BAB II LANDASAN TEORI
1. Pengertian Pendidikan Akhlak
Pendidikan Akhlak terbentuk dari dua suku kata yaitu pendidikan dan akhlak. Pendidikan dalam kamus bahasa Indonesia berasal dari kata “didik” dengan
memberikan kata “pe” dan akhiran “an” , mengandung arti perbuatan (hal, cara, dan sebagainya). Istilah pendidikan semula berasal dari bahasa yunnani,
yaitu “paedagogie” yang berarti bimbingan yang diberikan kepada
anak.Istilah ini kemudian di terjemahkan kedalam baha inggris dengan
“education” yang berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa arab
istilah ini diterjemahkan dengan kata “tarbiyah” yang berarti pendidikan.32
Dalam perkembangannya istilah pendidikan berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja terhadap anak didik oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa. Dalam perkembangannya, selanjutnya pendidikan berarti usaha yang di jalani oleh seseorang atau sekelompok orang agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup dan penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.
Menurut Dr. Muhammad Fadhil Al-Jamali memberikan pengertian
pendidikan islam sebagai berikut; “upaya pengembangan, mendorong, serta
32
mengajak manusia lebih maju dengan berlandasan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia, sehingga terbentuk pribadi yang lebih sempurna, baik
yang berkaitan dengan akal, perasaan, maupun perbuatan”.33
Definisi tersebut mempunyai tiga prinsip pendidikan islam, yaitu sebagai berikut;
1. Pendidikan merupakan proses perbantuan pencapaian tingkat keimanan dan berilmu.
2. Rasulullah sebagai uswatun hasanah yang di jamin Allah memiliki akhlak yang mulia.
3. Pada manusia terdapat potensi baik dan buruk. Karena itu pendidikan ditunjukan sebagai pembangkit potensi baik yang ada pada anak didik dan mengurangi yang buruk.
Pengertian ini mengandung arti bahwa dalam proses pendidikan islam terdapat usaha mempengaruhi jiwa anak didik melalui proses, setingkat demi setingkat, menuju tujuan yang di tetapkan, yaitu menanamkan akhlak serta menegakkan kebenaran sehingga terbentuklah manusia yang berkpribadian dan berbudi luhur sesuai dengan ajaran islam.
Dari beberapa pengertian pendidikan diatas dikatakan bahwa pendidikan
islam adalah: “Proses transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan
33
Bukhari Umar, ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Amzan, Cetakan Pertama Agustus 2010), h. 26-28
nilai-nilai pada diri anak didik melalui pertumbuhan dan pengembangan potensi fitrahnya guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup dalam segala aspeknya.
Sedangkan akhlak adalah dalam kamus besar bahasa Indonesia akhlak
diartikan sebagai “budi pekerti” atau kelakuan. Kata akhlak merupakan
bentuk jamak dari kata “khuluk” artinya daya kekuatan jiwa yang mendorong
perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa berfikir dan di renunginya lagi.34
Sedangkan menurut istilah merujuk pada salah satu pakar pendidikan akhlak,
Menurut Imam Al- Ghazali Akhlak adalah:
يه نعةرابع
ٍرسي و ةل وهسب لاعفلَاردصت اهنع ةخس ار سفنلا فى ةئ
احيْغ نم
ٍةج
ٍركِف لَا
ي ؤرو
ٍة
Artinya: “sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam -macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran
dan pertimbangan”.35
Sejalan dengan pendapat tersebut di atas, dalam mu’jam al-Wasith, Ibrahim Anis mengatakan bahwa akhlak adalah:
34
Srijanti, etika Membangun Masyarakat islam modern, (Yogyakarta: Graham Ilmu, Cet ke 1, 2006), h. 10
35
“sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan timbangan”.36
Dengan demikian akhlak pada dasarnya adalah sikap yang melekat pada diri seseorang yang secara spontan di wujudkan dalam tingkah laku dan perbuatan.Apabila akhlak yang di aplikasikan itu baik maka disebut akhlak mahmudah, sebaliknya jika akhlak yang di aplikasikan itu buruk maka disebut akhlak madzmumah.Baik dan buruk akhlak di dasarkan kepada sumber nilai yaitu, Al-Qur‟an dan Al-Hadits.
