• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

F. Tinjauan Kepustakaan

3. Pengertian Perlindungan Anak

13

Irma Setyowati Soemitro. Aspek Hukum Perlindungan Anak. Bumi Aksara.

3. Pengertian Perlindungan Anak.

Pada hakekatnya anak tidak dapat melindungi diri sendiri terhadap berbagai macam ancaman mental, fisik, sosial dalam berbagai bidang kehidupan dan penghidupan. Oleh karena itu anak harus dibantu orang lain dalam melindungi dirinya mengingat situasi dan kondisinya. Melindungi anak adalah melindungi manusia dan membangun manusia seutuhnya.

Winika Indrasari : Peranan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Menurut Undang–Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak (Studi Komisi Perlindungan Anak Indonesia Provinsi Sumatera Utara), 2008. USU Repository © 2009

Perlindungan anak merupakan hal yang sangat penting demi terciptanya kontiunitas negara, karena anak merupakan cikal bakal suatu generasi manusia dalam pembangunan bangsa. Perlindungan anak adalah suatu usaha mengadakan

kondisi dan situasi yang memungkinkan pelaksanaan hak dan kewajiban anak secara manusiawi positif.14

Barda Nawawi Arief mengartikan bahwa istilah perlindungan anak adalah sebagai upaya perlindungan hukum terhadap berbagai kebebasan dan hak asasi anak (fundamental rights and freedom of children) serta berbagai kepentingan yang berhubungan dengan kesejahteraan anak.

Menurut Arif Gosita, Perlindungan anak merupakan suatu hukum baik yang tertulis maupun tidak tertulis yang menjamin anak benar–benar dapat melaksanakan hak dan kewajibannya.

15

Pengertian perlindungan anak dalam arti luas adalah semua usaha yang melindungi anak melaksanakan hak dan kewajibannya secara manusiawi positif. Dan setiap anak dapat melaksanakan haknya, ini berarti dilindungi untuk memperoleh dan mempertahankan haknya untuk hidup mempunyai kelangsungan hidup, bertumbuh kembang dan perlindungan pelaksanaan hak dan kewajibannya sendiri dan mendapat perlindungannya.16

14

Romli Atmasasmita. Peradilan Anak di Indonesia. Mandar Maju. Bandung 1997 Hlm165

15

Aminah Azis. Op.Cit. Hlm.15 16

Romli Atmasasmita. Op.Cit. Hlm. 167

4. Bentuk–bentuk Perlindungan Anak Dalam Sistem Hukum Di Indonesia. a. Berdasarkan Sistem Hukum Pidana.

Winika Indrasari : Peranan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Menurut Undang–Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak (Studi Komisi Perlindungan Anak Indonesia Provinsi Sumatera Utara), 2008. USU Repository © 2009

Upaya perlindungan hukum bagi anak tidak hanya dengan menyiapkan substansi hukum (legal substance), tetapi juga perlu didukung oleh pemantapan struktur hukum (legal structure) dan budaya hukum (legal culture).

Perlindungan anak dalam sistem hukum pidana terbagi 2 (dua) yaitu di dalam KUHP dan di luar KUHP perlindungan anak terbagi lagi atas perlindungan anak sebagai pelaku tindak pidana dan perlindungan anak sebagai korban kejahatan.

Anak sebagai pelaku tindak pidana perlindungannya diatur dalam Buku I KUHP Bab II yakni mengenai penculikan, pengurangan dan penambahan hukuman.

Di dalam KUHP anak sebagai pelaku perlindungannya tersirat dalam Pasal 45-47 KUHP yaitu mengenai sikap yang dapat dilakukan oleh pengadilan ketika mengadili anak sebagai pelaku kejahatan yang belum genap berusia 16 tahun.

Terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana pelanggaran yang belum berusia 16 tahun, hakim dapat mengambil tindakan untuk tidak menjatuhkan hukuman apapun bagi anak dan mengembalikannya kepada orang tua atau walinya untuk dididik sebagaimana mestinya dengan memperhatikan kondisi sosial orang tuanya atau wali anak tersebut.

Akan tetapi jika hakim berpendapat lain maka anak–anak tersebut dapat diserahkan kepada pemerintah untuk dididik sampai si anak berumur 18 tahun.

