan kinerja manusia.

3. Masyarakat (society), hakekatnya dibentuk karena adanya manusia sebagai kelompok masyarakat. Aspek-aspek dalam masyarakat yang mempengaruhi permukiman antara lain: kepadatan dan komposisi penduduk, Stratifikasi sosial, unsur budaya, perkembangan ekonomi, tingkat pendidikan, kesejahteraan, kesehatan dan hukum.

4. Ruang kehidupan (shell), ruang kehidupan menyangkut berbagai unsur dimana manusia baik sebagai individu maupun sebagai kelompok masyarakat melaksanakan kiprah kehidupannya.

5. Jaringan (Network), yang menunjang kehidupan (jaringan jalan, jaringan air bersih, jaringan drainase, telekomunikasi, listrik dan sebagainya).

Menurut Kuswartojo Tjuk dan Suparti AS (2005:17) , konsep permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup diluarasan lindung, dapat merupakan kawasan perkotaan dan pedesaan, berfungsi sebagai lingkungan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Sedangkan perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau hunian plus sarana dan prasarana lingkungan.

Sarana lingkungan permukiman adalah fasilitas penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya (UU No.1 Tahun 2011 tentang perumahan dan permukiman), sedangkan prasarana

meliputi jaringan transportasi seperti jalan raya, jalan kereta api, sungai yang dimanfaatkan sebagai sarana angkutan dan jaringan utilitas seperti : air bersih, air kotor, pengaturan air hujan, jaringan telepon, jaringan gas, jaringan listrik dan sistem pengelolaan sampah.

Parwata (2004:72) menyatakan bahwa permukiman adalah suatu tempat bermukim manusia yang telah disiapkan secara matang dan menunjukkan suatu tujuan yang jelas, sehingga memberikan kenyamanan kepada penghuninya.

Permukiman adalah area tanah yang digunakan sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung peri kehidupan dan merupakan bagian dari lingkungan hidup diluar kawasan lindung baik yang berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan.

Secara geografis, masyarakat nelayan adalah masyarakat yang hidup, tumbuh dan berkembang dikawasan pesisir, yakni suatu kawasan transisi antara wilayah darat dan wilayah laut. Sebagai suatu system, masyarakat nelayan terdiri atas kategori-kategori sosial yang membentuk kekuatan sosial. Mereka juga memiliki sistem nilai dan simbol-simbol kebudayaan sebagai referensi perilaku mereka sehari-hari. Faktor budaya ini menjadi pembeda masyarakat nelayan dari kelompok masyarakat lainnya.

Sebagian besar masyarakat pesisir, baik langsung maupun tidak langsung, menggantungkan kelangsungan hidupnya dari meneglola potensi sumber daya perikanan. Mereka menjadi komponen utama kontruksi masyarakat maritime Indonesia (Kusnadi, 2009:86).

Menurut Kusnadi (2003:62) ada dua sebab yang menyebabkan kemiskinan nelayan, yaitu sebab yang bersifat internal dan bersifat eksternal. Kedua sebab

tersebut Saling berinteraksi dan melengkapi. Sebab kemiskinan yang bersifat internal berkaitan erat denga kondisi internal sumber daya manusia nelayan dan aktivitas kerja mereka. Sebab-sebab internal ini mencakup masalah: (1) keterbatasan kualitas sumber daya manusia nelayan, (2) keterbatasan kemampuan modal usaha dan teknologi penangkapan, (3) hubungan kerja (pemilik perahu nelayan buruh), (4) kesulitan melakukan diversifikasi usaha penangkapan, (5) ketergantungan yang tinggi terhadap okupasi melaut, dan (6) gaya hidup yang dipandang boros sehingga kurang berorientasi ke masa depan.

