• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TAFSIR SUFI DAN HURUF-HURUF MUQATHA’AH

A. Pengertian Sufi dan Sejarah Perkembangannya

Mengawali pembahasan ini, terlebih dahulu penulis akan menjelaskan istilah penting sebagai landasan pengambilan kata sufi yaitu tasawuf. Secara etimologi, kata tasawuf berasal dari bahasa Arab, yaitu: فىظت فىظتَ افىظت (tashawwafa, yatashawwafu, tashawwufan).Ulama berbeda pendapat dari mana asal-usulnya, ada yang mengatakan dari kata shûf (فىط bulu domba), shaff (فط barisan),(ءافط jernih), dan (تفط serambi Mesjid Nabawi yang ditempati oleh sebagian sahabat Rasulallah saw.28

Pemikiran masing-masing pihak itu dilatarbelakangi oleh fenomena yang ada pada diri sufi. Secara etimologi, pengertian tasawuf dapat dimaknai menjadi beberapa macam, yaitu sebagai berikut:

1. Tasawuf berasal dari istilah yang dikonotasikan dengan ahl as-shuffah yang berarti sekelompok orang di masa Rasulallah saw yang banyak berdiam di serambi-serambi masjid dan mereka mengabdikan hidupnya untuk beribadah kepada Allah swt. Mereka adalah orang-orang yang ikut pindah dengan Rasulallah saw dari Mekah ke Madinah, kehilangan harta, berada dalam keadaan miskin, dan tidak mempunyai apa-apa. Mereka tinggal di

28 Samsul Munir Amin, Ilmu Tasawuf,Amzah,Jakarta:2012,hal.3.

Mesjid Rasulallah saw dan duduk di atas bangku batu dengan memakai pelana sebagai bantal. Pelana disebut shuffah dan kata sofa dalam bahasa-bahasa di Eropa berasal dari kata ini.

2. Tasawuf berasal dari kata shafa‟ yang artinya suci. Kata shafa‟ ini berbentuk fi‟il mabni majhul sehingga menjadi isim mulhaq dengan huruf ya‟ nisbah yang berarti sebagai nama bagi orang-orang yang bersih atau suci. Jadi, maksudnya adalah mereka itu menyucikan dirinya di hadapan Tuhan melalui latihan yang berat dan lama.

3. Tasawuf berasal dari kata shaff. Makna shaff ini dinisbahkan kepada orang-orang yang ketika shalat selalu berada di shaff (barisan) terdepan.

Sebagaimana halnya shalat di shaff pertama mendapat kemuliaan dan pahala, maka orang-orang penganut tasawuf ini dimuliakan dan diberi pahala oleh Allah swt.

4. Ada yang menisbahkan tasawuf berasal dari bahasa Yunani, yaitu shopos.

Istilah ini disamakan dengan kata hikmah yang berarti kebijaksanaan.

Pendapat ini dikemukakan oleh Mirkas, kemudian diikuti oleh Jurji Zaidan dalam kitabnya Adâbu al-Lughah al-Arabiyyah. Disebutkan bahwa para filsuf Yunani dahulu telah memasukkan pemikiran yang mengandung kebijaksanaan di dalam buku-buku filsafat. Ia berpendapat bahwa istilah tasawuf tidak ditemukan sebelum masa penerjemahan kitab-kitab yang berbahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Pendapat ini kemudian didukung oleh Noldeke, yang mengatakan bahwa dalam penerjemahan dari bahasa Yunani ke bahasa Arab terjadi proses asimilasi. Misalnya, orang Arab mentransliterasikan huruf sin menjadi shad seperti dalam kata tasawuf menjadi tashawuf.

5. Tasawuf berasal dari kata shuf. Artinya ialah kain yang terbuat dari bulu wol. Namun, kain wol yang dipakai adalah wol kasar, bukan wol halus sebagaimana kain wol sekarang. Memakai wol kasar pada waktu itu adalah simbol kesederhanaan. Lawannya adalah memakai sutra. Kain itu dipakai oleh orang-orang mewah di kalangan pemerintahan yang hidupnya mewah.

