A. Profil Komunitas Pelajar Tanpa Pacaran Surabaya
1. Pengertian
Istilah transformasi lebih merujuk pada realitas proses perubahan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), transformasi berarti perubahan
bisa berupa bentuk, sifat, fungsi dan sebagainya46.
Transformasi merupakan proses perubahan yang memiliki ciri – ciri
antara lain : a. Adanya perbedaan merupakan aspek yang paling penting di dalam proses transformasi, b. Adanya konsep ciri atau identitas yang menjadi acuan perbedaan di dalam suatu proses transformasi. Kalau dikatakan suatu itu berbeda atau dengan kata lain telah terjadi proses transformasi, maka harus jelas perbedaan dari hal apa, misal : ciri sosial apa, konsep tertentu yang seperti apa (meliputi : pemikiran, ekonomi atau gagasan lainnya) atau ciri penerapan dari sesuatu konsep. c. Bersifat historis, proses transformasi selalu menggambarkan adanya perbedaan
kondisi secara historis (kondisi yang berbeda di waktu yang berbeda).47
Sedangkan menurut ilmuan, Laseau, mengatakan bahwa trasnformasi adalah sebuah proses perubahan secara berangsur-angsur sehingga sampai
46 Yandianto, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Bandung : Percetakan Bandung, 1997), 208. 47 Ernita Dewi, Transformasi Sosial dan Nilai Agama, Jurnal Substantia, Vol. 14, No. 1, April
41
pada tahap ultimate, perubahan yang dilakukan dengan cara memberi respon terhadap pengaruh unsur eksternal dan internal yang akan mengarahkan perubahan dari bentuk yang sudah dikenal sebelumnya melalui proses menggandakan secara berulang-ulang atau melipatgandakan. Lebih lanjut Laseau (1980) memberikan kategori transformasi sebagai berikut :
a. Transformasi bersifat Tipologikal (geometri) bentuk geometri yang
berubah dengan komponen pembentuk dan fungsi ruang yang sama.
b. Transformasi bersifat gramatikal hiasan (ornamental) dilakukan dengan
menggeser, memutar, mencerminkan, menjungkirbalikkan, melipat dll.
c. Transformasi bersifat refersal (kebalikan) pembalikan citra pada figur
objek yang akan ditransformasi dimana citra objek dirubah menjadi citra sebaliknya.
d. Transformasi bersifat distortion (merancukan) kebebasan perancang
dalam beraktifitas.48
Sebuah transformasi tidak terjadi begitu saja, tapi melalui sebuah proses. Menurut Habraken (1976) menguraikan proses transformasi yaitu sebagai berikut :
a. Perubahan yang terjadi secara perlahan-lahan atau sedikit demi sedikit.
b. Tidak dapat diduga kapan dimulainya dan sampai kapan proses itu akan
berakhir tergantung dari faktor yang mempengaruhinya.
48 Stephanie Jill Najon, dkk, Tansformasi Sebagai Strategi Desain, Media Matrasain, vol.8, no.2
42
c. Komprehensif dan berkesinambungan
d. Perubahan yang terjadi mempunyai keterkaitan erat dengan emosional
(sistem nilai) yang ada dalam masyarakat.
Proses transformasi mengandung dimensi waktu dan perubahan sosial budaya masyarakat yang menempati yang muncul melalui proses yang panjang yang selalu terkait dengan aktifitas-aktifitas yang terjadi pada saat itu.
2. Proses Transformasi
Proses transformasi melalui 3 tahap, yaitu : Invesi, Diffusi, dan
Konsekwensi.49
a. Invesi adalah perubahan dari dalam masyarakat, yang mana dalam
masyarakat terdapat penemuan – penemuan baru, yang kemudian
perlahan – lahan muncullah perubahan.
b. Difusi, adalah proses kedua dalam transformasi. Yaitu adanya
pengkomunikasian ide, konsep baru atau upaya – upaya perubahan
masyarakat secara lebih luas.
c. Konsekwensi yaitu tahap adopsi ide atau gagasan baru dalam
masyarakat. Dalam tahap ini biasanya ada hasil perubahan yang muncul di masyarakat.