Sebab kemiskinan yang bersifat eksternal berkaitan dengan kondisi diluar diri dan aktivitas kerja nelayan. Sebab-sebab eksternal ini mencakup masalah: (1) kebijakan pembangunan perikanan yang lebih berorientasi pada produktivitas untuk menunjang pertumbuhan ekonomi nasional dan parsial, (2) sistem pemasaran hasil perikanan yang lebih menguntungkan pedagang perantara, (3) kerusakan ekosistem pesisir dan laut karena pencemaran dari wilayah darat, praktik penangkapan dengan bahan kimia, pengerusakan terumbu karang, dan konversi hutan bakau dikawasan pesisir (4) Penggunaan peralatan tangkap yang tidak ramah lingkungan, (5) penegakan ukum yang lemah tehadap perusak lingkungan.

Selanjutnya Mulyadi (2007:48) mengatakan bahwa sesungguhnya, ada dua hal utama yang terkandung dalam kemiskinan, yaitu kerentanan dan ketidakberdayaan.

Dengan kerentanan yang dialami, orang miskin akan mengalami kesulitan untuk menghadapi situasi darurat. Ini dapat dilihat pada nelayan perorangan misalnya, mengalami kesulitan untuk membeli bahan bakar untuk keperluan melaut. Hal ini

disebabkan sebelumnya tidak ada hasil tangkapan yang bisa dijual, dan tidak ada dana cadangan yang dapat digunakan untuk keperluan yang mendesak.

Sebagai suatu masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir, masyarakat nelayan mempunyai karakteristik sosial tersendiri yang berbeda dengan masyarakat yang tinggal di daratan. Di beberapa kawasan pesisir yang relative berkembang pesat, struktur masyarakatnya bersifat heterogen, memiliki etos kerja tinggi, solidaritas sosial yang kuat, serta terbuka terhadap perubahan dan interaksi sosial.

Sekalipun demikian, masalah kemiskinan masih mendera sebagaian masyarakat pesisir, sehingga fakta sosial ini terkesan ironi di tengah-tengah kekayaan sumber daya pesisir dan lautan, (Kusnadi 2007:134).

Nelayan adalah suatu kelompok masyarakat yang kehidupannya tergantung langsung pada hasil laut, baik dengan cara melakukan penangkapan ataupun budi daya. Mereka pada umumnya tinggal dipantai, sebuah lingkungan pemukiman yang dekat dengan lokasi kegiatannya (Mulyadi 2007:46).

Nelayan identik dengan keterbatasan aset, lemahnya kemampuan modal, posisi tawar dan akses pasar (Siswanto 2008:216). Sesungguhnya, nelayan bukanlah suatu entitas tunggal, mereka terdiri dari beberapa kelompok.

Dilihat dari segi pemilikan alat tangkap, nelayan dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu nelayan buruh, nelayan juragan, dan nelayan perorangan. Nelayan buruh adalah nelayan yang bekerja dengan alat tangkap milik orang lain. Sebaliknya, nelayan juragan adalah nelayan yang memiliki alat tangkap yang dioperasikan oleh orang lain. Adapun nelayan perorangan adalah nelayan yang memiliki peralatan

tangkap sendiri, dan dalam pengoperasiannya tidak melibatkan orang lain (Mulyadi 2007:46).

Karakteristik Permukiman Nelayan menurut Suprijanto (2008:16) karakteristik ekonomi, sosial dan budaya dari kota tepi pantai, tempat berkembangnya permukiman nelayan adalah memiliki keunggulan lokais yang dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, penduduk mempunyai kegiatan sosial-ekonomi yang berorientasi ke air dan darat, rata-rata penduduk golongan ekonomi lemah, dengan latar belakang pendidikan relatif terbatas pengetahuan akan lingkungan sehat cenderung masih kurang , terjadi kebiasaan tidak sadar lingkungan serta cenderung kurang memperhatikan bahaya dan resiko, terdapat peninggalan sejarah/budaya seperti museum bahari,dsb. Terdapat masyarakat yang secara tradisi terbiasa hidup (bahkan tidak dapat dipisahkan) diatas air. Terdapat pula tradisi/budaya pemanfaatan perairan sebagai sarana transportasi utama, merupakan kawasan terbuka sehingga rawan terhadap keamanan, seperti penyelundupan, penyusupan, dsb. Sedangkan karakteristik perumahan dan permukiman di daerah tepi pantai (permukiman nelayan) adalah sebagai berikut : kawasan permukiman diatas air cenderung rapat (kepadatan bangunan tinggi dan jarak antar bangunan rapat) dan kumuh (tidak teratur, kotor, dll).

