• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Pendidikan akhlak a.Definisi Pendidikan

PENDIDIKAN AKHLAK

A. Pengertian Pendidikan akhlak a.Definisi Pendidikan

Menurut kamus besar bahasa indonesia, pendidikan adalah suatu proses untuk mengubah skap dan tingkah laku seseorang maupun sekelompok orang dengan tujuan untuk mendewasakan seseorang melalui usaha pengajaran dan pelatihan 1.

Pendidikan dilihat dari istilah bahasa Arab maka pendidikan mencakup berbagai pengertian, antara lain tarbiyah, tahzib, ta‟lim, ta'dib, siyasat, mawa‟izh,

'ada ta'awwud dan tadrib. Sedangkan untuk istilah tarbiyah, tahzib dan ta'dib sering dikonotasikan sebagai pendidikan. Ta'lim diartikan pengajaran, siyasat diartikan siasat, pemerintahan, politik atau pengaturan. Muwa'izh diartikan pengajaran atau

peringatan. ‟Ada Ta'awwud diartikan pembiasaan dan tadrib diartikan pelatihan. Istilah tersebut sering dipergunakn oleh beberapa ilmuwan sebagaimana Ibn MiskawaihPerbedaan itu tidak menjadikan penghalang dan para ahli sendiri tidak mempersoalkan penggunaan istilah di atas. Karena, pada dasarnya semua pandangan yang berbeda itu bertemu dalam suatu kesimpulan awal, bahwa pendidikan merupakan suatu proses penyiapan generasi muda untuk menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebih baik.

1

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Depatemen Pendidikan Nasional, cet 3, 2005), h. 263 27

John Dewey berpendapat bahwa pendidikan adalah suatu proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya perasaann (emosional) menuju ke arah tabiat manusia biasa 2.

Sedangkan Abudi Nata berpendapat pendiidkan adalah suatu usaha yang didalamnya ada proses belajar untuk menumbuhkan atau meggali segenap potensi fisik, psikis, bakat, minat dan sebagainya, yang dimilki oleh para manusia 3. Karena didalamnya ada suatu proses maka hasilnya akan berubah dari awal sebelum seseorang itu memdapatkan pendidikan sampai ia selesai mendapat didikan.

b. Definisi Akhlak

akhlak didapat dari bahasa arab dari kata “khuluqun” bentuk jama‟ dari kata “khuluq” yang mempunyai arti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat,

kebiasaan atau adat, keperwiraan, kesatrian, kejantanan, agama dan kemarahan (al Ghodhob).

Dari kata khulqun, hal ini sangat memungkinkan bahwa tujuan dari akhlak adalah ajaran yang mengatur hubungan dari manusia kepada sang Khalik dan makhluk lain. Menurut Imam Al Gazali dalam Ihya Ulumuddin sebagai beriku

نيا تجبحيرغ نيرسيو تنىهسب لبعفلاارذصت بهنع,تخس ار سفننا فى تئيه نع ةبربع كهخنبف

كف

تيؤرو ر

Akhlak adalah sebuah bentuk ungkapan yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan yang gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan4

2

M. Arifin, “Filsafat Pendidikan Islam”, (Jakarta, Bumi Aksara,2001), h. 1 3

Abudin Nata, “Pemikiran Pendidikan Islam dan Barat”, (Jakarta, Rajawali Pers, 2012), h. 19 4

Akhlak dalam kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti budi pekerti, kelakuan5. Artinya akhlak adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh seseorang, entah baik atau buruk.

Akhlak menurut istilah menurut beberapa pakar dalam bidang akhlak sebagai berikut:

1) Al-Hafidz Hasan al-Mas‟udi

Akhlak adalah sebuah ibarat atau dasar untuk mengetahui baiknya hati dan panca indra, dan akhlak termasuk sebagai hiasaan diri kita dan bertujuan untuk menjauhkan dari perkara yang jelek, dan buah dari akhlak adalah bersih hati dan panca indranya di dunia lebih-lebih beruntung diakhirat kelak nati.6

2) Ibn Miskawaih

Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong seseorang melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan

3) Al-Faidh al-Kasyani

Akhlak adalah ungkapan untuk menunjukan kondisi yang mandiri dengan mudah tanpa didahului perenungan dan pemikiran.

