E. Tinjauan Pustaka
4. Pengertian Tindak Pidana
Diatas telah diutarakan bahwa salah satu tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah menegakkan hukum. Karena secara jelas disebutkan dalam penjelasan Undang-undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia
Roslan Silaban : Penyalahgunaan Senjata Api Yang Dilakukan Oleh Aparat Polri (Studi : Di Polda Sumut), 2008.
USU Repository © 2009
pada sistem pemerintahan negara angka 1 adalah ”Indonesia adalah Negara yang berdasarkan atas hukum (Rechts Staat)”. Hal ini mengandung maksud bahwa segala kekuasaan negara harus diatur oleh hukum, begitu juga bagi kehidupan masyarakat tidak terlepas dari aturan hukum (Rule of Law).
Penegakan hukum yang dilakukan oleh Kepolisian Negara berarti menangani tindak pidana mulai dari tingkat penyelidikan sampai pada penyidikan selesai, baik yang dilakukan anggota masyarakat maupun anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, karena hukum pidana sasarannya adalah pada perbuatan yang dapat dipidanakan.
Mengenai istilah perbuatan yang dapat dipidana atau ”tindak pidana” dengan seiring berjalannya waktu, dimulai dari awal kemerdekaan sanpai sekarang mengalami beberapa perubahan,misalnya: 30
a. Peristiwa pidana (UUD1950 pasal 14 ayat 1)
b. Perbuatan pidana (Undang-Undang No. 1 Tahun 1951, Undang-Undang mengenai tindakan sementara untuk menyelenggarakan kesatuan susunan, kesatuan daerah pengadilan sipil, pasal 5 ayat 3b)
c. Perbuatan-perbuatan yang dapat dihukum (UUD No. 2 Tahun1951 tentang: ”perbuatan ordonantie trjdelijke by zendere straf bepalingen” S. 1988-17 dan Undang-Undang Republik Indonesia (dahulu) No. 8 Tahun 1948 pasal 3)
30
Roslan Silaban : Penyalahgunaan Senjata Api Yang Dilakukan Oleh Aparat Polri (Studi : Di Polda Sumut), 2008.
USU Repository © 2009
d. Hal yang dapat diamcanm dengan hukuman, dan perbuatan yang dapat dikenakan dengan hukuman (Undang –Undang Darurat No. 16 Tahun 1951 tentang penyelesaian perselisihan perburuhan pasal 19,21,22)
e. Tindak pidana (undang-undang darurat No. 7 tahun 1955 tentang pengusutan dan penyidikan tindak pidana ekonomi, pasal 1)
Memperhatikan istilah-istilah tindak pidana yang dikemukakan diatas ada kecenderungan pembentukan undang-undang sekarang sudah relatif akan tetapi dalam menggunakan istilah ”tindak pidana” sampai sekarang para sarjana hukum pidana masih banyak menggunakan istilah yang berbeda-beda, namun hal itu tidak menjadi masalah karena yang terpenting adalah mengetahui maksudnya. Dalam penulisan ini disamakan istilah ”tindak pidana”
Tindak pidana merupakan hal yang mendasar dalam hukum pidana. Dalam kehidupan sehari-hari istilah tindak pidana sudah sering dibicarakan. Bahkan tidak hanya dibicarakan, tetapi sering sekali menjadi perbuatan yang kerap sekali menjadi perbuatan yang tercipta didalam masyarakat baik secara individu maupun berkelompok tentunya. Yang dalam bahasa Belanda disebut Het Strafbaar feit.
Untuk defenisi tersebut, Muliatno guru besar UGM, menganggap lebih tepat dipergunakan istilah perbuatan pidana (dalam pidatonya yang berjudul: perbuatan pidana dan pertanggungjawaban hukum perdata, 1955). Beliau berpendapat bahwa perbuatan itu adalah keadaan yang dibuat oleh seseorang atas barang sesuatu yang dilakukan. Selanjutnya dikatakan: ”(perbuatan) ini menunjukkan baik pada akibatnya maupun yang menimbulkan akibat jadi mempunyai makna yang abstrak” . Kemudian E.Utrech menggunakan istilah
Roslan Silaban : Penyalahgunaan Senjata Api Yang Dilakukan Oleh Aparat Polri (Studi : Di Polda Sumut), 2008.
