BAB II LANDASAN TEORI
B. Pernikahan Dini
1. Pengertian Pernikahan Dini
Perkawin atau pernikahan dalam literatul figih berbahasa arab disebut dengan dua kata, yaitu nikah dan zawaj. Kedua kata ini terpakai dalam kehidupan sehari-hari bangsa dan banyak terdapat di dalam Al- Qur’an dan Hadis, secara arti kata nikah berarti “bergabung”, “hubungan kelamin” dan berarti juga “akad”.51
Pernikahan adalah persetujuan antara orangtua (ayah) dari calon mempelai perempuan dengan calon mempelai laki-lak.52 Ulama golongan syafi’liyah mendefenisikan nikah dengan akad atau perjanjian yang mengandung maksud memperoleh hubungan kelamin dengan menggunakan lafaz atau zawaja.53
Dalam bahasa Indonesia, perkawinan berasal dari kata “kawin”
yang menurut bahasa artinya membentuk keluarga dengan lawan jenis, melakukan hubungan kelamin atau bersetubuh. Perkawinan juga disebut dengan “pernikahan”, berasal dari kata nikah yang menurut bahasa artinya
51Amir Syarifuddin, hukum perkawinan islam antara fiqh munahat dan undang-undang perkawinan,(Jakarta: Kencana. 2011)hal.36
52M. Ali Hasan, Pedoman Hidup Rumah Tangga Dalam Islam, (Jakarta: Perdana media group.2006)hal.3
53Novi hendri, Psikologi Dan Konseling Keluarga Menurut Pradigma Islam,...h.25
mengumpulkan, saling memasukkan, dan digunakan untuk arti bersetubuh.54 Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Adz-Dzariyat ayat 49 :
Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pernikahan itu adalah menyatukan dan menggabungkan dua orang yang berbeda jenis kelamin dengan ketentuan dan syarat tertentu untuk membentuk keluarga yang kekal.
Zakiyah Darajat mengemukakan bahwa usia muda (remaja) adalah anak yang pada masa dewasa, dimana anak-anak mengalami peralihan- peralihan cepat disegala bidang. Mereka bukan lagi anak-anak baik untuk badan, sikap dan cara berfikir atau bertindak tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang, masa ini kira-kira umur 13 dan berakhir kira-kira 21 tahun.55
Menurut Husain Muhammad, bahwa pernikahan di usia muda adalah pernikahan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan yang belum mencapai taraf baligh, apabila batasan baliqh itu ditentukan hitungan tahun, maka pernikahan di usia muda
54Abdul Rahman Ghozali, fiqih Munakahat, (jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2003), hal. 7
55Zakiah Derajat, Kesehatan Mental, (Jakarta : gunung Agung,tt), Cet ke-3 h. 106
adalah pernikahan di bawah umur 15 tahun menurut mayoritas ahli fiqh, dan umur 17-18 tahun menurut Abu Hanafiah.56
Menurut Ali Bana, ia mengatakan bahwa pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan oleh salah satu pasangan yang memilik usia di bawah umur yang biasa dibawah 17 tahun. Baik pria atau wanita jika belum cukup umur (17 Tahun) jika melangsungkan pernikahan dapat dikatakan sebagai pernikahan usia dini.57 Ali berpendapat bahwa usia muda (remaja) adalah anak yang pada masa dewasa, dimana anak-anak mengalami peralihan-peralihan cepat di segala sidang. Mereka bukan lagi anak-anak untuk badan, sikap, dan cara berpikir atau bertindak tetapi bukan pula dewasa yang telah matang, masa ini di ambil dari umur 1 hingga 21 tahun.
Pernikahan di bawah umur adalah pernikahan yang dilangsungkan oleh satu calon mempelai atau keduanya belum memnuhi syarat umur yang ditentukan dalam Undang-undang No.1 Tahun 1974, yaitu pernikahan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun.58
Berdasarkan beberapa defenisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan oleh salah satu pasangan yang memiliki usia yang biasanya pria berumur 19tahun dan umur 16 tahun, jika melangsungkan pernikahan dapat dikatakan sebagai pernikahan usia dini. Di Indonesia sendiri pernikahan belum cukup umur ini marak terjadi, tidak hanya di desa malainkan juga di kota.
