BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.5 Perparkiran
2.5.1 Pengertian Perparkiran
Dalam pembahasan tentang parkir secara otomatis akan melibatkan fasilitas-fasilitas publik yang ada. Lalu lintas biasanya berjalan menuju suatu tempat tujuan dan setelah mencapai tempat tersebut kendaraan akan ditinggalkan oleh pemiliknya dan harus diparkir untuk sementara waktu. Kekurangan dalam penyediaan fasilitas parkir yang memadai sesuai dengan permintaan yang diharapkan dan diizinkan dapat menyebabkan hambatan dalam lalu lintas seperti terjadinya kemacetan. Pada umumnya, kenaikan pengguna kendaraan akan menimbulkan peningkaran permintaan akan parkir.
Parkir menurut kamus bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai tempat pemberhentian kendaraan untuk beberapa saat, sementarabeberapa para ahli memberikan definisinya tentang parkir Warpani (1992;176) mengatakan bahwa semua kendaraan tidak mungkin bergerak terus, pada suatu saat ia harus berhenti untuk sementara waktu (menurunkan muatan) atau berhenti cukup lama yang disebut parkir sedangkan menurut Edward (1992;176) Jangka waktu parkir (parking duration) adalah lama parkir suatu kendaraan untuk satu ruang parkir.
Berdasarkan dari definisi-definisi di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa parkir adalah suatu keadaan tidak bergerak suatu kendaraan bermotor atau tidak bermotor yang dapat merupakan awal dari perjalanan dengan jangka waktu tertentu sesuai dengan keadaan dan kebutuhannya yang membutuhkan suatu areal
sebagai tempat pemberhentian yang diselenggarakan baik oleh pemerintah maupun pihak lain yang dapat berupa perorangan maupun badan usaha.
Parkir merupakan bagian yang penting dalam manajemen lalu lintas di kawasan perkotaan. Parkir sendiri dapat diartikan keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang bersifat sementara karena ditinggal oleh pengemudinya.
Kebijakan mengenai perparkiran harus dilakukan secara konsisten sehingga sasaran kebijakan parkir dapat terlaksana.
Sasaran utama dari kebijakan parkir adalah:
1. Mengendalikan jumlah kendaraan yang masuk ke suatu kawasan
2. Meningkatkan pendapatan asli daerah yang dikumpulkan melalu retribusi parkir
3. Meningkatkan fungsi jalan sesuai dengan perannya 4. Meningkatkan kelancaran dan keselamatan lalu lintas 5. Mendukung tindakan pembatasan lalu lintas lainnya 2.5.2 Jenis-Jenis Parkir
a. Menurut Penempatannya
Parkir di tepi jalan (on-street parking), yakni parkir dengan
menggunakan badan jalan sebagai tempat parkir. Kerugian yang ditimbulkan dari jenis parkir ini adalah terganggunya lalu lintas dan berkurangnya kapasitas jalan karena adanya pengurangan lebar lajur lalu lintas.
Parkir di luar badan jalan (off-street parking), yakni parkir kendaraan di luar badan jalan bisa di halaman gedung perkantoran, pembelanjaan, atau pada taman parkir. Parkir jenis ini adalah jenis
parkir yang ideal karena tidak mengganggu lalu lintas dan faktor keamanan lebih tunggu.
b. Menurut Statusnya
Parkir umum, biasanya dikelola oleh Pemerintah Daerah.
Parkir khusus, dikelola oleh swasta.
Parkir darurat, diselenggarakan karena adanya kegiatan incidental.
Taman Parkir, dikelola oleh Pemerintah Daerah.
Gedung Parkir, biasanya diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah dan
pengelolaannya oleh swasta.
c. Menurut Jenis Kendaraan
Parkir untuk kendaraan roda dua tidak bermesin (sepeda)
Parkir untuk kendaraan beroda dua bermesin (sepeda motor)
Parkir untuk kendaraan beroda tiga, beroda empat atau lebih. ( bemo
dan mobil)
d. Menurut Jenis Tujuan Parkir
Parkir penumpang, yakni untuk kebutuhan menaikkan dan menurunkan penumpang.
Parkir barang, yakni untuk kebutuhan bongkar muat barang.
e. Menurut Jenis Kepemilikan dan Pengoperasian
Milik swasta dan dikelola oleh swasta.
Milik Pemerintah Daerah dan dikelola oleh Pemda.
