• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Penyesuaian Diri

1. Pengertian Penyesuaian Diri

Pada masa remaja masalah penyesuaian diri menjadi masalah yang banyak terjadi. Peserta didik Sekolah Menengah Pertama pada umumnya berusia sekitar 13 sampai 15 tahun. Pada masa ini seorang individu berada dalam masa

remaja awal, dimana ia mengalami masa transisi dari anak-anak menjadi dewasa. Masa transisi ini sangat banyak menimbulkan kesulitan-kesulitan dalam penyesuaian dirinya terhadap lingkungan yang baru. Penyesuaian diri di lingkungan sekolah melibatkan hubungan antara peserta didik dengan peserta didik, peserta didik dengan guru dan peserta didik dengan tenaga administrasi sekolah. Secara psikologis, masa remaja berada pada masa topan badai dan sedang mencari jati diri.Selain mereka mencari jati diri, mereka juga tengah berada pada tahap perkembangan yang amat potensial. Dapat juga dikemukakan, bahwa remaja dipandang telah memiliki identitas diri yang matang (sehat, tidak mengalami kebingungan), apabila sudah memiliki pemahaman dan kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap diri sendiri, peranannya dalam kehidupan sosial (di lingkungan keluarga, sekolah, teman sebaya, atau masyarakat), pekerjaan, dan nilai-nilai agama.29

Sunarto dan Agung Hartono penyesuaian diri adalah proses bagaimana individu mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan.30

Gerungan mengartikan penyesuaian diri dalam arti yang luas dapat berarti:

“Mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan, tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan) diri. Penyesuaian diri dalam artinya yang pertama disebut juga penyesuaian diri yang autoplastis (dibentuk sendiri), sedangkan penyesuaian diri yang kedua disebut penyesuaian diri aloplastis (dibentuk yang lain).31

29Syamsul Yusuf & Nani M Sugandhi, Perkembangan Peserta Didik, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2013, h. 97.

30Sunarto & Agung Hartono, Perkembangan Peserta didik, Rineka Cipta, Jakarta, 2013, h.22. 31Gerungan, Psikologis Sosial, Refika Aditama, Bandung, 2010, h.59.

Penyesuaian diri ada artinya yang pasif, dimana kegiatan kita ditentukan oleh lingkungan, dan ada yang aktif, dimana kita mempengaruhi lingkungan. Dari penjelasan tersebut, dapat diketahui bahwa penyesuaian diri menurut pandangan Gerungan adalah kita dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, tetapi kita juga dapat membentuk lingkungan sesuai yang dikehendaki. Jadi, kita tidak harus memaksakan diri sesuai dengan keadaan yang ada atau pasrah begitu saja apabila tidak sesuai dengan harapan. Sebaliknya, kita harus mampu merubah keadaan agar diri kita memperoleh kepuasan dengan lingkungan tersebut.

Ghufron dan Rini dikutip dari Sri Wahyuni Adiningtiyas penyesuaian diri merupakan kemampuan individu dalam menghadapi tuntutan-tuntutan, baik dari dalam diri maupun dari lingkungan agar terdapat keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan dengan tuntutan lingkungan sehingga tercipta keselarasan antara individu dan realitas.32 Dalam penyesuaian diri selalu terjadi dorongan-dorongan dalam diri individu dengan suatu tuntutan-tuntutan lingkungan sosial. Untuk melakukan penyesuaian diri diperlukan pemahaman diri dan lingkungan, sehingga dapat terwujud keselarasan, kesesuaian, kecocokan, dan keharmonisan interaksi diri dan lingkungan.

Davidoff dikutip dari Octaria Nawala penyesuaian diri disebut dengan istilah adjusment, merupakan suatu proses untuk mencari titik temu antara kondisi diri dan tuntutan lingkungan. Manusia dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, kejiwaan dan lingkungan alam sekitarnya. Kehidupan itu secara alamiah juga mendorong manusia untuk terus-menerus menyesuaikan diri. Dengan demikian, penyesuaian diri merupakan suatu proses alamiah dan dinamis yang bertujuan mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai dengan kondisi lingkungannya.33

32Sri Wahyuni Adiningtiyas, Penerapan Layanan Penguasaan Konten Untuk Meningkatkan Kebiasaan Belajar Siswa, (Online), tersedia di:

journal.unrika.ac.id/index.php/kopastajournal/article/.../560/424, (diakses pada tanggal 23Maret2017). 33Octaria Nawala, Peningkatan Penyesuaian Diri Siswa Dengan Teman Sebaya Melalui Layanan Konseling Kelompok, (Online), tersedia di: https://drive.google.com/file/d/0B-k3cSUkM3IyRnNucldTakhvR1E/view, (diakses pada tanggal 20 Maret 2017).