Permukiman terbentuk dari kesatuan isi dan wadahnya. Kesatuan antara manusia sebagai penghuni (isi) dengan lingkungan hunian (wadah). Dalam pengaturan permukiman dibutuhkan berbagai pengkajian, tidak hanya terdapat faktor fisik alami saja, akan tetapi juga harus memperhitungkan karakter manusianya serta kearifan lokal yang berlaku sebagai kehidupan yang utama. Karena esensi permukiman

meliputi manusia serta wadahnya (tempat) maka perlu memahami dengan baik hubungan antara elemen-elemen permukiman itu sendiri.

Dominasi kawasan perumahan permukiman nelayan yang umumnya kumuh dan belum tertata. Daerah atas air pada umumnya cenderung memiliki pola cluster, yang tidak teratur dan organik. Pada daerah-daerah yang telah ditata umumnya menggunakan pola grid atau linear sejajar garis badan perairan.

Menurut ST. Khadija (2008:68) arti kata Nelayan terbagi dalam dua pengertian nelayan, yaitu :

1. Nelayan sebagai subyek/orang merupakan sekelompok masyarakat manusia yang memiliki kemampuan serta sumber kehidupan disekitar pesisir pantai.

2. Nelayan sebagai predikat/pekerjaan merupakan suatu sumber penghasilan masyarakat yang berkaitan erat dengan sektor perikanan dan perairan (laut dan sungai).

Permukiman nelayan adalah merupakan lingkungan tempat tinggal dengan sarana dan prasarana dasar yang sebagian besar penduduknya merupakan masyarakat yang memiliki pekerjaan sebagai nelayan dan memiliki akses dan keterkaitan erat antara penduduk permukiman nelayan dengan kawasan prairan sebagai tempat mereka mencari nafkah, meskipun demikian sebagian dari mereka masih terikat dengan daratan.

Secara umum permukiman nelayan dapat digambarkan sebagai suatu permukiman yang sebagian besar penduduknya merupakan masyarakat yang memiliki sebagai nelayan sedangkan pekerjaan nelayan itu sendiri adalah pekerjaan yang memiliki cirri utama adalah mencari ikan di perairan. Sedangkan menurut

Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 15/Permen/M/2006tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyelenggaraan Pengembangan Kawasan Nelayan, Perumahan kawasan nelayan untuk selanjutnya disebut kawasan nelayan adalah perumahan kawasan khusus untuk menunjang kegiatan fungsi kelautan dan perikanan.

Tipologi bangunan menggunakan struktur dan konstruksi sederhana, tradisional dan kenvensional yang kurang memperhitungkan pengaruh angin,tsunami, gempa dll. Pada perkembangannya kampung-kampung nelayan berkembang semakin padat dan tidak tertib karena pertumbuhan penduduk alami dan urbanisasi. Kriteria fisik lingkungan kawasan permukiman nelayan sebagai berikut : (Departemen Pekerjaan Umum, 2007: 73)

a. Tidak berada pada daerah rawan bencana

b. Tidak berada pada wilayah sempadan pantai dan sungai c. Kekuatan tanah daratan pantai : tinggi

d. Tinggi ombak signifikan : kecil

e. Fluktuasi pasang surut dan arus laut : kecil

Kawasan perumahan nelayan ini dilengkapi dengan prasarana dan sarana yang memadai untuk kelangsungan hidup dan penghidupan para keluarga nelayan.

Kawasan permukiman nelayan merupakan bagian dari sistem permukiman perkotaan atau perdesaan yang mempunyai akses terhadap kegiatan perkotaan/perdesaan lainnya yang dihubungkan dengan jaringan transportasi.