Selanjutnya Abuddi Nata dalam bukunya akhlak tasawuf, mengatakan bahwa ada lima cirri yang terdapat dalam perbuatan Akhlak.
Pertama, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang tertanam kuat dalam jiwa seseorang, sehingga telah menjadikan kepribadiannya.
Kedua, perbuatan yang dilakukan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran.
Ketiga, perbuatan yang timbul dari diri seseorang yang mengerjakannya, tanpa adanya paksaan atau tekanan dari luar.
Keempat, perbuatan yang dilakukan dengan cara sungguh-sunggguh, bukan main-main atau bersandiwara.
Kelima, perbuatan yang dilakukan semata-mata karena Allah, bukan karena ingin di puji orang atau karena ingin mendapatkan sesuatu pujian. Akhlak pada dasarnya melekat pada diri seseorang, bersatu dengan perilaku atau perbuatan.Akhlak merupakan perilaku yang tampak terlihat jelas baik dalam kata-kata maupun perbuatan yang di motivasi oleh dorongan karena Allah.Kuat
36
atau lemahnya iman seseorang dapat diukur dan diketahui dari perilaku akhlaknya. Karena iman yang kuat mewujudkan akhlak yang baik dan mulia, sedang iman yang lemah mewujudkan akhlak yang jahat dan buruk laku, mudah terhilir oleh perbuatan keji yang merugikan diri sendiri dan orang lain.37
Sifat spontanitas dari akhlak tersebut dapat di ilustrasikan dalam contoh berikut ini. Bila seorang menyumbang dalam jumlah besar untuk pembangunan masjid setelah mendapat dorongan dari seorang da‟i, maka orang tersebut belum
bisa di katakana mempunyai sifat pemurah, karena kemurahannya waktu itu lahir setelah mendapatkan dorongan dari luar, dan belum tentu muncul lagi pada kesempatan yang lain. Boleh jadi, tanpa dorongan seperti itu, dia tidak akan menyumbang, dia tidak akan menyumbang atau jikalau menyumbang dalam jumlah sedikit. Tetapi manakala tidak ada dorongan pun dia tetap menyumbang, kapan dan dimana saja, barulah bisa di katakana mempunyai sifat pemurah dan akhlakul karimah.
Contoh lain, dalam menerima tamu. Bila seseorang membeda-bedakan tamu yang satu dengan yang lain, misalnya yang satu tamu kaya lebih di muliakan dan yang satu miskin di terima dengan biasa saja, atau kadang kala ramah kadang kala tidak, maka orang tadi belum bisa dikatakan mempunyai sifat memuliakan tamu. Sebab seseorang yang mempunyai akhlakul karimah adalah orang yang
37
Muhammad Al-Ghazali, Akhlak Seorang Muslim, (Semarang: CV Wicaksana, Cet ke empat, 1993), h.17
memuliakan tamu dan tidak membeda-bedakan baik tamunya orang kaya ataupun tamu orang miskin.Baru itu dinamakan orang yang memuliakan tamu dan memiliki akhlakul karimah yang luhur.
Nabi Saw bersabda :
Diriwayatkan dari abu hurairah ra berkata: bersabda nabi saw” barang siapa percaya kepada Allah dan hari kemudian, hendaklah ia menghormati tamunya, dan barang siapa percaya kepada Allah dan hari kemudian, hendaklah ia menghubungkan tali silaturahmi. Dan barang siapa percaya kepada Allah dan hari kemudian hendaklah ia berkata baik atau diam.38
Jadi melihat definisi pendidikan dan akhlak diatas, maka dapat
disimpulkan bahwa pendidikan akhlak adalah:” proses pengubahan tingkah laku
individu pada kehidupan pribadi, atau sarana yang mengantarkan seseorang agar menjadi orang yang berakhlak baik (akhlakul karimah)