4) Muhyidin Ibn Arabi

Akhlak adalah keadan jiwa seseorang yang mendorong manusia untuk berbuat tanpa melalui pertimbangan dan pilihan terlebih dahulu. Keadaan tersebut pada

5

Kamus Besar Bhasa Indonesia (KBBI), Op.Cit, 2005, h. 205 6

seseorang boleh jadi merupakan tabiat atau bawaan dan boleh jadi juga merupakan kebiasaan melalui latihan dan perjuangan.

5) Ibrahim Anis

Akhalk ialah sifat yang tetanam dalam jiwa, yang denagnnya lahitlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai akhlak dan hal-hal yang berkaitan dan senada denagn akhlak, maka penulis perlu menjelaskan tentang etika, moral, susila dan hubungan etika, moral, susila dengan akhlak.

a. Etika

Kata etika berasal dari yunani yang berarti adat kebiasaan. Hal ini berarti adat kebiasaab. Hal ini berarti sebuah tatanan perilaku berdasarkan suatu sistem nilai dalam masyarakat tertentu. Etika lebih banyak berkaitan denagn ilmu atau filsafat. Oleh karena itu, standar baik dan buru adalah akal manusia

Sedangkan menurut Musa Asy‟ari dalam buku filsafat Islam pendekatan

tematik, etika adalah cabang filsafat yang mencari hakikat nilai-nilai baik dan buruk yang berkaitan dengan perbuartan dan tindakan seseorang yang dilakukan dengan penih kesadaran berdasarkan pertimbangan pemikirannya7. b. Moral

7

Imam Hanafi Al-Jauharie, “Filsafat Islam Pendekatan Tematik” (Pekalongan:STAIN PREES,

Kata moral berasal dari bahasa latin, yaitu mos. Kata mos adalah bentuk kata tunggal dan jamaknya adalah mores. Hal ini adalah kebiasaan, susila. Adat kebiasaan adalah tindakan manusia yang sesuai dengan ide-ide umum tentang yang baik dan yang buruk yang diterima oleh masyarakat, oleh karena itu moral adalah perilaku yang sesuai dengan ukuran-ukuran tindakan sosial atau lingkungan tetentu yang diterima oleh masyarakat. Pengertian lain moral adalah suatu aturan yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benra atau salah, baik atau buruk.

c. Susila

Selanjutanya susila dapat diartikan sopan, baik budi bahasanya. Dan kesusilaan sama halnya dengan kesopanan. Denagn begitu kesusilaan lebih mengarahkan kepada upaya membimbing, memandu, mengarahkan, membiasakan dan memasyarakatkan hidup yang sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku di daam masyarakat 8.Hubungan antara etika, moral, susila dan akhlak dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa etika, moral, susila dan akhlak adalah sama, yaitu menentukan hukum atau nilai dari perbuatan ynag dilakukan manusia untuk ditentukan baik dan buruknya. Perbedaannya terletak pada patokan atau sumber yang dijadikan ukuran baik dan buruk. Didalam etika penilaian berdasarkan pemdapat akal pikiran, dan pada moral dan susila berdasarkan kebiasaan yang berlaku umum dalam masyarakat,

8

sedangakan dalam akhlak dalam ukuran yang digunakan sebagai standar baik dan buruk itu adalah Al-Qur‟an dan As-Sunnah.

Apabila kata akhlak ini dikaitkan dengan pendidikan, maka mempunyai pengertian bahwa pendidikan akhlak adalah penanaman, pengembangan dan pembentukan akhlak yang mulia didalam diri peserta didik. Pendidikan akhlak merupakan suatu program pendidikan atau pelajaran khusus, akan tetapi lebih merupakan satu dimensi dari seluruh usaha pendidikan 9

Jika akhalk memang sudah ada dalam jiwa seseorang maka yang perlu atau dibutuhkan ialah pengelolaan terhadap akhlak tersebut yang nantinya akan menimbulkan akhlak yang baik yang sesuai dengan ajaran Rosulullah. Tidak mungkin ada akhlak yang baik selama seseorang tidak pernah mau untuk

menjadikannya akhlak yang baik yang sesuai dengan alqur‟an dan hadis selama tidak mau melatihnya.