Milik Pemerintah Daerah dan dikelola oleh swasta.
2.5.3 Masalah Pengendalian Parkir
Dalam proses pemungutan retribusi parkir tidak selalu berjalan optimal karena adanya berbagai hambatan yang dihadapi. Menurut Abubakar (1998:151) masalah yang dihadapi dalam pengendalian pendapatan parkir diantaranya:
1. Penolakan untuk membayar
Penolakan ini sering menimbulkan keributan antara juru parkir dengan pelaku parkir terutama terjadi bagi pengemudi motor atau masyarakat yang menolak untuk membayar retribusi parkir.
2. Pengumpulan pendapatan oleh petugas tidak resmi
Di beberapa kota besar sering ditemui juru parkir tidak resmi yang menggunakan seragam juru parkir yang umumnya beroperasi dikawasan yang tidak ditetapkan sebagai kawasan parkir. Sebagian juru parkir memiliki para pengelola parkir tidak resmi atau disebut dengan mafia parkir. Jika jumlah juru parkir tidak resmi banyak maka dapat dipastikan potensi pendapatan asli daerah yang hilang akan cukup besar.
3. Penarikan tarif parkir yang lebih tinggi
Tarif parkir yang sudah sangat rendah dikawasan pusat perdagangan yang tinggi penggunaannya sering dimanfaatkan oleh juru parkir untuk meminta bayaran lebih atau pelaku parkir tidak meminta uang kembaliannya.
4. Juru parkir tidak menyetorkan hasil
Masalah lain yang ditemukan adalah juru parkir yang tidak menyetorkan hasil retribusi parkir yang dipungutnya, atau tidak menyetorkan secara utuh. Sering kali karcis tidak diberikan kepada pelaku parkir atau pelaku parkir tidak mau menerima karcis.
5. Penggunaan karcis lebih dari satu kali.
Hambatan yang dihadapi dalam pengendalian pendapatan parkir memang sering terjadi. Berbagai faktor mampu mempengaruhi pendapatan parkir. Kota Medan juga mengalami permasalahan dalam pengendalian pendapatan parkir karena adanya parkir liar di tepi jalan umum.
2.5.4 Masalah Pengendalian Petugas Parkir
Berdasarkan permasalahan pendapatan parkir, terlihat bahwa petugas parkir/juru parkir merupakan salah satu penyebab terjadinya masalah parkir.
Untuk itu diperlukan pengendalian petugas parkir. Abubakar (1998:161) juga
menyatakan permasalahan pengendalian terhadap petugas parkir/juru parkir ini muncul kemudian diantaranya:
a) Parkir oleh petugas ilegal ditempat parkir ilegal.
b) Petugas ilegal ditempat parkir ilegal.
c) Petugas legal meminta pelaku parkir untuk parkir ditempat dimana parkir dilarang (parkir ganda, parkir di tempat dilarang parkir)
d) Petugas memungut ongkos parkir diatas tarif yang diberlakukan .
e) Petugas tidak membagikan karcis parkir atau menggunakan kembali karcis yang sudah dibagikan sebelumnya kepada pelaku parkir lain.
f) Petugas parkir pulang lebih awal atau masuk kerja terlambat dan lain-lain.
Hambatan yang dihadapi dalam pengendalian petugas parkir juga merupakan masalah dalam perparkiran. Berbagai faktor mampu mempengaruhi maasalah petugas parkir. Kota Medan juga mengalami permasalahan dalam pengendalian petugas parkir karena adanya parkir liar di tepi jalan umum.
2.5.5 Manajemen Sistem Parkir
Manajemen adalah proses khas yang terjadi dari kegiatan planning, organizing, actuating, dan controlling (POAC). Jika dikaitkan dengan lalu lintas dan parkir, maka dengan manajemen diharapkan agar lalu lintas dapat berjalan dengan aman, nyaman dan ekonomis. Pengertian ekonomis dikaitkan dengan rasio proses output dan input dalam proses manajemen. Manajemen dapat berlangsung apabila tersedia input dasar yang lengkap yaitu man, money, material, machine dan method.
Manajemen sistem parkir, baik di dalam badan jalan (on street parking) maupun di luar badan jalan (off street parking) merupakan hal penting untuk mengendalikan lalu-lintas agar kemacetan, polusi dan kebisingan dapat ditekan sambil meningkatkan standar lingkungan. Manajemen sistem parkir ditempuh melalui suatu kombinasi atas pembatasan-pembatasan ruang, waktu dan biaya.