56Husein Muhammad, Fiqh Perempuan, (yogyakarta : Lkis,2001), h.68
57 http://piksmansario.blogspot.co.id/2014/10/artikel-pengertian-pernikahan-dini.html
58Undang-undang Perkawinan No.1 Tahun 1974, pasal 7 ayat 1.
Jadi, dapat disimpulkkan bahwa kebijakan pemerintah dalam menetapkan batas minimal usia pernikahan ini tentunya melalui proses dan berbagai pertimbangan. Hal ini dimaksudkan agar kedua belah pihak benar-benar siap dan matang dari sisi fisik, psikis, dan mental.
Dalam pandangan islam terdapat lima prinsip yaitu perlindungan terhadap agama, jiwa, keturunan, harta, dan akal. Dari kelima nilai universal Islam ini, satu diantaranya adalah agama menjaga jalur keturunan (hifdzu al nasl). Oleh sebab itu, Syekh Ibrahim dalam bukunya al Bajuri menuturkan bahwa agar jalur nasab tetap terjaga, hubungan seks yang mendapatkan legalitas agama harus melalui pernikahan. Seandainya agama tidak mensyari’atkan pernikahan, niscaya geneologi (jalur keturunan) akan semakin kabur.59
Jadi, dapat disimpulkan bahwa agama dan negara terjadi perselisihan dalam memaknai pernikahan dini. Pernikahan yang dilakukan melewati batas minimnal Undang-undang Perkawinan, secara hukum kenegaraan tidak sah. Istilah pernikahan dini menurut negara dibatasi dengan umur. Sementara dalam kaca mata agama, pernikahan dini ialah pernikahan yang dilakukan oleh orang yang belum baligh.
2. Faktor-Faktor yang Mendorong Terjadinya Pernikahan Dini
Sehubungan dengan pernikahan dini ini, maka ada faktor pendorong terjadinya pernikahan dini dan dampaknnya dari adanya
59Ibrahim, al Bajuri hlm. 90 vol. 2 Toha Putra, Semarang.
pernikahan dini. Jadi faktor yang mendorong terjadinya pernikahan dini adalah sebagai berikut:
Menurut RT. Akhmad Jayadiningrat, didalam buku Maria Ulfa Subadio, sebab-sebab utama dari pernikahan dini adalah:
a. Keinginan mendapatkan tambahan anggota keluarga.
b. Tidak adanya pengertian mengenai akibat buruk pernikahan dini, baik bagi mempelai itu sendiri maupun keturunannya.
c. Sifat kolot orang jawa yang tidak mau menyimpang dari ketentuan-ketentuan adat. Kebanyakan orang desa mengatakan bahwa mereka itu menikahkan anaknya begitu muda hanya karena mengikuti adat kebiasaan saja.60
Menurut Hollen, dibuku Suryono terjadinya pernikahan dini disebabkan oleh:
a. Masalah ekonomi keluarga
b. Orang tua dari gadis meminta prasyarat kepada keluarga laki-laki apalagi mau menikahkan anak gadisnya.
c. Bahwa dengan adanya pernikahan anak-anak tersebut, maka dalam keluarga gadis akan berkurang satu anggota keluarganya yang menjadi tanggung jawab (makanan, pakaian, pendidikan, dan sebagainya).61
Selain menurut para ahli di atas, ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya pernikahan dini, yang sering kita jumpai dilingkungan masyarakat kita, yaitu:
60 Mariana Ulfa Subadio, Peranan dan kedudukan Wanita Indonesia. (Yogyakarta:
UGM Press,2001) hal. 147-148
61 Suryono, Menuju rumah tangga harmonis, (Pekalongan : TB. Bahagia. 1992), Hal.32
a. Faktor ekonomi
Pernikahan usian muda terjadi kerana faktor kesulitan kehidupan orangtua yang ekonominya pas-pasan sehingga tepaksa menikahkan anak gadisnya dengan keluarga yang sudah mampu dalam perekonomiannya.
Anak sendiri terpaksa menyetujui keputusan dari orang tua mereka karena tidak ingin menambah beban.