Imam Al-Ghazali mengatakan bahwasanya, akhlak yang sesuai dengan agama tidak akan tertanam di dalam jiwa selama tidak membiasakan semua kebiasaan yang baik dan selama tidak meninggalkan semua perbuatan yang buruk, jika selama tidak merutinkan untuk melakukan semua itu sebagai rutinitas orang sangat rindu kepada amal-amal yang baik dan merasa senang dengan melakukannya, serta benci dan merasa sakit dengan perbuatan-perbuatan yang buruk10.



9 Ibid 10

Artinya: Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan pada diri sendiri (Q.S Ar Rad :11)11

Penjelesan ayat diatas dimaksudkan dengan bahwasanya akhlak yang baik perlu adanya pelatihan yang sungguh-sungguh dengna bekerja keras dan penuh dengan keyakinan maka akhlak yang baik akan tumbuh serta akan habit dalam diri seseorang. Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.

Aristoteles mengemukakan bahwa, akhlak atau karakter memiliki dua sisi yaitu : pertama , perilaku benar dalam hubungan dengan orang lain dan kedua , perilaku benar dalam kaitannya dengan diri sendiri12. Kehidupan yang penuh kebajikan berisi kebajikan berorientasi kepada orang lain,seperti, keadilan, kejujuran, rasa syukur, dan cinta, tetapi juga termasuk kebajikan berorientasi kepada diri sendiri seperti, kerendahan hati, ketabahan, kontrol diri, dan berusaha yang terbaik daripada menyerah pada kemalasan .13

Adapun mengenai penjelasan diatas yaitu melalui dua hal ini manusia diajak untuk mengenali keterbatasan diri, potensi-potensi serta kemungkinan bagi perkembangan manusia. Orang yang memiliki akhlak kuat adalah mereka yang tidak mau dikuasai oleh sekumpulan realitas yang telah ada begitu saja dari sananya.

11

Departemen Agama RI, “Al-Qur‟an Terjemah”, (Ponorogo. Pustaka Setia, 2009), h. 337 12

Thomas Lickona, “Character Matter Persoalan Karakter”, (Jakarta, Bumi Aksara, 2012), h.21 13

Sedangkan orang yang memiliki akhlak lemah adalah orang yang tunduk pada sekumpulan kondisi yang telah diberikan kepadanya tanpa dapat menguasainya.

Dari beberapa pengertian tersebut dapat dinyatakan bahwa akhlak adalah sikap pribadi yang stabil hasil proses konsolidasi secara progresif dan dinamis, integrasi pernyataan dan tindakan. Seseorang dikatakan berakhlak jika telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam hidupnya. Demikian juga, seorang pendidik dikatakan berakhlak jika ia memiliki nilai dan keyakinan yang dilandasi hakikat dan tujuan pendidikan serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik.14

akhlak adalah sebagai suatu kondisi yang diterima tanpa kebebasan dan akhlak yang diterima sebagai kemampuan seseorang untuk secara bebas mengatasi keterbatasan kondisinya ini membuat manusia tidak serta-merta jatuh dalam fatalisme akibat determinasi alam, ataupun terlalu tinggi optimisme seolah kodrat alamiah manusia tidak menentukan pelaksanaan kebebasan yang manusia miliki.

akhlak juga dapat dikatakan adalah sebagai proses perkembangan, dan pengembangan akhlak adalah sebuah proses berkelanjutan dan tak pernah (never ending process) selama manusia hidup dan selama sebuah bangsa ada dan tetap berusaha. Pendidikan akhlak harus menjadi bagian terpadu dari pendidikan alih generasi agar menciptakan generasi yang berakhlak.