Pendapat lain disampaikan oleh Departemen Pekerjaan Umum Bidang Cipta Karya tentang Karakteristik permukiman nelayan adalah :

1. Merupakan permukiman yang terdiri atas satuan-satuan perumahan yang memiliki berbagai sarana dan prasarana yang mendukung kehidupan dan penghidupan penghuninya.

2. Berdekatan atau berkaitan langsung dengan perairan dan memiliki akses yang tinggi terhadap kawasan perairan.

3. 60% dari jumlah penduduk merupakan nelayan, dan pekerjaan lainnya yang terkait dengan pengolahan dan penjualan ikan.

4. Memiliki berbagai sarana yang mendukung kehidupan dan penghidupan penduduknya sebagai nelayan, khususnya dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan eksplorasi ikan dan pengolahan ikan.

Kawasan permukiman nelayan tersusun atas satuan-satuan lingkungan perumahan yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan yang sesuai dengan besaran satuan lingkungan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Kawasan perumahan nelayan haruslah mempunyai ataupun memenuhi prinsip-prinsip layak huni yaitu memenuhi persyaratan teknis, persyaratan administrasi maupun persyaratan lingkungan. Dari berbagai parameter tentang permukiman dan karakteristik nelayan dapat dirumuskan bahwa permukiman nelayan merupakan suatu lingkungan masyarakat dengan sarana dan prasarana yang mendukung, dimana masyarakat tersebut mempunyai ketertarikan dengan sumber mata pencaharian mereka sebagai nelayan.Secara tersirat mengandung banyak permasalahan yang terkait dengan keragaman wilayah maupun keragaman dinamika penghuninya.

Permukiman adalah perumahan dengan segala isi dan kegiatan yang ada didalamnya.

Perumahan merupakan wadah fisik sedang permukiman merupakan paduan antara

wadah dengan isinya, yaitu manusia yang hidup bermasyarakat dengan unsur budaya dan lingkungannya.

Karakteristik kehidupan masyarakat nelayan adalah sebagai berikut : a. kehidupan masyarakat nelayan ditinjau dari aspek sosial

Hubungan sosial yang terjadi dalam ingkungan masyarakat nelayan adalah akibat interaksi dengan lingkungannya. Adapun ciri sosial masyarakat nelayan sebagai berikut :

1. Sikap kekerabatan atau kekeluargaan yang sangat erat.

2. sikap gotong royong/paguyuban yang tinggi.

Kedua sikap telah banyak mewarnai kehidupan masyarakat nelayan yang pada umumnya masih bersifat tradisional. Lahirnya sikap ini sebagai akibat dari aktivitas nelayan yang sering meninggalkan keluarganya dalam kurun waktu cukup lama, sehingga timbul rasa keterkaitan serta keakraban yang tinggi antara keluarga-keluarga yang ditinggalkan untuk saling tolong menolong. Hal ini dapat tercermin pada pola permukimannya yang mengelompok dengan jarak yang saling berdekatan, sikap gotong royong yang tampak saat pembuatan rumah, memperbaiki jala ikan, memperbaiki perahu dan alat tangkap serta pada upacara adat, ketika akan melakukan penangkapan ikan yang juga dilakukan secara gotong royong dilaut yang dipimpin oleh seorang punggawa.

b. Kehidupan masyarakat nelayan ditinjau dari aspek budaya

Beberapa hal yang telah membudaya dalam masyarakat nelayan adalah kecenderungan hidup lebih dari satu keluarga dalam satu rumah atau mereka cenderung untuk menampung keluarga serta kerabat mereka dalam waktu yang

cukup lama. Hal ini menyebabkan sering dijumpai jumlah anggota keluarga dalam satu rumah melebihi kapasitas daya tampung, sehingga ruang gerak menjadi sempit dan terbatas dampaknya itu pula mereka cenderung untuk memperluas rumah tanpa terencana.

