• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PENGATURAN TINDAK PERDAGANGAN ORANG

B. Pengertian Tindak Pidana Perdagangan Orang

Kejahatan trafficking (perdagangan orang) atau yang dapat dikategorikan sebagai “perbudakan modern” adalah merupakan persoalan global sangat serius.53 Hal ini merupakan suatu permasalahan pelanggaran terhadap Hak Azasi Manusia (HAM). Perlindugan terhadap Hak Azasi Manusia menekankan bahwa setiap

54

Pancasila sila ke-2, butir kesatu dan kedua

55

UUD 1945 Pasal 28 ayat (1), hasil amandemen ke-2, tanggal 18 Agustus 2000

56

Founding Father Negara Indonesia mengatur tentang Hak Azasi Manusia (HAM) ini dalam Pasal-Pasal Batang Tubuh Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, ini yang menjadi dasar bagi pelaksanaan perlindungan Hak Azasi Manusia (HAM) di Indonesia

57

Farhana, Aspek Hukum Perdagangan Orang di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 201), hal. 1,

orang dilahirkan memiliki kebebasan, dengan harkat dan martabat yang sederajat, serta berhak atas perlindungan tanpa diskriminasi.

Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia dalam sila kemanusiaan yang adil dan beradab mengatur bahwa bangsa Indonesia mengakui mahluk Tuhan Yang Maha Esa, kemudian wajib mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban azasis setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.54

Undang-Undang Dasar 1945 dalam rumusan salah satu pasalnya disebutkan mengenai hak untuk tidak diperbudak.55 Untuk mewujudkan perlindungan hak tersebut, maka Pemerintah Indonesia memandang perlu untuk melakukan pengaturan tersendiri mengenai tindak pidana trafficking (perdagangan orang).

Secara universal juga telah diakui bahwa setiap manusia dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak yang sama. Setiap orang berhak atas kehidupan, pekerjaan, kemerdekaan, dan keamanan pribadi.56 Namun terkadang dalam upaya memperoleh hak-hak tersebut dihadapkan pada beragam tantangan dan perlakuan yang melanggara Hak Azasi Manusia yang disertai denga kekerasan fisik maupun kekerasan seksual.

Trafficking (perdangan orang) bukan merupakan bentuk kejahatan yang

baru dikenal. Dalam sejarah bangsa Indonesia, perdagangan orang pernah terjadi yaitu melalui perbudakan atau perhambaan. Pada masa kerajaan, perdagangan perempuan merupakan bagian pelengkap dari sistem pemerintahan feodal.57 Perdagangan orang lebih terorganisir dan berkembang pesat pada masa penjajahan

58

Ibid, hal. 2.

59

Ibid, hal. 3. Pada masa ini Jepang bukan hanya memaksa perempuan pribumi menjadi pelacur, tetapi Jepang juga membawa perempuan dari Singapura, Malaysia, dan Hongkong ke Jawa untuk melayani Perwira Tinggi Jepang.

60

Konsideran Undang-undang No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang

Belanda, hal ini terlihat dari adanya perbudakan tradisional dan perseliran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Eropa. Perdagangan orang ini dapat berbentuk kerja rodi, penjualan anak perempuan untuk mendapatkan imbalan materi dan kawin kontrak,58 demikian juga halnya dengan masa penjajahan Jepang.59

Pada awal perkembangan perdagangan orang belum merupakan tindak pidana, sehingga tidak ada hukuman yang diberikan pada para pelaku perdagangan orang tersebut. Kemudian, pada masa kemerdekaan perdagangan orang dinyatakan sebagai tindakan yang melawan hukum. Hal ini dengan pemikiran bahwa perdagangan orang tersebut telah meluas baik dalam bentuk jaringan kejahatan yang terorganisir, antar negara maupun internal negara, maka timbul keinginan pemerintah untuk mencegah dan menanggulangi tindak pidana perdangangan orang dengan melakukan upaya pencegahan dini, penindakan pelaku, perlindungan korban, dan peningkatan kerjasama.60

Pemerintah Indonesia mengkriminalisasi perdagangan orang dengan Pasal 297 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang secara eksplisit mengatur tentang perdagangan orang. Pasal itu mengatur bahwa memperniagakan perempuan dan memperniagakan laki-laki yang belum dewasa, dihukum penjara selama-lamanya 6 (enam) tahun. Pasal-Pasal yang sering dipakai sebagai dsar hukum untuk menjerat pelaku trafficking (perdagangan orang) adalah Pasal 285, Pasal 287-298, Pasal 324, dan Pasal 506 KUHP. Pengaturan dalam KUHP masih membutuhkan penyempurnaan agar dapat menjerat setiap kegiatan atau modus baru perdgangan orang.

