• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III LANDASAN TEORI

3.4 Studi Kelayakan

3.4.1 Pengertian Studi Kelayakan 27

Sebelum menjalankan suatu bisnis atau proyek, hal yang wajib dilakukan adalah melakukan studi kelayakan. Syahyunan (2014) menyatakan bahwa studi kelayakan adalah suatu kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang suatu kegiatan atau bisnis yang akan dijalankan dalam rangka menentukan layak atau tidaknya kegiatan tersebut dijalankan. Studi kelayakan (feasibility study) bertujuan untuk mempelajari ide atau usulan mengenai suatu kegiatan dari segala segi secara profesional agar nantinya setelah diterima dan dilaksanakan akan mencapai hasil sesuai dengan yang telah direncanakan.

Studi kelayakan sangat mempengaruhi keberhasilan suatu proyek. Jika suatu proyek dinyatakan layak untuk dilakukan, diharapkan proyek tersebut dapat berjalan sesuai dengan rencana. Kelayakan suatu proyek dapat dibedakan menjadi 2, yaitu proyek yang benar-benar layak dan proyek yang layak tetapi bersyarat.

Adapun penjelasannya sebagai berikut:

1. Proyek Layak

Suatu proyek dapat dikatakan layak apabila dalam pelaksanaannya sudah memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan, seperti lulus dalam analisis dampak lingkungan (AMDAL) dan layak dalam perhitungan kelayakan investasi.

2. Proyek Layak Bersyarat

Suatu proyek dapat dikatakan layak bersyarat apabila dalam pelaksanaannya terjadi salah satu kegiatan yang belum memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, harus segera dicari solusi atas kurangnya persyaratan tersebut sehingga proyek tersebut dapat dikategorikan layak.

Contohnya, suatu proyek tidak dapat dikatakan layak dalam perhitungan kelayakan investasinya maka solusi yang dapat diberikan yaitu dengan mencari dana pinjaman bank yang memiliki suku bunga lebih rendah dari suku bunga yang telah ada sebelumnya.

Umumnya, suatu proyek dapat dikatakan layak setelah memiliki beberapa manfaat bagi sekitarnya, seperti manfaat bagi masyarakat luas yang bisa berwujud penyerapan tenaga kerja, sumber daya alam yang melimpah, dan sebagainya. Pada umumnya studi kelayakan akan menyangkut 3 aspek, yaitu:

1. Manfaat ekonomis bagi proyek itu sendiri atau biasa disebut sebagai manfaat finansial. Suatu proyek akan dikatakan cukup menguntungkan apabila dibandingkan dengan resiko proyek tersebut.

2. Manfaat ekonomis bagi negara tempat proyek itu dilaksanakan atau biasa disebut manfaat ekonomi nasional. Manfaat ini akan berpengaruh pada perekonomian makro negara tersebut.

3. Manfaat sosial proyek yang berpengaruh terhadap masyarakat sekitar proyek tersebut. Ini merupakan studi yang paling sulit untuk dilakukan.

3.4.2 Tujuan Studi Kelayakan

Selain memberikan informasi mengenai layak atau tidaknya suatu proyek untuk dilakukan, studi kelayakan memiliki beberapa tujuan lain yang cukup penting. Kasmir dan Jakfar (2016) menyatakan bahwa tujuan pentingya dilakukan studi kelayakan di antaranya sebagai berikut:

1. Menghindari Risiko Kerugian

Tidak semua kegiatan dalam suatu kegiatan proyek akan berjalan sesuai rencana.

Hal ini perlu diantisipasi agar risiko kerugian yang kemungkinan dapat terjadi pada saat proyek berjalan dapat diminimalisir. Risiko ini ada yang dapat diramalkan akan terjadi atau memang dengan sendirinya terjadi tanpa dapat diramalkan.

2. Memudahkan Perencanaan

Ketika suatu proyek sudah dikatakan layak untuk dilakukan, hal yang selanjutnya dilakukan adalah perencanaan. Dari hasil studi kelayakan, perencana akan lebih mudah dalam melakukan perencanaan karena sudah diketahui gambaran yang akan terjadi pada masa yang akan datang mengenai proyek tersebut. Kegiatan perencanaan tersebut meliputi:

a. Berapa jumlah dana yang diperlukan, b. Kapan usaha akan dijalankan,

c. Di mana lokasi usaha,

d. Siapa yang akan melaksanakannya,

e. Berapa keuntungan yang akan diperoleh, dan

f. Bagaimana cara mengatasinya jika terjadi penyimpangan.

3. Memudahkan Pelaksanaan Pekerjaan

Rencana yang telah disusun akan sangat memudahkan pelaksanaan proyek. Para pelaksana yang mengerjakan proyek tersebut telah memiliki pedoman yang harus diikuti. Pedoman tersebut telah tersusun secara sistematis sehingga proyek yang dilaksanakan dapat berjalan sesuai dengan rencana.

4. Memudahkan Pengawasan

Setelah proyek mulai melakukan kegiatan pembangunan sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya, pihak pengawas dapat melakukan kegiatan pengawasan. Pengawasan ini diperlukan untuk menjaga keserasian kegiatan di lapangan dengan rencana yang telah disusun.

5. Memudahkan Pengendalian

Apabila dalam kegiatan pengawasan ditemukan beberapa penyimpangan yang menyebabkan proyek tidak berjalan sesuai rencana maka harus dilakukan

kegiatan pengendalian. Tujuan pengendalian adalah untuk mengendalikan proyek agar penyimpangan yang terjadi pada kegiatan pelaksanaan dapat segera diperbaiki.

