HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Tindak Pidana Pembunuhan Berencana
1. Pengertian Tindak Pidana Pembunuhan Berencana
Pembunuhan dengan rencana lebih dulu atau disingkat ‘pembunuhan berencana,’ adalah pembunuhan yang paling berat ancaman pidananya dari seluruh bentuk kejahatan terhadap nyawa manusia, diatur dalam Pasal 340 KUHP. Adapun hal yang membedakan antara pembunuhan biasa dan pembunuhan berencana ini adalah di dalam pelaksanaan menghilangkan nyawa orang lain. Di dalam pembunuhan biasa (diatur dalam Pasal 338 KUHP) dilakukan seketika pada waktu timbul niat, sedangkan pada pembunuhan berencana (diatur pada Pasal 340 KUHP) pelaksanaan tindak pidana itu ditangguhkan setelah niat itu timbul yaitu untuk mengatur rencana ataupun untuk menentukan cara bagaimana tindak pidana (pembunuhan) tersebut akan dilaksanakan. Jarak waktu antara timbulnya niat dan pelaksanaan pembunuhan itu masih demikian luang, sehingga pelaku masih dapat berfikir, apakah pembunuhan itu diteruskan atau dibatalkan, atau pula merencanakan dengan cara bagaimana ia melakukan pembunuhan itu.51
Perbedaan lainnya terletak pada apa yang terjadi di dalam diri si pelaku sebelum pelaksanaan menghilangkan jiwa seseorang (kondisi pelaku). Untuk pembunuhan berencana diperlukan waktu berfikir secara tenang bagi pelaku, sedangkann pada pembunuhan biasa, pengambilan putusan untuk menghilangkan jiwa seseorang dan pelaksanaannya merupakan suatu kesatuan.
51 Hasil wawancara dengan Tiazara Lenggogeni, SH. sebagai Penuntut Umum terhadap perkara pembunuhan dengan Nomor Putusan: 246/Pid.B/2011/PN.Jkt.Sel. tanggal 6 Juli 2011.
Pada pembunuhan berencana kedua hal tersebut terpisah oleh suatu jangka waktu yang diperlukan pelaku guna berfikir secara tenang tentang pelaksanaannya dan juga waktu untuk berfikir ataupun kesempatan guna membatalkan pelaksanaannya. Direncanakan terlebih dulu memang terjadi pada seseorang dalam suatu keadaan di mana mengambil putusan untuk menghilangkan jiwa seseorang ditimbulkan oleh hawa nafsunya dan di bawah pengaruh hawa nafsu itu juga dipersiapkan pelaksanaannya.
Unsur dengan rencana terlebih dahulu mengandung tiga unsur, yaitu: 1) Memutuskan kehendak dalam suasana tenang.
2) Ada tersedia waktu yang cukup sejak timbulnya kehendak sampai dengan pelaksanaan kehendak.
3) Pelaksanaan kehendak ( perbuatan ) dalam suasana tenang.
Pelakunya di samping memang ada niat untuk menghilangkan nyawa orang lain, perbuatan tersebut diawali dengan rencana yang dipikirkan terlebih dahulu dengan tenang. Misalnya, dengan cara bagaimana sebaiknya perbuatan akan dilakukan. Untuk perbuatan jenis ini, Pasal 340 KUHP menyebutkan “Barangsiapa yang dengan sengaja dan dengan direncanakan terlebih dahulu menghilangkan nyawa orang karena pembunuhan berencana dihukum dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya 20 tahun.”
Dalam KUHP tidak ada penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan ‘direncanakan terlebih dahulu.’ Penjelasan terhadap apa yang dimaksud dengan direncanakan terlebih dahulu dapat dilihat dalam MvT yang menyatakan bahwa istilah met voorbedachte rade atau ‘direncanakan lebih dahulu’ menunjuk pada suatu ‘saat’ untuk menimbang dengan tenang.
Istilah tersebut merupakan kebalikan (lawan) dari ‘pertumbuhan kehendak yang dengan tiba-tiba.’52 Sementara itu menurut Tirtaamidjaja,53 adanya jangka waktu yang panjang atau pendek antara keputusan dan pelaksanaannya, bukan jangka waktu itu harus ada untuk menetapkan apakah orang yang melakukan kejahatan itu setelah ada dalam keadaan dapat berfikir telah memikirkan arti dan akibat-akibat dari perbuatan yang dimaksudnya.
Tresna54 mengatakan, bahwa tidak ada ketentuan berapa lamanya harus berlaku di antara saat timbulnya maksud untuk melakukan perbuatan itu dengan saat dilaksakannya. Akan tetapi nyatalah harus ada, suatu antara di mana ia dapat menggunakan pikiran yang tenang guna merencanakan segala sesuatunya.