61

Deklarasi Universal tentang Hak Azasi Manusia (DUHAM) diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1948, yang merupakan standar umum mengenai pemajuan dan mendorong penghormatan terhadap hak dan kebebasan manusia sebai landasan dari keadilan, kebebasan dan kedamaiaan

62 Achie Sudiarti Luhulima, “Bahan Ajar Tentang Hak Perempuan”, (Jakarta: Yayasan Obor

Indonesia, 2007), hal. 38-39.

63

Ibid, hal. 78.

64

Administrator, “Trafficking di Indonesia”,

diakses tanggal 15 Juni 2012

65

Ibid

Kebijakan Pemerintah dilakukan dengan mengeluarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 88 Tahun 2002 tentang Rencana Aksi Nasional (RAN) Penghapusan Perdagangan Perempuan dan Anak, yang salah satu tujuan kuncinya adalah utnuk mendorong dan/atau menyempurnakan peraturan perundang- undangan yang berkaitan dengan perdagangan orang, khususnya perdagangan perempuan dan anak.

Dalam Deklarasi Universal tentang Hak Azasi Manusia (DUHAM)61 dinyatakan bahwa pengakuan martabat dan hak yang sama dan mutlak umat manusia adalah dasar dari kemerdekaan, keadilan, dan peredamaian dunia, dan bahwa aspirasi tertinggi rakyat adalah penikmatan kebebasan mengeluarkan pendapat, kepercayaan dan bebas dari rasa takut dan kekurangan.62

Lebih lanjut diataur juga bahwa setiap orang berhak atas pekerjaan, berhak memilih pekerjaan, berhak atas syarat-syarat pekerjaan yang adil dan menguntungkan.63 Kenyataannya dalam pelaksanaannya upaya masyarakat untuk keinginan memperoleh pekerjaan untuk kehidupan yang layak menyebabkan banyak yang terperangkap dalam sebuah perdagangan orang. Perdagangan orang terjadi denga tidak memandang jenis kelamin dan usia, baik laki-laki atau perempuan, dewasa, atau bahkan anak-anak.64 Daerah-daerah di Indonesia yang dulunya hanya sebagai daerah penerima sekarang berubah menjadi daerah transit, bahkan sebagai daerah pengirim dan sebaliknya. Perdagangan orang terjadi tidak hanya lintas daerah dalam wilayah Indonesia namun telah meluas menjadi lintas negara atau antar negara.65

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia (HAM) dalam Pasal 65 diatur secara ekplisit mengenai kriminalisasi perdagangan orang tersebut yaitu dengan menyebutkan bahwa setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari kegiatan ekploitasi dan pelecehan seksual, penculikan, perdagangan anak, serta dari berbagai bentuk penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya.

Pasal 9 huruf c Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Azasi Manusia disebutkan bahwa perbudakan merupakan salah satu kejahatan kemanusiaan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas dan sistematik. Penjelasan pasal ini menyebutkan dengan tegas bahwa perbudakan adalah termasuk tindakan perdagangan manusia, khususnya perempuan dan anak-anak.

Perkembangan selanjunnya yaitu lahirnya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (UU PTPPO), undang-undang ini semakin memperjelas pemahaman tindak pidana ini.

Pasal 1 ayat (1) UU PTPPO berbunyi: Perdagangan orang adalah tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau menfaat sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara maupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tersebtu terekploitasi.

66

Karen E. Bravo, Op. Cit., hal.2.

67

Monsignor Franklyn M, “International Trafficking in Persons: Suggested Responses to a scourge of Humankid”, (Westlaw: Intercultural Human Rights Law Review, 2008), hal. 1.

Penjelasan umum dari undang-undang ini menyebutkan bahwa perdangan orang adalah bentuk modern dari perbudakan manusia. Perdagangan orang juga merupakan salah satu bentuk perlakuan terburuk dari pelanggaran harkat dan martabat manusia.