Keputusan menikah kadang kala muncul dari inisiatif dari anak itu sendiri yang ingin meringankan ekonomi orangtuanya dengan cara menikah dengan usia muda. Adapula menikah di usia dini karena kesulitan faktor ekonomi dan berharap dengan melakukan pernikahan lebih cepat akan dapat meringankan beban orangtuanya. Selain itu untuk menghindari terjadinya hamil diluar nikah sehingga tidak menjadi aib orangtua serta terhindar dari sansi adat berupa denda.
b. Faktor pendidikan
Rendahnya tingkat pendidikan maupun pengetahuan orang tua, anak dan masyarakat, menyababkan kecendrungan untuk menikahkan anaknya yang masih di bawah umur dan tidak dibarengi dengan pemikiran yang panjang tentang akibat dan dampak permasalahn yang di hadapi.
c. Faktor orang tua
Tingkat pendidikan orang tua yang rendah sehingga pola pikiran orang tua yang bersifatpasrah dan menerima, kepasrahan inilah maka orang tua kurang memahami adanya UU perkawinan No. 1 Tahun 1974.
Orangtua itu khawatir terkena aib kerena anaknya perempuannya berpacaran dengan laki-laki dan segera menikahkan anaknya.
d. Faktor adat
Menurut adat-istilah pernikahan sering terjjadi karena sejak kecil anak telah dijodohkan oeh kedua orang tuanya. Bahwa pernikahan anak-anak untuk segera merealisir ikatan hubungan kekeluargaan antara kerabat mempelai laki-laki dan kerabat memepelai perempuanyang memang telah lama mereka inginkan bersama.sehingga hubungan kekeluargaan mereka tidak putus.
e. Keluarga cerai (broken home)
Banyak anak-anak yang menjadi korban perceraian terpaksa menikahsecara dini karena berbagai alasan, misalnya: tekanan ekonomi, untuk meringankan beban orang tua tunggal, membantu orang tua, mendapatkan pekerjaan, dan meningkatkan taraf hidup.
Jadi dapat diketahui bahwa faktor-faktor pendorong terjadinya pernikahan dini terdiri dari beberapa factor yaitu factor ekonomi, factor pendidikan, faktor orang tua, faktor media masa, factor adat, dan factor keluarga broken home. Maka kerena itulah banyaknya terjadi pernikahan pada usia dini karena faktor-faktor di atas.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian lapangan (field research), yang berparadigma kualitatif, sebagai prosedur penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang dan perilaku yang dapat diamati.62 Tujuannya untuk mengembangkan sesuatu apa adanya, sebagaimana dikemukakan oleh Sukardi bahwa penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasikan objek sesuai dengan apa adanya.63 Melihat gambaran tentang pola asuh bagi yang menikah di usia dini di Jorong Tanjung Alai Kecamatan Lubuk Sikaping Kabupaten Pasaman.
B. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Jorong Tanjung Alai Kecamatan Lubuk Sikaping Kabupaten Pasaman. Alasan penulis melakukan penelitian di Jorong Tanjung Alai Kecamatan Lubuk Sikaping Kabupaten Pasaman ini karena penulis menemukan permasalahan yang perlu diteliti dan dipecahkan sekaligus penulis tinggal di Jorong tersebut. Alasan lain yang membuat penulis tertarik untuk penelitian di Jorong ini adalah adanya fenomena yang terjadi pada lingkungan masyarakat yaitu pernikahan yang dilakukan pada usia dini.
62Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1995), Cet. Ke-5, h. 3
63Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan: Kompetensi dan Praktek, (Jakrta: Bumi Aksara, 2003), h.157
Peneliti berusaha menarik kesimpulan dan melakukan verifikasi dengan mencari makna setiap gejala yang diperolehnya dari lapangan.
C. Informan Penelitian
Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi yang diteliti.64 Dalam penelitian ini pengumpulan data dengan menggunakan teknik snowball sampling yaitu data atau informasi yang diambil secara bola salju. Satu informasi dapat memberikan informasi-informasi yang akan dikembangkan sampai pada titik kejenuhan sehingga semakin lama semakin banyak informasi yang akan diperoleh.
Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Informan kunci adalah orang yang dijadikan informan utama dalam penelitian, dalam hal ini yang menjadi informan kunci yaitu pasangan yang menikah pada usia dini.
2. Informan pendukung adalah informan tambahan, dalam hal ini yang menjadi informan pendukung adalah pihak keluarga yaitu orang tua, saudara, dan tetangga.
