A. Deskripsi Teoritis 1.Hubungan Sosial
2. Pengertian Teman Sebaya
Menurut Ali (2004:99) teman sebaya memegang peranan penting dalam kehidupan remaja. Remaja sangat ingin diterima dan dipandang sebagai anggota kelompok teman sebaya, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Oleh karenanya, mereka cenderung bertingkah laku seperti tingkah laku kelompok sebayanya.
Dalam kamus konseling (Sudarsono,1997:31), teman sebaya berarti teman - teman yang sesuai dan sejenis, perkumpulan atau kelompok prapuberteit yang mempunyai sifat- sifat tertentu dan terdiri dari satu jenis.
Menurut Santrock (2007:55) mengatakan bahwa teman sebaya adalah anak-anak atau remaja yang memiliki usia atau tingkat kematangan yang kurang lebih sama.
Pertemanan adalah suatu tingkah laku yang dihasilkan dari dua orang atau lebih yang saling mendukung. Pertemanan dapat diartikan pula sebagai
14
hubungan antara dua orang atau lebih yang memiliki unsur-unsur seperti kecenderungan untuk menginginkan apa yang terbaik bagi satu sama lain, simpati, empati, kejujuran dalam bersikap, dan saling pengertian (Irwan Kawi, 2010).
Maka dapat disimpulkan teman sebaya adalah seseorang yang dapat membuat kita merasa lebih aman karena secara tidak langsung seorang teman akan melindungi temannya dari apapun yang dapat membahayakan temannya. Selain itu, sebuah pertemanan dapat dijadikan sebagai adanya hubungan untuk saling berbagi dalam suka ataupun duka, saling memberi dengan ikhlas, saling percaya, saling menghormati, dan saling menghargai.
Perkembangan teman sebaya dengan pengaruh yang cukup kuat merupakan hal penting dalam masa-masa remaja. Pada teman sebaya untuk pertama kalinya remaja menerapkan prinsip-prinsip hidup bersama dan bekerja sama. Jalinan yang kuat itu terbentuk norma, niali-nilai dan simbol-simbol tersendiri yang lain dibandingkan dengan apa yang ada di rumah mereka masing-masing.
Teman sebaya sangat berpengaruh terhadap citra diri remaja. Remaja menjadi lebih dekat dengan teman sebayanya, karena mereka menganggap bahwa teman sebaya dapat memahami keinginannya sehingga mereka ingin menghabiskan waktunya dengan teman-temannya. Remaja dalam bergaul dengan teman sebaya merasa diberi status dan memperoleh simpati.
15
a. Ciri-ciri teman sebaya
Teman sebaya mempunyai karakteristik tersendiri yang membedakan dengan jenis kelompok lain. Ciri-ciri dari teman sebaya menurut Slamet Santosa (2009:81) yaitu :
1) Tidak mempunyai struktur organisasi yang jelas
Kelompok sebaya terbentuk secara spontan. Kelompok ini tidak mempunyai struktur organisasi yang jelas karena semua anggota mempunyai kedudukan dan fungsi yang sama, tetapi tetap ada satu orang di antara anggota dianggap sebagai seorang pemimpin yaitu anak yang paling disegani dan paling mendominasi dalam kelompok.
2) Bersifat sementara
teman sebaya ini bukanlah merupakan suatu organisasi resmi dan kemungkinan tidak dapat bertahan lama karena tidak ada struktur organisasi yang jelas lebih-lebih jika keinginan masing-masing anggota berbeda-beda dan tidak mencapai kesepakatan. Dapat juga mereka dipisahkan karena keadaan seperti pada teman sebaya saat lulus sekolah dan masing-masing anggotanya melanjutkan ke jenjang pendidikan yang berbeda-beda.
3) Teman sebaya mengajarkan individu tentang kebudayaan luas
Setiap anggota teman sebaya berasal dari lingkungan yang berbeda dan mempunyai aturan serta kebiasaan yang berbeda pula. Dalam teman sebaya mereka akan saling memperkenalkan kebiasaan masing-masing, sehingga mereka dapat saling belajar. Secara tidak langsung
kebiasan-16
kebiasaan yang beraneka ragam tersebut dipilih dan disesuaikan dengan kelompok, untuk melanjutkan dijadikan sebagai kebiasaan kelompok. 4) Anggotanya adalah individu yang sebaya
teman sebaya yang terbentuk secara spontan ini beranggotakan individu-individu yang memiliki persamaan usia dan posisi sosial.
b. Fungsi Teman Sebaya
Menurut Slamet Santoso (2009 : 79), mengatakan bahwa ada delapan fungsi pertemanan yaitu :
1. Mengajarkan Kebudayaan
Dalam peer group diajarkan kebudayaan yang berada ditempat itu. Misalkan orang luar negeri masuk ke Indonesia maka teman sebayanya di Indonesia kebudayaan Indonesianya.
