1.1.Tindak Pidana
Tidak ditemukan penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan Strafbaar feit (Tindak Pidana) di dalam KUHP maupun diluar KUHP, oleh karena itu para ahli hukum berusaha untuk memberikan arti dan isi dari istilah itu, yang sampai saat ini belum ada keseragaman pendapat. Pengertian tindak pidana penting untuk dietahui untuk mengetahui unsur- unsur yang terkandung di dalamnya. Unsur- unsur tindak pidana ini dapat menjadi patokan dalam upaya menentukan apakah perbuatan seseorang itu merupakan tindak pidana atau tidak8.
Beberapa ahli hukum telah berusaha memberikan perumusan tentang pegertian tindak pidana, misalnya :
a. D.Simmons
Pertama kali mengenal perumusan yang diintroduksikan oleh Prof. Simons.
Menurutnya istilah ―peristiwa Pidana‖ itu adalah Een Strafbaargestelde,
onrechtmatige, met schuld in verband staande handeling van een toerekeningsvatbaar persoon. Terjemahan bebasnya yaitu perbuatan salah melawan hukum yang diancam pidana dan dilakukan oleh seorang yang mampu bertanggung jawab.
8 Mohammad Ekaputra , Dasar- Dasar Hukum Pidana Edisi 2, (Medan : USU PRESS,
b. Van Hammel
Perumusan ahli hukum ini sebenarnya sama dengan perumusan Simmons, hanya saja Van Hammel menambah satu syarat lagi yaitu perbuatan itu harus pula atau patut dipidana (welk handeling een strafwarding karakter heeft) c. Vos
Menurut Vos, peristiwa pidana adalah suatu peristiwa yang dinyatakan dapat dipidana oleh undang- undang (een strafbaar feit is een door de wet strafbaar gesteld feit).9
Barda Nawawi Arief menyebutkan bahwa di dalam KUHP (WvS) hanya
ada asas legalitas (Pasal 1 KUHP) yang merupakan ―landasan yuridis‖ untuk
menyatakan suatu perbuatan (feit) sebagai perbuatan yang dapat dipidana (Strafbaarfeit).Namun, apa yang dimaksud dengan Strafbaarfeit tidak dapat dijelaskan. Jadi, tidak ada pengertian/ batasan yuridis tentang tindak pidana. Pengertian tindak pidana hanya ada dalam teori atau pendapat para sarjana.
Tindak Pidana tidak hanya terjadi karena telah dilakukannya suatu perbuatan yang dilarang oleh undang- undang, namun ada kalanya tindak pidana juga terjadi karena tidak berbuatnya seseorang.10
1.2 Unsur-Unsur Tindak Pidana
Berbagai rumusan tindak pidana yang dikemukakan oleh para ahli hukum jika diperhatikan terdiri dari beberapa unsur/ elemen. Para ahli ada yang mengemukakan unsur- unsur tindak pidana secara sederhana yang hanya terdiri
9 C.S.T. Kansil dkk., Tindak Pidana Dalam Undang- Undang Nasional, (Jakarta: Jala
dari unsur objektif dan subjektif, dan ada pula yang merinci unsur –unsur tindak pidana berdasarkan rumusan undang- undang.11
Tindak pidana atau delik adalah tindak yang mengandung 5 unsur yaitu : 1. Harus ada sesuatu Tindakan (gedraging)
2. Tindakan itu harus sesuai dengan uraian –uraian undang- undang (wettelijke omsschrijving)
3. Tindakan itu adalah Tindakan tanpa hak 4. Tindakan itu dapat diberatkan kepada pelaku 5. Tindakan itu diancam dengan hukuman
Berikut adalah pendapat para ahli mengenai unsur- unsur tindak pidana, yaitu : 1. Van Apeldoorn