Kemajuan teknologi informasi, komunikasi dan transportasi ini dimanfaatkan oleh orang atau sekelompok orang utnk melakukan atau mengembangkan kejahatannya. Salah satu bentuk kejahatan yang berkembang itu adalah perbudakan atau perhambaan dalam bentuk yang baru yaitu perdagangan orang (trafficking), yang beroperasi secara tertutup dan terorganisasi dan disertai dengan semakin canggihnya peralatan dan modus operandinya.66

Monsignor Franklyn M, menyatakan bahwa:67

Human trafficking is not a new phenomenon. Since a decade or so, however, this appalling practic has reached epidemic proportions. Listed as one of the three profitable organized crimes alongside the trafficking of weapons and drugs intrinsically related to them, human trafficking is part of the dark side of reality virutually evertywhere. The U.S. State Department’s 2007 report on human trafficking estimates that 800,000 people are being trafficked across bordesrs each year, with 80% of the victims being women and children, and up to 50% minors.

Protokol untuk mencegah, menekan dan menghukum pelaku perdagangan orang khusus perempuan dan anak, Suplement Konvensi PBB untuk melawan oraganisasi kejahatan transnasioanl, Protokol ini memberi pengertian perdangangan orang adalah:

1. Perekrutan, pengiriman, pemindahan, penampungan atau penerimaan seseorang, dengan ancaman atau kekerasan atau bentuk-bentuk lain dari pemaksaan, penculikan, penipuan, kebohongan, atau penyalahgunaan kekuasaan atau possisi rentan atau memberi atau menerima pembayaran atau memperoleh keuntungan agar dapat

68

Farhana, Op. Cit, hal. 21.

69

Achie Sudiarti Luhulima, op. Cit,. hal 182

2. memperoleh persetujuan dari seseorang yang berkuasa atas orang lain, untuk tujuan eksploitasi. Eksploitasi termasuk, paling tidak, eksploitasi untuk melacurkan orang lain atau bentuk-bentuk lain dari eksploitasi seksual, kerja atau pelayanan paksa, perbudakan atau prakti-praktik serupa perbudakan, penghambaan atau pengambilan organ tubuh. 3. Persetujuan korban perdagangan orang terhadap eksploitasi yang

dimaksud yang dikemukakan dalam subl aliena (a) ini tidak relevan jika salah satu dari cara-cara yang dimuat dalam subalinea (a) digunakan.

4. Perekrutan, pengiriman, pemindahan, penampungan, atau penerimaan seseorang anak untuk tujuan eksploitasi dipandang sebagai perdagangan orang bahkan jika kegiatan ini tidak melibatkan satu pun cara yang dikemukakan dalam subalinea (a) Pasal ini.

5. Anak adalah setiap orang yang berumur di bawah 18 tahun.68

Dalam suplemen ini juga disebutkan maksud dibuatnya protokol ini yaitu: untuk mencegah dan melawan perdagangan terhadap orang, memberi perlindungan kepada perempuan dan anak-anak, untuk melindungi dan mendamping korban perdagangan orang dengan penuh kepedulian terhadap hak- hak azasi manusia.69

70

Kathleen K. Hogan, “Comment Slavery In The 21 st Century and In New York: What Has The State Legislature Done?” (Westlaw: Albany Law School, 2008), hal. 2.

71 International Organization Migration (IOM) Indonesia,

15 juni 2012

72

Ibid

Kathleen K. Hogan dalam komentarnya mengatakan:

Human trafficking is a very profitable form of organized crime. It is the

most profitable form of illegal trade worldwide, second to the trafficking of arms and drugs. Criminal grups make more than nine billion dollars in

annual revenue globally form the trafficking of humans beings.70

Dengan demikian dapat dilihat bahwa trafficking (perdagangan orang) merupakan tindak pidana yang bisa dilakukan oleh perorangan dan sindikasi

(organised crime) yang sangat menguntungkan karena perputaran uang yang

sangat besar. Sebagai bukti bahwa kejahatan perdagangan orang adalah merupakan kejahatan yang sangat menguntungkan, hal itu bisa dilihat dari perkembangan tindak kejatahatan ini dari tahun ke tahun.