Manajemen waktu dan biaya berkaitan dengan usaha untuk menyeimbangkan kebutuhan (demand) dengan menyediakan (supply) dan pembayaran kembali atas investasi keuangan untuk pembangunan prasarana dan perawatan.
Penataan sistem parkir dengan konsep manajemen parkir atau Manajemen Kebutuhan Lalu Lintas, berlandaskan pada Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 2011 tentang Manajemen dan Rekayasa, Analisis Dampak serta Manajemen Kebutuhan Lalu Lintas. Konsep tersebut mengacu pada beberapa hal sebagai berikut :
a) Waktu Parkir, Larangan parkir pada segmen waktu tertentu, biasanya pada kepadatan lalu lintas pagi dan sore hari.
b) Durasi Parkir, Pembatasan ruang parkir berdasarkan lama waktu penggunaan ruang parkir.
c) Tarif, Alat untuk mengatur tingkat kepadatan parkir pada area tertentu berupa tingkatan tarif parkir.
(d) Kuota Jumlah ruang parkir yang ditetapkan pada area tertentu.
(e) Lokasi Menentukan lokasi yang diperbolehkan maupun dilarang untuk parkir.
Dengan demikian manajemen parkir merupakan sebuah alat kebijakan yang efektif untuk meningkatkan kualitas wilayah pusat kota dan daerah sekitarnya, serta dapat menghemat waktu dan uang berbagai pengguna jasa. Manajemen parkir merupakan serangkaian kebijakan dan program yang digunakan untuk menghasilkan penggunaan sumber daya parkir secara lebih efisien.
Pengelolaan parkir memiliki banyak manfaat bagi perkembangan kota.
Manfaat tersebut antara lain dapat membantu mengatasi masalah ekonomi, sosial
dan lingkungan, meningkatkan produktivitas ekonomi dan memberi manfaat bagi konsumen secara keseluruhan. Penerapan manajemen parkir bertujuan antara lain untuk:
a. Meningkatkan daya tarik pusat kota sebagai jantung kota.
b. Mendukung penggunaan angkutan umum.
c. Transportasi tidak bermotor (pejalan kaki dan pesepeda).
d. Meningkatkan PAD dari sektor parkir.
e. Penataan dan transparansi pengelolaan parkir.
2.6 Definisi Konsep
Konsep adalah istilah dan defenisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak kejadian, kelompok, atau individu yang menjadi pusat perhatian ilmu sosial. Tujuannya adalah untuk memudahkan pemahaman dan menghindari terjadinya interprestasi ganda dari variabel yang diteliti. Untuk mendapatkan batasan yang jelas dari masing-masing konsep yang diteliti, maka penulis mengemukakan definisi konsep, yaitu:
1. Kebijakan publik adalah sesuatu yang dilakukan ataupun tidak dilakukan oleh pemerintah untuk mencapai tujuan penyelenggaraan pemerintahan negara dengan cara pemanfaatkan sumber daya yang tersedia.
2. Implementasi Kebijakan Publik merupakan sebuah proses pelaksanaan kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk pencapaian tujuan yang diharapkan sesuai dengan sasaran kebijakan tersebut. Implementasi kebijakan pada prinsipnya merupakan cara agar sebuah kebijakan yang telah diputuskan oleh pemerintah dapat mencapai tujuannya.
3. Pelayanan Publik adalah segala bentuk kegiatan pelayanan umum yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah pusat, di daerah dan lingkungan badan usaha milik negara atau daerah dalam dan melayani keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi tersebut sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan.
4. Transparansi dapat diukur melalui sejumlah indikator, pertama adalah adanya sistem keterbukaan dan standarisasi yang jelas dan mudah dipahami dari semua proses-proses penyelenggaraan pemerintahan, kedua adalah adanya mekanisme yang memfasilitasi pertanyaan-pertanyaan publik tentang proses-proses dalam penyelenggaraan pemerintahan, ketiga adalah adanya mekanisme pelaporan maupun penyebaran informasi penyimpangan tindakan aparat publik di dalam kegiatan penyelenggaraan pemerintahan.