USU Repository © 2009
peristiwa pidana, ada juga penulis menggunakan istilah delik. Menurut Muiatno memisahkan antara pengertian pidana dengan pertanggungjawaban pidana. Pendapat ini masuk kedalam pandangan yang realitas mengenai perbuatan pidana, pandangan ini adalah penyimpangan dari pandangan yang monistis yang dianggap kuno. Pandangan monistis ini melihat keseluruhan syarat untuk adnya pidana itu kesemuanya merupakan sipat dari perbuatan.
Dibawah ini akan diberikan pendapat dari ahli hukum pidana mengenai rumusan tindak pidana antara lain:
a. D. Simon
D. Simon: Strafbaar feit adalah: ”een staffbaar gestellde, onrechtmatige met schuld verband staande handeling van een toere keningsvatbaar person31
1. perbuatan manusia positif atau negatif : berbuat atau tidak berbuat atau mebiarkan
. Jadi unsur-unsur strafbaarfeit adalah:
2. diamcam dengan pidana (straafbaargesteld) 3. melawan hukum (onrecmatig)
4. dilakukan dengan kesalahan (wet schuld in verband stund)
5. oleh orang yang mampu bertanggung jawab (toerekeningsvaat baar person) D. Simon menyebut adanya unsur objektif dan unsur subjekif dari straafbaarfeit. Yang disebut dengan unsur objektif adalah: perbuatan orang, akibat yang timbul dari perbuatan itu, mungkin ada perbuatan tertentu yang menyertai perbuatan itu seperti dalam pasal 281 KUHP sifat ”openbaar atau dimuka umum”.
Roslan Silaban : Penyalahgunaan Senjata Api Yang Dilakukan Oleh Aparat Polri (Studi : Di Polda Sumut), 2008.
USU Repository © 2009
Van hamel32
c. Vos
merumuskan strafbaar feit itu sama dengan yang dirumuskan oleh simon, hanya ditambahkan dengan kalimat ”tindakan ,manusia bersifat dapat dipidana”.
Vos33 d. Pompe
merumuskan: strafbaar feit adalah suatu kelakuan (gedraging) manusia yang dilarang dan oleh undang-undang diamcam dengan pidana.
Pompe34
1. Pendapat Moeljatno dan Ruslan Saleh
merumuskan: strafbaar feit adalah suatu pelanggaran kaidah (penggangguan ketertiban hukum), terhadap manusia pelaku mempunyai kesalahan yang mana pemidanaan adalah wajar untuk menyelenggarakan ketertiban hukum dan mejamin kesejahteraan umum.
Kalau dilihat rumusan-runmusan para sarjana tersebut tentunya ada perbedaan satu sama lain, waulaupun pada intinya mereka memberikan suatu rumusan yang menyatakan perbuatan ang melawan hukum. Istilah-istilah tersebut tentunya sudah digunakan dalam perundang-undangan Indonesia.
Diantara sarjana Indonesia tentunya ada yang memberikan pendapat mengapa memilih istilah tersebut sebagai terjemahan dari strafbaar dan feit yang kemudian diterjemahkan. Beberapa pendapat sarjana itu antara lain:
Prof . Moeljatno35
a. Hukum, maka di hukum berarti: berech, diadili, yang sama sekali tidak mesti berhubungan dengan straf, pidana karena perbuatan-perbuatan
: memakai istilah ”perbuatan pidana” dengan alasan dan pertimbangan sebagai berikut:
31
Sudarto, 1990 Hukum Pidana 1 Yayasan Sudarto, Semarang. Hal. 38. 32
Van hamel (dalam buku karangan: E.Y. kanter, S. R.Sianturi, Asas Hukum Pidana di Indonesia dan penerapannya. Storia Grafika, Jakarta 2002 hal. 205)
33 Ibid 34
Ibid 35
Moeljatno (dalam buku karangan: E. Y Kanter dan S. R. Sianturi, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia dan penerapannya. Storia Grafika, Jakarta 2002 hal. 206)
Roslan Silaban : Penyalahgunaan Senjata Api Yang Dilakukan Oleh Aparat Polri (Studi : Di Polda Sumut), 2008.
