• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

7. verb + adverb

2.3. Pengertian Terjemahan

Terjemahan menurut Munday (2001:5) adalah peralihan bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran dalam bentuk teks tulis. ....as changing of an original written text in the original verbal language into a written text in a different verbal language.

Terkait dengan perihal ekivalensi yang ditetapkan sebagai suatu kata kunci, Catford (1965: 20-21). mendefinisikan penerjemahan sebagai penempatan (replacement) teks bahasa sumber dengan teks yang ekivalen dalam bahasa sasaran.

The replacement of textual material in one language (SL) by equivalent textual material in another language (TL) and the term equivalent is a clearly a key term Meskipun sangat jarang terdapat padanan suatu kata dalam bahasa sumber yang sama dengan arti dalam bahasa sasaran, namun keduanya dapat berfungsi secara ekivalen pada saat keduanya dapat saling dipertukarkan (interchangeable).

Berdasarkan ketiga definisi mengenai penerjemahan tersebut di atas, terlihat adanya kesepakatan bahwa penerjemahan adalah suatu pekerjaan yang menyangkut keterkaitan antara dua bahasa atau lebih (multy-language) yang menekankan suatu kesamaan yakni adanya ekivalensi. Dalam penerjemahan, yang kemudian terjadi adalah transfer makna dari bahasa sumber (source language) ke bahasa sasaran (sasaran language) dengan keakuratan pesan, keterbacaan, dan keberterimaan produk (Nababan 2010).

Pandangan para ahli yang lain mengungkapkan Translation is made possibly by an equivalence of thought that lies behind its different verbal expressions. (Savory, 1969:13) (Terjemahan itu mungkin dibuat dengan kesamaan ide yang ada dibalik ungkapan verbalnya yang berbeda). Translation consists of reproducing in the receptor language the closest natural equivalence of the source language message, first in terms of meaning and secondly in terms of style. (Nida and Taber, 1982) (Terjemahan menghasilkan padanan natural yang paling dekat dari pesan bahasa sumber ke dalam bahasa penerima, pertama dari segi makna dan kedua dari segi gaya).

Translation is a process of finding a TL equivalent for a SL utterance. (Pinchuck, 1977:38) (Terjemahan adalah sebuah proses untuk menemukan padanan bahasa sasaran dengan pernyataan bahasa sumber). Translation is the rendering of a source language (SL) text into the target language (TL) so as to ensure that (1) the surface meaning of the two will be approximately similar and (2) the structure of the SL will be preserved as closely as possible, but not so closely that the TL structures will be seriously distorted (Mc.Guire,1980:2). (Terjemahan adalah mengartikan teks bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran dengan tujuan untuk (1) meyakinkan bahwa makna luar dari kedua bahasa sama dan (2) menyakinkan bahwa susunan dari bahasa sumber dipertahankan sedekat mungkin, namun tidak terlalu dekat hingga menjadikan susunan bahasa sasaran menjadi sangat tidak jelas). Translation is a craft consisting in the attempt to replace a written message and/or statement in one language by the same message and/or statement in another language. (Newmark, 1981:7) (Terjemahan yaitu suatu keahlian yang meliputi usaha mengganti pesan atau pernyataan tertulis dalam suatu bahasa dengan pesan atau pernyataan yang sama dalam bahasa lain).

Bell (1993:5), translating the definition of translation according to Dubois, states that Translation is the expression in another language (or target language) of what has been expressed in another, source language, preserving semantic and stylistic equivalences. (Bell 1993:5), menerjemahkan pengertian terjemahan menurut Dubois, menyatakan bahwa terjemahan adalah ekspresi dari bahasa sumber dari apa yang

diekspresikan dari bahasa sasaran, dengan mempertahankan kesepadanan semantik dan stylistiknya).

Translation is the general term referring to the transfer of thoughts and ideas from one language (source) to another (target), whether the languages are in written or oral form; whether the languages have established orthographies or do not have such standardization or whether one or both languages is based on signs, as with sign languages of the deaf (Brislin, 1976) (Terjemahan adalah istilah umum yang mengacu pada pengalihan pikiran dan ide dari bahasa sumber ke bahasa sasaran, baik bahasa tulis atau lisan; baik salah satu atau keduanya membentuk ortografi atau tidak mempunyai standar seperti itu; atau baik salah satu atau keduanya berbentuk tanda seperti bahasa orang tuli).

