MASYARAKAT ANGKOLA DI KABUPATEN TAPANULI SELATAN
A. Pengertian Sengketa Waris Pada Masyarakat Angkola
Sengketa yang sering muncul sebagai salah satu permasalahan yang terjadi di Angkola merupakan masalah yang menarik untuk dikaji, lebih-lebih sudah menyangkut tentang pembagian warisan, karena umumnya warisan mempunyai nilai ekonomis dan religius yang tinggi. Dengan kata lain warisan dapat menimbulkan kebahagiaan satu pihak dan piha lain dapat menimbulkan ketidakpuasan. Apabila dalam pengaturan dan pembagian tidak sesuai dengan ketentuan yang seharusnya diikuti bersama.
Persoalan pembagian dan sengketa warisan di kalangan mayarakat Angkola merupakan hal banyak terjadi namun jarang sampai diselesaikan di pengadilan. Apapun model permasalahan yang terjadi menyangkut sengketa warisan, tetap saja dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Hal ini tentu merupakan suatu keunggulan tersendiri bagi masyarakat Angkola dalam menghadapi setiap masalah di desa di banding dengan permasalahan yang terjadi di wilayah kota yang lebih mengandalakan permasalahan model kapitalis.
Pada dasarnya setiap sengketa di Tapanuli Selatan tidak selamanya harus berakhir di pengadilan. Dalam hal-hal tertentu setiap sengketa yang muncul yang
melibatkan masyarakat Angkola idealnya dapat diselesaikan sesegera mungkin di tingkat desa saja. Apalagi kalau sengketa tersebut masih merupakan sengketa yang bersifat kekeluargaan, maka penyelesaiannya pun seharusnya diselesaikan secara kekeluargaan melalui perantaranya seorang Kepala Desa.
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, sengketa adalah segala sesuatu yang menyebabkan perbedaan pendapat, pertikaian atau pembantahan timbulnya sengketa hukum adalah bermula dari pengaduan suatu pihak (orang/badan) yang berisi keberatan dan tuntutan hak atas tanah baik terhadap suatu tanah, prioritas maupun kepemilikannya dengan harapan dapat adiministrasi sesuai dengan ketentua peraturan yang berlaku.182
Dalam kosakata Inggris terdapat dua istilah yakni “conflict” dan
“dispute” yang kedua-duanya mengandung pengertian tentang adanya perbedaan kepentingan di antara dua pihak atau lebih tetapi keduanya dapat dibedakan.
Kosakata “conflict” sudah diserap kedalam bahasa Indonesia menjadi “konflik”, sedangkan kosakata “dispute” dapat diterjemahkan dengan kosakata
“sengketa”.183
Sebuah konflik yakni sebuah situasi dimana dua pihak atau lebih dihadapkan pada perbedaan kepentingan, tidak akan berkembang menjadi sebuah
182 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990(
Jakarta; Balai Pustaka), Hal. 643
183 Rachmadi Usman, Pilihan Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan, 2013 (Bandung; Citra Aditya) Hal. 3
sengketa apabila pihak yang merasa dirugikan hanya memendam perasaan tidak puas atau keprihatinan.
Menurut Koentjaraningrat, 184 konflik atau sengketa terjadi juga karena adanya perbedaan persepsi yang merupakan gambaran lingkungan yang dilakukan secara sadar yang didasari pengetahuan yang dimiliki seseorang, lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
Konflik merupakan suatu peristiwa hukum sehingga sebabnya juga dapat dikenal dengan melihatnya melalui pandangan hukum. sebuah konflik berkembang atau berubah menjadi sengketa bilamana pihak yang merasa dirugikan telah menyatakan rasa tidak puas atau keprihatinannya baik secara langsung kepada pihak yang dianggap sebagai penyebab kerugian maupun kepada pihak lain.185 Sengketa atau konflik hakekatnya merupakan bentuk aktualisasi dari suatu pertentangan atau perbedaan anatara dua pihak atau lebih.186
Sengketa menurut Dean G. Pruitt dan Jeffrey Z. Rubin adalah persepsi mengenai perbedaan kepentingan (perceived divergence of interest), atau suatu kepercayaan bahwa asirasi pihak-pihak yang bersengketa tidak dicapai secara simultan (secara serentak).187 Sedangkan konflik merupakan perselisihan yang belum diketahui oleh pihak-pihak yang tidak terlibat di dalam perselisihan yang
184 Koentjaraningrat, Kebudayaan Mataliteit dan Pembangunan, 1982 (Jakarta;Gramedia), Hal. 103
185 Siti Megadianty Adam dan Takdir Rahmadi, Sengketa dan Penyelesaiannya, Buletin Musyawarah Nomor 1 Tahun I, 2013 (Jakarta;Indonesian Center For Environmental Law), Hal. 1
186 Bambang Sutiyoso, Penyelesaian Sengketa Bisnis: Solusi dan Antisipasi Bagi Peminat Bisnis Dalam Menghadapi Sengketa Kini dan Mendatang, 2006 (Yogyakarta;Citra Media), Hal. 3
187 Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, 2009, (Jakarta: Sinar Grafika), Hal. 6
belum diketahui oleh pihak-pihak yan tidak terlibat di dalam perselisihan tersebut mencakup perselisihan yang bersifat laten, oleh karena itu konflik mempunyai ruang lingkup yang lebih luas daripada sengketa, namun dalam penanganannya secara ilmiah, khususnya dalam ruang lingkup penelitian hukum, istilah sengketa (dispute) telah menjadi istilah baku dalam praktik hukum.188
Sedangkan menurut Takdir Rahmadi189 konflik mempunyai cakupan yang lebih luas daripada sengketa yang termasuk didalamnya perselisihan-perselisihan yang bersifat laten dan perselisihan-perselisihan yang mengemukakan yang disebut sengketa. sengketa atau konflik hakikatnya merupakan bentuk aktualisasi dari suatu perbedaan dan/atau pertentangan antara dua pihak atau lebih.190 Sengketa Waris, yaitu perbedaan persepsi, nilai atau pendapat, kepentingan mengenai status penguasaan di atas tanah tertentu yang berasal dari warisan.191
Dengan demikian maka sengketa merupakan kelanjutan dari konflik.