Menurut Van Apeldoorn, bahwa elemen delik itu terdiri dari elemen objektif yang berupa adanya suatu kelakuan (perbuatan) yang bertentangan dengan hukum dan elemen subjekif yang berupa adanya seorang pembuat (dader) mampu bertanggungjawab atau dapat dipersalahkan (toereke- ningsvatbaarheid)
2. Pompe
Pompe mengadakan pembagian elemen Strafbaar feit atas : a. Werderrechttelijkheid (unsur melawan hukum)
b. Schuld (unsur kesalahan)
c. Subsociale (unsur bahaya/ gangguan/ merugikan)
11
Pandangan Pompe termasuk golongan pembagian Strafbaar feit yang mendasar, namun ditambah dengan elemen subsocial yang diperkenalkan oleh Vrij.12
3. Moeljatno
Menurut Moeljatno unsur- unsur atau elemen- elemen yang harus ada dalam suatu perbuatan pidana adalah :
a. Kelakuan dan akibat (dapat disamakan dengan perbuatan) b. Hal atasu keadaan yang menyertai perbuatan
c. Keadaan tambahan yang memberatkan pidana d. Unsur melawan hukum yang objektif
e. Unsur melawan hukum yang subjekti
Kelima unsur atau elemen di atas pada dasarnya dapat diklasifikasikan ke dalam dua unsur pokok, yaitu unsur objektif dan unsur subjektif. Unsur objektif dapat dibagi menjadi :
1. Perbuatan manusia yang termasuk unsur pokok objektif adalah sebagai berikut:
a. Act ialah perbuatan aktif yag disebut juga perbuatan positif dan b. Ommision ialah tidak aktif berbuat dan disebut juga perbuatan negatif 2. Akibat perbuatan manusia
Hal ini erat hubungannya dengan ajaran kausalitas. Akibat yang dimaksud adalah membahayakan atau menghilangkan kepentingan-kepentingan yang
dipertahankan oleh hukum, misalnya nyawa, badan, kemerdekaan, hak milik/harta, atau kehormatan.
3. Keadaan- keadaan
Pada umumnya keadaan- keadaan ini dibedakan atas : a. Keadaan pada saat perbuatan dilakukan
b. Keadaan setelah perbuatan dilakukan 4. Sifat dapat dihukum dan Sifat melawan hukum
Sifat dapat dihukum itu berkenaan dengan alasan- alasan yang membebaskan terdakwa dari hukuman. Sifat melawan hukum bertentangan dengan hukum, yakni berkenaan dengan larangan atau perintah.
Sedangkan unsur pokok subjektif tercermin dalam asas pokok hukum pidana
yaitu ―tiada pidana tanpa kesalahan‖ (an act does not make guilty unless the
mind is guilty ; actus non facit reum nisi mens sit rea). Kesalahan yang dimaksud dalam konteks ini adalah :
1. Kesengajaan, terdiri dari tiga bentuk, yaitu : a. Sengaja sebagai maksud
b. Sengaja sebagai kepastian
c. Sengaja sebagai kemungkinan (dolus eventualis)
2. Kealpaan, adalah bentuk kesalahan yang lebih ringan daripada kesengajaan. Ada dua bentuk kealpaan, yaitu :
a. Tidak berhati-hati
Jika diaplikasikan ke dalam rumusan tindak pidana yang disebutkan di dalam berbagai pasal KUHP, maka dapat dilihat unsur subjektif dan unsur objektif tindak pidana yang terdapat dalam pasal itu misalnya :
1.Pasal 372 KUHP
Barangsiapa dengan sengaja menguasai secara melawan hukum sesuatu benda yang seluruhnya atau sebagian merupakan kepunyaan oranglain yang berada padanya bukan karena kejahatan karena bersalah melakukan penggelapan, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya empat tahun atau dengan pidana denda setinggi- tingginya sembilan ratus rupiah.