Sedangkan Ali dan Asrori mengartikan penyesuaian diri adalah dalam bahasa aslinya dikenal dengan istilah adjustment atau personal adjustment. Hal ini senada dengan pendapat Schneiders dikutip dari Ali dan Asrori bahwa penyesuaian diridapat ditinjau dari tiga sudut pandang yaitu:

a. penyesuain diri sebagai adaptasi (adaption);

b. penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas(conformity); dan c. penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery).34

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri adalah suatu usaha atau kemampuan seseorang untuk melakukan perubahan terus-menerus selama hidupnya dalam menciptakan hubungan yang memuaskan, harmonis, dan serasi antara orang lain dan lingkungan beserta segala macam tuntutan yang ada didalamnya namun tetap menjaga kenyamanan kondisi dari diri individu itu sendiri.

2. Karakteristik Penyesuaian Diri a. Penyesuaian diri secara positif

Menurut Sunarto dan Agung Hartono mereka yang tergolong mampu menyesuaikan diri secara positif ditandai hal-hal sebagai berikut:

1. Tidak menunjukan adanya ketegangan emosional

Yaitu individu mampu menghilangkan adanya ketegangan emosional yang ada pada diri individu dalam proses penyesuaian diri, salah satunya yaitu emosinya stabil. Dengan kata lain, individu mampu

mengontrol dan mengendalikan emosinya serta mampu merespon emosi secara sehat dan wajar.

Menurut Crow & Crow dikutip dari Sunarto dan Agung Hartono emosi adalah pengalaman efektif yang disertai penyesuaian diri dari dalam individu tentang keadaan mental dan fisik dan terwujud suatu tingkah laku yang tampak. Emosi timbul karena pengaruh perubahan jasmaniah atau kegiatan individu, dimana pekerjaan yang dilakukan terlampau keras dari susunan saraf yang akan mempertinggi pekerjaan otak. Agar individu tidak menunnjukkan ketegangan emosional maka perlu mengelola keterampilan emosi, seperti mampu mengenal perasaan yang muncul (gembira, bahagia, marah, benci, takut, cemas dan sedih), mampu mengemukakan perasaaan dan menilai kadar perasaan, mampu mengelola perasaan, mampu mengendalikan diri sendiri, dan mampu mengurangi stress. Jika mampu mengolah emosinya dengan baik, maka akan mampu menyesuaikan diri dengan program keahliannya. Hal ini dapat ditunjukan dengan gejala-gejala, seperti tidak mudah tersinggung, tidak frustasi, tidak lekas marah, tidak dendam atau benci, tidak gelisah, dan tidak tertekan.35

Contoh individu yang memiliki emosi stabil dapat dilihat dalam bentuk antara lain menenangkan diri, mengatur emosi, mengatasi

35Sunarto & Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik, Rineka Cipta, Jakarta, 2013, h.149.

dorongan emosi dalam bentuk penyaluran emosi dengan melakukan kegiatan emosi, dan mempertahankan sikap positif yang realistis terutama dalam menghadapi masa-masa sulit.

2. Tidak menunjukkan adanya mekanisme pertahanan yang salah

Yaitu individu dapat mengelola mekanisme psikologis. Fungsi mekanisme psikologis adalah memecahkan problem adaptif (penyesuaian) khusus yang telah didesain oleh proses seleksi alami. Mekanisme psikologis individu sangat tergantung stimulus dari luar yang merangsang individu untuk membuat aturan-aturan keputusan dan mengatur aktivitas fisiologis yang akan menghasilkan tindakan. Sehingga keterampilan mengelola mekanisme psikologis sangat diperlukan agar aktivitas fisiologis dapat bekerja dengan baik dan tindakan yang dilakukan sesuai dengan aturan. Kesanggupan merespon konflik secara wajar dan sehat tanpa harus menerima kesedihan yang mendalam adalah kunci individu dalam melakukan penyesuaian diri. Hal ini dapat ditunjukkan dengan beberapa gejala, seperti, tidak cemas, tidak tegang, tidak mengalami kebingungan, tidak mudah bosan, dan tidak mengalami kelelahan mental.

Contoh individu yang memiliki keterampilan mengelola mekanisme psikologi antara lain kondisi psikologis stabil dalam menghadapi masalah, memecahkan problem adaptif (penyesuaian) dan mengatur aktivitas fisiologi.