Para penganut tasawuf ini hidupnya sederhana, tetapi berhati mulia, menjauhi pakaian sutra, dan memakai wol kasar.

Inilah lima teori tentang asal-usul kata tasawuf. Dari lima teori ini, teori yang paling banyak disetujui yaitu kata tasawuf berasal dari kata shuf, artinya kain yang terbuat dari bulu wol. Demikian tulis Samsul Munir Amin dalam bukunya Ilmu Tasawuf.

Selain itu, ada juga yang menambahkan bahwa kemungkinan kata tasawuf bersumber dari kata awsaf, yaitu sifat-sifat baik ahli tasawuf yang selalu tergambar pada wajahnya dan mungkin juga dari kata safwah, artinya manusia pilihan Allah swt.29

Berangkat dari asal-usul kata tasawuf di atas, maka muncullah istilah sufi. Di dalam risalah Persia tertua tentang tasawuf Kasyful Mahjûb, Al-Hujwiri menulis bahwa sufi adalah sebuah nama yang diberikan, dan semula pernah diberikan kepada wali-wali dan ahli-ahli keruhanian yang sempurna.

Lebih jauh ia membedakan antara sufi, mutashawwif, dan mustashwif.30

Menurutnya sufi adalah yang mati pada dirinya dan hidup oleh kebenaran, ia bebas dari batas-batas kemampuan manusiawi, dan benar-benar telah sampai kepada Tuhan. Mutashawwif adalah ia yang berusaha keras untuk mencapai tingkat ini dengan cara menundukkan hawa nafsu (mujahadah) dan dalam pencariannya ia meluruskan tingkah lakunya sesuai dengan teladan mereka (sufi-sufi). Mustashwif adalah ia yang membuat dirinya secara lahiriah serupa mereka (sufi-sufi) untuk sekedar mencari uang, kekayaan, kekuasaan, serta keuntungan-keuntungan duniawi tapi sedikitpun tidak mempunyai kemampuan tentang hal ini.

Dzun Nun Al-Mishri berkata “Sufi adalah yang bahasanya ketika ia berbicara adalah hakikat keadaannya, yakni dia tidak mengatakan sesuatupun yang tidak ada pada dirinya, dan ketika ia berdiam diri sikapnya menunjukkan keadaanya, dan keadaannya menyatakan bahwa dia telah memutuskan tali ikatan duniawi, yakni semua yang dia katakan berdasarkan prinsip yang benar,

29Mahjuddin, Akhlak Tasawuf II Pencarian Ma‟rifah Bagi Sufi Klasik Dan Penemuan Kebahagiaan Batin Bagi Sufi kontemporer, Kalam Mulia,Jakarta:2010,hal.95.

30 Ali bin Utsman Al-Hujwiri,Kasyful Mahjûb,Mizan,Bandung:1993,hal.44.

dan semua yang dia lakukan adalah keterpisahan yang penuh dari dunia (tajrîd). Ketika ia berbicara, pembicaraannya sepenuhnya tentang kebenaran, dan ketika dia berdiam diri tindakan-tindakannya sepenuhnya kefakiran (faqr)”. Abul Hasan An-Nuri juga mengatakan “Sufi-sufi ialah mereka yang ruh-ruhnya terbebaskan dari pencemaran manusiawi, tersucikan dari noda jasmani, dan terlepas dari hawa nafsu, sehingga mereka menemukan ketenangan bersama Tuhan dalam barisan awal dan derajat yang paling tinggi serta terbebas dari semuanya kecuali Tuhan.31

Sepertinya apa yang dikemukakan oleh An-Nuri di atas adalah pendekatan istilah sufi yang berasal dari kata shaff, kata ini dinisbahkan kepada orang-orang yang ketika shalat selalu berada di saf (barisan) terdepan.

Sebagaimana halnya shalat di shaff pertama mendapat kemuliaan dan pahala, maka orang-orang sufi ini dimuliakan dan diberi pahala oleh Allah swt.