Dalam pasal 47 KUHP, terhadap anak sebagai pelaku berlaku ketentuan bahwa hukuman maksimum yang diajukan kepada anak harus dikurangi 1/3, apabila anak tersebut dijatuhi hukuman mati atau pidana penjara seumur hidup maka hukumannya menjadi penjara 15 tahun, dan terhadap hukuman tambahan

Winika Indrasari : Peranan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Menurut Undang–Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak (Studi Komisi Perlindungan Anak Indonesia Provinsi Sumatera Utara), 2008. USU Repository © 2009

sebagaimana yang diatur dalam pasal 10 huruf B (1e) dan (3e) KUHP tidak dapat dijatuhkan.

Oleh karena itu pasal 45-47 KUHP terdapat perlindungan anak dalam hal kemerdekaannya.

Akan tetapi sejak berlakunya UU No.3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, maka pasal ini dicabut dan tidak berlaku lagi, jika dibandingkan dengan Pasal 45-47 KUHP, UU No.3 Tahun 1997 ini tidak mempunyai perbedaan yang begitu signifikasi.

UU No.3 Tahun 1997 lebih menjabarkan secara jelas dan luas mengenai ketentuan–ketentuan Pasal 45-47 KUHP ketentuan tersebut di dalam UU No. 3 Tahun 1997 diatur dalam pasal 5, pasal 23, 24, 26, 27, 28, 29 dan pada pasal 30.

Pasal 5 UU No.3 Tahun 1997 berlaku ketentuan bahwa anak yang belum mencapai umur 8 tahun yang melakukan atau diduga melakukan tindak pidana, penyidik dapat mengambil tindakan berupa menyerahkan anak tersebut kepada orang tua, wali atau orang tua asuhnya, sepanjang dari hasil pemeriksaan tersebut penyidik berpendapat bahwa anak tersebut dibina oleh orang tua, wali atau orang tua asuhnya.

Sebaliknya jika penyidik berpendapat bahwa anak tersebut tidak dapat dibina lagi oleh oran tua, wali atau orang tua asuhnya, maka anak tersebut diserahkan kepada Departemen Sosial setelah mendengar pertimbangan dari pembimbing kemasyarakatan.

Dalam pasal 23 anak–anak nakal dapat dijatuhkan pidana pokok dan pidana tambahan, pidana pokok tersebut terdiri dari pidana penjara, pidana kurungan,

Winika Indrasari : Peranan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Menurut Undang–Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak (Studi Komisi Perlindungan Anak Indonesia Provinsi Sumatera Utara), 2008. USU Repository © 2009

pidana denda dan pidana pengawasan. Sedangkan pidana tambahan terdiri dari perampasan barang–barang tertentu dan atau pembayaran ganti rugi.

Selain itu tindakan juga dapat dijatuhkan kepada anak nakal tersebut dengan cara mengembalikannya kepada orang tua, wali atau orang tua asuh, menyerahkan kepada negara untuk mengikuti pendidikan, pembinaan dan latihan kerja. Hal ini diatur di dalam Pasal 24.

Pasal 26-27 ini mengatur tentang batas waktu atau lamanya hukuman yang dijatuhkan. Pasal 26 mengatur ketentuan bahwa pidana penjara yang dijatuhkan kepada anak nakal paling lama ½ ( satu perdua ) dari maksimum ancaman pidana penjara bagi orang dewasa.

Jika si anak diancam dengan hukuman mati atau pidana penjara seumur hidup, maka pidana yang dijatuhkan adalah pidana penjara paling lama 10 tahun. Tapi jika siterpidana yang diancam hukuman mati atau pidana penjara seumur hidup belum mencapai usia 12 tahun hanya dapat dijatuhkan tindakan berupa diserahkan kepada negara untuk mengikuti pendidikan, pembinaan dan latihan kerja. Sebaliknya jika anak tidak diancam hukuman mati atau pidana penjara seumur hidup maka hukuman yang dijatuhkan adalah salah satu dari tindakan sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 24.

Di dalam pasal 27 ketentuan pidana kurungan yang dapat dijatuhkan terhadap anak nakal sebagaimana yang dimaksud dalam UU ini paling lama adalah ½ ( satu perdua ) dari maksimum ancaman pidana kurungan bagi orang dewasa.

