• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENGATURAN TERHADAP TINDAK PIDANA

A. Pengertian Tindak Pidana Lingkungan Hidup

Ketentuan pidana sebagaimana diatur dalam UUPPLH dimaksudkan untuk melindungi lingkungan hidup dengan memberikan ancaman sanksi pidana. Untuk membahas tindak pidana lingkungan tersebut perlu diperhatikan konsep dasar tindak pidana lingkungan hidup.

Pengertian tindak pidana lingkungan sebagaimana diatur dalam pasal 98 UUPPLH sampai pasal 115 UUPPLH, melalui metode konstruksi hukum dapat diperoleh pengertian bahwa inti dari tindak pidana lingkungan adalah mencemarkan atau merusak lingkungan. Rumusan ini dikatakan sebagai rumusan umum dan selanjutnya dijadikan dasar untuk menjelaskan perbuatan pidana lainnya yang bersifat khusus, baik dalam ketentuan dalam UUPPLH maupun dalam ketentuan undang-undang lain diluar UUPLH yang mengatur perlindungan hukum pidana bagi lingkungan hidup. Kata “mencemarkan” dengan

“pencemaran” dan “merusak” dengan “perusakan” adalah memiliki makna substansi yang sama, yaitu tercemarnya atau rusaknya lingkungan. Tetapi keduanya berbeda dalam memberikan penekanan mengenai suatu hal, yakni

dengan kalimat aktif dan dengan kalimat pasif dalam proses menimbulkan akibat.22

Tindak pidana lingkungan hidup merupakan tindak pidana khusus. Itu diterangkan dalam bukunya Andi Hamzah, menerangkan dengan mengutip berbagai pendapat sebagai berikut. Menurut Pompe, menyatakan terdapat dua kriteria yang menunjukan hukum pidana khusus itu yaitu orang-orang yang khusus dan perbuatannya yang khusus (bijzonder lijk feiten). Selain itu ditunjuk pula pasal 103 KUHP sebagai patokan, apabila ketentuan Undang-Undang (diluar KUHP) banyak yang menyimpang dari ketentuan umum hukum pidana, maka itu merupakan hukum pidana khusus. Dengan demikian bukan hanya materielnya saja yang menyimpang dari ketentuan umum hukum pidana, tetapi juga hukum formilnya.23

Bila kita lihat dari penjelasan pengertian tindak pidana lingkungan hidup diatas kita dapat menyimpulkan bahwa tindak pidana lingkungan hidup terbagi dua yaitu pencemaran lingkungan hidup dan perusakan lingkungan hidup.

1. Pencemaran lingkungan hidup

Sebelum adanya UUPPLH maupun setelah adanya UUPPLH, para ahli banyak berpendapat mengenai apa yang dimaksud dengan pencemaran, dan sejak kapan terjadinya pencemaran. Diantaranya N.H.T Siahan, SH dalam bukunya :

22 Perhatikan juga, Mudzakir, “Aspek Hukum Pidana Dalam Pelanggaran Lingkungan”, dalam Erman Rajagukguk dan Ridwan Khairandy (ed), 2001, Hukum Lingkungan Hidup di Indonesia, 75 tahun Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri, Sh.,ML., hal. 527, Universitas Indonesia, Jakarta.

23 Syahrul Mahmud, “Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia”, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012, hlm. 135.

Ekologi Pembangunan dan Hukum Tata Lingkungan; menyatakan bahwa suatu lingkungan dapat disebut sudah tercemar apabila memiliki unsur-unsur: 1. Kalau suatu zat, organisme atau unsur-unsur yang lain (seperti gas, cahaya, energi) telah tercampur (terintroduksi) kedalam sumber daya / lingkungan tertentu; dan 2.

Karenanya menghalangi/mengurangi fungsi atau peruntukan dari pada sumber daya lingkungan tersebut.24

Dalam Bab I Ketentuan Umum Undang-undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup telah disebutkan pengertian dari pencemaran lingkungan hidup yaitu :

Pasal 1 ke-1425

“Pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan/ atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan.”

Pengertian pencemaran lingkungan hidup menurut pasal 1 ke-14 mengandung unsur-unsur sebagai berikut:26

1) Masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan;

2) Dilakukan oleh kegiatan manusia;

24 Syamsul Arifin dan M. Hamdan, “Sanksi Pidana Terhadap Badan Hukum Pencemaran Lingkungan”, Medan: USU Press, hlm. 96.

25 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140 pasal 59).