43
3. Ragam Bentuk Transformasi
a. Transformasi dapat terjadi dengan sengaja dan tidak sengaja.
Transformasi yang disengaja dicirikan dengan : adanya perencanaan, manajemen yang jelas, serta ditunjukan dari adanya program dan perubahan yang diharapkan dengan jelas. Transformasi yang disengaja biasanya memang di programkan oleh seorang agent masyarakat untuk merubah ide, konsep, budaya yang ada di masyarakat dari yang kurang menyenangkan (baik) menjadi yang baik (menyenangkan). Sedangkan transformasi yang tidak sengaja, adalah perubahan yang terjadi secara alamiah (baik karena perubahan kondisi alam, teknologi dan lain sebagainya). Perubahan ini dapat terjadi karena pengaruh dari dalam
masyarakat itu sendiri maupun adanya pengaruh dari luar masyarakat.50
b. Faktor - Faktor Transformasi
Menurut Habraken (1976) yang dikutip oleh Pakilaran (2006). menguraikan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya transformasi yaitu sebagai berikut :
1) Kebutuhan identitas diri (identification) pada dasarnya orang ingin
dikenal dan ingin memperkenalkan diri terhadap lingkungan.
2) Perubahan gaya hidup (Life Style) perubahan struktur dalam
masyarakat, pengaruh kontak dengan budaya lain dan munculnya penemuan-penemuan baru mengenai manusia dan lingkuangannya.
50 Stephanie Jill Najon, dkk, Tansformasi Sebagai Strategi Desain, Media Matrasain, vol.8, no.2
44
3) Pengaruh teknologi baru timbulnya perasaan ikut mode, dimana
bagian yang masih dapat dipakai secara teknis (belum mencapai
umur teknis dipaksa untuk diganti demi mengikuti mode.51
B. Konsep Pacaran
1. Pengertian Pacaran
Asal kata pacaran dalam bahasa Indonesia adalah pacar, yang memiliki arti, kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan
berdasarkan cinta-kasih. Yang kemudian mendapat imbuhan – an atau ber -
an yang arti harfiahnya bercintaan; (atau) berkasih-kasihan (dengan sang
pacar).52
Menurut Reksoprojo mendefinisikan berpacaran adalah suatu hubungan di antara laki-laki dan perempuan menuju kedewasaan. Menurut Arman, pacaran juga disebut sebagai masa pencarian pasangan, penjajakan, dan pemahaman akan berbagai sifat (kepribadian) yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Pacaran disebut masa penjajakan, karena didalamnya terdapat proses saling mengerti kepribadian pasangannya. Hal ini terjadi sebelum mereka melanjutkan hubungan lebih jauh lagi ke jenjang
pernikahan.53
51 http://www.ar.itb.ac.id/wdp/ diakses pada tanggal 25 Januari 2017.
52 Rustam, Perilaku Pacaran Mahasiswa Muslim, Jurnal Penelitian: Medan Agama Edisi 16, Juli
2016, 242.
53 Rony Setiawan dan Siti Nurhidayah, Pengaruh Pacaran terhadap Perilaku Seks Pranikah,
45
Sedangkan, menurut Gunarsa pacaran adalah pergaulan yang terbatas antara pemuda dan pemudi, dengan menekankan pada pengelompokan atau ikatan yang kompak dan berarti khusus, ditandai dengan adanya perasaan
yang bergelora dan perjemuan.54
Menurut Robert J, pacaran adalah hubungan intim antara laki – laki dan wanita yang mana kedua belah pihak ada perasaan cinta dan komitmen untuk mengakui sebagai pacar (pasangannya). Ikatan pacaran muncul karena adanya kebutuhan saling mengerti, menghargai, empati, dan saling
percaya untuk menuju ke tahap selanjutnya (menjadi pasangan hidup).55
Dalam dunia psikologi, pacaran erat dikaitkan dengan proses alamiah
yang dialami remaja, seiring dengan kematangan proses psikologisnya.Ciri
khas kematangan psikologis ini ditandai dengan ketertarikan terhadap lawan jenis yang biasanya muncul dalam bentuk (misalnya) lebih senang bergaul
dengan lawan jenis dan sampai pada perilaku berpacaran.56
Dalam masa remaja, banyak remaja yang memiliki pandangan bahwa masa remaja adalah masa berpacaran. Sehingga, yang tidak berpacaran justru dianggap sebagai remaja yang kuno, kolot, tidak mengikuti perubahan
