BAB I. PENDAHULUAN
F. Landasan Teori
2. Pengertian Sikap Profesional
Sherif dan Sherif (dalam Dayakisni dan Hudaniyah, 2003) menyatakan bahwa sikap menentukan keajegan dan kekhasan perilaku seseorang dalam hubungannya dengan stimulasi manusia atau kejadian-kejadian tertentu. Sikap merupakan suatu keadaan yang memungkinkan timbulnya suatu perbuatan atau tingkah laku.
Dari batasan tersebut diatas dapat dikemukakan bahwa Thurstone (dalam Walgito, 2003) memandang sikap sebagai suatu tingkatan afeksi baik yang bersifat positif maupun negatif dalam hubungannya
commit to user
dengan objek-objek psikologis. Afeksi yang positif, yaitu afeksi senang, sedangkan afeksi negatif adalah afeksi yang tidak menyenangkan. Dengan demikian objek dapat menimbulkan berbagai-bagai macam sikap, dapat menimbulkan berberbagai-bagai-berbagai-bagai macam tingkatan afeksi pada seseorang. Sikap hanya sebagai tingkatan saja, belum mengkaitkan sikap dengan perilaku. Dengan kata lain dapat dikemukakan secara eksplisit melihat sikap hanya mengandung komponen afeksi saja.
Myers (dalam Gerungan, 1996) berpendapat bahwa perilaku itu merupakan sesuatu yang akan kena banyak pengaruh dari lingkungan. Demikian pula sikap yang diekspresikan (expressed attutudes) juga merupakan sesuatu yang dipengaruhi oleh keadaan sekitarnya. Sedangkan expressed attitudes adalah merupakan perilaku. Orang tidak dapat mengukur sikap secara langsung, maka yang diukur adalah sikap yang menampak, dan sikap yang menampak adalah perilaku. Karena itu bila orang menetralisir pengaruh terhadap perilaku, maka dengan jelas bahwa sikap mempunyai kaitan dengan perilaku. Perilaku dengan sikap saling berinteraksi, saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Sikap dan perilaku mempunyai hubungan yang erat. Perilaku seseorang akan diwarnai atau dilatarbelakangi oleh sikap yang ada pada orang yang bersangkutan.
Sikap seseorang mendorong dan membantunya menghadapi tantangan, mengatasi masalah, dan meraih sasaran. Orang-orang ini
commit to user
tahu bahwa meskipun tidak mampu mengendalikan lingkungan, namun mereka mampu mengendalikan cara menanggapinya. Mereka punya sikap optimis, dan bahkan saat hidup terasa berat, mereka menganggap kemunduran sebagai interupsi sesaat yang disebabkan oleh lingkungan yang tidak bisa dikendalikan. Saat menghadapi tantangan, individu cenderung berfokus pada solusi, dan bukan pada masalah.
Ariyani (2008: 158) berpendapat bahwa profesionalisme menunjukkan ide, aliran, isme, yang bertujuan untuk mengembangkan profesi agar profesi dilaksanakan secara profesional mengacu kepada norma-norma, standar, dan kode etik, serta memberikan pelayanan yang terbaik kepada klien. Agar suatu pekerjaan dapat dianggap sebagai suatu profesi, maka harus memenuhi lima persyaratan profesi, yaitu: (1) profesi merupakan pekerjaan intelektual, maksudnya menggunakan intelegensi yang bebas untuk diterapkan pada problem untuk memahami dan menguasanya. (2) profesi merupakan pekerjaan saintifik berdasarkan pengetahuan dan berasal dari sains, (3) profesi merupakan pekerjaan pratikal, artinya bukan hanya teori akademik tetapi dapat diterapkan dan dipraktekkan. (4) Profesi berorganisasi secara sistematis, ada standar cara melaksanakannya dan mempunyai tolok ukur hasilnya. (5) Profesi merupakan pekerjaan altruisme, berorientasi pada masyarakat yang dilayani bukan kepada diri profesional.
commit to user
Kesimpulan sikap profesional yaitu suatu keadaan yang memungkinkan timbulnya suatu perbuatan atau tingkah laku dalam mengembangkan profesi agar profesi dilaksanakan secara profesional mengacu kepada norma-norma, standar, dan kode etik, serta memberikan pelayanan yang terbaik kepada klien.
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap Profesional
Walgito (2003) berpendapat bahwa yang menjadi determinan sikap professional cukup banyak. Namun demikian ada beberapa yang dianggap penting, yaitu (a) faktor fisiologis; (b) faktor pengalaman langsung terhadap objek sikap; (c) kerangka acuan; (d) komunikasi sosial, dengan penjelasan sebagai berikut:
1) Faktor Fisiologis
Fakator fisiologis seseorang akan ikut menentukan bagaimana sikap seseorang. Berkaitan dengan ini ialah faktor umur dan kesehatan. Pada umumnya orang muda sikapnya lebih radikal daripada sikap orang yang telah tua, sedangkan pada orang dewasa sikapnya lebih moderat. Dengan demikian masalah umur akan berpengaruh pada sikap seseorang. Orang yang sering sakit lebih bersikap tergantung daripada orang yang tidak sering sakit.