5. Parkir adalah keadaan kendaraan berhenti atau tidak bergerak untuk beberapa saat ditinggalkan oleh pengemudinya. Jika dikaitkan dengan lalu lintas dan parkir, maka dengan manajemen diharapkan agar lalu lintas dapat berjalan dengan aman, nyaman dan ekonomis. Manajemen parkir merupakan hal penting untuk mengendalikan lalu-lintas agar kemacetan, polusi dan kebisingan dapat ditekan sambil meningkatkan standar lingkungan
2.7 Hipotesis Kerja
Hipotesis kerja merupakan hipotesis yang bersumber dari kesimpulan teoritik, sebagai pedoman untuk melakukan penelitian (Umar 2010:38). Hipotesis kerja disusun berdasarkan atas teori yang paling handal. Hipotesis kerja bertujuan
untuk mengarahkan penulis dalam rangka membahas permasalahan. Lebih jelasnya, peneliti merumuskan hipotesis kerja, yaitu “Implementasi Transparansi Perparkiran di Tepi Jalan Umum Wilayah Pemerintahan Kota Medan” meliputi isi kebijakan (kepentingan kelompok sasaran, tipe manfaat, derajat perubahan yang diinginkan, letak pengambilan keputusan, pelaksaan program, sumber daya yang dilibatkan) dan lingkungan implementasi (kekuasaan kepentingan dan strategi aktor yang terlibat, karakteristik lembaga dan penguasa, kepatuhan dan daya anggap)
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian merupakan elemen yang penting dalam menjaga sebuah reliabilitas dan validitas hasil penelitian. Metode penelitian adalah cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan. Umumnya, tujuan penelitian adalah memecahkan masalah. Dan langkah yang ditempuh dalam sebuah penelitian harus relevan dengan masalah yang dirumuskan.
3.1 Bentuk Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Menurut Bodgan dan Taylor (Moleong, 2006), penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan terhadap manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan peristilahannya sedangkan menurut Danim (2002:41), penelitian kualitatif adalah penelitian yang memusatkan perhatian terhadap masalah-masalah atau fenomena-fenomena yang ada pada saat penelitian dilakukan, kemudian menggambarkan fakta-fakta dan menjelaskan keadaan dari objek penelitian yang sesuai dengan keadaan sebagaimana adanya dan mencoba menganalisis untuk memberikan kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh.
Menurut Michael Quinn (dalam Yusuf 2014:336), penelitian kualitatif memiliki karakteristik utama dalam penelitiannya yaitu sebagai berikut:
1. Penyelidikan yang bersifat naturalistik 2. Analisis bersifat induktif
3. Holistik (keseluruhan)
4. Data bersifat kualitatif (kata dan gambar-gambar) 5. Menekankan pemahaman dan kontak personal 6. Dinamis
7. Tiap kasus unik dan spesifik
8. Dalam konteksnya, netral dan bersifat sensitive 9. Rancangan bersifat fleksibel
Pendekatan kualitatif ini akan membantu penliti untuk mendeskripsikan dan menggambarkan isi kebijakan terkait kepentingan kelompok sasaran, tipe manfaat, derajat perubahan yang diinginkan, letak pengambilan keputusan, pelaksana program, dan sumber daya yang dilibatkan atau dibutuhkan dan lingkungan implentasi terkait dengan indikator kekuasaan, kepentingan dan strategi aktor yang terlibat, karakteristik lembaga dan penguasa dan kepatuhan dan daya tanggap.
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kantor Dinas Perhubungan Pemerintahan Kota Medan. Untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dalam pemecahan rumusan masalah dan mendapatkan solusi yang tepat dengan menggunakan teori yang sudah ditentukan oleh peneliti. Hambatan dalam perparkiran di yang terjadi, diantaranya: (1) parkir liar, (2) pungutan liar (3) Lemahnya pengawasan terhadap juru parkir yang menyebakan kebocoran Pendapatan Asli Daerah dari retribusi parkir di tepi jalan umum. Hal inilah yang menyebabkan Penulis memutuskan untuk penelitian di Kantor Dinas Perhubungan Pemerintahan Kota Medan.
3.3 Informan Penelitian
Menurut Bungin (2011:50), Informan adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan luas dan mendalam mengenai masalah penelitian. Informan berfungsi untuk membantu menjaring sebanyak-banyaknya data dan informasi yang akan bermanfaat bagi bahan analisis. Pemilihan informan pada penelitian difokuskan pada reprensentasi atas masalah yang diteliti. Informan harus
benar-benar melalui pemilihan yang selektif, informan juga harus mengetahui atau sebagai pelaku yang terlibat langsung dalam permasalahan penelitian.