jaman dan dianggap kuper atau kurang pergaulan.57
54 Ibid, 64.
55Raafi’ Hikma Wiyanti, Persepsi Siswa Tentang Perilaku Sosial Dalam Pacaran (Studi Kasus
Siswa SMA Al Islam 1 Surakarta), Prodi Pendidikan Sosiologi FKIP UNS, 4.
56 Rony Setiawan dan Siti Nurhidayah, Pengaruh Pacaran terhadap Perilaku Seks Pranikah,
Jurnal Soul, Vol. 1, No. 2, September 2008, 60.
57 Rony Setiawan dan Siti Nurhidayah, Pengaruh Pacaran terhadap Perilaku Seks Pranikah,
46
Ketika manusia usia remaja umur sekitar 13 sampai 17 tahun perkembangan psikologi manusia mengalami perkembangan yang pesat khususnya berhubungan dengan organ seksual. Hal ini mengakibatkan perubahan perilaku ketika terjadi kontak antar individu dengan lawan jenis,
diantaranya ada dorongan untuk berhias diri agar diperhatikan lawan jenis.58
Dari interaksi remaja menimbulkan rasa teratrik pada lawan jenis yang diwujudkan dalam bentuk cinta kasih yang semakin serius, mulailah untuk
mengenal, memilih dan mengantisipasi keberadaan lawan jenis.59
Konsep pacaran dibenak remaja awalnya dikaitkan dengan kebutuhan kasih sayang dari seorang teman akrab. Pacaran juga dikaitkan dengan hubungan dekat dalam berkomunikasi dengan lawan jenis sehingga dapat membangun kedekatan emosi dan proses pendewasaan kepribadian untuk melangkah ke tahapan selanjutnya (pernikahan). Namun, belakangan seiring dengan perkembangan teknologi dan pengetahuan (dari media massa), telah terjadi pula pergeseran makna pacaran yang dikaitkan dengan keintiman hubungan dalam bentuk : hubungan seks pra-nikah. Perubahan konsep pacaran tersebut, juga di bentuk oleh pola fikir kebanyakan remaja tidak ingin dianggap sebagai anak kecil tetapi akan lebih bangga bila dianggap sudah dewasa. Sehingga ada pula pandangan bahwa perilaku
58
Iskandar al-Warisy, dkk, Pemikiran Islam Ilmiah Menjawab Tantangan Zaman (Surabaya: Al- Kahfi Media Pers, 2006), 129.
59 Muhammad Ali dan Muhammad Asrori, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik
47
seksual dianggap sebagai simbol status kedewasaan.60 Selain itu, pacaran
dipandang oleh remaja adalah hal yang wajar, remaja saat ini justru merasa malu jika jomblo. Bagi remaja, jomblo adalah kutukan yang harus dihilangkan.
Pacaran sering dikaitkan atau dipandang berpengaruh pada perilaku hubungan seks pra-nikah karena dalam berpacaran biasanya diikuti dengan sejumlah pengalaman yang dapat memberikan perangsangan bagi remaja untuk mengadakan hubungan seksual pra-nikah, seperti : berpegangan
(bergandengan tangan), memeluk, membelai, mencium dan seterusnya.61
Bahkan ada yang mendefinisikan pacaran sebagai kegiatan berdua – duaan di tempat yang sepi, pegangan tangan, bercumbu mesra hingga larut malam
bahkan sampai berzina.62
Dari uraian diatas, penulis memiliki pandangan bahwa pacaran adalah hubungan yang dijalin antara laki-laki dengan wanita, hubungan ini dilaksanakan sebelum pernikahan, terkait dengan upaya saling mengenal, menyesuaikan diri dengan lawan jenis, mengaktualisasikan perasaan kasih sayang yang ditandai dengan komitmen untuk membangun hubungan secara eksklusif (sebagai pacar), dengan melakukan berbagai aktifitas pacaran, sebelum nantinya mereka menjadi pasangan hidup yang resmi secara agama
60 Rony Setiawan dan Siti Nurhidayah, Pengaruh Pacaran terhadap Perilaku Seks Pranikah,
Jurnal Soul, Vol. 1, No. 2, September 2008, 65.