Selain itu pidana denda juga dijatuhkan kepada anak nakal paling banyak ½ (satu perdua) dari maksimum ancaman pidana denda bagi orang dewasa dan

Winika Indrasari : Peranan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Menurut Undang–Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak (Studi Komisi Perlindungan Anak Indonesia Provinsi Sumatera Utara), 2008. USU Repository © 2009

apabila denda tersebut tidak dapat dibayar dapat diganti dengan wajib latihan kerja maksimum 90 hari kerja dan tidak lebih dari 4 jam sehari serta tidak dilakukan pada malam hari, hal ini diatur dalam pasal 28.

Pasal 29 mengatur tentang pidana bersyarat yang dapat dijatuhkan oleh hakim jika pidana dijatuhkan paling lama 2 tahun dengan ketentuan memenuhi syarat umum dan syarat khusus. Syarat umum ini dilakukan ialah bahwa anak nakal tersebut tidak akan melakukan tindak pidana lagi selama menjalani masa pidana bersyarat.

Sedangkan syarat khusus adalah untuk melakukan atau tidak melakukan hal tertentu yang ditetapkan dalam putusan hakim dengan tetap memperhatikan kebebasan anak. Jangka waktu pidana bersyarat ini adalah maksimal 3 tahun.

Dalam pasal 30 pidana pengawasan dijatuhkan minimal 2 bulan dan paling lama 2 tahun di bawah pengawasan jaksa dan bimbingan dari masyarakat.

Sedangkan perlindungan terhadap anak sebagai korban tindak pidana diatur dalam Buku II KUHP tentang kejahatan. Dalam hal ini perlindungan yang diberikan berupa pemberatan hukuman terhadap pelaku tindak pidana yang korbannya adalah anak.

Perlindungan anak ini diatur dalam pasal 283, 287, 290, 292, 293, 294, 295, 297, 314, 330, 332, 337, 342, 364, 347 (1) dan pasal 348 KUHP yang semuanya berkaitan dengan delik kesusilaan.

Di luar KUHP banyak sekali mengatur perlindungan anak ini, antara lain dapat dilihat dalam UU No.12 Tahun 1948 jo. UU No.1 Tahun 1951 tentang Perlindungan Terhadap Pekerja Anak, Stb.1925 No. 47 Tentang Pembatasan

Winika Indrasari : Peranan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Menurut Undang–Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak (Studi Komisi Perlindungan Anak Indonesia Provinsi Sumatera Utara), 2008. USU Repository © 2009

Kerja Malam Bagi Wanita, UU No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, UU No.4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, dan lain sebagainya.

Di dalam tulisan ini penulis mencoba untuk memaparkan sedikit bentuk perlindungan di luar KUHP ini, yaitu UU No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, karena penulis berpendapat bahwa UU ini sangat relevan dengan judul tulisan ini.

UU No.23 Tahun 2002 ini merupakan babak baru terhadap upaya perlindungan anak. UU ini memberi peluang yang sebesar–besarnya kepada pemerintah dan masyarakat untuk berperan memberikan perlindungan terutama perlindungan khusus kepada anak yang berhadapan dengan hukum.

Anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak korban eksploitasi ekonomi dan seksual, anak korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA), anak korban kekerasan baik fisik maupun mental, anak yang menyandang cacat, anak yang mendapatkan perlakuan salah dan penelantaran, serta anak–anak dalam situasi darurat.

Perlindungan anak dalam UU ini bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak–hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat, martabat dan kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera.17

17

Aminah azis. Op. Cit. Hlm 41

Undang-undang perlindungan Anak ini mengatur ketentuan pidana sebagai berikut:

Winika Indrasari : Peranan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Menurut Undang–Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak (Studi Komisi Perlindungan Anak Indonesia Provinsi Sumatera Utara), 2008. USU Repository © 2009

Apabila seseorang dengan sengaja melakukan tindakan diskriminasi terhadap anak yang mengakibatkan anak mengalami kerugian, baik meteriil maupun moril sehingga menghambat fungsi sosialnya dan menelantarkan sehingga menyebabkan anak mengalami sakit atau penderitaan, baik fisik, mental, dan terdapat luka berat maupun sosial, dipidana penjara paling lama 5 tahun dan denda sebanyak Rp.100.000.000.- (seratus juta Rupiah) dan apabila melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan atau penganiayaan terhadap anak, dan akan dikenakan sanksi pidana penjara paling lama 3 tahun dan denda Rp.72.000.000.- (Tujuh Puluh dua juta rupiah).