Dalam penelitian ini, peneliti menentukan informan melalui bentuk sumber data snowball sampling. Yang diartikan sebagai memilih sumber informasi mulai dari sedikit kemudian makin lama makin besar jumlah sumber informasinya. Dalam bentuk ini, peneliti cukup mengambil satu orang saja dahulu. Kemudian kepada orang pertama ini, tanya lagi orang lain yang mengetahui dan memahami kasus sehubungan dengan informasi yang dijadikan fokus penelitian dalam situasi sosial di daerah/tempat penelitian dan begitulah seterusnya, sampai peneliti yakin bahwa data dan informasi yang dikumpulkan sudah cukup dan data yang didapat setelah diolah dilapangan sejak awal penelitian telah menunjukkan hasil yang sama dan tidak berubah lagi (Yusuf,2014:371).
Berdasarkan penjelasan mengenai teknik pengambilan sampel di atas, maka yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1 Informan Penelitian
No Informan Jenis Informasi Yang Dibutuhkan Jumlah 1 Kepala Dinas
Perhubungan Kota Medan
1. Informasi tentang isi kebijakan (content of policy) dan
3 Juru Parkir Transparansi Juru parkir terhadap kebijakan perparkiran Pemko Medan serta informasi terkait dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) juru parkir.
8
4 Masyarakat Pengguna Informasi terkait dengan tanggapan 8
Jasa Parkir di Kota Medan
masyarakat terhadap pelayanan publik parkir di tepi jalan umum serta kendala yang dialami
masyarakat sebagai pengguna jasa.
TOTAL INFORMAN 20
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena bertujuan untuk mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang diharapkan (Sugiyono, 2016). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya :
1. Teknik Pengumpulan Data Primer
Data Primer adalah teknik pengumpulan data yang langsung diperoleh dari lapangan yang dilakukan dengan cara:
a. Wawancara mendalam, yaitu tehnik pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan langsung kepada pihak yang terkait dengan suatu tujuan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan berdasarkan pedoman wawancara. Sebelum ke lapangan penulis terlebih dahulu membuat pedoman wawancara guna memperolah informasi yang diinginkan. Metode wawancara itu ditujukan untuk informan penelitian yang telah ditetapkan sebelumnya oleh penulis, yaitu mereka yang mengetahui ataupun yang terkait langsung dengan proses transparansi dan implementasi dinas perhubungan dalam menyikapi parkir liar dan pungutan liar di kota Medan yang menyebabkan kerugian Pemerintahan Kota.
b. Observasi adalah pengamatan langsung suatu kegiatan yang sedang dilakukan.
Melalui observasi penulis dapat memperoleh pandangan mengenai apa yang
sebenanarnya dilakukan dan melihat langsung keterkaitan yang terdapat di dalamnya dan kemudian mencatat gejala-gejala yang ditemukan berdasarkan pedoman obsevasi untuk melengkapi data-data yang diperlukan sebagai acuan yang berkenaan dengan topik penelitian. Dalam hal ini juga, penulis terlebih dahulu menulis pedoman observasi sebelum kelapangan.
2. Teknik Pengumpulan Data Sekunder
Data sekunder merupakan data atau informasi yang diperoleh secara tidak langsung dari obyek penelitian yang bersifat publik, yang terdiri atas struktur organisasi dan kearsipan, dokumen, laporan-laporan serta buku-buku dan lain sebagainya yang berkenaan dengan penelitian ini. Sumber data sekunder penelitian ini diperoleh melalui dokumen-dokumen yang berkaitan dengan penelitian, yaitu gambaran umum Kota Medan, yang diperoleh melalui dokumentasi website resmi Kota Medan yaitu pemkomedan.go.id, gambaran umum Dinas Perhubungan, yang diperoleh dari website dishub.pemkomedan.go.id, serta jumlah pertumbuhan penduduk dan kendaraan dari medankota.bps.go.id.
3.5 Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan kegiatan mengelompokkan, membuat suatu urutan, memanipulasi serta meningkatkan data sehingga mudah untuk membuat suatu deskripsi dari gejala yang diteliti. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisa kualitatif yaitu dengan menyajikan data yang dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia, menyusunnya dalam satu satuan yang kemudian dikategorikan pada tahap berikutnya dan memeriksa keabsahan data serta menafsirkannya dengan analisis
sesuai dengan kemampuan daya nalar penelitian untuk membuat kesimpulan penelitian. Terdapat beberapa langkah dalam melakukan analisis data yaitu:
1. Reduksi Data
Reduksi data dimulai dengan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan di lapangan, melakukan transkrip data (transformasi data) untuk memilih informasi mana yang dianggap sesuai dan tidak sesuai dengan masalah yang menjadi pusat penelitian di lapangan.
