• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I : PENDAHULUAN

E. Tinjauan Kepustakaan

3. Pengertian tindak pidana dan pertanggungjawaban pidana

Konsep tindak pidana24

Perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barangsiapa yang melanggar larangan tersebut.

telah dirumuskan oleh banyak ahli hukum pidana. Antara konsep yang satu dengan yang lain yang mereka kemukakan memiliki kesamaan substansi, tapi ada juga yang berbeda makna dan implikasi hukumnya. Di bawah ini dikemukakan konsep tindak pidana oleh Moeljatno, Roeslan Saleh, Wirjono Prodjodikoro, Simons, Komariah Emong Supardjadja, Sutan Remy Sjahdeini, dan Indrianto Seno Adji, sekadar untuk mengetahui keragaman konsep tersebut.

Moeljatno mengartikan tindak pidana sebagai :

25

Pada kesempatan yang lain, beliau juga mengemukakan dengan substansi yang sama bahwa tindak pidana adalah “perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana, barangsiapa melanggar larangan tersebut”. Roeslan Saleh mengemukakan pendapatnya mengenai pengertian tindak pidana, yaitu “sebagai perbuatan yang oleh aturan hukum pidana dinyatakan sebagai perbuatan yang dilarang.26

24 Dalam tulisan ini istilah tindak pidana dan perbuatan pidana tidak dibedakan untuk

alasan praktis, walaupun kedua istilah itu memiliki perbedaan signifikan. Istilah tindak pidana menunjuk pada suatu sikap manusia yang bersifat aktif. Sedangkan istilah perbuatan pidana lebih menunjuk kepada sikap yang diperlihatkan seseorang baik aktif maupun pasif.

25 Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, cet. Kedelapan, Edisi Revisi, Rineka Cipta,

Jakarta, 2008, hlm. 59.

26 Roeslan Saleh, Tindak Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana : Dua Pengertian

Wirjono Prodjodikoro mengartikan tindak pidana sebagai suatu perbuatan yang pelakunya dapat dikenai hukuman pidana.27 Sedangkan, Simons merumuskan “Strafbaar feit” sebagai berikut :28

1. Untuk adanya suatu strafbaar feit itu disyaratkan bahwa di situ harus terdapat suatu tindakan yang dilarang ataupun yang diwajibkan oleh undang-undang, dimana pelaggaran terhadap larangan atau kewajiban semacam itu telah dinyatakan sebagai suatu tindakan yang dapat dihukum;

Suatu tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak dengan sengaja oleh seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakannya dan yang oleh undang-undang telah dinyatakan sebagai suatu tindakan hukum.

Menurut Simons terdapat 3 (tiga) alasan mengapa pengertian strafbaar feit dirumuskan seperti di atas, yaitu :

2. Agar sesuatu tindakan itu dapat dihukum, maka tindakan tersebut harus memenuhi semua unsur dari delik seperti yang dirumuskan di dalam undang-undang; dan

3. Setiap strafbaar feit sebagai pelanggaran terhadap larangan atau kewajiban menurut undang-undang itu, pada hakikatnya merupakan suatu tindakan melawan hukum atau merupakan “onrechtmatige handeling”.

Konsep tindak pidana juga dikemukakan oleh Komariah Emong Supardjadja, yakni “suatu perbuatan manusia yang memenuhi rumusan delik,

27 Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia, Edisi Ketiga, Cet.

Pertama, Refika Aditama, Bandung, 2003, hlm. 59

28 P.A.F. Lamintang, Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, Cet. Ketiga, PT Citra Aditya

melawan hukum dan pembuat bersalah melakukan perbuatan itu”.29

Perilaku (conduct) yang oleh undang-undang pidana yang berlaku (hukum pidana positif) telah diskriminalisasi da oleh karena itu dapat dijatuhi sanksi pidana bagi pelakunya.