Adapun adat kebiasaan yang turun temurun telah berlangsung pada masyarakat nelayan adalah seringnya mengadakan pesta syukuran atau selamatan, misalnya pada waktu peluncuran perahu baru ketika akan melakukan pemberangkatan, dan saat berakhirnya musim melaut agar pada musim berikutnya mendapatkan hasil yang lebih banyak dan lain-lain.

c. Kehidupan masyarakat nelayan ditinjau dari aspek ekonomi

Usaha perikanan banyak tergantung pada keadaan alam, sehingga pendapatan nelayan tidak dapat ditentukan. Tingkat penghasilan nelayan umumnya dibagi atas dua :

1.Penghasilan bersih yang diperoleh selama melaut jika seorang sawi maka besar pendapatannya sesuai dengan kesepakatan.

2.Penghasilan sampingan yaitu penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan tambahan, baik pekerjaan itu didapat ketika jadi buruh, petani dan berdagang maupun pekerjaan atau kerajinan dalam mengelola hasil laut lainnya.

Diamati kondisi ketiga kelompok tersebut diatas, maka sepintas lalu dapat dikemukakan bahwa umumnya taraf hidup kehidupan masyarakat nelayan terutama yang menangkap ikan secara tradisional termasuk paling rendah sedangkan masyarakat pantai yang bergerak dibidang pertempaian/tambak menempati taraf hidup yang lebih baik. Sedangkan untuk yang teratas diduduki oleh

masyarakat/pedagang. Desa nelayan umumnya terletak dipesisir pantai, maka penduduk desa tersebut sebagian besar mempunyai mata pencaharian sebagai nelayan. Melihat bahwa merek berada pada daerah pesisir sehingga akan bertambah secara berkelompok-kelompok mengikuti pola lingkungan karena adanya faktor laut sebagai faktor pendukung, sehingga penduduk setempat mempunyai tata cara kehidupan yang bersifat tradisional dengan kehidupan yang spesifik pula.

Sarana permukiman nelayan terdiri dari : 1. Tempat Pelelangan Ikan (TPI)

Tempat pelelangan ikan (TPI) adalah tempat jual beli ikan dengan sistem lelang dimana terdapat kegiatan menimbang,menempatkan pada keranjang-keranjang dengan jenis-jenisnya atau digelar dilantai siap untuk dilelang, kemudian pelelangan lalu pengepakan dengan es untuk keranjang/peti ikan yang sudah beku.

Lokasi tempat pelelangan ikan sebaiknya dekat dengan dermaga sehingga memudahkan pengangkutannya dari kapal-kapal. Kegiatan ini banyak menggunakan air, oleh karena itu sebaiknya dekat dengan air bersih, kondisi saluran drainase dilokasi tempat pelelangan ikan harus baik agar air tidak tergenang sehingga tidak menimbulkan bau yang menyengat.

2. Tambatan Perahu

Tempat penambatan perahu adalah tempat perahu-perahu bersandar/parker sebelum dan sesudah bongkar muat ikan. Biasanya berdekatan dengan tempat pelelangan ikan. Fungsi tambatan perahu sebagai tempat untuk mengikat perahu saat berlabuh dan tempat penghubung antara dua tenpat yang dipisahkan oleh laut, sungai maupun danau. Terdapat dua tipe tambatan perahu terdiri dari :

a. Tambatan tepi digunakan apabila dasar tepi sungai atau pantai cukup dalam, dibangun searah tepi sungai atau pantai.

b. Tambatan dermaga digunakan apabila dasar sungai atau pantai cukup landai, dibangun menjalar ketengah.

c. Tempat penjemuran ikan berfungsi untuk mengeringkan ikan sebagai proses pengawetan.

Prasarana permukiman nelayan adalah kelengkapan dasar fisik suatu lingkungan yang pengadaannya memungkinkan suatu lingkungan yang pengadaannya memungkinkan suatu kawasan permukiman nelayan dapat beroperasi dan berfungi sebagaimana mestinya, seperti: jaringan air bersih dan air limbah, jaringan drainase, jaringan persampahan dan jaringan jalan.

