• Tidak ada hasil yang ditemukan

baik seperti halnya pada game. Manfaat lain yang mungkin kurang disadari adalah aspek kecerdasan dan reflek saraf yang sebenarnya juga sedikit banyak terasah dalam sebuah game, terutama game yang bersifat sangat kompetitif. Itulah me ngapa kini juga banyak dikembangkan game edukasi untuk anak-anak, karena dengan belajar melalui visualisasi yang menarik diharapkan semangat anak untuk belajar akan lebih terpacu. Selain itu manusia juga mempunyai sifat dasar lebih cepat mempelajari segala sesuatu secara visual- verbal. Itulah mengapa game sebenarnya juga baik jika dilibatkan dalam proses pendidikan (game edukasi). Namun jangan salah, game juga mempunyai beberapa pengaruh kurang baik dalam perkembangan anak kecil, oleh karena itu sebisa mungkin menghindarkannya dari game yang bersifat merusak atau destruktif. Untuk anak kecil tetaplah game edukasi yang terbaik, namun jika ingin menambahkan kategori lain dalam menu hidangannya, cukuplah untuk memberikan kategori olah raga atau balapan saja. Pencipta berharap bagaimana anak-anak itu bisa mengkomposisikan diri dalam belajar atau bermain (hiburan) dengan membagi waktu sebaik mungkin.

2.3 Pengertian Tentang Seni

Banyak pakar seni dan para ahli yang berkaitan dengan bidang seni mempunyai pendapat tersendiri dalam mendefinisikan atau mengartikan se ni. Namun secara umum, seni dapat dimaknai sebagai ungkapan jiwa/ekspresi seseorang yang dapat diungkapkan ke berbagai media, baik gerak, dwimatra, atau trimatra. Terlalu banyak ahli yang mengartikan persoalan seni. Belum ada kesepakatan yang jelas mengenainya, karena tinjauan yang dipakai berbeda-beda. Sejauh ini, dari berbagai

23

pernyataan tentang seni mengarah pada persoalan kesanggupan akal manusia baik kegiatan rohani maupun fisik untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai artistik (luar biasa), mengubah perasaan orang lain.

Ada beberapa pendapat tentang seni yang dinyatakan oleh Fredrich Schiller dan Herbert Spencer dalam Mikke Susanto, Seni lahir dilatar belakangi dengan adanya dorongan, yaitu: dorongan bernain- main (play impuls) yang ada dalam diri seniman (Susanto, 2002:102). Akhidat K. Miharja bahwa, seni adalah kegiatan rohani manusia yang mereflesikan realitet (kenyataan) dalam suatu karya yang berkat bentuk dan isinya mempunyai daya untuk membangkitka n pengalaman tertentu dalam alam rohani si penerimanya (Soedarso SP, 1990:4). Menurut pendapat Tomas Munro dalam Mike Susanto, Seni adalah alat buatan manusia untuk menimbulkan efek-efek psikologis atas manusia lain yang melihatnya (Susanto, 2002:101-102). Everyman encyclopedia dalam Mike Susanto mengartikan seni adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh orang yang bukan atas dorongan kebutuhan pokoknya, melainkan adalah apa saja yang dilakukan semata- mata karena kehendak akan kemewahan, kenikmatan, ataupun karena kebutuhan spiritual (Susanto, 2002:102). Lalu menurut Leo Tolstoy dalam Mikke Susanto seni adalah transmission of feeling (Susanto, 2002:102).

Pencipta/penulis mendefinisikan sendiri seni sebagai ekpresi jiwa manusia yang dimiliki sejak lahir yang bisa di tuangkan melalui berbagai media baik itu media lukis maupun media lainnya.

24 2.3.1 Pengertian Seni Lukis

Berbicara mengenai seni lukis ada beberapa definisi yang dapat dipakai sebagai referensi. Adapun beberapa pendapat mengenai pengertian seni lukis diantaranya sebagai berikut.

Seni lukis merupakan pengalaman artistik yang ditampilkan dalam bidang dua dimensional dengan menggunakan garis, warna (Soedarso SP,1990:11).

Menurut Bernad S Mayers, seni lukis merupakan tebaran pigmen atau warna cair pada permukaan bidang dari (kanvas, panel, dinding, kertas) untuk menghasilkan sensasi atau ilusi keruangan, gerakan, tekstur, bentuk sama baiknya dengan tekanan yang dihasilkan kombinasi unsur-unsur tersebut, tentu saja hal tersebut dapat dimengerti, bahwa melalui alat teknik tersebut dapat mengekspresikan emosi, ekspresi simbol, keberagaman dan nilai- nilai yang bersifat subyektif (Bernard S.Mayers dalam Susanto, 2002 : 7).