USU Repository © 2009
perdatapundiadili. Maka beliau memilih untuk memakai istilah pidan sehingga singkatan dari yang dapat dipidan.
b. Perkataan perbuatan sudah lazim digunakan dalam bahasa sehari-hari seperti perbuatan tak senonoh, perbuatan jahat dansebagainya dan juga sebagai istilah teknisseperti perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad). Perkataan yang melakukan maupun pada akibatnya. Sedangkan perkataan peristiwa tidak menunjukkan, bahwa yang menimbulkannya adalah ”handeling” atau ”degraging” seseorang, mungkin juga hewan atau alam. Dan perkataan tidak berarti langkah dan baru alam bentuk tindak tanduk tingkah laku.
2. Pendapat Utrecht
Utrect menunjukkuan pemakaian istilah peristiwa pidana, karena istilah peristiwa itu meliputi perbuatan (handeling atau doen, positif) atau melalaikan (verzuim atau nalaku atau niet - doen, negatif) maupun akibatnya.
3. Pendapat Satochid Satochid kartanegara36
a. Moeljatno, memberikan rumusan terhadap tindak pidana sebagai perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana barang siapa melanggar larangan dan perbuatan itu harus pula betul-betul dirasakan
Satochid memakai istilah perbuatan pidana, karena istilah tindak (tindakan), meliputi pengertian melakukan atau berbuat (actieve handeling) dan atau pengertian tidak melakukan, tidak berbuat, tidak melakukan suatu perbuatan (passieve handeling). Kemudian para sarjana tersebut memberikan rumusan tehadap tindak pidana tersebut antara lain:
36
Roslan Silaban : Penyalahgunaan Senjata Api Yang Dilakukan Oleh Aparat Polri (Studi : Di Polda Sumut), 2008.
USU Repository © 2009
oleh masyarakat sehingga perbuatan yang tak boleh atau mengghambat akan tercapainya tata tertib dalam pergaulan masyarakat yang dicita- citakan oleh mayarakatn itu.37
b. T. Tresna mengatakan tindak pidana merupakan sesuatu perbuatan atau rangkaian perbuatan manusia, yang bertentangan dengan undang- undang atau peraturan-perturan lainnya, terhadap perbuatan mana diadakan tindakan penghukuman.
. makna perbuatan pidana secara mutlakl yang termasuk unsur formil, yaitui mencocoki rumusan undang- undang dan unsur materiil yaitu sifat bertentangan dengan cita-cita mengenai pergaulan masyarakat atau dengan pendek sifat melawan hukum.
38
c. Wirjono Projodikoro, merumuskan tindak pidana sebagai suatu perbuatan yang pelakunya dapat dikenakan hukum pidana dan pelaku itu harus dikatakan merupakan ”subjek”tindak pidana.39
Sungguhpun telah banyak rumusan yang telah untuk memberikan batasan defenisi suatu tindak pidana, namun tentu perlu diperhatikan untuk menguraikan adanya unsur-unsur yang melatar belakangi pengertian tersebut. Seperti yang telah diuraikan diatas istilah tindak dari tindak pidana adalah merupakan singkatan dari tindakan atau penindakan. Artinya adalah orang yang telah melakukan suatu tindakan, sedangkan orang yang melakukan itu disebut petindak. Mungkin suatu tindakan dapat dilakukan oleh seseorang dari satu golongan jenis kelamin saja
37
Moeljatno, Perbuatan Pidana dan Pertanggunjawaban dalam Hukum Pidana, Yayasan penebit Gajah Mada. Yogyakarta, 1995, hal. 17.
38 Ibid
Roslan Silaban : Penyalahgunaan Senjata Api Yang Dilakukan Oleh Aparat Polri (Studi : Di Polda Sumut), 2008.
USU Repository © 2009
atau seseorang dari golongan yang bekerja pada negara/pemerintah/pegawai negeri, militer, nakhoda dan sebagainya, atau seseorang dari golongan lainnya. Jadi suatu status atau kwlifikasi seseorang petindak harus ditentukan apakah ia salah seorang dari ”barang siapa” atau seorang dari suatu golongan tertentu. Aturan petindak dari suatu tindakan yang terjadi harus ada hubungan kejiwaan. Selain dari pada penggunaan salah satu bagian tubuh, panca indera atau alat tubuh lainnya sehingga terwujud sesuatu tindakan. Hubungan kejiwaan itu adalah sedemikian rupa, dimana petindak dapat menilai tindakannya, dapat menentukan apakah akan dilakukannya atau dihindarinya, dapat pula menginsyafi ketercelaan tindakan tersebut. Atau setidak-tidaknya oleh kepatutan masyarajkat memandang bahwa tindakan itu adalah tercela.