Menurut Andi Hamzah,55 rumusan Pasal 340 KUHP ini rumusannya sama dengan rumusan Pasal 338 KUHP ditambah dengan satu lagi bagian inti, yaitu dipikirkan lebih dahulu (met voor bedrachterade). Yang menentukan adanya unsur ini ialah adanya keadaan hati untuk melakukan pembunuhan, walaupun keputusan yang diambil dalam hati itu sekejap saja dengan pelaksanaannya. Hoge Raad dalam putusannya tanggal 2 Desember 1940, N.J. 1941 No. 293 mengatakan “dengan berpikir tenang dan menimbang dengan tenang” merupakan penentu diterapkannya Pasal 340 KUHP (Pasal 289 Sr.), sebagai lawan “kemarahan yang timbul dengan tiba-tiba” (untuk penerapan Pasal 338 KUHP).
52 Hermien Hediati Koeswadji, 1984, Kejahatan Terhadap Nyawa. Azas-azas Kasus dan Permasalahannya, Sinar Widjaya, Surabaya, hlm. 41.
53 Ibid., hlm. 43.
54 Ibid.
Lebih lanjut dikatakan, ancaman pidana dalam W.v.S. Nederland jelas hanya pidana penjara seumur hidup atau 20 tahun atau denda kategori V, karena di
Nederland tidak ada pidana mati. Pada umumnya pembunuhan dengan jalan
meracuni orang, merupakan pembunuhan yang dipikirkan lebih dahuku, karena ada usaha mencari racun dan cara memasukkan racun ke dalam tubuh orang.
Schaffmeister,56 mengatakan bahwa pengertian “dengan direncanakan lebih dahulu” (voorbedachte raad) pada Pasal 340 KUHP / Pasal 289 Sr. berarti, bahwa jauh sebelum pelaku berbuat dia sudah mempunyai rencana untuk hal itu. Memang, kalau kesengajaan dihadapkan pada berbuat secara impulsif, maka sudah ada kesadaran akan tujuan sebelum dimulai melaksanakan perbuatan.
‘Niat’ sebagai terencana tampak sebagai bagian delik pada pembunuhan berencana (moord – Pasal 340 KUHP). Menurut Memori Penjelasan, untuk ‘berencana’ disyaratkan “saat untuk menimbang dengan tenang dan berpikir secara mantap”.
Oleh karena itu dianggap cukup kalau pembuat ‘sebelum’ melaksanakan kejahatan mempunyai waktu untuk mempertimbangkan apa yang hendak dilakukannya. Demikian pula adanya bagian subyektif ini, seringkali disimpulkan oleh hakim dari ‘keadaan obyektif’ kejadian. Hoge Raad membenarkan konklusi dari Pengadilan Tinggi Den Haag mengenai rencana lebih dahulu yang dianggap terbukti: “.... karena beberapa hari sebelumnya, ketika banyak pemuda menjalani milisi, terdakwa mengenakan pakaian seragam, pada hari pembunuhan mengenakan kacamata gelap dan dengan alasan palsu membujuk korban untuk ke luar dari rumahnya.”
Rencana lebih dahulu itu mendahului pelaksanaan perbuatan, jadi mendahului perbuatan dengan sengaja. Ciri “menimbang dengan tenang dan berfikir secara mantap” tidak sesuai dengan kenyataan. Ketenangan dan kemantapan itu sering tidak besar. Kecuali itu, yang menjadi persoalan tidak begitu mengenai keadaan batin, tetapi mengenai persiapan. Apa yang membedakan pembunuhan berencana dari pembunuhan adalah membuat rencana, mengadakan persiapan, memilih waktu yang tepat, memandang rendah nyawa orang lain.
Wirjono Prodjodikoro57 mengatakan bahwa untuk unsur perencanaan itu tidak perlu ada tenggang waktu lama antara waktu merencanakan dan waktu melakukan perbuatan pembunuhan. Sebaliknya, meski ada tenggang waktu itu, yang tidak terlalu pendek, belum tentu dapat dikatakan ada rencana lebih dulu secara tenang. Ini semua bergantung kepada keadaan konkret dari setiap peristiwa.
R. Soesilo menamakan kejahatan dalam Pasal 340 KUHP ini dengan “pembunuhan dengan direncanakan lebih dahulu” (moord). Dalam keterangan selanjutnya dikatakan:58
Kejahatan ini adalah suatu pembunuhan biasa (doodslag) tersebut dalam Pasal 338 KUHP akan tetapi dilakukan dengan ‘direncanakan terlebih dahulu.’
‘Direncanakan lebih dahulu’ (voorbedachte rade) = antara timbulnya maksud untuk membunuh dengan pelaksanaannya itu masih ada tempo bagi si pembuat untuk dengan tenang memikirkan misalnya dengan cara bagaimanakah pembunuhan itu akan dilakukan.
‘Tempo’ ini tidak boleh terlalu sempit, akan tetapi sebaliknya juga tidak perlu terlalu lama. Yang penting, ialah apakah tujuan di dalam tempo itu si pembuat ‘dengan tenang’ masih dapat berpikir-pikir, yang sebenarnya masih ada kesempatan untuk membatalkan niatnya akan membunuh itu, akan tetapi tidak ia pergunakan. Pembunuhan dengan mempergunakan racun hampir semua merupakan moord.”.
57 Wirjono Prodjodikoro, Op.Cit., hlm. 70.
2. Unsur Tindak Pidana Pembunuhan Berencana Melalui Putusan Perkara