• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian tema

Dalam dokumen Medan Futsal Stadium Green Architecture (Halaman 50-57)

BAB III Tema

III.1 Pengertian tema

Arsitektur Hijau atau lebih dikenal dengan istilah Green Arsitektur bila diartikan secara harafiah:

2. Arsitekturadalah :2

• Lingkungan binaan

Adalah satuan ruangan yang diwujudkan, dibina, dan ditata menurut norma, kaidah, dan aturan tertentu yang berkembang menurut waktu dan tempatnya. • Ilmu dalam merancang bangunan

Adalah suatu yang sengaja dirancang guna memenuhi kebutuhan para pemakai sebagai suatu pemecahan dari masalah yang ada dan harus memenuhi persyaratan fungsional.

• Seni dan ilmu merancang serta membuat konstruksi bangunan

Merupakan perwujudan fisik sebagai wadah kegiatan manusia yang kemudian diwujudkan dalam bentuk yang menarik, baik secara visual maupun sirkulasi yang teratur dan nyaman.

• Suatu hal yang membahas tentang fungsi, struktur, dan estetika

Yaitu pengolahan unsur-unsur bentuk dan ruang yang merupakan sarana pemecahan masalah sebagai tanggapan atas kondisi-kondisi dari fungsi, tujuan, dan ruang lingkupnya.

Jadi, arsitektur hijau atau green architecture adalah suatu pendekatan pada bangunan yang dapat meminimalisasi berbagai pengaruh membahayakan pada kesehatan manusia dan lingkungan. Arsitektur hijau meliputi lebih dari sebuah bangunan.

Arsitektur hijau, secara sederhana mempunyai pengertian bangunan atau lingkungan binaan yang dapat mengurangi atau dapat melakukan efisiensi sumber daya material, air dan energi. Dalam pengertian yang lebih luas, adalah bangunan atau lingkungan binaan yang:

1. efisien dalam penggunaan energi, air dan segala sumber daya yang ada.

2. mampu menjaga keselamatan, keamanan dan kesehatan penghuninya dalam mengembangkan produktivitas penghuninya,

3. mampu mengurangi sampah, polusi dan kerusakan lingkungan.

Green Architecture atau Arsitektur Hijau merupakan isu yang sedang berkembang di masa sekarang. Begitu banyaknya terjadi bencana alam, peningkatan suhu dunia, rusaknya lapisan ozon menjadi pendorong penerapan arsitektur hijau dalam masyarakat.

Prinsip dari Green Architecture adalah bahwa apa yang telah kita ciptakan tidak hanya mengambil dari alam tetapi harus dapat dikembalikan juga ke alam. Tanah menjadi tanah, air menjadi air. Segala sesuatu yang kita terima dari alam dapat kita berikan dengan bebas lagi ke alam tanpa menimbulkan dampak negatif pada alam. Itulah desain yang baik. Pembaharuan material yang telah digunakan. Green artinya hijau atau bisa di artikan sesuatu yang natural, yang berhubungan dengan alam.

Green Architecture adalah sebuah gerakan yang dilakukan dalam rangka menggunakan langkah-langkah yang berusaha semaksimal mungkin tidak merusak alam dan mengembalikan manusia ke dalam kehidupan yang nyaman serta sehat.

Green Architecture adalah gerakan untuk kelestarian alam dan lingkungan untuk masa depan yang berkelanjutan dalam efisiensi energi dan sumber daya alam dalam kegiatan arsitektural untuk pembangunan yang berkelanjutan dalam mencapai tujuan ekonomi, sosial dan budaya.

Terdapat 6 prinsip Green Architecture yang diajukan oleh Brenda dan

Robert Vale yang harus menjadi perhatian untuk dapat diterapkan dalam berbagai

aplikasi, yaitu:

1. Konservasi energi

a. Bangunan seharusnya meminimalkan penggunaan kebutuhan akan energi. b. Perlindungan sumber daya alam.

c. Pendayagunaan alam sebagai sumber energi bagi keperluan studi dan rekreasi.

d. Memanfaatkan limbah sebaik-baiknya seperti dengan manjadikan limbah sebagai sumber energi biogas atau pupuk.

e. Penentuan lokasi yang paling tepat guna dengan cara pemilihan sumber daya alam yang sesuai dengan kebutuhan dari fungsi bangunan atau proyek.