Sedangkan Sutan Remy Sjahdeini mendefinisikan tindak pidana sebagai :

30

Terakhir, tindak pidana dirumuskan oleh Indrianto Seno Adji sebagai “perbuatan seseorang yang diancam pidana, perbuatannya bersifat melawan

hukum, terdapat suatu kesalahan dan bagi pelakunya dapat

dipertanggungjawabkan atas perbuatannya”.31

Bila dikaji, konsep tindak pidana yang dikemukakan oleh ahli hukum pidana di atas mengarah kepada dua hal, yaitu yang memisahkan antara tindak pidana dan pertanggungjawaban pidana, dan yang mencampur antara tindak pidana. Konsep tindak pidana oleh Moeljatno, Roeslan Saleh, Wirjono Prodjodikoro, dan Sutan Remy Sjahdeini secara tegas memisahkan antara tindak pidana dan pertanggungjawaban pidana. Tindak pidana adalah satu hal, sedangkan pertanggungjawaban pidana merupakan hal lain. Seseorang yang terbukti melakukan tindak pidana tidak secara otomatis harus dijatuhi sanksi pidana atau sanksi tindakan, karena hal itu bergantung kepada apakah orang tersebut memiliki kesalahan atau pertanggungjawaban pidana. Namun demikian antara tindak pidana dan pertanggungjawaban pidana merupakan dua konsep yag sangat sentral

29 Mahrus Ali, Asas-Asas Hukum Pidana Korporasi, Cet. Kedua, PT Raja Grafindo

Persada, Jakarta, 2015, hlm. 53. 30 Ibid.

dan saling terkait dalam hukum pidana, tindak pidana tidak akan memiliki banyak arti tanpa kehadiran pertanggungjawaban pidana, demikian juga sebaliknya.32

Pada sisi lain, konsep tindak pidana yang dirumuskan oleh Simons, Komariah Emong Supardjadja, dan Indrianto Seno Adji tidak memisahkan atau bahkan mencampur aduk antara tindak pidana dan pertanggungjawaban pidana. Hal ini terlihat dari digunakannya kata “sengaja”, “bersalah”, dan “kesalahan” dalam membangun rumusan konsep tindak pidana. Padahal secara teoritis kesalahan tidak terkait dengan tindak pidana, tapi berhubungan dengan pertaggungjawaban pidana. Implikasinya, seseorang bisa dijatuhi pidana cukup dengan terbuktinya tindak pidana yang dilakukan orang itu, tanpa perlu membuktikan apakah pada diri orang itu terdapat kesalahan atau tidak.33

Tindak pidana adalah tindakan yang dinilai melanggar ketentuan KUHP. Maksudnya ialah dimana bila ada seseorang melakukan tindakan melanggar hukum maka orang tersebut dapat dikenai salah satu Pasal dalam KUHP, yang dimaksud pelanggaran adalah tindakan menurut hukum yang berlaku tidak boleh dilakukannya misalnya melakukan tindakan penadahan. Dapat dimengerti apa yang dimaksudkan dengan istilah “tindak pidana” atau dalam bahasa Belanda strafbaar feit yang sebenarnya istilah resmi dalam Strafwetboek atau Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang sekarang berlaku Indonesia, ada istilah dalam bahasa lain yaitu delict. Tindak pidana berarti suatu perbuatan yang pelakunya dapat dikenakan hukuman pidana. Dan pelaku ini dapat dilakukan merupakan “subyek” tindak pidana Berbicara tentang subjek tindak pidana,

32 Ibid,. hlm. 54 33 Ibid.

pikiran selanjutnya diarahkan kepada wujud perbuatan sebagai unsur tindak pidana. Wujud dari perbuatan ini pertama-tama harus dilihat pada perumusan tindak pidana dalam pasal-pasal tertentu dari perbuatan pidana. Perumusan ini dalam bahasa Belanda dinamakan delicts-omschrijving.34

Didalam peraturan perundang – undangan di Indonesia tidak ditemukan definisi tindak pidana. Pengertian tindak pidana yang dipahami selama ini merupakan kreasi teoritis para ahli hukum.

35

Para ahli hukum pidana umumnya masih memasukkan kesalahan sebagai bagian dari pengertian tindak pidana. Demikian dengan apa yang didefinisikan oleh simons dan van hamel. Simons mengatakan strafbaarfeit itu adalah kelakuan yang diancam dengan pidana, bersifat melawan hukum, dan berhubungan dengan kesalahan yang dilakukan oleh orang yang mampu bertanggungjawab.36 Sedangkan Van Hamel mengatakan bahwa strafbaarfeit itu adalah kelakuan orang yang dirumuskan dalam Undang -undang, bersifat melawan hukum, patut dipidana dan dilakukan dengan kesalahan.37

Dalam hukum pidana di Indonesia, sebagaimana di Negara – Negara civil law lainnya, tindak pidana umumnya dirumuskan dalam kodifikasi. Namun demikian, sejauh ini tidak terdapat ketentuan dalam KUHP maupun peraturan perundang - undangan lainnya, yang merinci lebih lanjut mengenai cara bagaimana merumuskan suatu tindak pidana. Tindak pidana berisi larangan