Sebuah kelanjutan dari konflik akan berubah menjadi sengketa apabila tidak dapat terselaikan. Konflik dapat diartikan “pertentanga” di antara para pihak untuk menyelesaikan masalah yang kalau tidak diselesaikan dengan baik dapat mengganggu hubungan di antara mereka. Sepanjang para pihak tersebut dapat
188 Nurmaningsih Amriani, Mediasi Alternatif Penyelesaian Sengketa Perdata di Pengadilan, 2011, ( Jakarta, Pt. Grafindo Press), Hal. 12
189 Takdir Rahmadi, Mediasi Penyelesaian Sengketa Melalui Pendekatan Mufakat, (Jakarta: Pt. Grafindo Persada), Hal. 1-2
190 Rachmadi Usman, Pilihan Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan. 2013, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti), Hal. 3
191 http://www/bpn.go.id/program/penanganan-kasus-pertanahan, Penanganan Kasus Pertanahan diakses tanggal 6 juli 2015, jam: 09.50 WIB.
menyelesaikan masalahnya dengan baik maka sengketa tidak akan terjadi. Akan tetapi jika sebaliknya, para pihak tidak dapat mencapai kesepatan mengenai solusi pemecahan masalahnya maka sengketa yang akan timbul.192
Masalah sengketa pembagian waris yang terjadi di keluaga T Harahap.
Yang menjadi permsalahanya disini ialah pembagian warisan yang menurut salah satu keturunanya tidak adil. Ibu T Siregar (52 tahun) mendapatkan kabar dari keluarga mantan suaminya bahwa P Harahap (58 Tahun) – mantan suaminya meninggal karena serangan Jantung. Keluarga mantan suaminya memberitahukan : bahwa sebelum meninggal P Harahap pernah berpesan secara lisan kepada kakaknya D Harahap bahwa salah satu rumah miliknya dan diberikan kepada A boru Harahap, yaitu anak kandung P Harahap yang berusia 26 tahun. Walaupun keluarganya mengakui wasiat yang diberikan P Harahap secara lisan melalui kakaknya, T Siregar merasa ragu karena tidak ada bukti tertulis bahwa P Harahap memang pernah mewasiatkan rumah dan sejumlah deposito tersebut untuk anak mereka. Yang menjadi masalah disini putra dari P Harahap anak dari perkawinan ke duanya dengan M boru Samosir yaitu F Harahap (24 Tahun) tidak menyetujui hal ini. Padahal dia juga sudah mempunyai hak waris yang sudah ditentukan oleh P harahap. Dari persoalan ini timbul sengketa karena merasa dia anak lelaki seharusnya dia berhak atas semua harta dari ayahnya.
192 Rachmadi Usman, OP. Cit., Hal,3
Menurut hasil dari wawancara dari ketua adat Angkola di Padang Sidimpuan, memang di dalam hukum adat Angkola benar anak lelaki akan mendapatkan semua harta warisan peninggalan orang tuanya. Tetapi disini anak perempuan juga memiliki hak dari harta warisan tersebut, yakni pemberian hibah atau biasanya disebut dengan Holong Ate. Holong ate ini adalah istilah di Batak Angkola sebagai istilah untuk menjelaskan pemberian harta kepada anak perempuan biasanya sebidang tanah atau dengan bangunan kepada anak Putri atau Perempuannya.193
Pemberian ini biasanya berbentuk pemberian yang cukup hanya disetujui oleh Istrinya tanpa persetujuan seluruh anak atau ahliwaris lainnya. Besarannya tentu sudah diperhitungkan dengan cermat, tanpa melebihi legitimasi porsi, atau besaran hak kewarisan lainnya secara seimbang. Indahan Arian atau Holong ate tentu tindakan Arif dan Bijaksana bagi seorang orang tua, sebab, menurut adat Batak, yang menganut turunan laki-laki/partianial, hanya laki-lakilah yang mendapatkan warisan, sedangkan perempuan tidak mendapatkan oleh karena sudah masuk pada clan suami dengan menerima sejumlah uang Mahar/boli/jujur.194