Dari pernyataan tersebut, maka pencipta mendefinisikan seni lukis sebagai wujud seni rupa dwi matra yang mengungkapkan perasaan dan pengalaman estetik seseorang dengan menggunakan unsur-unsur seni rupa (garis, warna, bentuk, bidang, dan tekstur) pada media kanvas dan media lukis lainnya.

2.3.2 Pengertian Seni Lukis Realisme

Sesuai dengan artinya, Realisme adalah aliran kenyataan (real= nyata). Setelah menemui aliran impresionisme, seniman-seniman mulai melihat kembali pada kenyataan. Sesungguhnya aliran impresioniame tidak banyak mendapat pengikut. Para pelukis lebih menaruh minat pada kenyataan yang sesungguhnya dan

25

meresapkannya, melukiskan kenyataan sehari- hari tanpa memberi suasana diluar kenyataan, tanpa menjiwai dengan perasaan roma ntis. Yang dikemukakan terutama kenyataan dari kepahitan hidup, penderitaan pekerja kasar, kesibukan-kesibukan kota dan pelabuhan. Pelukis realime yang terkenal adalah George Hendrik Breitner (1857-1923), Belgia mempunyai juga tokoh-tokoh dalam periode ini, seperti Henri De Braekeleer (1840-1880) dan Jan Stobbaerts (1838-1914) (Djauhar Arifin, 1986 :131) Realism sebagai aliran yang memandang dunia ini tanpa ilusi, apa adanya tanpa menambah atau mengurangi objek. Proklamasi realism dilakukan oleh pelopor sekaligus tokohnya yaitu Gustave Courbet (1819-1877), pada tahun 1855. Dengan slogannya yang terkenal “Tunjukan malekat padaku dan aku akan melukisnya”! yang mengandung arti bahwa bagian lukisan itu adalah seni yang kongkret, menggambarkan segala sesuatu yang nyata. Dengan kata lain, ia hanya mau menggambarkan pada penyerapan panca indra saja (khususnya mata) dan meninggalkan fantasi dan imajinasinya.

2.3.3 Seni Kontemporer

Secara umum seni rupa kontemporer diartikan seni rupa yang berkembang masa kini, karena kata “kontemporer” itu sendiri berarti masa yang sezaman dengan penulis atau pengamat saat ini. Istilah ini tidak merujuk pada satu karakter tertentu. Karena istilah ini menunjuk pada sudut waktu, sehingga yang terlihat adalah trend

yang terjadi. Jika dikaji lebih luas pada latar belakang yang muncul dalam seni rupa kotemporer memang sangat beragam, karenanya belum ada kesepakatan yang baku untuk memberi tanda pada seni rupa kontemporer. Ada yang menganggap seni rupa

26

kontemporer dari sudut teknis, seperti munculnya seni instalasi, ada pula yang menganggap menguatnya pengaruh ideologi postmodern dan wacana post-colonialism dewasa ini.

Dalam kamus umum bahasa Indonesia susunan J.S Badudu dan Sultan Muhamad Zain ( terdapat tiga arti leksikal tentang kata kontemporer, yaitu (1) semasa, sezaman; (2) bersamaan waktu, dalam waktu yang sama; (3) masa kini, dewasa ini. Untuk menjelaskan lebih jauh, Badudu memberikan satu contoh kalimat, yakni “ seni kontemporer tidak dapat bertahan lama”. Dengan contoh ini Badudu ingin menegaskan bahwa seni kontemporer adalah seni yang bertahan sezaman saja. Menurut Danto dalam buku Acep Iwan Saidi, seni rupa kontemporer seni yang dihasilkan oleh struktur produksi yang belum pernah ada sebelumnya. Supaya seni rupa kontemporer tidak disamakan dengan berbagai aktivitas atau praktek seni rupa pada masa kini. Danto juga menyarankan bahwa seni rupa kontemporer bisa dipahami sebagai seni rupa yang memiliki kecenderungan postmodern (Acep Iwan Saidi, 2008:19). Hampir semua cacatan perkembangan seni kontemporer yang sudah dipublikasi melihat gerakan pop art yang muncul di Amerika Serikat pada dekade 1960 sebagai tanda awal seni kontemporer. Beberapa karya yang sering ditunjuk sebagai kemunculan ini, antara lain, 200 Campbell’s Shoup Cans (1962) karya Andy Warhol, menyajikan 200 kaleng sup merek Campbell’s yang disusun berjajar kesamping, Numbers (1963) karya Jasper Johns menampilkan susunan angka-angka secara acak, dan, Noise (1963) karya Ed Ruscha menyajikan susunan huruf berbunyi

Dokumen terkait