2. Bekerja sama dengan iklim

a. Bangunan bekerja sama dengan iklim dan sumber energi alam.

b. Memanfaatkan energi yang tersedia di alam seperti matahari, angin, hujan, dan air.

c. Pencahayaan alami pada siang hari. d. Penghawaan alami.

3. Meminimalisasi sumber-sumber daya baru a. Penggunaan material daur ulang.

b. Penggunaan material yang dapat diperbaharui.

c. Merancang bangunan dari sisa bangunan yang sebelumnya. d. Penggunaan material yang ramah lingkungan.

4. Menghargai pemakai

Green Architecture menyadari bahwa pengguna atau pemakai dari bangunan harus diperhatikan kebutuhannya. Untuk itu dilakukan pendekatan yang memperhatikan kenyamanan penggunanya namun selaras dengan prinsip Green Architecture yang lainnya. Misalnya : daripada menggunakan AC untuk kenyamanan pengguna, sebaiknya menggunakan penghawaan alami untuk menyejukkan ruangnan dengan ventilasi silang. Daripada menggunakan terlalu banyak energi untuk penerangan lampu pada siang hari agar pengguna tetap nyaman beraktifitas dalam bangunan prinsip Green Architecture menerapkan pencahayaan alami.

5. Menghargai site

a. Seminimal mungkin merubah tapak. Misalnya dengan mempertahankan kontur tanah. Tidak mengambil jalan pintas dengan cara cut dan fill site

dalam pembangunan di tapak. Memberi pori-pori bagi tanah agar tetap

b. Menurut seorang arsitek Australia, Glenn Murcutt “Seorang harus menyentuh bumi secara ringan” yang ia kutip dari kata-kata orang Aborigin. Kata-kata ini meliputi interaksi bangunan dan sitenya merupakan suatu hal yang sangat penting dalam penerapan Green Architecture. Suatu bangunan yang menghabiskan banyak energi, menghasilkan sumber polusi dan menjadi asing bagi penggunanya tidak menyentuh bumi secara ringan.

6. Holistik

Seluruh prinsip-prinsip Green Architecture digabungkan dalam suatu pendekatan holistik pada lingkungan yang dibangun.

Heinz Frick (1999) memberikan empat kriteria arah pembangunan secara

Green Architecture, yaitu:

1. Pembangunan berwawasan lingkungan menuntut adanya proses yang melestarikan lingkungan alam dan peredarannya, sehingga menghemat energi.

2. Pembangunan biologis (baubiologie) yang memperhatikan kesehatan penghuni dan menganggap rumah sebagai kullit ketiga manusia.

3. Pembangunan psikospiritual, berkaitan dengan jiwa manusia, rasa dan karsa, serta susunan organisme manusia yang mengerti arsitektur sebagai pengalaman kesadaran.

4. Pembangunan organik yang bobot arsitekturalnya terletak pada fungsi

pembentukan dan kesenian.

Masih menurut Frick, 1997, pola perencanaan green arsitektur selalu memanfaatkan alam, sebagai berikut:

Penyesuaian pada lingkungan alam sekitar.

1. Menghemat sumber energi alamyang tidak dapat diperbaharui dan mengirit

penggunaan energi.

2. Memelihara sumber lingkungan(udara, tanah, air).

3. Memelihara dan memperbaiki peredaran alam.

4. Mengurangi ketergantungan pada sistem pusat energi (listrik, air) dan limbah (air,

5. Penghuni ikut serta secara aktif dalam perencanaan pembangunan dan

pemeliharaan perumahan.

6. Tempat kerja dan pemukiman terdekat.

7. Kemungkinan penghuni menghasilkan sendiri kebutuhan sehari-hari.

8. Penggunaan teknologi sederhana.

9. Intensitas energi baik yang terkandung dalam bahan bangunan maupun yang

digunakan pada saat pembangunan harus seminimal mungkin.

10. Kulit (dinding dan atap)sebuah gedung harus sesuai dengan tugasnya harus

melindungi dirinya dari sinar panas, angin dan hujan.

11. Bangunan sebaiknya diarahkan beorientasi timur barat dengan bagian utara selatan

menerima cahaya alam tanpa kesilauan.

12. Dinding bangunan harus memberikan perlindungan terhadap panas, daya serap

panas dn tebalnya dinding harus sesuai dengan kebutuhan iklim ruang dalamnya.

13. Bangunan yang memperhatikan penyegaran udara secara alami bisa menghemat

banyak energi.

14. Bangunan sebaiknya dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menggunakan

penyegaran udara secara alamiah dan memanfaatkan angin sepoi-ssepoi untuk

membuat ruang menjadi sejuk.