14

M. Furqon Hidayatullah, “Besar Sejati Membangun Insan Berkarakter Kuat Dan Cerdas”, (Surakarta, Yuma Pustaka, 2009), h.9

Secara sederhana akhlak dapat dikatakan sebagai nilai-nilai dan sikap hidup yang positif, yang dimiliki seseorang sehingga memengaruhi tingkah laku, cara berpikir dan bertindak orang tersebut, dan akhirnya menjadi tabiat hidupnya. Akhlak juga ternyata tidak hanya sebagai suatu sifat bawaan, tetapi dapat diupayakan melalui suatu tindakan secara berulang dan rutin.15

Akar dari semua tindakan yang jahat dan buruk, tindakan kejahatan, terletak pada hilangnya akhlak. Akhlak yang kuat adalah sandangan fundamental yang memberikan kemampuan kepada populasi manusia untuk hidup bersama dalam kedamaian serta membentuk dunia yang dipenuhi dengan kebaikan dan kebajikan, yang bebas dari kekerasan dan tindakan-tindakan tidak bermoral.16

Kemajuan suatu bangsa terletak pada akhlak bangsaan dan kewargaan dari warga bangsa dan seluruh aparatur negara, sebab akhlak, sebagai gambaran jati diri kebangsaan dan kewargaan, menjadi ciri dasar perilaku yang bersendikan nilai-nilai luhur dari suatu bangsa. Nilai-nilai luhur kebangsaan Indonesia bersumber pada Pancasila sebagai dasar negara, ideologi dan kaidah penuntun yang mengandung seperangkat nilai guna hidup masyarakat, bangsa dan negara. Pancasila mengandung nila-nilai yang adalah perasaan (sari) dari seperangkat nilai kebaikan dan kearifan yang menjadi dasar moralitas masyarakat dan bangsa Indonesia.

15

Daryanto Suryatri Darmiatun, “Implementasi Pendidikan Karakter Disekolah”, (Yogyakarta,

Gava Media, Cet Ke 1,2013), h. 4 16

Muchlas Samani Dan Hariyanto, Konsep Dan Model Pendidikan Karakter. (Bandung: Remaja Rosdakarya, Cetakan Kedua, 2012), h.41

Imam Al-Ghazali sangat menekankan pada pendidikan akhlak yang dimulai dari akhlak pendidiknya dahulu. Imam Al-Ghazali juga berpendapat bahwa seorang pendidik harus sesuai dengan ajaran dan pengetahuan yang diajar pada murid atau siswanya. Dalam Ihya Ulumuddin jilid 1, beliau memberikan perumpamaan guru dengan murid bagai tongkat dengan bayang-bayangnya, yang mana guru sebagai tongkatnya tidak akan menemui bayangnya lurus apabila tongkatnya bengkok.

Karenanya pendidikan akhlak tidak bisa dibiarkan berjalan begitu saja tanpa adanya upaya-upaya cerdas dari pada pihak yang bertanggung jawab terhadap pendidikan. Pendidikan akhlak tidak akan menghasilkan manusia yang pandai sekaligus menggunakan kepandaiannya dalam rangka bersikap dan berperilaku baik atau berakhlak mulia.

Dari sini dapat dipahami bahwa Pendidikan akhlak tidak hanya mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah kepada peserta didik, tetapi juga menanamkan kebiasaan (habituaction) tentang yang baik sehingga peserta didik paham, mampu merasakan, dan mau melakukannya.17

Doni Koesoema mengemukakan bahwasanya, “pendidikan akhlak adalah usaha yang dilakukan secara individu dan sosial dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan kebebasan individu itu sendiri. Segala usaha baik yang formal disekolah ataupun informal dalam keluarga dan lingkungan yang memberi kebebasan seseorang untuk berkembang merupakan proses pendidikan dalam arti luas kemudian dari sinilah akhlak terbentuk, terutama dalam lingkunagn keluarganya sebagai lingkungan pertama bagi tumbuh kembang seseorang.18

17

Ibid 18

Doni Koesoema A, “Strategi Mendidik Anak Di Zaman Global”, (Jakarta, PT Grasindo, 2007),h.80.

