TINJAUAN UMUM TENTANG PESAN-PESAN DAKWAH
A. Tinjauan Dakwah
2. Pengertian Pesan Dakwah
Materi dakwah atau pesan dakwah adalah seluruh ajaran Islam yang bersumber dari Alquran dan hadis, yang meliputi akidah, ibadah, syariah, muamalah dalam arti luas, dan akhlak.Atau disebut juga al-haq (kebenaran hakiki) yaitu al-Islam yang bersumber dari al-quran.32
Usman Jasad mengemukakan bahwa, materi dakwah yang ada dalam Al-Quran berkisar pada tiga masalah pokok, yaitu: akidah, syariah, muamalah dan akhlak.33
a. Akidah (keimanan)
Menurut bahasa aqidah berasal dari bahasa Arab yaitu „aqada-yaqidu uqdatan-wa „qidatan artinya ikatan atau perjanjian.34 Akidah artinya simpulan, yakni kepercayaan yang tersimpul di hati. Aqaid adalah jama‟ dari akidah. Dengan
32 Enjang AS dan Aliyuddin, Dasar-dasar Imu Dakwah Pendekatan Filosofis & Praktis (Bandung: Widya Padjajaran, 2009), h. 80
33 Usman Jasad, Dakwah & Komunikasi Transformatif: Mencari Titik Temu Dakwah dan Realitas Sosial Ummat (Makassar: Alauddin University Press, 2011), h. 128.
34 Rosihan Anwar, Akidah Akhlak (Cet. I; Bandung: CV Pustaka Setia, 2008), h. 13.
demikian dapat disimpulkan bahwa perkataan aqaid, i‟itiqada adalah kepercayaan (keimanan) yang tersimpul dalam hati.35
Menurut M. Munir dan Wahyu Ilahi akidah yang menjadi materi utama dakwah ini mempunyai ciri-ciri yang membedakannya dengan kepercayaan agama lain, yaitu;
1) Keterbukaan melalui persaksian (syahadat). Dengan demikian, seorang muslim harus jelas identitasnya dan bersedia mengakui identitas keagamaan orang lain.
2) Cakrawala pandangan yang luas dengan memperkenalkan bahwa Allah adalah Tuhan seluruh alam, bukan Tuhan kelompok atau bangsa tertentu. Dan soal kemanusiaan juga memperkenalkan kesatuan asal usul manusia. Kejelasan dan kesederhanaan diartikan bahwa seluruh ajakan akidah baik soal ketuhanan, kerasulan, ataupun alam gaib sangat mudah untuk dipahami.
3) Ketahanan antara iman dan Islam atau antara iman dam amal perbuatan.
Dalam ibadah-ibadah pokok yang merupakan manifestasi dari iman dipadukan dengan segi-segi pengembangan diri dan kepribadian seseorang dengan kemaslahatan masyarakat yang menuju pada kesejahteraan. Karena akidah memiliki keterlibatan dengan soal kemasyarakatan.
Akidah merupakan motor penggerak dan otak dalam kehidupan manusia.
Apabila terjadi sedikit penyimpangan padanya, maka akan menimbulkan penyelewengan dari jalan yang lurus pada gerakan dan langkah yang dihasilkan.
Akidah bagaikan pondasi bangunan. Dia harus merancang dan membangun bagian
35 Nurnanengsih Nawawi, Aqidah Islam Pilar Utama Manusia BeramalIkhlas (Cet. I;
Makassar: Alauddin University Press, 2011), h. 9.