1. Jaringan Jalan

Menurut Adji Adisasmita (2010) prasarana jalan mempunyai peranan yang sangat besar dalam kehidupan manusia, dalam perekonomian dan pembangunan.

Hampir seluruh kegiatan manusia dilakukan diluar rumah. Kegiatan dan kebutuhan manusia semuanaya menggunakan transportasi jalan dan jasa pelayanan jalan, berarti prasarana jalan adalah sangat penting dan sangat besar.

Jaringan jalan dikawasan perumahan menurut fungsinya adalah jalan lokal dan jalan lingkungan dalam sistem jaringan jalan sekunder.

2. Jaringan Air Limbah/Air Kotor

Limbah adalah air bekas buangan yang bercampur kotoran,air bekas/air limbah ini tidak diperbolehkan dibuang kesembarangan/dibuang keseluruh lingkungan,

tetapi harus ditampung kedalam bak penampungan. Limbah kotoran dari masyarakat dan juga berasal dari industri, air tanah, air permukaan serta buangan lainnya.

Menurut Sugiharto (2001) , sumber asal air limbah dibagi menjadi dua, yaitu air limbah domestik (rumah tangga) dan air limbah non domestik (industri). Air limbah domestik yaitu sumber utama air limbah rumah tangga dari masyarakat adalah berasal dari perumahan, daerah perdagangan, perkantoran serta daerah fasilitas rekreasi sedangan air limbah non domestik yaitu jumlah aliran air limbah yang berasal dari industri sangat bervariasi tergantung dari jenis dan besar kecilnya industri, pengawasan pada proses industri dan derajat penggunaan air.

3. Jaringan Drainase

Sistem drainase dapat didefinisikan sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan ait suatu kawasan atau lahan sehingga alah dapat difungsikan secara optimal

4. Jaringan Persampahan

Sampah adalah segala sesuatu yang tidak lagi dikehendaki oleh yang punya dan bersifat padat. Sampah adalah limbah atau buangan yang bersifat padat, seengah padat yang merupakan hasil sampingan dari kegiatan perkotaan atau siklus kehidupan manusia,hewan maupun tumbuh-tumbuhan.

5. Jaringan Air Bersih

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri terdapat pengertian mengenai air bersih yaitu air yang dipergunakan untuk keperluan sehari-hari dan kualitasnya memenuhi persyaratan

kesehatan air bersih sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dapat diminum apabila dimasak.

Permukiman di kawasan pesisir ada dua macam yaitu, yang berada di area daratan dan di segmen perairan (diatas air). Permukiman yang berada disegmen perairan adalah permukiman didirikan diatas badan air.

Rumah-rumah yang dibangun diarea darat dalam kawasan pesisir ada dua bentuk, yaitu :

a. Bentuk tradisional atau panggung dengan material dari kayu dan bamboo.

Rumah-rumah jenis ini umumnya didirikan diatas lahan yang seharusnya adalah sempadan pantai atau pada lahan yang menjadi milik tuan tanah dan mereka hanya menumpang diatasnya.

b. Bentuk rumah modern atau non panggung dengan material dari batu bata.

Bentuk rumah yang demikin umumnya didirikan diseberang jalan lingkungan atau jalan desa dan bukan merupakan area sempadan pantai.

Konsep lokasi permukiman tradisional nelayan yang berbasis pekerjaan sesuai dengan konsep yang diutarakan oleh Mulyadi (2007:48), bahwa nelayan menempatkan lokasi permukiman dipinggiran pantai sebuah lingkungan yang dekat dengan lokasi pekerjaan. Demikian pula pemilihan lokasi permukiman dengan jarak ketempat kerja dan fasilitas ekonomi. Jarak dari lokasi pekerjaan kelokasi permukiman adalah penting. Sedang ketersediaan sarana ekonomi penunjang pekerjaan nelayan dalam permukiman tradisional didukung oleh pernyataan Junaidi (2009:53) bahwa masyarakat nelayan memerlukan sarana penunjang perikanan seperti TPI untuk memasarkan hasil tangkapannya.

Dokumen terkait