3. Tidak menunjukkan adanya frustasi pribadi

Frustasi pribadi diartikan sebagai perasaan tertekan dan nyaman yang muncul dari ketidakpuasan seseorang dalam mencapai tujuan. Dengan perkataan lain, frustasi pribadi ini terjadi karena adanya perbedaan antara tingkat aspirasi dengan tingkatan kemampuannya. Dalam situasi ini, individu mampu mengotrol dan mengendalikan frustasi secara sehat, wajar, dan profesional, perasaan nyaman, menyembunyikan dan menekan sikap frustasi, serta bersaing secara sehat.

4. Memiliki pertimbangan yang rasional dalam pengarahan diri

Yaitu individu dapat melakukan perencanaan yang cermat dengan mempertimbangkan untung dan rugi. Keputusan yang diambil tersebut tidaklah asal mengambil tindakan saja, tetapi setelah mempertimbangkan dari berbagai segi yaitu segi untung dan rugi. Keputusan yang diambil tersebut akan mempengaruhi tindakan yang akan dilakukan oleh individu. Sebagai bentuk pengarahan diri, maka individu akan memilih tindakan yang tepat, yaitu individu akan berusaha memilih tindakan mana yang harus dilakukan dan tindakan mana yang tidak perlu dilakukan.

5. Mampu dalam belajar

Yaitu individu akan belajar memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dapat membantu menyesuaikan diri. Kemampuan

belajar dapat ditunjukkan seperti menyelesaikan tugas yang diberikan guru, mengikuti pelajaran produktif dengan baik, mengerjakan sendiri tanpa bantuan orang lain, semangat dalam mengikuti pelajaran (normatif, adaptif, produktif), berpartisispasi pada saat pelajaran berlangsung, memusatkan perhatian terhadap pelajaran yang diikuti.

6. Bersikap realitas dan objektif

Yaitu individu mampu bertindak menerima dan menilai kenyataan lingkungan diluar dirinya secara objektif sesuai dengan pertimbangan-pertimbangan rasional dan perasaan. Dalam situasi ini, individu dapat bertindak sesuai dengan potensi-potensi positif yang layak dikembangkan sehingga dapat menerima dan diterima oleh lingkungan, tidak disingkirkan oleh lingkungan maupun menentang dinamika lingkungan. Hal ini dapat ditunjukkan dengan mengenali dan menerima diri sendiri apa adanya, bertindak sesuai dengan potensi-potensi positif, bersikap terbuka dan menerima umpan balik, dan menaati peraturan yang berlaku.36

Menurut Enung Fatimah melakukan penyesuaian diri secara positif, individu akan melakukan dalam berbagai bentuk, antara lain:

1. penyesuaian dengan menghadapi masalah secara langsung; 2. penyesuaian dengan melakukan eksplorasi (penjajahan); 3. penyesuaian dengan trial and error atau coba-coba; 4. penyesuaian dengan substansi (mencari pengganti); 5. penyesuaian diri dengan menggali kemampuan diri;

6. penyesuaian dengan belajar;

7. penyesuaian dengan inhibis dan pengendalian diri; dan 8. penyesuaian dengan perencanaan yang cermat.37

Menurut Supriyo karakteristik penyesuaian diri yang positif antara lain adalah sebagai berikut:

a) kemampuan menerima dan memahami diri sebagaimana adanya dan sanggung menerima kelemahan-kelemahan, kekurangan-kekurangan, disamping kelebihannya;

b) kemampuan menerima dan menilai kenyataan lingkungan diluar dirinya secara objektif sesuai dengan perkembangan rasional dan perasaan yang memiliki ketajaman dalam memandang realitas;

c) kemampuan bertindak sesuai dengan potensi diri, kemampuan yang ada pada dirinya dan kenyataan yang objektif yang ada pada luar dirinya; d) memiliki perasaan aman yang memadai;

e) rasa hormat pada sesama manusia dan mampu bertindak toleran; bersikap terbuka dan sanggup menerima umpan balik;

f) memiliki kestabilan psikologis terutama kestabilan emosi; dan

g) mampu bertindak sesuai dengan norma yang berlaku, serta selaras dengan hak dan kewajibannya.38

37Enung Fatimah, Psikologi Perkembangan (Perkembangan Peserta Didik), CV Pustaka Setia, Bandung, 2010, h.196-197.

38Supriyo, Studi Kasus Bimbingan dan Konseling, CV Nieuw Setapak, Semarang, 2008, h.91-92.