Bentuk hubungan kejiwaan itu dalam hukum pidan disebut kesengajaan an kealpaan. Dengan pendek dapat dikatakan kepada petindak adanya unsur kesalahan. Tindakan yang dilakukan itu haruslah bersifat melawan hukum, dari tindakan tersebut. Setiap tindakan bertentangan dengan hukum atau tidak sesuai dengan hukum, menyerang kepentingan masyarakat atau individu yang dilindungi hukum, tidak disenangi oleh orang atau masyarakat, baik yang langsung mauoun tidak langsung terkena tindakan itu.
Pada umumnya untuk menyelesaikan setiap tindakan yang dipandang merugikan kepentingan umum dismping kepentingan prseorangan, dikehendaki turun tangannya penguasa. Apabila penguasa itu tidak mau turun tangan maka tinakan-tindakan tersebut akan merupakan suatu kekacauan yang tidak akan habis 39
Roslan Silaban : Penyalahgunaan Senjata Api Yang Dilakukan Oleh Aparat Polri (Studi : Di Polda Sumut), 2008.
USU Repository © 2009
–habisnya. Tidak dapat dijatuhkan pidana karena suatu perbuatan yang tidak termasuk dalm rumusan tindak piana. Ini tidak berarti bahwa selalu dapat dijatuhkan pidana kalau perbuatan itu tercamtum dalam rumusan tindak pidana (delik). Untuk itu diperlukan dua syarat sebagaimana yang telah disinggung diatas, yaitu sifat melawan hukum dan dapat dicela. Dengan demikian rumusan tindak pidana menjadi jelas.
Sebagimana yang telah dijelaskan tadi bahwa suatu perbuatan pidana tisdak dapat dijatuhkan pidana kalau tidak bersifat melawan hukum. Sifat melawan hukum dan sifat dapat dicela itu merupakan syarat umum untuk dapat dipidananya perbuatan, sekalipun tidak disebut dalam rumusan suatu tindak pidana. Hal ini unsur yang berada diluar undang-undang atau yang tidak mtertulis. Pembuat undang- undang menjadikan sifat melawan hukum itu menjadi unsur- unsur yang tertulis. Dalam suatu ketentuan pidana, pembuat undang-undang tidak selalu merumuskan perbuatan yang dapat dipidana saja.
Seseorang melakukan suatu mtindakan sesuai yang dikehenakinya, dan karenanya merugikan kepentingan umum/masyarakat termasuk kepentingan perseorangan. Lebih lengkap kiranya apabila harus ternyata bahwa tindakan tersebut terjadi pada suatu tempat,waktu, dan keadaan ditentukan. Artinya dipandang dari suatu tempat, tindakan itu harus terjadi pada suatu tempat dimana ketentuan pidana Indonesia berlaku. Dipandang dari sudut waktu tindakan itu masih dirasakan sebagai suatu tinakan yang perlu diancam dengan pidana (belum dalawarsa). Dipandang dari sudut keadaan tindakan itu harus terjadi pada suatu keadaan dimana tindakan itu dipandang sebagai tindakan tercela. Dengan kata lain
Roslan Silaban : Penyalahgunaan Senjata Api Yang Dilakukan Oleh Aparat Polri (Studi : Di Polda Sumut), 2008.
USU Repository © 2009
suatu tindakan yang dilakukan diluar jangkauan berlakunya ketentuan pidana Indonesia, bukanlah merupakan suatu ketentuan tindak pidana Indonesia.
Dalam perbuatan manusia bukanlah hanya sebatas mempunyai keyakinan atau niat tetapi hanya melakukukan saja dapat dipidana. Perbuatan yang jelas dapat dianggap sebagai perbuatan manusia dan perbuatan badan hukum.