2. Penyajian Data
Bermakna sebagai sekumpulan informasi berbentuk naratif atau uraian teks, grafik jaringan, tabel, dan bagan yang bertujuan mempertajam pemahaman peneliti terhadap informasi yang dipilih kemudian disajikan dalam tabel maupun uraian penjelasan.
3. Penarikan Kesimpulan
Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.
3.6 Teknik Keabsahan Data
Untuk memastikan data/informasi lengkap dan validitas data reliabilitasnya tinggi penelitian kualitatif mempergunakan teknik triangulasi (triangulation). Wirawan (2011:156-158) Triangulasi adalah suatu pendekatan riset yang memakai suatu kombinasi lebih dari satu strategi dalam satu penelitian
untuk menjaring data/informasi. Triangulasi adalah suatu metode yang dipakai dalam penelitian kualitatif – sering juga dilakukan dalam metode kuantitatif – untuk mengukur validitas dan reliabilitas dalam penelitian kualitatif. Triangulasi merupakan sintesis dan integrasi data dari berbagai sumber-sumber melalui pengumpulan, eksaminasi, perbandingan dan interpretasi. Dengan mengumpulkan data dan membandingkan multiple dataset satu sama lain, triangulasi membantu meniadakan ancaman bagi setiap validitas dan reliabilitas data. Pendekatan triangulasi yang diterapkan dalam evaluasi program khususnya dan penelitian ilmu sosial telah memperkuat kesimpulan mengenai observasi dan mengurangi resiko interpretasi yang salah dengan mempergunakan berbagai sumber-sumber informasi. Triangulasi tidak hanya membandingkan data dari berbagai sumber data, akan tetapi juga mempergunakan berbagai teknik dan metode untuk meneliti dan menjaring data/informasi fenomena yang sama. Data penelitian dapat dipergunakan empat jenis triangulasi:
a. Triangulasi data
Mempergunakan berbagai sumber data/informasi.Dalam teknik triangulasi ini adalah mengelompokkan para pemangku kepentingan program dan mempergunakannya sebagai sumber data/informasi.Evaluator harus mempergunakan sebanyak mungkin kelompok-kelompok dan para anggota kelompok pemangku kepentingan dalam evaluasi melalui wawancara dan observasi, peneliti bisa menggunakan observasi terlibat (participant observation), dokumen tertulis, arsip, dokumen sejarah, catatan resmi, catatan atau tulisan pribadi serta gambar atau foto. Masing-masing cara itu akan menghasilkan bukti data yang berbeda, yang selanjutnya akan memberikan pandangan (insights) yang berbeda pula mengenai fenomena yang diteliti.
b. Triangulasi peneliti.
Dalam teknik triangulasi ini dipergunakan sejumlah evaluator atau tim evaluator dalam satu proyek evaluasi. Para evaluator mempergunakan metode kualitatif yang sama – misalnya wawancara, observasi, studi kasus, kelompok fokus atau informan kunci. Temuan dari setiap evaluator dibandingkan. Jika temuan dari berbagai evaluator menghasilkan kesimpulan yang sama, maka validitas temuan dapat diterapkan. Jika temuan para evaluator berbeda satu sama lain maka diperlukan studi lebih
lanjut untuk menentukan perbedaan tersebut. Tetapi perlu diperhatikan bahwa evaluator yang diajak menggali data itu harus yang telah memiliki pengalaman penelitian dan bebas dari konflik kepentingan agar tidak justru merugikan peneliti dan melahirkan bias baru dari triangulasi.
c. Triangulasi Teori
Triangulasi teori adalah penelitian dengan mempergunakan berbagai profesional dengan latar belakang ilmu pengetahuan untuk melalui suatu set data/informasi. Jika evaluator dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan untuk menilai suatu set data/informasi dengan cara yang sama dan mengambil kesimpulan yang sama, maka validitas
Triangulasi teori adalah penelitian dengan mempergunakan berbagai profesional dengan latar belakang ilmu pengetahuan untuk melalui suatu set data/informasi. Jika evaluator dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan untuk menilai suatu set data/informasi dengan cara yang sama dan mengambil kesimpulan yang sama, maka validitas