2. Mengajarkan mobilitas sosial
Mobilitas sosial adalah perubahan status yang lain. Misalkan ada kelas menenah dan kelas rendah (tingkat sosial). Dengan adanya kelas rendah pindah kekelas mengah dinamakan mobilitas sosial.
3. Membantu peranan sosial yang baru
Teman sebaya memberikan kesempatan bagi anggotanya untuk mengisi peranan sosial yang baru. Misalnya, anak yang belajar bagaimana menjadi pemimpin yang baik dan sebagainya.
4. Teman sebaya sebagai sumber informasi bagi orang tua dan guru bahkan untuk masyarakat
Teman sebaya disekolah bisa sebagai sumber informasi bagi guru dan orang tua tentan hubungan sosial individu dan seorang yang berprestasi baik dapat dibandingkan dengan temannya.
5. Dalam kelompok teman sebaya, individu dapat mencapai ketergantungan satu sama lain.
Karena dengan teman sebaya ini kita dapat merasakan kebersamaan dan saling bergantung sama lain.
6. Teman sebaya mengajarkan moral orang dewasa
Teman sebaya bersikap dan bertingkah laku seperti orang dewasa. Untuk mempersiapkan diri menjadi orang dewasa mereka belajar memproleh kemantapan sosial.
7. Dalam teman sebaya, individu dapat mencapai kebebasan sendiri
Kebebasan disini diartikan sebagai kebebasan untuk berpendapat, bertindak, atau menemukan idenditas diri.
8. Didalam kelompok teman sebaya anak-anak mempunyai organisasi baru Anak belajar tentang tingkah laku yang baru, yang tidak terdapat pada keluarga.
17
c. Peran Teman sebaya
Dalam peer group setiap individu mempunyai peranan dalam bersosialisasi antar anggota tentang cara berinteraksi, bertingkah laku, dan mencapai tujuan. Peer group mempunyai kontribusi yang sangat positif terhadap perkembangan kepribadian remaja. Namun di sisi lain, tidak sedikit remaja yang melakukan tindak kenakalan karena pengaruh peer group.
Syamsu Yusuf (2002:60) mengemukakan peranan teman sebaya bagi remaja adalah memberikan kesempatan bagi remaja untuk ;
1) Belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain 2) Belajar mengontrol tingkah laku sosial
3) Balajar mengembangkan ketrampilan, dan minat yang relevan dengan usianya
4) Belajar Saling bertukar perasaan dan masalah.
Peranan teman sebaya di atas akan dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut:
1) Belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain
Teman sebaya mengajarkan seorang individu untuk menjalin suatu hubungan dengan teman-teman dalam anggota kelompoknya. Dalam berteman mereka akan lebih mudah bergaul dan bersosialisasi karena mereka memiliki berbagai kesamaan, seperti usia, status sosial, dan minat serta tujuan. Seorang individu merasa sebagai bagian dari satu kesatuan kelompok yang memberikan peran bagi tiap-tiap anggotanya..
18
2) Belajar mengontrol tingkah laku sosial
Dalam berteman seorang anak akan lebih mudah dalam pengawasannya, karena tingkah laku setiap individu menunjukkan perilaku umum dari kelompoknya. Hal ini mempermudah orang tua maupun guru di sekolah dalam memberikan pengawasan pada mereka. Seorang anak yang melakukan penyimpangan atau membawa nama buruk dari kelompoknya sehingga kelompoknya akan memberikan tekanan dan peringatan pada anak tersebut.
3) Belajar mengembangkan ketrampilan, dan minat yang relevan dengan usianya
Dalam berteman seorang anak dapat mengembangkan ketrampilannya karena dalam kelompok tersebut banyak teman-teman yang mempunyai kegemaran yang sama. Dalam hal ini anak akan lebih mudah dalam mengembangkan ketrampilannya serta menumbuhkan minat yang relevan diantara teman sebayanya untuk menurunkan eksistensi dalam kelompoknya.
4) Belajar saling bertukar perasaan dan masalah.
Dalam berteman seorang anak lebih nyaman karena teman sebaya biasanya yang lebih mengerti akan dirinya dan persoalan yang dihadapi. Mereka saling bersama menumpahkan segala perasaan dan permasalahan hidup yang tidak dapat mereka ceritakan pada orang tua maupun gurunya. Kebersamaan inilah yang menyebabkan tali persahabatan antar anggota sangat kuat. Mereka tak segan-segan untuk menceritakan hal-hal yang
19
berhubungan dengan masalah yang dihadapinya, seperti masalah percintaan, persahabatan sampai dengan permasalahan keluarga.