Dari uraian tersebut diatas secara ringkas dapatlah disusun unsur-unsur dari tindak pidana yaitu:
1) Subjek 2) Kesalahan
3) Bersifat melawan hukum
4) Suatu tindakan yang dilarang atau diharuskan undang-undang dan terhadap pelanggarnya dikenakan pidana
5) waktu dan tempat keadaan
Dengan demikian dapatlah dirumuskan pengertian dan tindak pidana sebagai berikut:
Suatu tindakan atau perbuatan pada tempat, waktu, dan keadaan tertentu yang dilarang atau yang diharuskan dengan pidana oleh undang-undang dimana perbuatan itu merupakan perbuatan melawan hukum dan disertai dengan kesalahan yang dilakukan oleh seseorang yang mampu bertanggungjawab.
F. Metode Penelitian
Metode diartikan sebagai suatu jalan atau cara untuk mencapai sesuatu. Sebagaimana tentang cara penelitian harus dilakukan, maka petodologi penelitian yang digunakan penulis mencakup antara lain:
Roslan Silaban : Penyalahgunaan Senjata Api Yang Dilakukan Oleh Aparat Polri (Studi : Di Polda Sumut), 2008.
USU Repository © 2009
1. Jenis Penelitian
Penelitian merupakan penelitian hukum normatif (yurdis normatif) yakni merupakan penelitian yang dilakukan dan ditujukan pada berbagai peraturan perundang-undangan tertulis dan berbagai literatur yang berkaitan dengan permasalahan dalam skripsi ini.
Penelitian dalam skripsi ini dilakukan dengan menginventisir hukum positif yang berkaitan dengan hukum pidana di bidang permasalahan yang dimaksud yaitu penyalahgunaan senjata api yang dilakukan oleh aparat Polri dan menganalisa putusan pengadilan negeri untuk mengetahui bagaimana penerapan hukum pidana terhadap permasalahan yang dimaksud.
2. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Kepolisian Daerah Sumatera Utara atau Polda Sumut. Tepatnya dibagaian Bid Propam sub bid Provos, Reserse Kriminal satker I, Denma bagian senjata api, dan Logistik Polda Sumut.
3. Metode Pengumpulan Data
Dalam penulisan skripsi ini digunakan metode penelitian sebagai berikut: a. Librari research (penelitian kepustajkaan) yaitu dengan melakukan penelitian
terhadap berbagai sumber bacaan yakni buku-buku, pendapat sarjana, surat kabar, artikel, kamus, dan juga berita yang penulis peroleh dari media elektronik.
b. Field research (penelitian lapangan) yaitu dengan melakukan penelitian langsung kelapangan. Dalam hal ini penulis langgsung mengadakan penelitian ke Polda Sumut dengan cara mlakukan wawancara.
Roslan Silaban : Penyalahgunaan Senjata Api Yang Dilakukan Oleh Aparat Polri (Studi : Di Polda Sumut), 2008.
USU Repository © 2009
Dalam penelitian deskriptif maka data yang diperoleh dari penelitian langgsung kelapangan merupakan penjelasan terhadap penemuan yang ada dilapangan.
Dari penelitian data tersebut diatas, penulispun dapat memenuhi pembahasan skripsi ini secara metode deduksi, yaitu menarik kesimpulan dari fakta yang bersifat universal kepada bentuk fakta yang bersifat representative (dari yang umum ke yang khusus).
G. Sistematika Penulisan
Dalam penulisan skripsi ini Penulis memulai dengan kata pengantar, dan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu Penulis dalam penyelesaian skripsi ini, kemudian dilanjutkan dengan daftar isi, serta abtraksi yaitu sekilas tentang isi pembahasan dari permasalahan yang diangkat dalam skripsi ini.
Demi untuk memudahkan pembaca memahami skripsi ini maka Penulis menguraikan dalam 5 bab, dimana masing-masing bab terdiri dari sub-sub bab, secara garis besar maka sistematika penulisan skripsi ini adalah:
BAB I : Merupakan bab pendahauluan yang menguraikan latar belakang permasalahan, mamfaat dan tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penbulisan.
BAB II : Merupakan bab yang menguraikan prosedur kepemilikan senjata api bagi aparat Polri.
BAB III : Merupakan bab yang menguraikan tentang faktor-faktor penyalahgunaan senjata api.
Roslan Silaban : Penyalahgunaan Senjata Api Yang Dilakukan Oleh Aparat Polri (Studi : Di Polda Sumut), 2008.
USU Repository © 2009