26 Alvi syahrin, “Ketentuan Pidana Dalam UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup”, Jakarta: Sofmedia, 2011, hlm. 36.

3) Menimbulkan penurunan “kualitas lingkungan” sampai pada tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.

Dengan adanya penjelasan dari unsur-unsur pencemaran lingkungan yang ditetapkan secara tegas dalam pasal UUPPLH tersebut diatas, ada beberapa pihak yang menilai bahwa perumusan tersebut kurang tepat. Diantaranya ada yang menilai bahwa perumusan tersebut agak lemah, karena hanya mengatur perkara lingkungan hidup yang “over aktif” saja, yaitu hanya mengaitkan pada pencemaran dan perusakan lingkungan sehingga kurang menjangkau luas kepentingan lingkungan hidup.

Namun dapat kita lihat bahwa dari pengertian pencemaran lingkungan hidup menyinggung mengenai melampaui batas baku mutu lingkungan hidup.

Pengertian baku mutu sendiri dapat kita lihat dalam Pasal 1 angka 13 UUPPLH-2009 yang menjelaskan bahwa baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang tenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup. Dari pengertian baku mutu lingkungan hidup tersebut dapat kita tarik kesimpulan bahwa setiap kegiatan manusia yang telah melewati batas mutu lingkungan hidup maka akan menimbulkan pencemaran lingkungan hidup.

2. Perusakan lingkungan hidup

Sama hal nya dengan pencemaran lingkungan hidup, pengertian perusakan lingkungan hidup juga dicantumkan dalam Bab I Ketentuan Umum Undang undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yaitu:

Pasal 1 ke-1627

“Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan orang yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung, terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup sehingga melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup.”

Adapun unsur-unsur “perusakan lingkungan hidup”

Sebagaimana terkandung dalam pasal 1 angka 16 Undang-undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, yaitu:

1) Adanya tindakan ; 2) Menimbulkan:

- Perubahan langsung atau;

- Tidak langsung terhadap sifat fisik dan/atau hayati lingkungan;

3) Melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup.28

Dari penjelasan pengertian perusakan lingkungan hidup diatas dapat kita ketahui bahwa perusakan lingkungan hidup merupakan tindakan manusia yang menimbulkan perubahan terhadap lingkungan hidupyang melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. Adapun pengertian kriteria lingkungan hidup tertera dalam pasal1 angka 15 UUPPLH-2009, kriteria baku kerusakan lingkungan hidup adalah ukuran batas perubahan sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan

27 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140 pasal 59)

28 Alvi Syahrin, Op.cit, hlm. 38.

hidup yang dapat ditenggang oleh lingkungan hidup untuk dapat tetap melestarikan fungsinya. Adapun contoh dari perusakan lingkungan hidup seperti penebangan pohon tanpa mengikuti peraturan yang akan menimbulkan kerusakan pada hutan.

Rusak berarti sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi sebagaimana fungsi sebenarnya, dengan rusaknya lingkungan mengandung makna bahwa lingkungan itu semakin berkurang kegunaannya.29 Disadari atau tidak perusakan lingkungan sudah banyak dan dapat diantisipasi dengan mata telanjang, banyak pula polusi yang belum nampak dampaknya terhadap lingkungan namun sudah dapat diantisipasi apa yang bakal terjadi apabila keadaan demikian dibiarkan berlarut-larut.

Pada dasarnya setiap kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh perbuatan manusia dapat dikembalikan kepada manusianya sebagai pertanggungjawaban, namun kerusakan lingkungan bukannya terjadi saat perbuatan itu dilakukan dan kerusakan ini baru dapat terjadi/terasa dalam kehidupan setelah tenggang waktu lama dilalui dari saat perbuatan yang berdampak kerusakan itu dilakukan. Sehingga apabila akan membuktikan setelah terjadinya kerusakan itu, siapa yang melakukan sulit untuk dilacak kembali, tetapi dengan klausula perbuatan yang dapat mengakibatkan kerusakan atau tidak

29 P Joko Subagyo, “Hukum Lingkungan, Masalah dan Penanggulangannya”, cetakan keempat, Jakarta: Rineka Cipta, 2005, hlm. 22.

berfungsinya kembali sebagaimana mestinya, maka saat ada perbuatan dapat ditinjau untuk dimintai pertanggungjawaban.30

B. Pengaturan Mengenai Tindak Pidana Lingkungan Hidup Yang Tidak

Dokumen terkait