Menurut Al-Ghazali Pendidikan akhlak adalah jiwa dari pendidikan Islam (Pendidikan yang dikembangkan oleh kaum muslimin), dan Islam telah menyimpulkan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam.Mencapai suatu akahlak yang sempurna adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan.19

Menurut Doni Koesoema dikutip oleh Abuddin Nata bahwasanya, guna menghasilkan pendidikan akhlak yang sebagimana mestinya yang diharapkan maka pendidikan akhlak harus melibatkan pendidikan moral, pendidikan nilai, dan pendidikan agama. Pendidikan moral berfungsi sebagai dasar bagi sebuah pendidikan akhlak, yaitu berupa keputusan moral individu. Dengan demikian orang yang berakhlak adalah orang yang dapat melakukan pilihan dan keputusannya secara bebas dan bertanggung jawab. Selanjutanya pendidikan nilai berkaitan dengan nilai-nilai budi pekerti, tatak krama, sopan santun dalam masyarakat dan akhlak yang berfungsi membantu peserta didik untuk untuk mengenal, menyadari pentingnya dan menghayati nilai-nilai yang pantas dan yang semestinya dijadikan panduan bagi sikap dan prilaku manusia, baik secara perorangan maupun bersama-sama dalam suatu masyarakat. Sementara itu, Pendidikan agama berfungsi sebagai landasan atau fondasi yang lebih kokoh, kemantapan paling luhur, mempersatukan dirinya dengan realitas terakhir yang lebih tinggi, yaitu Allah SWT20.

Pandangan imam al-Ghazali terkait tentang dinamika akhlak sangat mungkin. Perubahan sikap seseorang bisa sewaktu-waktu dan bukanlah pembawaan dari lahir. Seperti orang yang dulunya malas kemudian menjadi rajin, itu sangat mungkin terjadi. Ini merupakan kritik dari imam al-Ghazali kepada aliran nativisme yang menyebutkan bahwa tidak adanya perubahan pada akhlak manusia21.

“jika akhlak itu tidak menerima perubahan, maka semua nasihat, wasiat, dan pendidikan mental menjadi tidak berarti lagi”.

19

Zainuddin , ”Seluk-Beluk Pendidikan Dari Al-Ghazali”, (Jakarta, Bumi Aksara, 1991), h.44 20

Abuddin Nata, Op.Cit, h. 271 21

Dalam mendidikan akhlak yang buruk imam Al-Ghazali menurutnya haruslah mengupayakan agar orang tersebut dilatih untuk melakukan perbuatan yang sebaliknya, misalnya seseorang yang kikir, harus dilatih untuk bermura hati dengan cara diajak bersama-sama menyantuni dan memberikan pertolongan kepada orang lain. Dan ia juga mengatakan , bahwa perlakuan yang tidak benar dan pergaulan sosial, merupakan gejala penyakit jiwa yang sering disebut sebagai (kegonjangan jiwa), yang harus segera dipulihkan kembali, dengan cara mendidik dengan latihan kerohanian dan berusaha mempratekkan perbuatan yang benar 22.

Dengan kata lain pendidikan akhlakadalah proses atau usaha menjadikan seseorang untuk lebih baik. Dan pendidikan dan akhlak di atas hakekatnya dapat dilakukan melalui membangun motivasi pribadi dan orang lain untuk mencontoh akhlak nabi. Artinya, bahwa berbagai aktivitas kehidupannya selalu melakukan sesuatu dengan mengikuti akhlak nabi, baik dalam rangka pembentukan sebagai seorang pribadi maupun terhadap orang lain. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa tujuan pendidikan akhlak adalah terciptanya manusia yang beriman perilaku lahir dan batin yang seimbang (seperti Nabi) . Dengan pendidikan dasar inilah seseorang diharapkan akan menjadi perubadi yang lebih baik dalam menjalankan hidup. Pendidikan akhlak merupakan salah satu alat yang paling penting dan harus dimiliki oleh setiap orang. Pendidikan akhlak seseorang juga merupakan salah satu alat terbesar yang aka menjamin kualitas hidup seseorang dan keberhasilan dalam dunia maupun dalam menuju akhirat

22

Dokumen terkait