Banyaknya pendapat tentang asal-usul kata sufi ini memberikan kesimpulan sementara kepada kita bahwa sufi adalah gelaran semata yang tidak terdapat dalam akar kata bahasa Arab, merupakan satu panggilan kehormatan yang semisal dengan sebutan sahabat.32

Dalam sejarahnya term tasawuf dikenal luas di kawasan Islam sejak penghujung abad ke –II Hijriah, sebagai perkembangan lanjut dari kesalehan asketis atau para zahid yang mengelompok di serambi masjid Madinah. Dalam perjalanan hidup kelompok ini lebih mengkhususkan diri untuk beribadah dan pengembangan kehidupan rohaniah dengan mengabaikan kenikmatan duniawi.

Pola hidup kesalehan yang demikian merupakan awal pertumbuan tasawuf yang kemudian berkembang dengan pesatnya. Fase ini dapat disebut fase asketisme dan merupakan fase pertama perkembangan tasawuf, yang ditandai dengan munculnya individu-individu yang lebih mengejar kehidupan akhirat sehingga perhatiannya terpusat untuk beribadah dan mengabaikan keasikan duniawi. Fase asketisme ini setidaknya sampai pada abad ke -II Hijriah dan memasuki abad ke-III Hijriah sudah terlihat adanya peralihan konkrit dari

31 Ali bin Utsman Al-Hujwiri,Kasyful Mahjûb,hal.45.

32 Rivay Siregar,Tasawuf Dari Sufisme Klasik Ke Neo-Sufisme,Rajagrafindo Persada,Jakarta:1999,hal.32.

asketisme Islam ke sufisme. Fase ini dapat disebut fase ke-II, yang ditandai oleh antara lain peralihan sebutan zahid menjadi sufi.

Di sisi lain, pada kurun waktu ini percakapan para zahid sudah sampai pada persoalan apa itu jiwa yang bersih, apa itu moral dan metode pembinaannya dan perbincangan masalah teoritis lainnya. Tindak lanjut dari perbincangan ini maka bermunculanlah berbagai teori tentang jenjang-jenjang yang harus ditempuh oleh seorang sufi (maqam) serta ciri-ciri yang dimiliki oleh seorang sufi pada tingkat tertentu (hal). Demikian juga pada periode ini sudah mulai berkembang pembahasan tentang ma‟rifat serta perangkat metodenya sampai pada tingkat fana dan ittihad. Bersamaan dengan itu, tampil pula para penulis tasawuf seperti Al-Muhasibi, Al-Kharraj, Al-Junaid, dan penulis lainnya. Fase ini ditandai dengan muncul dan berkembangnya ilmu baru dalam khazanah budaya Islam, yakni ilmu tasawuf yang tadinya hanya berupa pengetahuan praktis atau semacam langgam keberagamaan. Selama kurun waktu itu tasawuf berkembang terus ke arah yang lebih spesifik, seperti konsep intuisi, kasyf, dan dzauq.33

Imam Munawwir memberikan pandangan yang lain mengenai latar belakang lahirnya tasawuf, dalam bukunya Kebangkitan Islam Dan Tantangan-Tantangan Yang Dihadapi Dari Masa Ke Masa ia menulis bahwa ketika terjadinya masa keruntuhan Islam, hasil karya sarjana Islam dihilangkan jejaknya diambil alih oleh orang-orang Barat. Ada yang diterjemahkan, direfisi, dijiplak, dan diambil alih nama pengarangnya.34 Demi mengalihkan pandangan akibat kekalahan itu (dalam bidang duniawi) beralihlah seratus delapan pulu derajat mengharapkan kemenangan di akhirat.

Barangkali mereka meyakini bahwa kemenangan duniawi tidak mungkin diraih kembali, apalagi untuk dicapai. Di pihak lain, menjadi hidup subur dunia tasawuf sebagai upaya untuk menghibur diri, mendekatkan diri kepada ilahi karena kekalahan duniawi, mencari lamunan melupakan kekalahan.