Translation is a transfer process which aims at the transformation of a written SL text into an optimally equivalent TL text, and which requires the syntactic, the systematic and the pragmatic understanding and analytical processing of the SL (Wilss and Noss, 1982) (Terjemahan adalah proses pengalihan yang bertujuan mengubah teks tertulis bahasa sumber menjadi teks bahasa sasaran yang sepadan, yang membutuhkan pemahaman sintaksis, sistematis, dan pragmatis serta pengolahan analisa bahasa sumber).

I see translation as the attempt to produce a text so transparent that it does not seem to be translated. (Venuti, 1991:1) (Saya memahami terjemahan sebagai sebuah usaha untuk menghasilkan suatu teks yang transparan sehingga teks tersebut tidak kelihatan sebagai terjemahan).

Demikian beberapa penjelasan mengenai definisi terjemahan menurut para ahli yang dipandang dari perspektif yang agak berbeda namun masih relevan dengan translasi sebagai penggunaan interpretatif bahasa (interpretative use of language), Ernst dan Gutt memberi pengertian penerjemahan sebagai suatu upaya yang dimaksudkan untuk pernyataan ulang (restate) apa yang telah dinyatakan atau dituliskan oleh seseorang dalam suatu bahasa ke dalam bahasa lainnya.

The translation is intended to restate in one language what someone else said or wrote in another language. (Ernst & Gutt dalam Hickey, 1998:46).

Terkait dengan perihal makna, Larson (1984:3) mendefinisikan penerjemahan sebagai pengalihan makna dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran melalui tiga langkah pendekatan, yakni: 1) mempelajari leksikon, struktur gramatikal, situasi komunikasi, dan konteks budaya dari teks bahasa sumber; 2) menganalisis teks bahasa sumber untuk menemukan maknanya; dan 3) mengungkapkan kembali makna yang sama dengan menggunakan leksikon dan struktur gramatikal yang sesuai dalam bahasa sasaran.

Adakah keterkaitan antara penerjemahan dengan seni? Dalam hal ini Bell juga mengemukakan suatu pandangan mengenai status proses penerjemahan sebagai suatu ilmu pengetahuan atau suatu seni. Keduanya mengarah pada dua hal berbeda; di mana ilmu pengetahuan (science) adalah identik dengan objektivitas, sementara seni (art) cenderung merujuk pada sesuatu yang tidak objektif (not amenable to objective).

Terlepas dari nilai seni dan ilmu pengetahuan, Bell menegaskan pengertian penerjemahan yang hampir sama dengan Catford, yakni penerjemahan sebagai suatu

bentuk pengungkapan suatu bahasa dalam bahasa lainnya sebagai bahasa sasaran, dengan mengedepankan semantik dan ekivalensi. Translation is the expression in another language (or sasaran language) of what has been expressed in another, source language, preserving semantic and stylistic equivalences. (Bell, 1991:4-5).

Berdasarkan beberapa definisi mengenai penerjemahan tersebut di atas, terlihat adanya kesepakatan bahwa penerjemahan merupakan suatu kegiatan yang menyangkut keterkaitan antara dua bahasa atau lebih (multy-language) yang kemudian adanya transfer makna dari bahasa sumber (SL) ke bahasa sasaran (TL) dengan keakuratan pesan, keterbacaan, dan keberterimaan yang akan bermuara pada produk terjemahan yang baik, sebagaimana dikemukakan Halliday dalam Steiner (2001:17) bahwa terjemahan yang baik adalah suatu teks yang merupakan terjemahan ekivalen terkait dengan fitur-fitur linguistik yang bernilai dalam konteks penerjemahan. A good translation is a text which is a translation (i.e.is equivalent) in respect of those linguistic feautures which are most valued in the given transalation.

2.3.1. Jenis-jenis Terjemahan

Pada dasarnya terjemahan dapat dibedakan ke dalam tiga jenis:

(1) terjemahan intralingual atau rewording, yakni interpretasi tanda verbal dengan menggunakan tanda lain dalam bahasa yang sama;

(2) terjemahan interlingual atau translation proper, merupakan interpretasi tanda verbal dengan menggunakan bahasa (bahasa-bahasa) lain; dan

(3) terjemahan intersemiotik atau transmutation, yakni interpretasi tanda verbal dengan tanda dalam sistem tanda non-verbal (Jakobson dalam Venuti, 1995).

