• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TA’AWUŻ DAN URGENSINYA

A. Pengertian Ta’awuż secara Bahasa dan Istilah

Ta’awuż secara bahasa disebutkan dalam al-Qur’an mengandung makna yang berarti memohon perlindungan kepada Allah dari segala kejahatan makhluk yang diciptakan, serta memohon perlindungan dari perkara yang menghantarkan kepada kekufuran, kemaksiatan, dan kepedihan siksa Ilahi. Oleh karena itu, tabiatnya jauh dari tabiat manusia dan dengan kefasikan jauh dari segala sesuatunya, setiap jin, manusia, maupun hewan yang keluar dari perintah atau memberontak yakni disebut setan. Ada dua situasi di mana ta’awuż harus diucapkan merupakan bentuk pengagungan kepada Allah juga sebagai bentuk bertawakal kepadanya atas pengakuan seorang hamba kepada sang pencipta atas segala kekuasaanya, kelemahan hamba, serta ketidakberdayaan terhadap musuh yang nyata, tidak ada yang mampu menolak serta mengusir kecuali hanya Allah subḥānahū wa ta ̒ālā sebagai żat yang telah menciptakannya.1

Pada kata ta’awuż diambil akar kata aża-yaużu berarti kembali berlindung atau melekat, isti’adzah disebut Qa’ażu Allah aku berlindung kepada Allah, yang artinya sama dengan Ma’ażatu Allah, Ma’ażatu Wajh Allah, dan Ma’ażu Wajh Allah. Isti’ażah bisa disebut A’ūżu bi Allah Minka pada lafaz al-jalalah berarti aku berlindung kepada Allah dari pada engkau, kata ini juga mempunyai rangkaian kata Ma’ażatu bi Allah Minka dan Ta’wiżu bi Allah Minka. Pertama,

1 Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Tafsir Ibn Qayyim Tafsir Ayat-ayat Pilihan, terj.

Kathur Suhardi, ( Jakarta:Darul Falah, 2000), 653.

14

jika diucapkan a’użubillah min al-syaiṭan yang berarti aku mengembalikan diriku kepada Allah dari setan. Kedua, aku berlindung kepada Allah dari godaan setan. Ketiga, aku melekatkan diriku dengan karunia dan rahmat Allah dari setan. Sedangkan kata setan dari akar kata syaiṭana yasyṭunu berarti menjauhkan dan mencondongkan kepada kebatilan, setiap makhluk baik manusia maupun jin yang menyimpang dan menjauh dari petunjuk kebenaran. 2

Keistimewaan dalam al-Qur’an tidak hanya berfokus pada nilai sastra yang terkandung pada ayat, ketepatan pengulangan kata yang dikemukakan di atas untuk mengungkapkan satu tujuan al-Qur’an berbagai variasi seperti ungkapan perlindungan dari setan bisa digunakan dengan kata A’ūżu dan bentuk derivasi lainya untuk meminta perlindungan Allah dari gangguan setan.3

Adapun perlindungan kepada Allah akan bergantung disisinya dari segala bentuk kejahatan, maka dari itu sebelum melakukan ibadah dianjurkan untuk memohon kepada Allah agar terhindar dari berbagai macam kejahatan pengaruh setan yang terkutuk. Hal ini dimaksudkan agar Allah menerima segala amal ibadah yang dilakukan setiap kali menjalankan ibadah.4

Disebutkan dalam kitab Majmu‘at al-Rasail li ibn Taimiyah di sisi lain manusia agar mampu menahan diri dari kejahatan, maka niscaya ia akan terhindar dari siksa neraka jahanam, fitnah, hidup dan mati, karena semua itu berasal dari pintu al-waswās. 5