15. Semua gedung harus bisa mengadakan regenrasi dari segala bahan bangunan, bahan

limbah, dan mudah dipelihara.

Dengan menggunakan pendekatan Green Architecrure setidaknya dalam 2 tahap kita sudah dapat menghemat banyak baik untuk energi maupun biaya hidup kita.

Pra Konstruksi :

1. Pertimbangkan massa bangunan hanya sebagai ruang yang fungsional sehingga

tidak boros dan aman secara sosial (aman dari gangguan penjahat) maupun secara konstruksi (lebih ringan dan ringkas).

2. Penataan tata ruang dengan lebih banyak penghawaan silang sehingga kelak

meminimalkan kerja pengkondisian udara atau kipas angin.

3. Penataan ruang dengan pertimbangan pencahayaan alami yang lebih banyak

dengan kaca atau glassblock secara tepat, misalnya menghadap ke arah yang selatan atau timur dan skylight didalam ruangan.arah hadap jendela, pintu dan

4. Teritisan atap yang lebih panjang sehingga dapat meneduhkan pemakai bangunan dan atap yang lebih tinggi untuk kondensasi panas.

5. Pemakaian bahan-bahan bangunan yang mudah didapat (disekitar lingkungan)

kita sehingga beban transportasi yang lebih sedikit. banyak yang tidak menyukai pemakaian kayu sebagai boikot terhadap pembalakan liar kayu di hutan hujan tropis.

6. Adanya void untuk sirkulasi udara dan cahaya pada bangunan bertingkat.

7. Pertimbangkan ruang terbuka yang lebih banyak dengan tanpa perkerasan

diantara dinding masif bangunan terutama sebagai peresapan air tanah dan efek pemantulan sinar matahari.

8. Pemakaian jalusi (krepyak) pada jendela atau pintu seperti halnya dinding yang

bernapas dan glassblock untuk dinding.

9. Tanpa mengurangi kualitas bangunan, pilih struktur yang lebih ringan sehingga

beban bangunan lebih sedikit terbebani baik terhadap beban angin maupun gempa, terlebih volume yang lebih sedikit akan menguragi biaya konstruksi.

10. Manhole pada gewel pada dinding yang lebih lebar.

11. Pertimbangkan saluran pemipaan (plumbing) yang mudah dirawat.

12. Dengan alasan lebih dekat dengan alam, fungsi ruang dalam rumah ditarik keluar,

semisal ruang tamu di taman teras depan, ruang makan dan ruang keluarga pada halaman belakang atau samping, kamar mandi semi terbuka di taman samping, dapat juga diperlakukan sebaliknya, dengan adanya ruang menerus ke dalam ruang. misalnya ruang tamu atau ruang keluarga hingga dapur menyatu secara fisik dan visual.

Pasca konstruksi:

1. Perabotan dan asesoris yang tidak terlalu berlebihan, dapur dan kamar

mandi dengan saluran yang senantiasa bersih akan menghemat pengeluaran anda akan listrik dan air. semisal dapur yang dekat dengan taman, sisa air cucian dapur dapat dipakai untuk menyirami tanaman, sisa bilasan cucian jemuran bisa untuk mencuci kendaraan.

2. Memberi tumbuhan rambat pada tembok kita sehingga mengurangi panas di

dinding.

3. Memilih warna cat yang tidak gelap pada tembok luar, karena menyerap

panas, namun sebaliknya juga tidak memilih warna putih karena dapat menyilaukan.

4. Tidak menutup semua lahan terbuka dengan perkerasan, sebagai

pertimbangan penyerapan air hujan.

5. Menanam lebih banyak tanaman baik sebagai pohon peneduh, pengurang

bising, pengurang debu maupun untuk penghalang terpaan sinar matahari semisal tanaman rambat sebagai jalusi atau tanaman buah dalam pot. irigasi dapat memakai irigasi tetes (drip irigation).

6. Mengganti lampu dan peralatan listrik yang lebih hemat dan berusia lama.

7. Bila bangunan terdiri dari dua lantai atau lebih, pertimbangkan adanya roof

garden.

8. Perilaku hemat dan pemilihan bahan yang hemat energi seperti lampu led berdaya rendah, saklar thermostat atau yang memakai fotometer, pemakaian bahan pemanas air yang lebih hemat.

Dalam dokumen Medan Futsal Stadium Green Architecture (Halaman 50-57)

Dokumen terkait