• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGEMBANGAN MODEL

2.2. Kajian Teori

2.2.5. Rasio Keuangan

2.2.5.1. Pengertian Rasio Keuangan

Rasio menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisa berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan terutama apabila angka rasio tersebut dibandingkan dengan angka rasio pembanding yang digunakan sebagai standar (Munawir, 2002: 64).

Menurut Harahap (2001: 297), pengertian rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan. Misalnya antara hutang dan modal, antara kas dan total asset, antara harga pokok produksi dengan total penjualan, dan sebagainya. Rasio keuangan sangat penting dalam melakukan analisa terhadap kondisi keuangan perusahaan.

2.2.5.2. Pengertian Analisis Rasio Keuangan

Analisis rasio adalah suatu metode analisis untuk mengetahui hubungan dari pos-pos tertentu dalam neraca atau laporan laba rugi secara individual atau kombinasi dari kedua laporan tersebut (Munawir, 2002: 37).

Menurut Riyanto (2001: 329), analisis rasio itu sebenarnya hanyalah alat yang dinyatakan dalam “Arithmatical Terms” yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara dua macam data finansial.

2.2.5.3. Pemakai Rasio Keuangan

Menurut Syamsudin (1998: 38), pada umumnya ada tiga kelompok yang paling berkepentingan dengan rasio keuangan, yaitu:

a. Para Pemegang Saham dan Calon Pemegang Saham

Mereka menaruh perhatian utama pada tingkat keuntungan, baik yang sekarang maupun kemungkinan tingkat keuntungan pada masa yang akan datang. Hal ini sangat penting bagi mereka karena tingkat keuntungan ini akan mempengaruhi harga-harga saham yang mereka miliki.

b. Para Kreditor dan Calon Kreditor

Para kreditor umumnya merasa berkepentingan terhadap kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban-kewajiban finansial baik jangka pendek maupun jangka panjang. Kreditor yang saat ini sudah memberikan pinjaman kepada perusahaan ingin

mendapatkan suatu jaminan bahwa perusahaan tempat mereka menanamkan modalnya akan mampu membayar bunga dan pinjaman pokok tepat pada waktunya. Sedangkan calon kreditor lebih menekankan pada struktur finansial dan struktur modal perusahaan. c. Manajemen Perusahaan

Manajemen perusahaan berkepentingan dengan seluruh keadaan keuangan perusahaan karena mereka menyadari bahwa keadaan tersebutlah yang akan dinilai oleh para pemilik perusahaan maupun para kreditor.

2.2.5.4. Jenis-jenis Rasio Keuangan

Menurut Riyanto (1995: 330) penggolongan ratio berdasarkan tujuan analis dalam melakukan analisis terhadap laporan keuangan perusahaan antara lain sebagai berikut:

1. Rasio likuiditas (liquidity ratio) adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahan untuk memenuhi kewajiban financial jangka pendek. Rasio likuiditas antara lain (Fakhruddin, 2001: 59-60): a. Current ratio

(Fakhruddin, 2001: 59) Current ratio digunakan untuk menghitung berapa kemampuan perusahaan dalam membayar utang lancar dengan

Aktiva Lancar Current Ratio =

aktiva lancar yang tersedia. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin besar kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendek.

b. Cash Ratio

Utang Lancar

(Fakhruddin, 2001: 60) Cash ratio digunakan untuk mengukur kemampuan perusahan dalam membayar kewajiban jangka pendek dengan kas yang tersedia dan efek yang segera dapat diuangkan.

Kas + Efek Cash Ratio =

c. Quick Ratio

(Fakhruddin, 2001: 60) Quick ratio digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek dengan aktiva yang lebih likuid atau mudah dicairkan.

Aktiva Lancar - Persediaan Cash Ratio =

Utang Lancar

d. Net Working Capital

Net Working Capital = Aktiva Lancar – Utang Lancar

(Fakhruddi, 2001: 60)

Rasio ini digunakan untuk menghitung berapa kelebihan aktiva lancar di atas utang lancar.

2. Rasio leverage (leverage ratio) adalah rasio yang menunjukkan sejauh mana perusahaan dibiayai atau difinansir oleh pihak luar atau dengan kata lain financial leverage menunjukkan proporsi atau penggunaan utang untuk membiayai investasi perusahaan. Rasio leverage antara lain (Fakhruddin, 2001: 61) :

a. Debt Ratio

Total Utang

(Sutrisno, 2003: 249) Mengukur jumlah aktiva perusahaan yang dibiayai oleh utang atau modal yang berasal dari kreditur. Semakin besar debt ratio semakin besar pula risiko yang dihadapi (Fakhruddin, 2001: 61).