Tipe penerjemahan pertama atau intralingual menyangkut proses menginterpretasikan tanda verbal dengan tanda lain dalam bahasa yang sama. Dalam penerjemahan tipe yang kedua (interlingual translation) tidak hanya menyangkut mencocokkan/membandingkan simbol, tetapi juga padanan kedua simbol dan tata aturannya atau dengan kata lain mengetahui makna dari keseluruhan ujaran.

Terjemahan tipe ketiga yakni transmutation, menyangkut pengalihan suatu pesan dari suatu jenis sistem simbol ke dalam sistem simbol yang lain seperti lazimnya dalam Angkatan Laut Amerika suatu pesan verbal bisa dikirimkan melalui pesan bendera dengan menaikkan bendera yang sesuai dalam urutan yang benar (Nida, 1964:4).

Jenis terjemahan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah terjemahan interlingual atau translation proper.

Sementara Larson dalam Choliluddin (2005:22) mengklasifikasi terjemahan dalam dua tipe utama, yakni :

1. terjemahan berdasarkan bentuk (Form-based translation) 2. terjemahan berdasarkan makna (Meaning-based translation).

Terjemahan berdasarkan bentuk, cenderung mengikuti bentuk bahasa sumber yang dikenal dengan terjemahan harfiah, sementara terjemahan berdasarkan makna cenderung mengkomunikasikan makna teks bahasa sumber dalam bahasa sasaran secara alami. Terjemahan tersebut dikenal dengan terjemahan idiomatik.

2.3.2. Kesepadanan (Ekivalensi) dalam Penerjemahan

Bentuk satu bahasa dengan bahasa lainnya tidaklah selalu sama. Oleh sebab itulah, seorang penerjemah harus dapat mencari kesepadanan (ekivalensi) dalam penerjemahan. Catford menyatakan “the central problem of translation is that of finding translation equivalence”. Menurut Catford, permasalahan utama yang ditemui penerjemah dalam proses penerjemahan adalah untuk mencari kesepadanan bahasa sumber dengan bahasa sasaran.

Yusuf, seorang ahli bahasa dari Indonesia yang sependapat dengan Catford, mengemukakan bahwa kesepadanan (equivalence) harus diartikan secara luas.

Kesepadanan tidak hanya menyangkut padanan formal bahasa berupa padanan kata per kata, frase per frase, ataupun kalimat per kalimat, melainkan juga padanan makna, baik makna denotatif, makna konotatif, atau makna kiasan (figurative meaning). Hal yang paling penting untuk diingat adalah bahwa kesepadanan bukanlah kesamaan.

Seorang penerjemah seringkali melakukan banyak ubahan bentuk dengan tetap menjaga agar maknanya sepadan. Makna yang disampaikan dalam teks bahasa sumber harus sepadan dengan makna yang disampaikan dalam bahasa sasaran, seperti yang diungkapkan Nida dan Taber (1969:24) : “dynamic equivalence is therefore to be defined in terms of the degree to which the receptors of the message in the receptor language respond to it in substantially the same manner as the receptors in the source language”.

Pada kutipan di atas Nida dan Taber mengungkapkan bahwa teks dapat disebut sepadan apabila pembaca bahasa sasaran dapat menangkap maksud yang sama dengan pembaca teks bahasa sumber.

Untuk dapat mencapai kesepadanan, seorang penerjemah harus memahami apa maksud pengarang saat menulis teks tersebut, bagaimana gaya penulis dan budaya yang diikuti penulis. Dengan demikian, penerjemah dapat mencari kesepadanan dalam menerjemahkan teks bahasa sumber ke bahasa sasaran.

Lebih jauh lagi mengenai kesepadanan ini, Catford (1969:49) menyatakan “the source language and target language items rarely have ‘the same meaning’ in the linguistic sense; but they can function in the same situation”. Dari pernyataan tersebut dapat kita simpulkan bahwa meskipun kata-kata dalam bahasa sumber dan bahasa sasaran memiliki ‘arti’ yang berbeda dalam linguistik, tapi kata-kata tersebut bisa menjadi sepadan dalam situasi tertentu. Oleh karena itu, dalam penerjemahan banyak dilakukan penyesuaian - penyesuaian untuk kesepadanan. Penerjemah terkadang harus banyak melakukan perubahan bentuk untuk tetap menjaga agar maknanya sepadan.

Dokumen terkait