D. Teknik Pengumpulan Data
Dalam hal ini untuk mendapatkan data yang akurat mengenai keadaan di lapangan maka penulis menggunakan diantaranya yaitu:
64 Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001), h. 92
1. Observasi
Observasi adalah alat pengumpul data dimana penulis mengadakan langsung maupun tidak langsung terhadap gejala-gejala yang di teliti. Kegiatan observasi meliputi melakukan pencatatan secara sistematik kejadian-kejadian, perilaku, objek lain yang di lihat dan hal lain yang di perlukan. Pada tahap awal observasi dilakukan secara umum, peneliti mengumpulkan data atau informasi yang di perlukan sehingga peneliti menemukan pola-pola perilaku dan hubungan.
2. Wawancara
Wawancara atau interview adalah alat pengumpulan data informasi dengan cara mengajukan sejumlah daftar pertanyaan secara lisan dan dapat dijawab secara lisan pula. Dalam penelitian ini penulis akan melakukan wawancara untuk mengumpulkan data-data yang tidak didapat melalui pengamatan atau observasi yang dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan langsung dengan mengunakan pedoman wawancara, yaitu untuk mengetahui aspek-aspek yang berkenaan dengan pola asuh yang di pakai oleh pasangan mernikah dini di Jorong Tanjung Alai Kecamatan Lubuk Sikaping.
3. Dokumentasi
Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variable, dokumentasi berupa catatan notulen dan lain-lain65. Seperti
65 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, (Bandung : Ghalia Indo, 2000) ,h.42
melihat arsip atau dokumentasi yang ada dilapangan tempat penelitian.
Dalam hal ini yang dimaksud dokumentasi oleh penulis adalah laporan pelaksanaan penelitian.
E. Teknik Analisa Data
Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah analisa data kualitatif, yang dilalukan terhadap data yang diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan menggunakan teknik analisa deskriptif kualitatif, teknik analisa yang digunakan adalah :
1. Data Reduction (Reduksi data)
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu.
2. Data Display ( Penyajian data)
Penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan hubungan antar kategori, Flowchari dan sejenisnya. Biasanya yang sering digunakan yaitu dengan teks yang bersifat naratif.
3. Caonclusion Drawing / Verication (Penarikan kesimpulan dan varifikasi.
Peneliti berusaha menarik kesimpulan dan melakukan verifikasi dengan mencari makna setiap gejala yang diperolehnya dari lapangan.66
66Sugiyono, MetodePenlitianKuantitatifKualitatifdan R &D, (Bandung :Alfabetha, 2009), hal. 247-252
4. Teknik Keabsahan Data
Untuk menguji keabsahan data, penulis mengunakan teknik triangulasi data. Triangulaasi data adalah teknik pemerikasaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain, di luar itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut.
Triangulasi data dengan sumber lainnya berarti membandingkan dan mengecek balik derajat-derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan data yang berbeda dalam metode kualitatif. Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan:
1. Membandingkan hasil pengamatan dengan hasil wawancara.
2. Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dan apa yang dikatakan secara pribadi.
3. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat.
4. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.67
67 Lexy J. Moleong Metode…, h. 178
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Temuan Umum
1. Sejarah/asal-usul Nagari
Menurut cerita turun-menurun dari orang tua, nama Pauah berasal dari nama jenis tanaman pohon kayu yang berbuah asam yang sangat digemari, yang konon dulunya banyak tumbuh pohon yang berbuah asam ini tumbuh subur dan besar-besar batang kayunya, atas kebiasaan-kebiasaan inilah nenek moyang kita dulu memakai nama dan bertutur bahasa Pauah.
Nagari Pauah yang dikelilingi oleh Bukik Gadang (Bukit Barisan) dan Bukik Kaciak (Bukit Kecil). Masa itu perpindahan penduduk di alam Minangkabau dalam perluasan daerah dan mencari tempat tinggal yang baru, konon kabarnya pendatang pertama Nagari Pauah adalah dari suku mande nan hilang atau mandailing, yang datang dari utara-Rao Nagari
Lasuang Batu tempat ini dinamakan Pauah karena ada batang pauah.