Siapa pun yang melakukan kejahatan terhadap seorang anak baik kekerasan, ancaman, memaksa, memperdagangkan, menjual, menculik, transpalansi organ, yang merugikan anak ia akan dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku yang terdapat di dalam Undang–undang No.23 Tahun 2002.

b. Berdasarkan Sistem Hukum Perdata.

Di dalam hukum perdata perlindungan anak tidak hanya diberikan kepada anak yang lahir saja, tetapi juga termasuk anak yang masih berada dalam kandungan ibunya, bilamana kepentingan si anak menghendaki dan jika anak tersebut mati sebelum dilahirkan maka anak dianggap tidak pernah ada, hal ini termaktub dalam pasal 2 KUHPerdata.

Dalam pasal 330 KUHPerdata anak yang belum dewasa atau belum mencapai umur 21 tahun dan belum pernah kawin perlindungannya berada di bawah kekuasaan orang tua atau walinya.

Winika Indrasari : Peranan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Menurut Undang–Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak (Studi Komisi Perlindungan Anak Indonesia Provinsi Sumatera Utara), 2008. USU Repository © 2009

Selain diatur dalam pasal 330 KUHPerdata perlindungan anak ini diatur juga dalam pasal 345, 353, 355, 365, dan 395 KUHPerdata.18

18

Ibid, Hlm 42.

3. Berdasarkan Sistem Hukum Adat.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa hukum adat tidak memberikan batasan umur terhadap seorang anak. Anak dianggap telah dewasa jika ia telah cakap untuk mengurus harta bendanya dan keperluannya sendiri serta cakap untuk mengurus segala tata cara pergaulan hidup bermasyarakat termasuk mempertanggung jawabkan segala tindakannya.

Dan apabila si anak belum mampu dalam hal tersebut mala si anak dianggap belum dewasa dan perlindungannya berada di bawah kekuasaan orang tua, sepanjang orang tua anak tersebut masih hidup.

Jika salah satu dari orang tua anak tersebut cerai atau salah satunya meninggal dunia maka tidak akan timbul perwalian, hal ini disebabkan karena anak tersebut masih berada pada salah satu dari kedua orang tuanya.

Jika kedua orang tua anak tersebut meninggal dunia maka perlindungan anak berada dibawah kekuasaan walinya.

Di dalam sistem kekeluargaan bilateral parental, perlindungan anak dilakukan oleh salah satu dari keluarga pihak bapak atau ibuyang terdekat.

Pada masyarakat yang unilateral matrilineal perlindungan anak berada dipihak kerabat ayah, akan tetapi dalam prakteknya jika kedua orang tua anak tersebut telah meninggal dunia maka anak–anak yang masih di bawah umur dipelihara oleh kakak–kakaknya yang telah dewasa.

Winika Indrasari : Peranan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Menurut Undang–Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak (Studi Komisi Perlindungan Anak Indonesia Provinsi Sumatera Utara), 2008. USU Repository © 2009

Anak yang belum dewasa dalam hukum Islam disebut dengan saghir atau

shabi dan yang sudah dewasa disebut baliqh.19

c. Perlindungan berupa perwalian terhadap hak miliknya.

Dalam kompilasi hukum Islam anak adalah mereka yang belum genap berusia 21 tahun dan belum pernah menikah dan karenanya belum mampu untuk berdiri sendiri.

Hal ini berlaku sepanjang si anak tidak mengalami cacat fisik maupun mental atau belum pernah melakukan perkawinan. Oleh karena itu segala perbuatan hukum oleh si anak diwakili oleh orang tuanya, baik dalam maupun luar pengadilan.

Perlindungan terhadap anak dilakukan untuk menjaga kesejahteraan anak itu sendiri, untuk mengawasi hal yang berhubungan dengan dirinya dan segala bentuk kesejahteraan yang belum dapat diperoleh anak tersebut.

Hukum Islam memandang bahwa perlindungan anak yang berlaku sejak anak tersebut dilahirkan terbagi 3 macam yaitu:

a. Perlindungan berupa perwalian terhadap mengasuh dan menyusukan. b. Perlindungan berupa perwalian terhadap dirinya.