33 Rivay Siregar, Tasawuf Dari Sufisme Klasik Ke Neo-Sufisme,hal.37.

34Imam Munawwir,Kebangkitan Islam Dan Tantangan-Tantangan Yang Dihadapi Dari Masa Ke Masa,Bina Ilmu, Surabaya:1985,hal. 23.

Lahirlah dalam pola pandangan benak kaum muslimin konservatif dua kecenderungan. Pertama, pihak yang terlalu keranjingan dalam bidang fiqih yang terlalu cepat menanggapi masalah dengan vonis halal dan haram. Kedua, pihak yang menekuni bidang ketasawufan cenderung untuk ber-uzlah mengasingkan diri guna menjauh dari keramaian dunia, karena di dunia banyak terjadi permusuhan, perlombaan, saling berebut pengaruh, dendam, dan dengki yang amat sulit untuk membawa ketentraman batin.

Dalam sejarah perkembangannya, tasawuf banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur lain dari luar Islam. Misalnya Persia, India, Yunani, dan kepercayaan Arab pra Islam.35

1. Pengaruh Persia

Nicholson menulis bahwa tasawuf itu bersumber dari Persia dengan mengemukakan dua argument. Pertama, melihat kepada tokoh-tokoh tasawuf (sufi) seperti Ma‟ruf Al-Kharky dan Abu Yazid Al-Bustami adalah orang Persia, kedua nama ini dianggap sebagai peletak dasar ilmu tasawuf. Kedua, bahwa sejak masa purba di Persia telah hidup suatu alam pikiran yang menganggap bahwa asal muasal timbulnya segala sesuatu itu adalah dari Tuhan, semesta ini tidak mempunyai wujud, dan wujud yang riil hanyalah Tuhan.

2. Pengaruh India

M. Horten seorang orientalis menulis bahwa tasawuf berasal dari alam pikiran India. Dan Horten telah melakukan penelitian lama untuk menguatkan pandangannya ini. Akan tetapi pandangannya ini kemudian direvisinya setelah ia meneliti dan melakukan analisa terhadap tasawuf Al-Hallaj, Al-Bustami, dan Al-Junaid, dengan mengatakan bahwa tasawuf abad ke-III Hijriah-lah yang begitu dipengaruhi oleh alam pikiran India.

Hortenpun berusaha keras mengokohkan teorinya ini dengan salah satu penelitiannya, untuk menetapkan tasawuf berasal dari sumber India.

Penelitian filosogis yang dilakukannya terhadap terminologi-terminologi

35 Duski Samad, Lebih Dekat Dengan Tasawuf, IAIN Press, tt ,hal.18

para sufi Persia akhirnya membuatnya berkesimpulan bahwa tasawuf berasal dari aliran Vedanta di India.

3. Pengaruh Yunani Kuno

Harun Nasution tidak menolak adanya pengaruh Yunani pada Tasawuf Islam dengan melihatnya dari segi pemikiran filsafat. Filsafat mistik Phytagoras yang berpendapat bahwa roh manusia bersifat kekal dan berada di dunia sebagai orang asing. Badan jasmani merupakan penjara bagi roh. Kesenangan roh ialah di alam samawi, manusia harus membersihkan roh dengan meninggalkan hidup materi yaitu zuhud, untuk selanjutnya berkontemplasi. Begitu juga ajaran filsafat emanasi Platinus yang mengatakan bahwa wujud ini memancar dari zat Tuhan Yang Maha Esa. Roh berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Tetapi dengan masuknya ke alam materi, roh menjadi kotor, dan untuk dapat kembali ke tempat asalnya roh terlebih dahulu harus dibersihkan.

Pensucian roh adalah dengan meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan sedekat mungkin, kalau bisa bersatu dengan Tuhan.

Filsafat Phytagoras dan Neo-Platonisme ini benar-benar telah memukau para sufi filsuf, yakni pendukung teori aluminasi seperti As-Suhrawardi Al-Maqtul, Mahyuddin Ibnu Arabi, Abdul Karim Al-Jilli, Ibnu Saba‟in, dan lain-lain.