61 Ibid.
62 Gusni Rahayu, Skripsi : Perspektif Pendidikan Islam Tentang Pacaran (Menguak Pemikiran
48
(dengan wali), sosial dan hukum. Dalam pacaran biasanya ada aspek : keterikatan, kepemilikan, perasaan cinta, keterbukaan dan kepercayaan dengan lawan jenis.
Dalam pacaran terhadap unsur – unsur terkait pacaran, meliputi : motiv,
tujuan, bentuk perilaku pacaran dan di dalamnya ada dinamika relasi yang dikembangkan.
2. Proses (Tahap) Pacaran
Proses pacaran umumnya melalui beberapa tahap antara lain : proses pendekatan, pengenalan pribadi, hingga ditahap akhir komitmen untuk menjalin hubungan secara ekslusif dengan orang lain (biasanya : lawan
jenis).63 Proses ini biasanya tidak perlu diketahui oleh orang tua (wali)
masing-masing orang yang berpacaran. Dalam berpacaran terdapat berbagai bentuk interaksi yang menggambarkan ekspresi kedekatan antar orang yang berpacaran. Ada yang mengekspresikan dalam bentuk perhatian dan
interaksi yang intensif, sentuhan fisik (pegangan tangan, hugging, kissing,
petting), dan beberapa bentuk pacaran diwujudkan dalam hubungan fisik. Hubungan pacaran ada yang pada akhirnya berlanjut ke jenjang pernikahan,
namun banyak pula yang tidak sampai pada ikatan pernikahan.64
Ada pula yang menggambarkan proses pacaran melalui beberapa tahap antara lain : diawali dari ketertarikan pada lawan jenis yang dikenal,
63 Rustam, Perilaku Pacaran Mahasiswa Muslim, Jurnal Penelitian: Medan Agama Edisi 16, Juli
2016, 242.
49
senyuman dan pandangan bersahabat, saling berkunjung, pergi berduaan, saling bergandengan, saling berciuman dan saling meraba bahkan di tahap
tertentu sampai pada meraba bagian pinggang dan, bersebadan.65
Dari uraian diatas, penulis sendiri berpandangan bahwa dalam pacaran terhadap beberapa tahap yaitu proses ketertarikan awal, pendekatan, pengenalan pribadi, komitmen untuk menjalin ikatan secara khusus (sebagai pasangan) dan berikutnya adalah tahap perilaku pacaran. Perilaku pacaran diwujudkan dalam berbagai bentuk, misal : pengenalan lebih dalam
terhadap karakter masing – masing, perhatian, interaksi yang intensif
(komunikasi, bertemu, kunjungan dan sebagainya), atau beberapa orang mengekspresikannya dengan bentuk perilaku yang lebih intim. Bentuk interaksi dalam berpacaran juga dapat dipengaruhi oleh bagaimana
pengetahuan, ketaatan pada nilai – nilai sosial dan agama yang diyakini oleh
pasangan yang sedang berpacaran. Tidak semua bentuk perilaku pacaran mengarah pada perilaku saling bergandengan, saling berciuman dan saling meraba bahkan di tahap tertentu sampai pada meraba bagian pinggang dan, bersebadan.
3. Motif (Alasan) Pacaran
Menurut Degenova, Rice dan Santrock, ada beberapa alasan yang menyebabkan orang membangun hubungan pacaran, antara lain : untuk
bersenang-senang (refreshing), untuk menjalin keakraban, kebersamaan
65 Rony Setiawan dan Siti Nurhidayah, Pengaruh Pacaran terhadap Perilaku Seks Pranikah,
50
atau kebutuhan sosialisasi lainnya dengan lawan jenis, selain itu untuk pemilihan pasangan hidup (mengenal lebih jauh, memilih dan menyeleksi pasangan), menghindari kritik sosial (dari status sosial : kuper, kuno, tidak laku, tidak gaul dan sebagainya), serta ada yang menjalin hubungan pacaran
untuk dapat menggali (eksperimen) hal – hal terkait hubungan seksual
dengan lawan jenis.
