BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
D. Pengertian Rasio Keuangan
D. Pengertian Rasio Keuangan
Rasio keuangan yang dihitung dan diinterpretasikan secara tepat akan dapat menunjukkan aspek-aspek mana yang perlu dievaluasi dan dianalisa lebih lanjut. Rasio keuangan yang dihitung dan informasi yang terdapat dalam laporan keuangan harus dikaitkan dengan tujuan utama yang hendak dicapai.
Melalui penilaian dari analisa rasio keuangan maka pihak yang berkepentingan dapat memahami makna yang terkandung dalam laporan keuangan.
Rasio dapat dipahami sebagai hasil yang diperoleh antara satu jumlah dengan jumlah yang lainnya . Rasio sendiri menurut Joel G. Siegel dan Jae K.
Shim (2015:148) merupakan hubungan antara satu jumlah dengan jumlah lainnya. Dimana Agnes Sawir (2015:148) menambahkan perbandinga tersebut
dapat memberikan gambaran relatif tentang kondisi keuangan dan prestasi perusahaan.
Menurut Sugiono (2009:64) yang dimaksud dengan analisis rasio adalah suatu angka yang menunjukkan hubungan antar unsur-unsur dalam laporan keuangan. Hubungan tersebut dinyatakan dalam bentuk matematis yang sederhana.
Menurut pengaplikasian Barlian (2003:128) rasio keuangan adalah:
“Suatu metode perhitungan dan interpretasi rasio keuangan untuk menilai kinerja dan status suatu perusahaan”.
Menurut Margaretha (2003:129), penganalisaan rasio keuangan ada beberapa cara, di antaranya :
1. Analisis horizontal/trend analysis, yaitu membandingkan rasio-rasio keuangan perusahaan dari tahun-tahun yang lalu dengan tujuan agar dapat dilihat trend dari rasio-rasio perusahaan selama kurun waktu tertentu.
2. Analisis vertikal, yaitu membandingkan data rasio keuangan perusahaan dengan rasio semacam dari perusahaan lain yang sejenis atau standar industri untuk waktu yang sama.
Menurut Fahmi (2011:133), untuk dapat menginterpretasikan hasil perhitungan rasio, maka diperlukan adanya pembanding. Pada pokoknya ada dua cara yang dapat dilakukan dalam membandingkan rasio keuangan perusahaan, yaitu:
1. Cross sectional approach, merupakan suatu cara mengevaluasi dengan jalan membandingkan rasio-rasio antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lainnya yang sejenis pada saat bersamaan.
16
2. Time series analysis, merupakan suatu cara dengan membandingkan rasio-rasio keuangan perusahaan dari satu periode ke periode lainnya.
Pembanding antara rasio yang dicapai saat ini dengan rasio-rasio pada masa lalu akan memperhatikan apakah perusahaan mengalami kemajuan atau kemunduran.
Menurut Riyanto (2010:330), apabila dilihat dari sumber dari mana rasio ini dibuat, maka dapat digolongkan dalam tiga golongan, yaitu:
1. Rasio neraca (Balance Sheet Ratios), yang digolongkan dalam katagori ini adalah semua data yag diambil dari atau bersumber dari neraca.
2. Rasio-rasio laporan laba-rugi (Income Statement Ratios), yang tergolong dalam katagori ini adalah semua data yang diambil dari laba-rugi.
3. Rasio-rasio antar laporan (Interstatement Ratios), yang tergolong dalam katagori ini adalah semua data yang diambil dari neraca dan laporan laba-rugi.
Menurut Riyanto (2010:331), umumnya rasio dapat dikelompokkan dalam empat tipe dasar, yaitu :
1. Rasio Likuiditas, adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendeknya.
2. Rasio Leverage, adalah rasio yang mengukur seberapa jauh perusahaan dibelanjai dengan hutang.
3. Rasio Aktivitas, adalah rasio yang mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan sumber dananya.
4. Rasio Profitabilitas, adalah rasio yang mengukur hasil akhir dari sejumlah kebijaksanaan dan keputusan-keputusan.
Pengembangan penelitian ini, penulis menggunakan aspek rasio likuiditas, leverage, aktivitas dan profitabilitas.
1. Rasio Likuiditas
Menurut Harahap (2005:301), rasio likuiditas merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Untuk dapat memenuhi kewajibannya yang sewaktu-waktu ini, maka perusahaan harus mempunyai alat-alat untuk membayar yang berupa aset-aset lancar yang jumlahnya harus jauh lebih besar dari pada kewajiban-kewajiban yang harus segera dibayar berupa kewajiban-kewajiban lancar. Mengenai rasio-rasio likuiditas sebagaimana yang diutarakan, menurut Riyanto (2010: 332), dapat dilihat pada uraian sebagai berikut :
a. Rasio Lancar (Current Ratio) yaitu merupakan perbandingan antara aktiva lancar dengan kewajiban lancar.
b. Rasio Cepat (Quick Ratio) yaitu merupakan perbandingan antara aktiva lancar dikurangi persediaan dengan kewajiban lancar.
c. Working Capital to Total Asset (WCTA) yaitu merupakan perbandingan antara aktiva lancar dikurangi hutang lancar terhadap jumlah aktiva.