4. Pengaruh Agama Kristen

Ada lagi dugaan yang kuat dari peneliti tasawuf khususnya peneliti orientalis, yang mengatakan bahwa tasawuf banyak terpengaruh dan bersinggungan dengan sistem mistik Agama Kristen. Argumen yang mereka ketangahkan adalah terma-terma yang digunakan oleh para sufi, seperti Al-Hallaj misalnya menggunakan kata lahut, nasut,malakut, dalam kaitan hubungan manusia dengan Tuhan. Terma-terma seperti di atas jika dilacak itu berawal dari khazanah keilmuwan Kristen khususnya dalam terma-terma theologisnya. Begitu juga mereka beralasan sikap zuhud yang

dikembangkan sufi itu jelas jauh sebelumnya digunakan sufi-sufi Islam sudah dikenal luas di lingkungan tradisi Kristen.

Pengaruh Kristen dengan paham menjauhi dunia dan hidup mengasingkan diri dalam biara-biara. Dalam literatur Arab memang terdapat tulisan-tulisan tentang rahib-rahib yang mengasingkan diri di padang pasir Arabia. Lampu yang mereka pasang di malam hari menjadi petunjuk jalan bagi kafilah yang lalu, kemah mereka yang sederhana menjadi tempat berlindung bagi orang-orang yang kemalaman dan kemurahan hati mereka menjadi tempat memperoleh makanan bagi musafir yang kelaparan. Dikatakan bahwa zahid dan sufi Islam juga meninggalkan dunia, memilih hidup sederhana dan mengasingkan diri, ini semua atas pengaruh cara hidup rahib-rahib Kristen ini.

5. Ada lagi teori yang menyebutkan bahwa tasawuf itu juga hasil interaksi budaya dengan ajaran Budha, yaitu dengan paham nirwananya. Untuk mencapai nirwana seorang budhis harus meninggalkan dunia dan memasuki hidup kontemplasi. Bagi sufi juga ada paham fana yang bisa dicari kesamaannya dengan paham Budha itu. Sedangkan pengaruh ajaran Hinduisme tidak lepas dari dugaan kalangan orientalis, mereka menisbahkannya dengan meninggalkan dunia untuk menuju bersatu dengan Atman dan Brahman.

Karena banyaknya faktor eksternal yang mempengaruhi perkembangan tasawuf, maka corak atau bentuk tasawuf pun bermacam-macam sesuai dengan pengaruh yang diterimanya dari luar. Sementara pakar menyebutkan bahwa ada beberapa corak tasawuf sebagai berikut:36

1. Tasawuf Salaf

Tasawuf salaf adalah tipe tasawuf yang telah dipraktekkan oleh ulama salaf (sahabat dan tabi‟in). Tasawuf tersebut, merupakan ajaran yang dianjurkan dalam teks Al-Qur‟an dan sunah Nabi saw. Misalnya

36Mahjuddin, Akhlak Tasawuf II Pencarian Ma‟rifah Bagi Sufi Klasik Dan Penemuan Kebahagiaan Batin Bagi Sufi kontemporer, hal.

ajaran tentang wara‟ dan zuhud, memperbanyak berzikir dan tafakur serta memperbanyak melakukan ibadah sunah.

Hal tersebut dilakukan dalam tasawuf salaf karena termotivasi oleh perasaan khawf dan raja‟ bukan untuk memperoleh ma‟rifah sebagaimana halnya dalam tasawuf sunni dan falsafi. Tasawuf salaf tidak mengenal adanya maqamat, ahwal, fana, dan baqa, tetapi praktek tasawufnya hanya mengamalkan seluruh perintah dan anjuran yang ditekankan oleh Al-Qur‟an dan sunah. Di antara tokoh-tokoh tasawuf ini adalah sahabat ahlu suffah, Hasan Al-Bashri, Malik bin Dinar, dan lain-lain.