34 Wirjono Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia, PT.Eresco, Bandung,

2000, hlm. 55-56

35 Chairul Huda, Dari tiada pidana tanpa kesalahan menuju tiada pertanggungjawaban

pidana tanpa kesalahan, Prenada Media Grup, Jakarta, 2008, hlm. 26

36 S.R. Sianturi, Asas – Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya, Alumni

Ahaem-Pthaem, Jakarta, 1986, hlm. 205 37 Ibid.

terhadap perbuatan. Dengan demikian, pertama - tama suatu tindak pidana berisi larangan terhadap kelakuan - kelakuan tertentu. Tindak pidana berisi rumusan tentang akibat - akibat yang terlarang untuk diwujudkan.38

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ”tanggung jawab” adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatu (kalau terjadi apa-apa, boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan dan sebagainya). Pidana adalah kejahatan (tentang pembunuhan, perampokan, dsb)39. Hal pertama yang perlu diketahui mengenai pertanggungjawaban pidana adalah bahwa pertanggungjawaban pidana hanya dapat terjadi jika sebelumnya seseorang telah melakukan tindakan pidana. Moeljatno mengatakan, orang tidak mungkin dipertanggungjawabkan (dijatuhi pidana) kalau tidak melakukan perbuatan pidana40

Pertanggungjawaban pidana ditentukan berdasar pada kesalahan pembuat (liability based on fault), dan bukan hanya dengan dipenuhinya seluruh unsur suatu tindak pidana. Dengan demikian, kesalahan ditempatkan sebagai factor penentu pertanggungjawaban pidana dan tidak hanya dipandang sekedar unsur mental dalam tindak pidana. Setiap sistem hukum modern mengadakan pengaturan tentang bagaimana mempertanggungjawabkan orang yang telah melakukan tindak pidana. Baik di Negara - Negara civil law maupun common law, umumnya pertanggungjawaban pidana dirumuskan secara negatif. Hal ini berarti, dalam hukum pidana di Indonesia, sebagaimana sistem civil law lainnya, Undang . Dengan demikian, pertanggungjawaban pidana pertama-tama tergantung pada dilakukannya tindak pidana.

38 Chairul Huda, Op.Cit, Hal. 31

39 Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, Balai Pustaka, Jakarta 1991, hlm. 1006

- undang justru merumuskan keadaan - keadaan yang dapat menyebabkan pembuat tidak dipertanggungjawabkan.41 Dengan demikian, yang diatur adalah keadaan - keadaan yang dapat menyebabkan pembuat tidak dipidana, yang untuk sebagian adalah alasan penghapus kesalahan. Sedangkan dalam praktik peradilan di negara–negara common law, diterima berbagai alasan umum pembelaan (General Defence) ataupun alasan umum peniadaan pertanggungjawaban (general excusing liability).42

Pertanggungjawaban pidana dipandang ada, kecuali ada alasan alasan penghapus pidana tersebut. Dengan kata lain, criminal liability dapat dilakukan sepanjang pembuat tidak memiliki ‘defence’, ketika melakukan suatu tindak pidana. Dalam lapangan acara pidana hal ini berarti seorang terdakwa dipandang bertanggungjawab atas tindak pidana yang dilakukannya, jika tidak dapat membuktikan bahwa dirinya mempunyai ‘defence’ ketika melakukan tindak pidana itu. Untuk menghindari pengenaan pidana, terdakwa harus dapat membuktikan bahwa dirinya mempunyai alasan penghapus pidana ketika melakukan tindak pidana.43

Selanjutnya tidak ada gunanya untuk mempertanggungjawabkan terdakwa atas perbuatannya apabila perbuatannya itu sendiri tidaklah bersifat melawan hukum, maka dapat dikatakan bahwa terlebih dahulu harus ada kepastian tentang adanya perbuatan pidana, dan kemudian semua unsur-unsur kesalahan harus dihubungkan pula dengan perbuatan pidana yang dilakukan, sehingga untuk adanya kesalahan yang mengakibatkan dipidananya terdakwa maka haruslah:

41 Andi Zainal Abidin, Hukum Pidana 1, Sinar Grafika, Jakarta, 1983, hlm. 260

42 Chairul Huda, Op.Cit, hlm. 63

a. Melakukan perbuatan pidana b. Mampu bertanggung jawab c. Dengan sengaja atau kealpaan d. Tidak adanya alasan pemaaf

Dokumen terkait