WCTA dapat dirumuskan sebagai berikut (Riyanto, 1995:70).
18
2. Rasio Leverage
Menurut Harahap (2005:306), rasio leverage merupakan rasio yang mengukur seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh kewajiban atau pihak luar dengan kemampuan perusahaan yang digambarkan oleh ekuitas. Setiap penggunaan utang oleh perusahaan akan berpengaruh terhadap rasio dan pengembalian. Rasio ini dapat digunakan untuk melihat seberapa resiko keuangan perusahaan. Mengenai rasio-rasio leverage sebagaimana yang diutarakan, menurut Riyanto (2010:333), dapat dilihat pada uraian sebagai berikut:
a. Debt Ratio (DR) yaitu perbandingan antara total hutang dengan total aktiva.
b. Debt to Equity Ratio (DER) yaitu perbandingan antara total hutang lancar dan hutang jangka panjang terhadap modal sendiri.
c. Long Term Debt to Equity Ratio (LTDER) yaitu perbandingan antara hutang jangka panjang dengan modal sendiri.
d. Times Interest Earned (TIE) yaitu perbandingan antara pendapatan sebelum pajak (earning before tax, selanjutnya disebut EBIT) terhadap bunga hutang jangka panjang.
e. Current Liability to Inventory (CLI) yaitu perbandingan antara hutang lancar terhadap persediaan.
f. Operating Income to Total Liability (OITL) yaitu perbandingan antara laba operasi sebelum bunga dan pajak (hasil pengurangan dari
penjualan bersih dikurangi harga pokok penjualan dan biaya operasi) terhadap total hutang.
DR dapat dirumuskan sebagai berikut (Riyanto, 1995:74).
Total hutang merupakan penjumlahan dari hutang lancar dengan hutang jangka panjang. Total aktiva merupakan penjumlahan dari total aktiva lancar dengan total aktiva tetap.
3. Rasio Aktivitas
Menurut Harahap (2005:308), rasio aktivitas menggambarkan aktivitas yang dilakukan perusahaan dalam menjalankan operasinya baik dalam kegiatan penjualan, pembelian, dan kegiatan lainnya. Rasio ini dinyatakan sebagai perbandingan penjualan dengan berbagai elemen asset. Elemen asset sebagai pengguna dana seharusnya bisa dikendalikan agar bisa dimanfaatkan secara optimal. Semakin efektif dalam memanfaatkan dana semakin cepat perputaran dana tersebut, karena rasio aktivitas umunya diukur dari perputaran masing-masing elemen asset. Mengenai rasio-rasio aktivitas sebagaimana yang diutarakan, menurut Riyanto (2010: 334), dapat dilihat pada uraian sebagai berikut:
a. Total Asset Turnover (TAT) yaitu perbandingan antara penjualan bersih dengan total aktiva.
b. Inventory Turnover (IT) yaitu perbandingan antara harga pokok penjualan dengan persediaan rata-rata.
20
c. Average Collection Period (ACP) yaitu perbandingan antara piutang rata-rata dikalikan 360 dibanding dengan penjualan kredit.
d. Working Capital Turnover (WCT) yaitu perbandingan antara penjualan bersih terhadap modal kerja.
TAT dapat dirumuskan sebagai berikut (Ang, 1997).
Penjualan bersih (net sales) merupakan hasil penjualan bersih selama satu tahun. Total aktiva merupakan penjumlahan dari total aktiva lancar dan aktiva tetap. Rata-Rata Periode Pengumpulan Piutang (Day’s Sales Outstanding).
4. Rasio Profitabilitas
Menurut Harahap (2005:309), rasio profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuannya, dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, ekuitas, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya. Mengenai rasio-rasio profitabilitas sebagaimana yang diutarakan, menurut Riyanto (2010: 335), dapat dilihat pada uraian sebagai berikut:
a. Net Profit Margin (NPM) yaitu perbandingan antara laba bersih setelah pajak (NIAT) terhadap total penjualannya.
b. Gross Profit Margin (GPM) yaitu perbandingan antara laba kotor terhadap penjualan bersih.
c. Return on Asset (ROA) yaitu perbandingan antara laba setelah pajak dengan total aktiva.
d. Return on Equity (ROE) yaitu perbandingan antara laba setelah pajak terhadap modal sendiri.
ROA dapat dirumuskan sebagai berikut (Ang, 1997).