20

19

Aminah Azis. Op.Cit. Hlm.41 20

Ibid. Hlm.43

Anak yang belum dewasa pengasuhannya dilaksanakan oleh kaum wanita, anak tersebut tidak boleh tinggal sendiri atau dengan orang yang bukan walinya, kecuali jika anak tersebut sudah dewasa dapat memelihara kesejahteraan dirinya sendiri, dapat menjaga keselamatan dirinya, memiliki kecakapan untuk mencari nafkahnya serta bijaksana atau mampu untuk menjaga kehormatan dirinya.

Winika Indrasari : Peranan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Menurut Undang–Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak (Studi Komisi Perlindungan Anak Indonesia Provinsi Sumatera Utara), 2008. USU Repository © 2009

Dalam hal untuk mengawasi kesejahteraan si anak yang mengawasinya adalah kerabat dekat yang mempunyai hubungan darah dengan anak tersebut yaitu pihak anaknya.

Oleh karena itu dapatlah disimpulkan bahwa pada umumnya anak–anak yang belum dewasa sangat memerlukan perlindungan hukum, khususnya perlindungan dalam sistem hukum yang berlaku di Indonesia sehingga anak–anak tidak lagi menjadi santapan oknum–oknum yang tidak bertanggung jawab yang semakin marak belakangan ini sebagai akibat ketidak mampuan anak tersebut dalam berbagai hal kehidupan bila dibandingkan dengan orang dewasa.

b. Kedudukan anak di dalam Undang–undang.

Kedudukan anak menurut UU No.23 Tahun 2002 pada pasal 27 yaitu : Identitas diri setiap anak harus diberikan sejak kelahiran anak tersebut, identitas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dituangkan dalam akta kelahiran. Di dalam Pembuatan akta kelahiran didasarkan pada surat keterangan dari orang yang menyaksikan atau membantu proses kelahiran, hal anak yang proses kelahirannya tidak diketahui, dan orang tuanya tidak diketahui keberadaannya, pembuatan akta kelahiran untuk anak tersebut didasarkan pada keterangan orang yang menemukannya.

Pembuatan akta kelahiran menjadi tanggung jawab pemerintah yang dalam pelaksanaannya diselenggarakan serendah–rendahnya pada tingkat kelurahan /desa.Pembuatan akta kelahiran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus diberikan paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal diajukannya permohonan. Pembuatan akta kelahiran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak dikenai biaya.

Winika Indrasari : Peranan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Menurut Undang–Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak (Studi Komisi Perlindungan Anak Indonesia Provinsi Sumatera Utara), 2008. USU Repository © 2009

Ketentuan mengenai tata cara dan syarat – syarat pembuatan akta kelahiran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diatur dengan peraturan perundang-undangan.

Jika terjadi perkawinan campuran antara warga negara Republik Indonesia dan warga negara asing, anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut berhak memperoleh kewarganegaraan dari ayah atau ibunya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang –undangan yang berlaku.

Dalam hal terjadi perceraian dari perkawinan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), anak berhak untuk memilih atau berdasarkan putusan pengadilan, berada dalam pengasuhan salah satu dari kedua orang tuanya.

Apabila terjadi perceraian sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), sedangkan anak belum mampu menentukan pilihan dan ibunya berkewarganegaraan Republik Indonesia, demi kepentingan terbaik anak atau atas permohonan ibunya, pemerintah berkewajiban mengurus status kewarganegaraan Republik Indonesia bagi anak tersebut.

c. Teori–teori Delinquency.

Pada dasarnya membicarakan tentang berbagai teori yang lazimnya digunakan sebagai pisau analisis untuk membedah latar belakang timbulnya perilaku delikunsi anak diantaranya adalah:

1. Teori Differential Association.

Teori yang dikemukakan oleh E. Sutherland ini pada dasarnya melandaskan diri pada proses belajar, kejahatan seperti juga perilaku pada umumnya merupakan sesuatu yang dipelajari.

Winika Indrasari : Peranan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Menurut Undang–Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak (Studi Komisi Perlindungan Anak Indonesia Provinsi Sumatera Utara), 2008. USU Repository © 2009

Asumsi yang melandasi teori ini adalah a criminal act occurs when a

situation appropriate for it, as defined by the person, is present.