Tindak Pidana penggelapan atau verduistering dalam bentuk pokok diatur dalam pasal 372 KUHP mempunyai unsur- unsur sebagai berikut :
a. Unsur subjektif : opzettelijk atau dengan sengaja : b. Unsur objektif :
1) barangsiapa
2) zich werderrechtelijk toeeigenen atau menguasai secara melawan hukum 3) sebagaian atau seluruhnya kepunyaan oranglain
4) berada padanya bukan karena kejahatan13
1.3 Tindak Pidana Penganiayaan
Secara umum tindak pidana terhadap tubuh pada Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana disebut ―Penganiayaan‖, tetapi KUHP sendiri tidak memuat arti
Penganiayaan tersebut. Penganiayaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dimuat arti sebagai berikut:
‖perlakuan yang sewenang-wenang‖. Pengertian yang dimuat Kamus Besar Bahasa Indonesia tersebut adalah pengertian dalam arti luas, yakni termasuk yang
menyangkut ‖perasaan‖ atau ‖batiniah‖.
Oleh sebab tidak adanya rumusan yang pasti mengenai pengertian penganiayaan, maka hal tersebut diterjemahkan melalui yurisprudensi bahwa
―penganiayaan‖ yaitu sengaja menyebabkan perasaan tidak enak (penderitaan),
rasa sakit, atau luka. Menurut alinea 4 pasal ini, masuk pula dalam pengertian penganiayaan ialah ―sengaja merusak kesehatan orang‖. Dalam penjelasan KUHP oleh R.Soesilo diterakan beberapa contoh mengenai
―perasaan tidak enak‖, ―rasa sakit‖, ―luka‖, dan ―merusak kesehatan‖:
1. ―perasaan tidak enak‖ misalnya mendorong orang terjun ke kali sehingga
basah, menyuruh orang berdiri di terik matahari, dan sebagainya.
2. ―rasa sakit‖ misalnya menyubit, mendupak, memukul, menempeleng, dan
sebagainya.
3. ―luka‖ misalnya mengiris, memotong, menusuk dengan pisau dan lain-lain.
4. ―merusak kesehatan‖ misalnya orang sedang tidur, dan berkeringat, dibuka
jendela kamarnya, sehingga orang itu masuk angin.
Dalam KUHP itu sendiri, penganiayaan diatur dalam pasal 351 hingga pasal 358 dalam Bab II, yang dikategorikan sebagai kejahatan terhadap tubuh yang dilakukan dengan sengaja.
Penggolongan jenis tindak pidana penganiayaan yang terdapat pada KUHP adalah :
1. Tindak Pidana Penganiayaan Biasa
Penganiayaan biasa yang dapat juga disebut dengan penganiayaan pokok atau bentuk standar terhadap ketentuan Pasal 351 yaitu pada hakikatnya semua penganiayaan yang bukan penganiayaan berat dan bukan penganiayaan ringan. 1. Penganiayaan biasa yang tidak dapat menimbulkan luka berat maupun
kematian dan dihukum dengan dengan hukuman penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau denda sebayak-banyaknya tiga ratus rupiah. (ayat 1) 2. Penganiayaan yang mengakibatkan luka berat dan dihukum dengan hukuman
penjara selama-lamanya 5 tahun (ayat 2)
3. Penganiayaan yang mengakibatkan kematian dan dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 7 tahun (ayat 3)
4. Penganiayaan berupa sengaja merusak kesehatan (ayat 4)
Di ayat 4 diberi pengertian tentang apa yang dimaksud dengan
penganiayaan, yaitu ―dengan sengaja merusak kesehatan orang‖. Dengan
demikian, maka penganiayaan tidak mesti berarti melukai orang. Membuat orang tidak bisa bicara , membuat orang lumpuh termasuk dalam pengertian ini.14
Unsur-unsur penganiayaan biasa, yakni: 1. Adanya kesengajaan
2. Adanya perbuatan
3. Adanya akibat perbuatan (yang dituju), rasa sakit pada tubuh, dan atau luka pada tubuh.
4. Akibat yang menjadi tujuan satu-satunya
2. Tindak Pidana Penganiayaan Ringan ( Pasal 352 KUHP)
(1) ―Kecuali yang disebut dalam Pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan, jabatan atau pencaharian, diancam sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Pidana dapat ditambah bagi orang yang melakukan kejahatan itu terhadap orag yang bekerja padanya atau
menjadi bawahannya‖.