2 Arifin Omar, Rahasia di Sebalik Surah al-Falaq (Malaysia: Cahyani Pantai, 1994), 15.

3 Ibn Qayyim Jawziyyah, at-Tafsir al-Qayyim (Beirut:Dar al-Fikr, 1998), 538.

4 Muhammad Najib, Isti’adzah, Republika, 31 Januari 2003, 5.

5 Ibn Taimiyah,Risalah Ibn Taimiyah Tentang Tafsir Terj, Drs As’ad Yasin et.al, (Solo: CV. Pustaka Mantiq, 1996), 113

15

Kalimat al-luzum al-munawarah berarti selalu berdekatan, pengertian ini merupakan pernyataan orang arab menyampaikan uwważ daging menempel pada tulang, sama hal nya seperti seseorang yang meminta perlindungan, tidak akan mau lepas dari sang pelindung-Nya.6

Ibn Qayyim al-Jawziyyah mengutarakan isti’ażah sebagai:

“Meminta perlindungan, bahwa seorang meminta perlindungan agar sesuatu yang dapat menghalangi dirinya dapat terhindar dan juga harus berpegang teguh pada sang pelindung. Kemudian begitulah seorang meminta perlindungan dari sesuatu yang dapat membinasakan kepada Allah.”7

Manusia sebagai pemohon kepada Allah al-musta’ażu bih meskipun manusia diciptakan dengan berbagai kelebihan atas makhluk-Nya, tetap membutuhkan perlindungan, bimbingan, dan pertolongan Allah sebagai sang pemberi perlindungan. Allah meminta manusia untuk senantiasa meminta perlindungan kepada-Nya, sebagaimana dikatakan dalam Qs. Mu’minun/ 23: 97 dan Qs. al-Naḥl/ 16: 98 “Ya Tuhanku, aku berlindung kepada engkau dari bisikan-bisikan setan, apabila kamu membaca al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”8 Satu hal bagi para pencari Tuhan yang terpenting bukan pengabulan doa, melainkan penghambaan diri secara sempurna jauh lebih nikmat dibandingkan pengabulan berbagai doa, karena Allah mewakili manusia untuk berdoalah kepadaku niscaya pasti akan aku perkenankan bagimu. Qs. Ghāfir/ 40: 60.

6 Ibn Qayyim Al-Jawziyyah, at-Tafsir al-Qayyim, 539.

7 Ibn Qayyim Al-Jawziyyah, at-Tafsir al-Qayyim, 540.

8 Ibn Qayyim Al-Jawziyyah, at-Tafsir al-Qayyim, 542.

16

Rasulullah saw bersabda, pada intinya doa untuk beribadah lebih merasakan puncak kenikmatan berdoa daripada menikmati hasil doa, apalagi doa didikte oleh hawa nafsu, seperti pada umumnya orang awam berdoa mereka lebih banyak meminta sesuatu yang berjangka pendek dalam urusan kehidupan dunia, seperti jodoh, kesehatan, kesejahteraan, pekerjaan, dan keperluan hidup duniawi lainya.

Permohonan yang didikte hawa nafsu sering kali berujung penyesalan, manusia sering tidak sadar kalau dirinya telah terlena dengan hawa nafsu yang menguasainya, terhalangnya sebuah doa jika yang diminta dalamnya terdapat hikmah bahwa Allah subḥānahū wa ta ̒ālā menyelamatkan dari kehinaan sebagaimana umumnya tuntutan hawa nafsu. Hal ini juga pernah diingatkan oleh Ibn Athaillah dalam kitab Al-Hikam Allah memberimu padahal dia menolakmu dan boleh jadi pula dia menolakmu, padahal dia memberimu. Apabila Allah menolak permintaanmu sesungguhnya dia telah memberimu dan jika segera dipenuhi permohonanmu, sesungguhnya engkau tengah ditolak dan mendapatkan sesuatu yang lebih besar dari apa yang engkau mohonkan kepada-Nya. Ketika Allah membukakan pintu pengertian bagimu tentang penolakan-Nya. Penolakan itu pun berubah menjadi pemberian, dari ungkapan penjelasan di atas bahwa mengingatkan sebagai seorang hamba betapa dahsyatnya Allah subḥānahū wa ta ̒ālā Tuhan segala makhluk maha tahu apa yang sesungguhnya dibutuhkan hamba-Nya.9

9 Ibn Qayyim Al-Jawziyyah, at-Tafsir al-Qayyim, 543.

17

Dokumen terkait