Debt Ratio = x 100% Total Aktiva

b. Debt to Equity Ratio

(Sutrisno, 2003: 250) Rasio utang yang diukur dari perbandingan utang dengan ekuitas (modal sendiri). Tingkat debt to equity ratio yang aman biasanya kurang dari 50 persen. Semakin kecil debt to equity ratio semakin baik bagi perusahaan (Fakhruddin, 2001: 61).

Total Utang

Debt to Equity Ratio = x 100% Modal

c. Time Interest Earned Ratio

(Sutrisno, 2003: 250) Rasio ini menunjukkan hubungan antara laba sebelum bunga dan pajak (laba operasi) dengan beban bunga utang jangka panjang. Time interest earned ratio menggambarkan besarnya jaminan keuntungan untuk membayar bunga utang jangka panjang atau dengan kata lain rasio ini mengukur kemampuan perusahaan memenuhi beban tetapnya berupa bunga (Fakhruddin, 2001: 61-61).

Laba sebelum bunga dan pajak Time Interest Earned Ratio =

Beban bunga

d. Fixed Charge Coverage Ratio

(Sutrisno, 2003: 250) EBIT + Bunga + Angsuran Lease Fixed Charge Coverage Ratio =

Bunga + Angsuran Lease

Fixed Charge Coverage Ratio mengukur berapa besar kemampuan perusahaan untuk menutup beban tetapnya termasuk pembayaran dividen saham preferen, bunga, angsuran pinjaman, dan sewa (Fakhruddin, 2001: 62).

e. Debt Service Ratio

Debt Service Ratio = _____Laba sebelum bunga & pajak_____ Bunga + sewa + Angsuran pokok pinjaman

(1-tarif pajak) (Sutrisno, 2003: 251)

Debt Sevice Ratio mengukur kemampuan perusahaan memenuhi beban tetapnya termasuk angsuran pokok pinjaman.

3. Rasio aktivitas (activity ratio) adalah rasio yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar efisiensi investasi pada berbagai aktiva. Artinya sejauhmana sumber daya organisasi telah dimanfaatkan secara optimal. Rasio aktivitas antara lain (Fakhruddin, 2001: 62). a. Periode Pengumpulan Piuang

Piutang x 360

(Fakhruddin, 2001: 63) Rasio ini menunjukkan rata-rata hari yang diperlukan untuk mengubah piutang menjadi kas. Biasanya ditentukan dengan membagi piutang dengan rata-rata penjualan harian.

Periode Pengumpulan Piutang = Penjualan kredit

b. Perputaran Piutang

Penjualan kredit

(Fakhruddin, 2001: 63) Perputaran piutang digunakan untuk menghitung berapa kali dana yang tertanam dalam piutang perusahaan berputar dalam setahun.

Perputaran Piutang = Piutang

c. Perputaran Persediaan

(Fakhruddin, 2001: 63) Harga Pokok Penjualan

Perputaran Persediaan =

Rata-rata Persediaan

d. Perputaran Aktiva Tetap

(Fakhruddin, 2001: 63) Rasio ini menunjukkan bagaimana perusahaan menggunakan aktiva tetapnya seperti gedung, kendaraan, mesin-mesin, perlengkapan kantor.

Penjualan Perputaran Aktiva Tetap = Aktiva Tetap

e. Perputaran Total Aktiva

(Fakhruddin, 2001: 64) Perputaran aktiva menunjukkan bagaimana efektivitas perusahaan menggunakan seluruh aktiva untuk menciptakan penjualan dan mendapatkan laba.

Penjualan Perputaran Total Aktiva = Total Aktiva

4. Profitability Ratio adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri. Rasio ini sangat diperhatikan

oleh calon maupun pemegang saham serta dividen yang akan diterima. Rasio profitabilitas antara lain (Fakhruddin, 2001: 64-66) : a. Gross Profit Margin

Laba kotor Gross Profit Margin = Penjualan

(Fakhruddin, 2001: 64) Mengukur tingkat laba kotor dibandingkan dengan volume penjualan.

b. Operating Profit Margin

(Fakhruddin, 2001: 64) Mengukur tingkat laba operasi disbanding dengan volume penjualan.

Laba Operasi Operating Profit Margin = Penjualan

c. Net Profit Margin

(Fakhruddin, 2001: 65) Mengukur laba bersih sesudah pajak dibandingkan dengan volume penjualan.

Laba setelah pajak Net Profit Margin =

Penjualan

d. Return on Investment (ROI)

Laba setelah pajak Return on Investment = Total Aktiva

Return on Investment menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aktia yang digunakan.

e. Return on Equity (ROE)

Laba setelah pajak Return on Equity =

Modal Sendiri

(Fakhruddin, 2001: 65)

Return on Equity mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba yang tersedia bagi pemegang saham perusahaan. Semakin besar proporsi utang maka return on equity juga makin besar.

f. Earning Power

Laba setelah pajak Earning Power =

(Fakhruddin, 2001: 65) Total Aktiva

Dokumen terkait