4. Ragam Pandangan Pacaran Dalam Islam
Menurut Iis Ardhianita dan Budi Andayani, Ada 2 pandangan dalam Islam terkait Pacaran. Pandangan pertama, yang lebih populer di kalangan aktivis dakwah, menganggap pacaran sebagai suatu hubungan yang dilarang dalam Islam. Sedangkan, Pandangan ke dua melihat pacaran dapat dijalani
selama dilakukan secara Islami.66
Pandangan yang melarang pacaran, berangkat dari pemahaman bahwa dalam Islam cinta atau ketertarikan pada lawan jenis adalah hal yang alamiah, namun Islam mengatur cara yang baik untuk menyalurkannya yaitu melalui sistem pernikahan. Islam tidak mengenal cara pertunangan,
pacaran ataupun hubungan-hubungan pra-nikah lainnya. Islam
menganjurkan merealisasikan cinta dalam ikatan yang suci yaitu pernikahan. Sebagaimana dalam hadist berikut :
Dari Abdurrahman bin Yasid, dari Abdullah (dia) berkata, berkata Rasulluah Sallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai para pemuda, Siapa diantara kalian berkemampuan untuk menikah, menikahlah, karena menikah itu menundukan pandangan dan lebih membentengi
66 Iis Ardhianita dan Budi Andayani, Kepuasan Pernikahan Ditinjau dari Berpacaran dan Tidak
51
kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu hendaklah ia shaum (puasa), karena shaum itu membentengi dirinya. (Hr. Al - Bukhari no 5060 dan Muslim no. 3384).
Ustadz Jefri Al – Bukhori memiliki pandangan bahwa dalam Islam tidak
mengenal hubungan percintaan antara laki – laki dan perempuan sebelum
pernikahan. Dalam Islam hanya mengenal istilah meminang sebagai bentuk
hubungan pra-nikah (khitbah). Dalam khitbah diperbolehkan melihat calon
yang akan dinikahi dengan teliti, namun tetap harus dalam batas-batas yang ditetapkan dalam Islam, seperti : menutup aurat, tidak memperbincangkan
aurat, menahan untuk zina, tidak menyentuh dan lain-lain.67 Menurut ustadz
Jefri, khitbah berbeda dengan pacaran. Secara orietasi, khitbah merupakan tahapan menuju pernikahan, sedangkan pacaran tidak ada hubungannya dengan perencanaan pernikahan.
Menurut A. Rahman khitbah disyariatkan dalam Islam, agar ketika menjalani pernikahan didasari betul oleh kesadaran dan pengetahuan terhadap kondisi masing-masing pihak. Adapun beberapa syarat perempuan yang dinikahi antara lain : 1. Tidak dalam pinangan orang lain, 2. Tidak dalam masa iddah karena talaq raj’i, 3. Tidak ada batasan syariah yang menghalangi, dan 4. Apabila yang dipinang sedang dalam talaq ba’in
hendaknya meminang dengan cara sirri.68
67 Siti Romaetik, Dampak Pacaran Terhadap Moralitas Remaja Menurut Pandangan Ustadz Jefri
Al – Bukhari, (Jakarta : UIN Syarif Hdayatullah, 2011), 23.