Penyesuaian diri yang baik (well adjusted person) menurut Ali dan Asrori yaitu:

“Seseorang dikatakan memiliki kemampuan penyesuain diri yang baik

(well adjusted person) manakala mampu melakukan respons-respons

yang matang, efisien, memuaskan dan sehat. Dikatakan efisien artinya mampu melakukan respons dengan mengeluarkan tenaga dan waktu sehemat mungkin. Dikatakan sehat artinya bahwa respons-respons yang dilakukan dengan hakikat individu, lembaga atau kelompok antar individu, dan hubungan antara individu dengan penciptanya. Sebaliknya, reaksi yang tidak memuaskan, tidak efektif, dan tidak efisien seringkali diartikan sebagai penyesuaian diri yang kurang baik, buruk, atau dikenal dengan istilah malasuai (maladjustment)”.39

b. Penyesuaian diri negatif

MenurutElizabeth B. Hurlock mengemukakan bahwa penyesuaian diri negatif sebagai berikut: (a) mudah marah (tersinggung); (b) mempunyai kebiasaan berbohong; (c) hiperaktif; (d) senang mengkritik atau mencemooh orang lain; (e) kurang memiliki rasa tanggung jawab; (f) kurang memiliki kesadaran untuk menaati ajaran agama;dan (g) bersikap pesimis dalam menghadapi kehidupan.40

Menurut Sunarto dan Agung Hartono kegagalan dalam melakukan penyesuaian diri secara positif, dapat mengakibatkan individu melakukan penyesuaian diri yang salah. Ada tiga bentuk reaksi dalam penyesuaian diri yang salah, yaitu:

39Ali dan Asrori, Psikologi Remaja, PT Bumi Aksara, Jakarta, 2009, h. 176.

40Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Erlangga, Jakarta, 1980, h. 238-239.

1. Reaksi Bertahan (defence reaction) Individu berusaha untuk mempertahankan dirinya, seolah-olah tidak mengahadapi kegagalan. Ia selalu berusaha menunjukkan bahwa dirinya tidak mengalami kegagalan. Bentuk reaksi bertahan antara lain: rasionalisasi yaitu suatu usaha bertahan dengan mencari alasan yang masuk akal, represi yaitu suatu usaha menekan atau melupakan hal yang tidak menyenangkan, proyeksi yaitu suatu usaha memantulkan ke pihak lain dengan alasan yang dapat diterima.

2. Reaksi Menyerang (aggressive reaction) Orang yang mempunyai penyesuaian diri yang salah menunjukkan tingkah laku yang bersifat menyerang untuk menutupi kegagalannya, ia tidak mau menyadari kegagalannya. Reaksi yang muncul antara lain: senang membantu orang lain, menggertak dengan ucapan atau perbuatan menunjukkan sikap permusuhan secara terbuka, menunjukkan sikap merusak, keras kepala, balas dendam, marah secara sadis.

3. Reaksi Melarikan Diri (escape reaction) Reaksi ini orang yang mempunyai penyesuaian diri yang salah akan melarikan diri dari situasi yang menimbulkan kegagalannya. Reaksi yang muncul antara lain:banyak tidur, minum-minuman keras, pecandu ganja, narkotika, regresi atau kembali pada tingkat perkembangan yang lalu.41

Dari pendapat tersebut dapat dijelaskan bahwa dalam memasuki masa peralihan dari anak-anak menjadi masa dewasa, maka seseorang remaja akan mengalami krisis identitas atau masa topan dan badai yang seingkali menimbulkan kendala dalam penyesuaian diri terhadap kegiatan belajarnya. Sehingga remaja secara khas berjuang ingin meraih sukses dalam studi dengan cara-cara yang menimbulkan perasaan bebas dan senang, serta terhindar dari kecemasan, tekanan dan konflik maupun frustasi. Remaja juga ingin memahami kondisi seksual dirinya dan lawan jenisnya serta mampu bertindak untuk menyalurkan dorongan seksualnya yang dapat dimengerti dan dibenarkan oleh norma sosial dan agama. Tuntutan norma sosial merupakan hal yang paling penting, karena untuk mewujudkan internalisasi norma, baik remaja itu sendiri, lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat luas. Dalam kebebasan penggunaan waktu luang, remaja memerlukan dukungan finansial. Dengan melakukan penyesuaian, maka remaja dapat mengatur keuangan dengan baik.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa individu mampu melakukan penyesuaian diri yang baik apabila individu mampu merespon konflik, frustasi, stres secara wajar, sehat, matang, dan efisien serta dapat mengelola dan mengendalikan diri secara obyektif berdasarkan norma yang ada. Sehingga dapat menciptakan hubungan yang harmonis dan memuaskan antara lingkungan maupun dengan penciptanya.

Dokumen terkait