30
yang lain. Kualitas pondasi yang dibangun adalah Islam yang sempurna (kamil), menyeluruh (syamil), dan benar (shahih).36
Akidah merupakan misi dakwah yang dibawa oleh rasulullah mulai dari yang pertama sampai yang terakhir.Akidah tidak berubah-ubah karena pergantian zaman dan tempat, atau karena perbedaan golongan atau masyarakat.37 Adapun ayat yang berkaitan dengan akidah atau iman yang terdapat dalam QS. An-Nisa‟ /4:136
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.”38
Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, yang dimaksud ayat di atas merupakan panggilan kepada orang-orang yang beriman pada awal ayat ini, yang disusul dengan perintah beriman, ada yang memahaminya dalam arti orang-orang yang beriman tetapi ada sesuatu yang kurang dalam keimanan mereka sehingga ayat ini memerintahkan untuk menyempurnakannya. Penganut paham ini menyatakan bahwa mereka yang diajak oleh ayat ini adalah sementara bekas penganut agama yahudi yang telah masuk islam tetapi masih terdapat dalam benak mereka hal-hal yang mereka percayai, yang tidak sejalan dengan iman yang oleh Nabi Muhammad
36 Audah Mannan, Akidah Islamiyah (Makassar: Alauddin University Press, 2012), h. 1.
37 Audah Mannan, Akidah Islamiyah, h. 1.
38 Kementrian Agama RI, Al-Qur‟an dan terjemahan, h. 101
saw.39
Berdasarkan beberapa uraian di atas dapat dipahami bahwa akidah yang merupakan ketetapan yang mengakar dalam hati seseorang secara sempurna tanpa keraguan mengenai dimensi ketuhanan. Kemudian akidah mesti terejawantahkan dalam dimensi kemanusiaan, karena iman yang kokoh sejatinya terdiri dari tiga komponen yaitu keyakinan dalam hati, perkataan dengan lisan dan pengamalan dalam perbuatan, masing-masing dari ketiga unsur tersebut mesti saling berintegrasi dan tidak berdiri sendiri demi kesempurnaan iman/akidah seorang muslim. Akidah yang sempurna itulah yang akan menopang kehidupan manusia dalam mengaruungi dimensi kehidupan ruang dan waktu yang senantiasa bergerak dan berubah seiring perkembangan dan kemajuan zaman.
b. Syariat
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, syariat adalah hukum agama yang menetapkan peraturan hidup manusia, hubungan manusia dengan Allah Swt., hubungan manusia dengan manusia dan alam sekitar berdasarkan Alquran dan hadits.
Berdasarkan definisi di atas dapat dipahami bahwa syariat merupakan seperangkat aturan yang mengatur keseluruhan kehidupan manusia, karena syariat merupakan sebuah aturan atau undang-undang yang hadir bagi kehidupan manusia, maka syariat harus dilaksanakan oleh manusia berdasarkan pengetahuan manusia, sebagaimana ayat yang terdapat dalam surah Q.S Al-Jatsiyah /45:18
39 Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah : Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur‟an (Cet I : Jakarta : Lentera Hati, 2002) h. 618
32
Terjemahnya:
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.40
Menurut A. Hanafie, dalam studi Islam saat ini, kata syariah merujuk pada hukum ilahi, yaitu; yang dibolehkan agama (mubah), dianjurkan (sunnah), diharuskan (wajib), dilarang (haram), dan dinilai kurang baik (makruh), yang berkaitan dengan persoalan ibadah, keluarga, interaksi social, ekonomi, tindak pidana, dan politik.41
Materi dakwah yang bersifat syariah ini sangat luas dan mengikat seluruh umat Islam. Ia merupakan jantung yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat Islam di berbagai penjuru dunia, dan sekaligus merupakan hal yang patut dibanggakan.
Kelebihan dari materi syariat Islam antara lain, adalah bahwa ia tidak dimiliki oleh umat-umat yang lain. Syariat ini bersifat universal, yang menjelaskan hak-hak umat muslim dan non-muslim, bahkan hak seluruh umat manusia. Dengan adanya materi syariat ini, maka tatanan sistem dunia akan teratur dan sempurna.42
Berdasarkan pemaparan di atas mengenai syariat, dapat dipahami bahwa syariat merupakan produk hukum ilahi yang ditafsirkan oleh manusia untuk mengatur seluruh dimensi kehidupan secara universal demi terciptanya ttanan sistem yang berlaku secara harmonis.