52
Islam membedakan antara cinta dan seks sebagai nafsu. Cinta adalah mawaddah dan rahmah, sedangkan nafsu seks sebagai naluri adalah nafsu syahwat. Keduanya di dalam Islam hanya bersatu dalam perkawinan. Karena cinta yang bersemi setelah perkawinan adalah cinta yang dijamin
Allah.69 Hal ini sebagaimana dalam al-Quran surat Ar-ruum ayat 21 :
21. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan- Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
BAB III
PROFIL KOMUNITAS PELAJAR TANPA PACARAN (PTP) SURABAYA
A. Profil Komunitas Pelajar Tanpa Pacaran Surabaya
1. Pengertian
Komunitas Pelajar Tanpa Pacaran (PTP) Surabaya merupakan komunitas yang berpusat di SMA Muhammadiyah 1, Jl. Kapasan Surabaya yang konsen mengajarkan konsep-konsep mengenai nilai pacaran, hukum pacaran dan dampak negatif berpacaran, serta mengajak kepada pelajar-
pelajar setingkat SMP, SMK dan SMP di Surabaya agar tidak berpacaran.70
2. Sejarah Lahir
Komunitas Pelajar Tanpa Pacaran (PTP) Surabaya ini merupakan salah
satu program utama dari Komunitas Da’i Berkemajuan yang lahir sebagai
follow up diklat Pelatihan Da’i Pelajar Muhammadiyah (PDPM) yang
diselenggarakan PD IPM Kota Surabaya. Setelah selesai pelatihan teman- teman ingin agar gerakan-gerakan perubahan untuk masyarakat tidak berhenti.
Sebagai tindak lanjut maka pasca bulan Ramadhan tahun 2016, komunitas mengumpulkan semua anggota untuk membahas tentang komunitas karena mereka melihat banyak komunitas vakum karena tidak memiliki program.
70
54
Pembicaraan awal sebatas mengumpulkan ide dan saran untuk membuat komunitas apa yang sesuai, kemudian ditindak lanjuti dengan kumpul di taman Bungkul Surabaya untuk melakukan analisis masalah sosial remaja yang ada saat ini. Dari tiap orang yang diwawancarai akhirnya disimpulkan kalau masalahnya adalah masalah moral, terus kan dikerucutkan
lagi masalahnya adalah pacaran.71 M. Alfian selaku founder komunitas PTP
Surabaya mengatakan bahwa pada tahun 2011 KPAI merilis 62,7 % remaja SMP itu sudah kehilangan kegadisannya dan hal tersebut dia pandang
bermula dari yang aktifitas pacaran. 72 Dari kegelisahan terhadap moral
tersebut maka pada bulan Mei 2016, kami membentuk komunitas yang
konsen untuk memperbaiki kerusakan moral remaja akibat pacaran.73
Pada bulan September 2016 diskusi dilanjutkan dengan membangun komitmen anggota jika membentuk komunitas yang melarang aktifitas pacaran. Dalam proses ini sempat terjadi pro-kontra antar anggota, dikarenakan ada anggapan bahwa di internal sendiri masih ada yang pacaran, tapi membuat komunitas yang mengajarkan agar tidak berpacaran. Pro-kontra ini direspon dengan banyak anggota yang lain sebagai awal untuk semakin semangat dakwah.
Setelah melalui berbagai diskusi dan pro-kontra kemudian pembicaraan dilanjutkan pada pembuatan nama komunitas. Masing-masing anggota
71
Ramadhani, Wawancara, Surabaya, 14 April 2017.
72
M. Alfian, Wawancara, Surabaya, 14 Desember 2016 73
Laman facebook Muhammad Alfian diunggah pada tanggal 25 Oktober 2016, diakses pada bulan 13 Februari 2017.
55
memiliki hak untuk mengusulkan nama yang cocok untuk komunitas yang akan dibangun. Awal kali untuk nama komunitas ini ada yang mengusulkan komunitas Pelajar Anti Pacaran (PAP), namun kata anti dirasa kurang bersahabat dengan pelajar, takutnya ajakan komunitas ini nanti ditolak. Maka kemudian saya (Muhammad Alfian) selaku salah satu pendiri komunitas
mengusulkan nama komunitas Pelajar Tanpa Pacaran (PTP).74
Bulan Desember 2016 ditandai dengan acara deklarasi di Masjid Jendral Sudirman Surabaya akhirnya terbentuklah komunitas Pelajar Tanpa Pacaran Surabaya. Deklarasi ini baru dilakukan bulan Desember 2016 dikarenakan pengurus gerakan ini menginginkan agar saat deklarasi sudah memiliki aksi nyata agar tidak dipandang seperti gerakan lain yang vakum pasca deklarasi.