Sebagai salah satu faktor yang digunakan sebagai bahan masukkan kepada owner atau pimpinan perusahaan untuk mengambil keputusan, maka studi kelayakan harus dilakukan secara teliti agar memiliki mutu yang baik dan jangkauan yang jauh, luas, serta mendalam. Mutu dari studi kelayakan tergantung pada proses pengerjaan dan tersedianya sumber daya untuk mengadakan perkiraan terhadap kondisi dan situasi di masa yang akan datang.

3.4.3 Aspek-Aspek Studi Kelayakan

Perkembangan suatu negara sangat erat hubungannya dengan jumlah kegiatan proyek di negara tersebut. Dengan adanya kegiatan proyek ini, pendapatan suatu negara diharapkan dapat meningkat sehingga kesejahteraan negara tersebut dapat tercapai. Untuk memfasilitasi proyek-proyek tersebut, negara mengadakan kerja sama dengan investor yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Dengan kerja sama tersebut diharapkan dapat membantu negara dalam pembiayaan proyek-proyek tersebut. Investor selaku pemberi dana bagi proyek-proyek-proyek-proyek tersebut akan melakukan studi kelayakan terhadap proyek yang akan mereka investasikan.

Kasmir dan Jakfar (2013) menyatakan bahwa terdapat beberapa aspek yang diperlukan untuk menentukan kelayakan suatu proyek. Tiap aspek tidak berdiri sendiri, akan tetapi saling berkaitan satu sama lain. Secara umum, urutan aspek-aspek yang perlu ditinjau dalam studi kelayakan adalah sebagai berikut:

1. Aspek Hukum

Membahas tentang masalah kelengkapan dan keabsahan dokumen perusahaan, mulai dari bentuk badan usaha sampai izin-izin yang dimiliki.

2. Aspek Pasar dan Pemasaran

Menilai besarnya peluang pasar yang diinginkan berdasarkan segi pasar dan pemasaran.

3. Aspek Keuangan

Menilai biaya apa saja yang akan dikeluarkan dan seberapa besar biaya-biaya yang akan dikeluarkan tersebut. Lalu meneliti seberapa besar pendapatan

yang akan diterima, seberapa lama investasi yang ditanamkan akan kembali, sumber pembiayaan bisnis, dan tingkat bunga yang berlaku.

4. Aspek Teknis/ Operasi

Meneliti mengenai lokasi usaha, baik kantor pusat, cabang, pabrik, dan gedung.

5. Aspek Manajemen/ Organisasi

Penilaian pengelola usaha dan struktur organisasi yang ada.

6. Aspek Ekonomi Sosial

Melihat seberapa besar pengaruh yang ditimbulkan jika proyek ini dijalankan.

Pengaruh ini mencakup lingkup ekonomi secara luas dan dampak sosialnya terhadap masyarakat secara keseluruhan.

7. Aspek Dampak Lingkungan

Analisis dampak yang ditimbulkan oleh proyek bisnis tersebut terhadap lingkungan di sekitarnya, baik air, darat, dan udara.

3.4.4 Langkah-Langkah Studi Kelayakan

Suatu studi kelayakan dikatakan baik apabila perkiraan yang dihasilkan cukup akurat, dalam arti penyimpangannya masih dalam batas toleransi yang diizinkan. Novianty (2009) dalam Sobana (2018) menyatakan bahwa untuk dapat membuat perkiraan yang lebih akurat dalam studi kelayakan perlu melalui beberapa tahap, yaitu:

1. Tahap Penemuan Ide Proyek

Mempelajari kebutuhan pasar dan jenis proyek yang akan dilakukan sehingga nantinya ditemukan proyek yang berpotensi menghasilkan keuntungan yang maksimal. Kriterianya adalah suatu proyek dibuat untuk memenuhi kebutuhan pasar yang masih belum terpenuhi atau mengganti produk yang sudah ada dengan produk lain yang mempunyai nilai yang lebih tinggi.

2. Tahap Penelitian

Setelah menemukan ide-ide proyek yang dirasa menguntungkan maka langkah selanjutnya adalah melakukan penelitian yang lebih mendalam dengan menggunakan metode ilmiah. Proses ini dimulai dengan mengumpulkan data, mengolah data, menganalisis dan menginterpretasikan hasil pengolahan dengan

alat-alat analisis yang sesuai, serta menyimpulkan hasil sampai pada membuat laporan hasil penelitiannya.

3. Tahap Pengurutan Usulan yang Layak

Semua ide-ide proyek tersebut dipertimbangkan dengan teliti dan dipilih salah satu ide yang berpotensi menghasilkan keuntungan, rasional, dan memenuhi kriteria.

4. Tahap Rencana Pelaksanaan Proyek

Setelah dipilih ide proyek yang akan direalisasikan, perlu dibuat rencana kerja pelaksanaan pembangunan proyek. Rencana kerja dimulai dari menentukan jenis pekerjaan, waktu yang dibutuhkan untuk tiap jenis pekerjaan, jumlah dan kualifikasi tenaga pelaksana, ketersediaan dana, material, kesiapan manajemen, dan sebagainya.

5. Tahap Pelaksanaan Proyek

Setelah semua persiapan telah disusun secara cermat dan teliti, maka tahap selanjutnya adalah pelaksanaan. Semua tenaga pelaksana proyek, mulai dari pemimpin proyek sampai pada tingkat yang paling bawah, harus bekerja sama dengan sebaik-baiknya sesuai dengan rencana yang telah disusun agar tujuan proyek tercapai.

3.5 Kelayakan Teknis

Dokumen terkait