Melalui interaksi dengan teman-teman sebaya, anak-anak dan remaja mempelajari modus relasi yang timbal-balik secara simetris. Bagi beberapa remaja, pengalaman ditolak atau diabaikan dapat membuat mereka merasa kesepian dan bersikap bermusuhan. Dari uraian tersebut maka dapat diketahui bahwa teman sebaya sebagai lingkungan sosial bagi remaja mempunyai peranan yang cukup penting bagi perkembangan kepribadiannya. Teman sebaya memberikan sebuah dunia tempat para remaja melakukan sosialisasi dalam suasana yang mereka ciptakan sendiri (Piaget dan Sullivan dalam Santrock, 2007).
d. Pengaruh Hubungan sosial Teman sebaya
Pada dasarnya manusia di samping sebagai makhuk individual juga sebagai makhhluk sosial. Dalam perkembangan sosialnya, anak juga dipengaruhi oleh perkembangan kepribadian dalam dirinya. Peer group berpengaruh dalam kehidupan pribadi seorang anak dan kelompoknya. Pengaruh perkembangan peer group meliputi dua hal yaitu pengaruh peer group terhadap kelompoknya dan pengaruh peer group terhadap individu dalam kelompok. Menurut Havinghurst dalam bukunya Slamet Santoso (2009:82), "Pengaruh perkembangan peer group mengakibatkan munculnya “in group’’ dan ''out group” dan adanya kelas-kelas sosial" terhadap kelompoknya. Pengaruh perkembangan peer group tersebut dijelaskan sebagai berikut :
20
1) Munculnya'In'dan'Out'Group
Pengaruh dari perkembangan peer group dalam lingkungan sosial adalah akan memunculkan kelompok atau teman sebaya yang mempunyai usia, status sosial, dan minat yang sama dalam kelompok tersebut, selain itu juga akan memunculkan kelompok atau teman sebaya yang mempunyai usia, status sosial, dan minat yang bcrbeda. Dalam pengaruh perkembangan peer group ini kelompok sebaya yang mempunyai usia, status sosial dan minat yang sama disebut dengan group yang berada di dalam kelompoknya ( in group) dan kelompok sebaya yang mempunyai usia, status sosial dan minat yang berbeda disebut group yang berada di luar kelompoknya (out group). Contoh yang mudah mengenai in dalam dan out group dapat dirasakan dalam suatu kelas, di mana seorang siswa akan mempunyai teman akrab yang berada dalam peer groupnya dan teman yang tidak akrab atau teman biasa yang berada di luar peer groupnya. Teman yang akrab tersebut dinamakan group dalam dan teman yang tidak akra atau teman biasa dinamakan group luar.
2) Muncul adanya kelas-kelas sosial
Pembentukan peer group sering kali didasarkan atas persamaan status sosial ekonomi seseorang, sehingga dapat digolongkan atas kelompok kaya dan kelompok miskin. Biasanya mereka yang miskin akan sulit diterima masuk dalam kelompok orang kaya, selain itu peer group juga berpengaruh terhadap kemampuan kreativitas dan kegemaran yang sama. Hal ini akan menimbulkan kelompok-kelompok dengan kreativitas dan kegemaran yang berbeda-beda Misalnya : seorang remaja yang gemar olah
21
raga akan membentuk kelompok sesuai dengan kegemarannya atau seseorang yang suka dengan melukis akan membentuk kelompok sesuai dengan kesukaannya yaitu melukis.
Menurut Slamet Santoso (1999:89), "Pengaruh dari perkembangan peer group terhadap individu dalam kelompok ada yang positif dan ada yang negatif”. Hal tersebut diuraikan lebih lanjut sebagai berikut:
1) Pengaruh positif dari peer group adalah :
a) Apabila seorang anak berkembang bersama dengan lingkungan maka mereka akan lebih mudah dalam perkembangan sosialisasinya yang lebih luas.
b) Dalam pertemanan seorang individu akan terbentuk rasa solidaritas yang cukup kuat dengan anggota dalam kelompoknya.
c) Bila individu masuk dalam peer group, maka setiap anggota akan dapat membentuk suatu masyarakat yang direncanakan karena mereka dapat membedakan dan menyaring kebudayaan yang bertentangan dengan kelompoknya.
d) Setiap anggota dapat berlatih memperoleh pengetahuan, kecakapan dan melatih bakatnya.
e) Dalam pertemanan akan mendorong setiap anggota untuk lebih mandiri karena mereka dapat mengaktualisasikan dirinya lebih luas dalam kelompoknya
f) Dalam pertemanan setiap anggota dapat mengeluarkan pendapatnya dan perasaannya tentang hubungan antar anggota dan tentang kelompoknya.
22
2) Pengaruh negatif dari teman sebaya adalah :
a) Sulit menerima seseorang dari luar kelompok yang tidak mempunyai kesamaan.
b) Tertutup bagi individu lain yang tidak termasuk anggota dari kelompoknya.
c) Menimbulkan rasa iri pada anggota satu dengan anggota yang lain yang tidak memiliki kesamaan dengan dirinya.
d) Timbulnya persaingan antar anggota kelompok ataupun dengan kelompok lain.
e) Pertentangan antar teman sebaya, misalnya: antara kelompok kaya dengan kelompok miskin.
3. Pilihan Melanjutkan Pendidikan