40 Kementrian Agama RI, Al-Qur‟an dan terjemahan, h. 500
41 Sukron Kamil, dkk.,Syariah dan HAM (Cet. I; Jakarta: CSRC UIN Syarif Hidayatullah, 2007), h. 23.
42 M. Munir dan Wahyu Ilahi, Manajemen Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2006) h. 27.
c. Akhlak
Secara etimologi kata akhlak berasal dari bahasa Arab akhlak dalam bentuk jamak sedang mufradnya adalah khuluk yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.43 Jadi dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah segala tingkah laku atau perbuatan manusia baik akhlak baik maupun akhlak buruk.
Secara terminologi akhlak merupakan sebuah sistem yangb lengkap terdiri dari karakteristik-karakteristik akal atau tingkah laku yang membuat seseorang menjadi istimewa. Dari beberapa pengertian di atas jelas bahwa perkataan akhlak itu timbul sebagai media yang memungkinkan adanya hubungan yang baik antara manusia dengan sesamanya maupun dengan makhluk lainnya.
Defenisi akhlak yang yang digagas oleh Hamid Yunus akhlak adalah sifat-sifat manusia yang terdidik. Jadi defenisi akhlak merupakan sesuatu sistem yang melekat pada individu yang menjadikan seseorang menjadi manusia istimewa dari individu lainnya.
Perspektif Ibnu Maskawi akhlak merupakan suatu hal atau situasi kejiwaan yang mendorong seseorang melakukan suatu perbuatan dengan senang, tanpa berpikir dan perencanaan.
Menurut Ibrahim Anis akhlak merupakan sifat yang terpatri dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruknya perbuatan tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.44
Ajaran akhlak dalam Islam pada dasarnya meliputi kualitas perbuatan manusia yang merupakan ekspresi dari kondisi kejiwaannya. Akhlak dalam Islam
43 Nurhidayat, Akhlak Tasawuf, (Yogyakarta: Ombak, 2003), h. 1.
44 Nasharuddin, Akhlak (Ciri Manusia Paripurna), (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), h. 207
34
bukanlah norma ideal yang tidak dapat diimplementasikan, dan bukan pula sekumpulan etika yang terlepas dari kebaikan norma sejati. Dengan demikian, yang menjadi materi akhlak dalam Islam adalah mengenai sifat dan kriteria perbuatan manusia serta berbagai kewajiban yang harus dipenuhinya. Karena semua manusia harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya, maka Islam mengajarkan kriteria perbuatan dan kewajiban yang mendatangkan kebahagiaan, bukan siksaan.
Bertolak dari prinsip perbuatan manusia ini, materi akhlak membahas tentang norma luhur yang harus menjadi jiwa dari perbuatan manusia, serta tentang etika atau tata cara yang harus dipratekkan dalam perbuatan manusia sesuai dengan sasarannya.45
Dalam ajaran Islam, ketika membahas terkait keluhuran akhlak manusia, maka Nabi Muhammad saw merupakan representase dari keluhuran akhlak tersebut.
Sebagaimana ayat yang terdapat di dalam Q.S Al-Ahzab /33:21
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”46Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, yang dimaksud ayat di atas merupakan ancaman kaum munafik dan orang-orang yang lemah imannya, kini ayat di atas mengarah kepada orang-orang beriman, memuji sikap mereka yang
45 M. Munir dan Wahyu Ilahi, Manajemen Dakwah, h. 30.
46 Kementrian Agama RI, Al-Qur‟an dan terjemahan, h. 420
meneladani Nabi Muhammad saw. Ayat di atas menyatakan : sesungguhnya telah ada bagi kamu pada diri Rasulullah yakni Nabi Muhaamd saw, suri teladan yang baik bagi kamu yakni bagi orang yang senantiasa mengharap rahmat kasih sayang Allah SWT dan kebahagian hari kiamat, serta teladan bagi mereka yang berdzikir mengingat kepada Allah SWT. Dan menyebut-nyebut nama-Nya dengan banyak baik dalam suasana susah maupun senang.47
Berdasarkan beberapa uraian di atas dapat dipahami bahwa akhlak merupakan perangai atau watak dalam bertutur dan berperilaku yang memberikan citra bagi diri seseorang, dan dalam ajaran islam, Rasulullah saw merupakan contoh dari keluhuran Akhlak manusia yang mesti diteladani berdasarkan kemampuan masing-masing.