Data International Organization of Migration (IOM) Indonesia, disebutkan Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara pengirim terbesar dengan total persentase sebesar 99,71% (sembilan puluh sembilan koma tujuh puluh satu persen), diikuti oleh negara Uzbekistan 0.24% (nol koma dua puluh empat persen) dan Kamboja dan Ukraina masing-masing dengan persentase 0,03% (nol koma nol tiga persen).71

Data perdagangan orang dengan kategori provinsi pengirim atau daerah asal di Indonesia, lima kota yang menduduki peringkat teratas adalah Jawa Barat, Kalimantan Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara.72

Dari semua data kejahatan trafficking (perdagangan orang) yang terjadi sebagian besar kejahatan itu dilakukan ke luar negeri dengan negara tujuan

73 Ibid 74 Ibid 75 Ibid 76 Ibid

Malaysia, Saudi Arabia, dan Singapura,73 ketiga negara ini menduduki 3 (tiga) peringkat teratas.

Dari penelitian yang dilakukan International Organization Migration (IOM) Indonesian, dapat dilihat bahwa kejahatan trafficking (perdagangan orang) yang dilakukan oleh agen sejumlah 2059 (dua ribu lima puluh sembilan) kasus atau sebanyak 54,40%, agen penyalur resmi sebanyak 736 (tujuh ratus tiga puluh enam) kasus atau sebanyak 19,54%, anggota keluarga sebanyak 260 (dua ratus enam puluh) kasus atau sebanyak 6,87%, teman 236 (dua ratus tiga puluh enam) kasus atau sebanyak 6,24%, tetangga sebanyak 232 (dua ratus tiga puluh dua) kasus atau sebanyak 6,13%, kontak pribadi ada 112 (seratus dua belas) kasus atau sebanyak 2,96% , sedangkan yang tanpa data sebanyak 150 (seratus lima puluh) kasus atau sekitar 3,96%.74

Meskipun kejahatan trafficking (perdagangan orang) telah diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan, tapi aparat penegak hukum masih belum bisa memaksimalkan perannya dalam memberantas trafficking, hal ini dapat terjadi karena ringannya hukuman yang diberikan kepada para pelaku trafficking di Indonesia.75 Akibatnya kasus trafficking bukannya dapat diatasi tetapi sebaliknya makin meningkat.

Peningkatan ini terjadi karena beberapa faktor seperti adanya kelemahan pada perangkat hukum (peraturan perundang-undangan) dan juga adanya faktor- faktor di luar peraturan perundang-undangan. Kelemahan pada perangkat hukum disebabkan adanya peraturan yang sulit untuk diterapkan pada kasus-kasus

trafficking yang ditangani oleh aparat penegak hukum.76

77

Ibid

78

Banyak kasus trafficking diputus hakim Pengadilan Negeri dengan pidana jauh lebih rendah dari batas minimal yang ditetapkan oleh undang-undang

Faktor-Faktor di luar peraturan perundang-undangan misalnya adanya pandangan masyarakat tentang perempuan yang menganggap bahwa bila ada kejahatan yang terjadi pada dirinya, maka hal itu merupakan kesalahannya sendiri. Selain itu ada juga pandangan masyarakat yang enggan terlibat dengan masalah orang lain terutama yang berhubungan dengan polisi karena akan merugikan diri sendiri, alasan lainnya ada kecenderungan pradigma pemerintah yang mamandang tenaga kerja sebagai komoditi penghasil devisa negara, kemudian adanya faktor- faktor sosial yang berkembang di masyarakat, misalnya masih adanya diskriminasi terhadap perempuan. Ada juga kelemahan yang datang dari aparat penegak hukum yang disebabkan ketidaktahuan mereka tentang masalah

trafficking (perdagangan orang).77

Bachtiar H. Tambunan mengatakan bahwa kesulitan untuk memberantas

trafficking karena beberapa kendala yaitu:78

1. Luas wilayah Indonesia yang tidak sebanding dengan petugas pengawas di perbatasan

2. Kemampuan penyidik polisi yang masih rendah, sedangkan tempat kejadian perkara terkadang melintasi dua negara hal ini menimbulkan masalah dalam pelaksanaan penyidikan.

3. Belum adanya atau jarangnya kerjasama atar negara untuk menindaklanjuti kasus trafficking dan sulitnya melakukan penyidikan apabila tempat kejadian perkara di luar negeri dan tersangkanya adalah warga negara asing.

Menghadapi kondisi ini, maka diperlukan kebijakan yang lebih dapat mengatur secara komprehensif mengenai pencegahan, penanganan, penanggulangan, dan penegakan hukum atas tindak pidana perdagangan orang.

Dokumen terkait