2. Tasawuf Sunni

Tasawuf sunni adalah tasawuf yang sudah dikembangkan oleh penganutnya melebihi metode dan materi tasawuf salaf. Tasawuf ini sudah mengembangkan ajaran maqamat dan ahwal, serta fana dan baqa, padahal materi tersebut tidak pernah dikenal dalam tasawuf salaf. Tasawuf ini banyak mencontoh kehidupan asketis kaum Nasrani dalam melakukan mujahadah dan riyadhah, serta mencontoh kehidupan mistik orang Hindu dalam melakukan ajaran nirwana yang disebut fana dalam tasawuf, hal ini untuk mencapai kebersatuan hamba dengan Tuhannya, yang dalam ajaran Hindu disebut persatuan Atman dengan Brahman. Ajaran Budha juga mengajarkan nirwana dengan cara meninggalkan kehidupan dunia, lalu berkontemplasi, yang dalam tasawuf disebut zuhud.

Tema-tema tasawuf tersebut merupakan interpretasi dari beberapa ayat Al-Qur‟an yang berbicara tentang hal itu, antara lain surat Al-Isra ayat 79, As-Syu‟araa ayat 58 dan Ad-Dukhan ayat 51 mengenai maqamat dan ahwal. Begitu pula halnya surat Ar-Rahman ayat 26-27 dan surat Al-Qashash ayat 88 mengenai fana dan baqa. Karena itu tasawuf ini diberi nama tasawuf sunni, yaitu tasawuf yang didasarkan pada Al-Qur‟an dan Sunnah meskipun dengan mengalami interpretasi dari dasar ajaran tasawuf tersebut.

Interpretasi tersebut dilakukan karena melihat metode mistik umat terdahulu masih sesuai dengan anjuran dalam Islam. Maka sebenarnya sufi

sunni banyak menggunakan metode peribadatan umat-umat terdahulu, karena dipandang masih sesuai dengan tuntunan Al-Qur‟an dan Sunnah.

Di antara tokoh-tokohnya adalah Dzu Nun Al-Mishri, Al-Muhasibi, Junaid Al-Baghdadi, Imam Al-Ghazali, dan lain-lain.

3. Tasawuf Falsafi

Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang sudah dikembangkan melebihi dari pengembangan tasawuf sunni, karena di samping metode peribadatannya banyak yang menggunakan metode peribadatan umat-umat terdahulu, tasawuf ini juga dikembangkan dengan menggunakan teori-teori filsafat untuk menentukkan cara-cara peserta tasawuf melakukan pencaharian hingga hamba bertemu dan menyatu dengan Tuhannya.

Setelah penerjemahan buku-buku filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab, terjadi juga penggabungan pemikiran tasawuf dengan pemikiran filsafat. Misalnya tentang roh manusia menurut filsafat Phytagoras dan Neo-Platonisme serta teori emanasi Platinus yang mengatakan bahwa roh berasal dari Tuhan dan akan kembali lagi kepada Tuhannya, dengan syarat ia harus bersih dari pengaruh kehidupan duniawi. Lalu dijadikan ajaran zuhud dan riyadhah dalam tasawuf falsafi.

Hal yang mempersamakan tasawuf sunni dengan tasawuf falsafi adalah keduanya menggunakan cara-cara peribadatan di luar dari apa yang telah dilakukan oleh sufi salaf. Sedangkan perbedaannya adalah sufi sunni mengklaim dirinya bersatu dengan Tuhannya ketika ma‟rifah, tetapi hamba dengan Tuhannya masih tetap berbeda. Lain halnya dengan sufi falsafi, mereka mengklim dirinya bersatu dengan Tuhannya tatkala ma‟rifah lalu menganggap dirinya sebagai Tuhan tatkala menyatu dengan-Nya. Tokoh-tokoh tasawuf ini adalah Abu Yazid Al-Bustami, Husain bin Mansur Al-Hallaj, Suhrawardi Al-Maqtul, Mahyuddin Ibnu Arabi, Jalaluddin Rumi, dan Ibrahim Al-Jilli.

Dokumen terkait