Sutherland dalam menjelaskan proses terjadinya perilaku kejahatan, termasuk perilaku delikuensi tentunya , mengajukan 9 proposisi yaitu :

a. Criminal behaviour is learned. Negatively, this

means that criminal behaviour is not

inherited.(Perilaku kejahatan adalah perilaku yang

dipelajari secara negatif berarti perilaku itu tidak diwarisi).

b. Criminal behaviour is lerned in interaction with

other persons in a process of communication. This

communication is verbal in many respects but

includes also “ the communication of gesture

“.(Perilaku kejahatan dipelajari dalam interaksi dengan orang lain dalam suatu proses komunikasi. Komunikasi tersebut terutama dapat bersifat lisan ataupun menggunakan bahasa isyarat).

c. The principal part of the learning of criminal

behaviour occurs within intimate personal groups.

Negatively, this means that the interpersonal

agencies of communication, such as movies, and

newspaper, plays a relatively unimportant part in the

genesis of criminal behaviour. (Bagian yang

Winika Indrasari : Peranan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Menurut Undang–Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak (Studi Komisi Perlindungan Anak Indonesia Provinsi Sumatera Utara), 2008. USU Repository © 2009

kejahatan ini terjadi dalam kelompok personal yang intim. Secara negatif ini berarti komunikasi yang bersifat tidak personal, secara relatif tidak mempunyai peranan penting dalam hal terjadinya kejahatan).

d. When criminal behaviour is learned, the learning in

cludes (a) techiques of commiting the crime, which

are sometimes very complicated, sometimes very

simple. (b) the specific direction of motives, drives,

rationalizations and attitutedes. (Apabila perilaku

kejahatan dipelajari, maka yang dipelajari meliputi (a) teknik melakukan kejahatan, (b) motif–motif tertentu, dorongan–dorongan, alasan–alasan pembenar termasuk sikap–sikap).

e. The specific direction of motives and drives is

learned from definitions of legal codes as favorable

on unfavorable. In some societies an individual is

surrounded by person who invariably define the legal

codes as rules to be observed, while in others he is

surrounded by person whose definitions are

favorable to the violation of the legal codes. (Arah

dari motif dan dorongan itu dipelajari melalui definisi–definisi dari peraturan hukum. Dalam suatu masyarakat kadang seseorang dikelilingi oleh orang–

Winika Indrasari : Peranan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Menurut Undang–Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak (Studi Komisi Perlindungan Anak Indonesia Provinsi Sumatera Utara), 2008. USU Repository © 2009

orang yang secara bersamaan melihat apa yang diatur dalam peraturan hukum sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan dan dipatuhi, namun kadang ia dikelilingi oleh orang–orang yang melihat aturan hukum sebagai sesuatu yang memberi peluang dilakukannya kejahatan).

f. A person becomes delinquent because of an excess of

definitions favorable to violation of law over

definitions unfavorable to violation of law.

(Seseorang menjadi delikuen karena ekses dari pola– pola pikir yang lebih melihat aturan hukum sebagai pemberi peluang dilakukannya kejahatan daripada yang melihat hukum sebagai sesuatu yang harus diperhatikan dan dipatuhi).

g. Differential Association may vary in frequency,

duration, priority, and intensity. (Differential

Association bervariasi dalam hal frekuensi, jangka waktu, prioritas serta intensitasnya).

h. The process of learning criminal behaviour by

association with criminal and anti–criminal patterns

involves all of the mechanisms that are involved in

any other learning. (Proses mempelajari perilaku

kejahatan yang diperoleh melalui hubungan dengan pola–pola kejahatan dan anti kejahatan yang

Winika Indrasari : Peranan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Menurut Undang–Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak (Studi Komisi Perlindungan Anak Indonesia Provinsi Sumatera Utara), 2008. USU Repository © 2009

menyangkut seluruh mekanisme yang lazimnya terjadi dalam setiap proses belajar pada umumnya). i. While criminal behaviour is an expression of general

needs and values, it is not explained by those general

needs and values since non – criminal behaviour is

an expression of the same needs and values.

(Sementara perilaku kejahatan merupakan pernyataan kebutuhan dan nilai umum, akan tetapi hal tersebut tidak dijelaskan oleh kebutuhan dan nilai–nilai umum itu, sebab perilaku yang bukan kejahatan juga merupakan pernyataan dari kebutuhan–kebutuhan dan nilai–nilai yang sama ).21

2. Teori Anomie.

Teori ini adalah teori yang diajukan oleh Robert Merton merupakan teori yang berorientasi pada kelas “Merton is in terested exploring variations in

Dokumen terkait