Maka bernamalah kampuang Pauah, Pauah pada zaman dahulu bernama Pauah Ujung Tanjuang. Nagari Pauah dahulu ada 6 kampung yaitu
sebagai berikut:
a. Kampung Pauah
b. Kampung Tanjung Alai c. Kampung Taluak Ambun d. Kampung Kubu Rarak e. Kampung Paraweh
f. Kampung Ateh
Sekarang menjadi 3 Jorong/Dusun yaitu sebagai berikut:
a. Jorong Pauah
b. Jorong Tanjung Alai c. Jorong Taluak Ambun.
2. Visi dan Misi Nagari a. Visi
Terujutnya masyarakat nagari yang beriman, betaqwa, beradat, berbudaya dengan azas kebersaman menuju masyarakat madani sejahtera dan bathin.
b. Misi
1) adanya sinergi pemerintahan nagari Pauah dalam mensukseskan visi dan misi dari pemerintahan daerah kabupaten Pasaman.
2) Mengembangkan dan meningkatkan taraf kehidupan perekonomian masyarakat nagari dalam bentuk usaha kecil menengah dan kompetensi (UKMK) melalui kelompok-kelompok tani.
3) Terciptanya pemerintahan nagari Pauah yang bersih dan beribawa bebas dari kolusi dan nepotisme.
4) Mengoptimalkan sumber daya manusia (SDM) baik yang ada di kenagarian Pauah maupun dengan organisasi perantau.
3. Kondisi Geografis
Nagari Pauah adalah salah satu Nagari dari enam Nagari yang ada di wilayah Kecamatan Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat.Dengan luas wialayah 600 Ha yang terdiri dari 3 Jorong/Dusun.
Nagari Pauah berada pada ketinggian 400 m diatas permukaan laut, dengan luas pertanian 60 Ha dan lebihnya pemukiman dan hutan lindung.
Daerah Nagari Pauh memiliki batas daerah yaitu sebagai berikut:
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Nagari Aia Manggih b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Nagari Durian Tinggi c. Sebelah Barat berbatasan dengan Bukik Kaciak
d. Sebelah Timur berbatasan dengan Bukik Barisan.
Nagari Pauah terdiri dar 3 Jorong yaitu sebagai berikut : a. Jorong Pauah
b. Jorong Tanjung Alai c. Jorong Taluak Ambun 4. Kondisi Sosial dan Budaya
a. Demograf
Penduduk merupakan faktor penting dalam pembangunan, yaitu sebagai tenaga kerja yang akan mengolah potensi alam yang dimiliki nagari. Semakin kreatif dan inovatif penduduknya, semakin besar kemungkinan suatu nagari dapat berkembang lebih maju.
Potensi alam yang besar saja tidak cukup mendukung kemajuan
nagari sehingga penduduk sebagai tenaga kerja merupakan faktor yang juga memberikan andil yang cukup besar.
Kenagarian Pauh memiliki jumlah penduduk sebanyak 9.796 Jiwa, yang terbagi dalam berberapa jorong berdasarkan Kartu Tanda Penduduk (KTP), yaitu :
1) Jorong Pauh
Laki-laki : 1.423 Jiwa Perempuan : 1.553 Jiwa 2) Jorong Tanjung Alai
Laki-laki : 1.529 Jiwa Perempuan : 1.335 Jiwa 3) Jorong Taluak Ambun Laki-laki : 813 Jiwa
Perempuan : 873 Jiwa
Dengan jumlah keseluruhan penduduk laki-laki yaitu 4.888 Orang dan perempuan 4.908 Orang dengan 1854 Kartu Keluarga (KK).