Perkembangan berikutnya pada tanggal 8 April 2017 setelah Kajian
Pelajar Kekinian (KPK) yang diadakan komunitas Da’i Berkemajuan Muhamadiyah Surabaya, komunitas Pelajar Tanpa Pacaran (PTP) Surabaya memutuskan untuk menjadi komunitas pusat yang mandiri dan lepas dari
bagian komunitas Da’i Berkemajuan Muhammadiyah. Pelepasan diri menjadi
komunitas yang mandiri dikarenakan sudah semakin banyak partisipasi dari luar anggota dan banyaknya permintaan di luar daerah agar memdirikan cabang komunitas Pelajar Tanpa Pacaran (PTP).
74
56
3. Tujuan
Tujuan komunitas Pelajar Tanpa Pacaran (PTP) Surabaya agar pelajar moralnya baik, tidak ikut-ikutan, agar pelajar bisa fokus dengan belajarnya, agar pelajar bisa berprestasi dengan tidak berpacaran, yang diluruskan bukan pacaranya tetapi aktifitas pacaranya. Menurut Alfian banyak remaja dan pelajar salah dalam mengartikan cinta. Mereka tidak bisa membedakan antara
cinta dan nafsu sehingga terjerumus kepada perbuatan dosa.75
Sedangkan misi komunitas Pelajar Tanpa Pacaran (PTP) Surabaya diantaranya : a. Terbentuk gerakan-gerakan pelajar tanpa pacaran di berbagai
sekolah. b. Membentuk struktur Pusat, Wilayah, Daerah, Sekolah.76
4. Sasaran Komunitas
Sasaran utama komunitas Pelajar Tanpa Pacaran adalah pelajar SMP dan SMA, namun dalam perkembanganya jika ada mashasiswa dan masyarakat umum bergabung dalam komunitas ini juga tidak masalah. Hal ini
sebagaimana pernyataan M Alfian selaku pendiri komunitas PTP : “Memang
secara tersurat pada pelajar yakni pelajar SMP dan SMA. Tapi makna tersiratnya ya masyarakat umum, mahasiswa. bahkan orang tua juga perlu tahu. Karena banyak orang tua nggak tahu tentang pacaran bahkan
mendukung pacaran.”77
75Diolah dari sumber : Redaksi, “Bersama MUI
-Disdik, IPM Deklarasikan Gerakan Pelajar tanpa
Pacaran” dalam https:// www.pwmu.co/20737/2016/12/bersama-mui-disdik-ipm-deklarasikan- gerakan-pelajar-tanpa-pacaran/ (5 Mei 2016).
76 Ibid.
77
57
5. Sifat
Komunitas Pelajar Tanpa Pacaran (PTP) Surabaya dalam melakukan program-program aksi bersifat gerakan penyadaran. Artinya komunitas PTP hanya sebatas sosialisasi, mengajarkan, mengajak bergabung dengan komunitas tanpa paksaan, menasehati bil hikmah, berdakwah, namun juga ada kalanya memberi kabar gembira bagi orang yang tidak pacaran dan kabar buruk bagi orang yang pacaran.
6. Struktur Kepengurusan
Untuk struktur kepengurusan masih bersifat sementara, dikarenakan masih memungkinkan ada perubahan sehingga belum dibakukan dalam struktur organisasi. Untuk sementara struktur yang ada, terdiri dari :
Penanggung Jawab dan Founder : M. Alfian Hidayatullah
Ketua PTP : Ramadhani Jaka Samudera
Sekretaris : Azmi Izudin
Bendahara : Maslichatus Sholichah Tim Syiar :
Merupakan tim yang bertugas mengurus kajian, yaitu mulai menyiapkan tema, pembicara, jadwal, undangan dan sarpra.
Anggota :
1. Ricky
2. Azizah
58 4. Indah Oktaviyati 5. Joko 6. Walidah A 7. Dwi purwati 8. Aliando 9. Fattah
Tim Media dan Desain :
Merupakan tim yang bertanggung jawab terhadap desain yang akan digunakan oleh PTP diantaranya desain spanduk, kaos, logo, pin, dll dan