2) Faktor pengalaman langsung terhadap objek sikap
Bagaimana sikap seseorang terhadap objek sikap akan dipengaruhi oleh pengalaman langsung orang yang besangkutan dengan objek sikap tersebut. Misal orang yang mengalami
commit to user
peperangan yang sangat mengerikan, akan mempunyai sikap yang berbeda Dengan orang yang tidak mengalami peperangan terhadap objek sikap peperangan. Orang akan mempunyai sikap yang negatif terhadap peperangan atas dasar pengalamannya.
3) Faktor kerangka acuan
Kerangka acuan merupakan faktor yang penting dalam sikap seseorang, karena kerangka acuan ini akan berperan terhadap objek sikap. Bila kerangka acuan tidak sesuai dengan objek sikap, maka orang yang akan mempunyai sikap yang negatif terhadap objek sikap tersebut. Misal terhadap masalah hubungan seksual sebelum perkawinan.
4) Faktor komunikasi sosial
Faktor komunikasi sosial sangat jelas menjadi determinan sikap seseorang, dan faktor ini yang banyak diteliti. Komunikasi sosial yang berwujud informasi dari seseorang kepada orang lain dapat menyebabkan perubahan sikap yang ada pada diri orang yang bersangkutan.
Pada dasarnya sikap bukan merupakan suatu pembawaan, melainkan hasil interaksi antara individu dengan lingkungan sehingga sikap bersifat dinamis. Faktor pengalaman besar peranannya dalam pembentukan sikap. Sikap dapat pula dinyatakan sebagai hasil belajar, karenanya sikap dapat mengalami perubahan. Sesuai dengan yang dinyatakan oleh Sherif dan Sherif (Walgito, 2003) menyatakan bahwa
commit to user
sikap dapat berubah karena kondisi dan pengaruh yang diberikan. Sebagai hasil dari belajar sikap tidaklah terbentuk dengan sendirinya karena pembentukan sikap senantiasa akan berlangsung dalam interaksi manusia berkenaan dengan obyek tertentu. Lebih tegas, menurut Walgito (2003) bahwa pembentukan dan perubahan sikap akan ditentukan oleh dua faktor, yaitu: Faktor internal (individu itu sendiri), yaitu cara individu dalam menanggapi dunia luarnya dengan selektif sehingga tidak semua yang datang akan diterima atau ditolak. Faktor Eksternal, yaitu keadaan-keadaan yang ada diluar individu yang merupakan stimulus untuk membentuk atau mengubah sikap.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembentukan dan perubahan sikap pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor yang ada dalam diri individu dan faktor diluar diri individu yang keduanya saling berinteraksi. Proses ini akan berlangsung selama perkembangan individu.
c. Indikator Sikap Profesional
Konsep profesionalisme modern dalam melakukan suatu pekerjaan seperti dikemukakan oleh Lekatompessy (2003), berkaitan dengan dua aspek penting, yaitu aspek struktural dan aspek sikap. Aspek struktural karakteristiknya merupakan bagian dari pembentukan tempat pelatihan, pembentukan asosiasi profesional dan pembentukan kode etik. Sedangkan aspek sikap berkaitan dengan pembentukan jiwa profesionalisme. Setiap profesi yang memberikan pelayanan jasa pada
commit to user
masyarakat harus memiliki kode etik, yang merupakan seperangkat prinsip–prinsip moral yang mengatur tentang perilaku profesional.
Indikator sikap professional yang diterapkan menurut Soeprihanto (2001), yaitu:
1) Pengetahuan dan keterampilan, artinya kemampuan dan keterampilan kerja yang dimiliki karyawan sehingga karyawan tersebut dapat melaksanakan pekerjaan secara efektif dan efisien sesuai target yang diinginkan.
2) Inisiatif, artinya semangat dan motivasi yang mendorong peningkatan hasil kerja dan kualitas kerja.
3) Kerja sama, artinya keharmonisan kerja dengan karyawan lain baik karyawan seleval atau bawahan serta kemampuan komunikasi secara lisan ataupun tulisan.
4) Kehadiran, artinya kerajinan yang berhubungan dengan absensi, tepat waktu, kedatangan dan kepulangan serta ijin-ijin kerja.
5) Disiplin, artinya kepatuhan terhadap peraturan-peraturan dan ketentuan yang dikeluarkan perusahaan atau manajemen.
6) Kejujuran, artinya keikhlasan dalam melakukan tugas yang diberikan oleh atasan.
Baron dan Byrne, juga Myers (dalam Gerungan, 1996) menyatakan bahwa sikap itu mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap, yaitu:
commit to user
1) Komponen kognitif (komponen perseptual), yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap objek sikap.
2) Komponen afektif (komponen emosional), yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap objek sikap. Rasa senang merupakan hal yang positif, sedangkan rasa tidak senang merupakan hal yang negatif.
3) Komponen konatif (komponen perilaku, atau action component),
yaitu komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap objek sikap. Komponen ini menunjukkan intensitas sikap, yaitu menunjukkan besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap objek sikap.
Indikator sikap profesional yang digunakan sebagai dasar untuk pembuatan kuesioner yaitu: pengetahuan, inisiatif, kerjasama, kehadiran, disiplin, kejujuran.