B. Temuan Khusus
Pola asuh orang tua merupakan sistem atau acara yang digunakan atau diterapkan oleh orang tua untuk mengasuh, membina, mengarahkan, membimbing dan menitipkan dalam mengembangkan perilaku belajar anak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam mengembangkan perilaku belajar anak, orang tua menerapkan pola asuh sesuai dengan kebutuhan yang
diperlukan oleh anak. Ada beberapa cara masing-masing orang tua dalam menghadapi anak, seperti yang dijelas dalam temuan dilapangan oleh peneliti:
1. Pola asuh orang tua dalam kegiatan bermain anak
Bermain sebagai suatu aktivitas yang membantu anak mencapai perkembangan yang utuh, baik, sosial, moral, dan emosial. Bermain bertujuan untuk memahami diri sendiri, menemukan apa yang dapat dilakukan dan mengembangkan kepercayaan diri, melatih mental anak, dan meningkatkan daya kreatif. Jadi anak harus bisa memilih permainan apa saja yang menurutnya itu menyengkan. Cara orang tua yang menikah di usia dini dalam menyikapi anak dalam masa bermainnya adalah sebagai berikut:
Berdasarkan hasil wawancara dengan TW yang melakukan pernikahan di usia dini mengungkapkan bahwa:
“Saya menerapkan peraturan yang ketat kepada anak saya terutama dalam bidang bermain, walaupun anak saya masih berumur 2,5 tahun. Saya merasa bahwa lingkungan tempat tinggal kami kurang mendukung dengan tumbuh kembang anak saya. Bahwasanya saya melihat anak-anak di lingkungan saya banyak berkata yang kurang baik dan sikap-sikap yang menurut saya kurang pantas dengan umur anak tersebut. Jadi saya lebih menuntut anak untuk bermain di dalam rumah.”68
Senada dengan hasil wawancara peneliti dengan tetangga TW, juga menagatakan bahwa:
“Saya melihat bahwa cara mendidik yang dilakukan oleh TW terhadap anaknya ketat terutama dalam bidang bermain karena TW takut nantinya anaknya terpengaruh terhadap tingkah laku yang ada pada anak-anak di lingkungan ini pada umumnya. Seperti anak-anak
68 Wawancara pribadi dengan TW (Menikah Usia Dini), Jorong Tanjung Alai, 20 Juli 2018
banyak berkata kasar dan sikap-sikap yang kurang pantas di lakukan oleh anak yang terbilang masih kecil.”69
Senada dengan pernyataan di atas bahwa NF seorang yang melakukan pernikahan usia dini juga menerapkan peraturan yang ketat terhadap anaknya, NF mengungkapkan bahwa:
“Saya sebagai orang tua mengontrol anak dengan sangat hati-hati.
Maka dari itu saya melarang anak saya untuk tidak bermain dengan sembarangan orang saya takut nantinya anak saya mendapatkan tingkah laku yang kurang baik dari lingkungan tempat tinggal. Jika anak saya mendapatkan tingkah laku yang baik alhamdulillah tetapi jika sebaliknya anak saya mendapatkan tingkah laku atau perkataan yang kurang baik, jadinya saya yang kerepotan untuk memperbaikinya”70
Senada dengan hasil wawancara peneliti dengan tetangga NF, juga menagatakan:
“Menurut saya NF dalam mengontrol anaknya dalam bermain lumayan ketat karena NF sangat berhati-hati dalam proses bermain anaknya.
Menurut saya NF takut anaknya nanti akan bersikap atau berprilaku kurang baik seperti halnya anak-anak lain di jorong ini.”71
Berbeda dengan hal di atas hasil wawancara yang peniliti lakukan dengan TT menyatakan bahwa:
“Saya tidak pernah mengontrol anak dalam bermain karena saya tidak ingin anak saya nantinya kecewa akan peraturan yang saya berikan kepadanya. Saya ingin anak saya mendapatkan yang dia inginkan dengan cukup, karena saya tidak ingin anak saya merasakan kekurangan seperti saya rasakan dulu waktu masih kecil. Saya takut anak tidak bisa menikmati masa kecilnya dengan baik”72
69 Wawancara pribadi dengan Bapak Ujang (Tetangga TW), Jorong Tanjung Alai 20 Juli 2018
70 Wawancara pribadi dengan NF (Menikah Usia Dini), Jorong Tanjung Alai 20 Juli 2018
71 Wawancara pribadi dengan Ibuk Syofinar (tetangga NF), Jorong Tanjung Alai, 20 Juli 2018
72 Wawancara pribadi dengan IbuTT (Menikah Usia Dini), Jorong Tanjung Alai 22 Juli 2018
Senada dengan pernyataan yang sudah di paparkan oleh TT di atas, tetangga TT juga menyatakan hal yang sama:
“TT adalah seorang orang tua yang cara mendidik anak dengan cara memanjakan anak. TT selalu menuruti keinginan anaknya terutama dalam hal bermain, apapun mainan yang di inginkan anaknya selalu
“TT adalah seorang orang tua yang cara mendidik anak dengan cara memanjakan anak. TT selalu menuruti keinginan anaknya terutama dalam hal bermain, apapun mainan yang di inginkan anaknya selalu