(2) ―Percobaan untuk melakukan kejahatan itu tidak dipidana‖
Sama dengan Pasal 351, pasal ini pun tidak membuat pengertian atau
rumusan tentang apa yang dimaksud dengan ―penganiayaan‖. Yang membdakan
kedua rumusan ialah rumusan pasal ini disebut penganiayaan ringan.15 Penganiayaan ringan dalam Pasal 352 (1) KUHP yaitu suatu penganiayaan yang tidak menjadikan sakit atau menjadikan terhalang untuk melakukan jabatan atau pekerjaan sehari-hari. Unsur-unsur penganiayaan ringan, yakni:
a) Bukan berupa penganiayaan biasa b) Bukan penganiayaan yang dilakukan :
1) Terhadap bapak atau ibu yang sah, istri atau anaknya
2) Terhadap pegawai negri yang sedang dan atau karena menjalankan
tugasanya yang sah
3) Dengan memasukkan bahan berbahaya bagi nyawa atau kesehatan untuk dimakan atau diminum
c) Tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan dan pencaharian
15
Jika perbuatan penganiayaan itu dilakukan dengan dipikirkan terlebih dahulu (met voor bedachterade), maka ketentuan tentang penganiayaan ringan ini tidak berlaku.16
3. Tindak Pidana Penganiayaan Berencana
―Penganiayaan yang dilakukan dengan direncanakan terlebih dahulu
dihukum dipenjara selama- lamanya empat tahun‖, Pasal 353 ayat 1 KUHP. Direncanakan lebih dahulu yaitu bahwa ada suatu jangka waktu (jeda waktu) untuk mempertimbangkan dan memikirkan dengan tenang. Jeda waktu ini tidak boleh terlalu lama, yang terpenting adalah pelaku dapat dengan tenang berpikir guna melakukan tindak pidana tersebut dan masih ada kesempatan untuk pelaku membatalkan perbuatannya.17
Menurut Pasal 353 KUHP ada 3 macam penganiayanan berencana , yaitu:
1. Penganiayaan berencana yang tidak berakibat luka berat atau kematian dan dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 4 (empat) tahun.
2. Penganiayaan berencana yang berakibat luka berat dan dihukum denhan hukuman selama-lamanya 7 (tujuh) tahun.
3. Penganiayaan berencana yang berakibat kematian dan dihukum dengan hukuman selama-lamanya 9 (Sembilan) tahun.
Unsur penganiayaan berencana adalah direncanakan terlebih dahulu sebelum perbuatan dilakukan. Penganiayaan dapat dikualifikasikan menjadi penganiayaan berencana jika memenuhi syarat-syarat:
a) Pengambilan keputusan untuk berbuat suatu kehendak dilakukan dalam suasana batin yang tenang.
b) Sejak timbulnya kehendak/pengambilan keputusan untuk berbuat sampai dengan pelaksanaan perbuatan ada tenggang waktu yang cukup sehingga dapat digunakan olehnya untuk berpikir, antara lain:
a. Resiko apa yang akan ditanggung.
b. Bagaimana cara dan dengan alat apa serta bila mana saat yang tepat untuk melaksanakannya.
c. Bagaimana cara menghilangkan jejak.
c) Dalam melaksanakan perbuatan yang telah diputuskan dilakukan dengan suasana hati yang tenang.
4. Tindak Pidana Penganiayaan Berat
(1) ―Barangsiapa dengan sengaja melukai berat oranglain dihukum karena
menganiaya berat, dengan hukuman penjara selama- lamanya delapan tahun‖.
(2) ―Jika perbuatan itu menjadikan luka berat, sitersalah dihukum penjara
selama- lamanya sepuluh tahun‖.
Tindak pidana ini diatur dalam Pasal 354 KUHP. Perbuatan berat atau dapat disebut juga menjadikan berat pada tubuh orang lain. Haruslah dilakukan dengan sengaja oleh orang yang menganiayanya.
Unsur-unsur penganiayaan berat, antara lain: Kesalahan (kesengajaan), Perbuatannya (melukai secara berat), Obyeknya (tubuh orang lain), Akibatnya (luka berat).
Apabila dihubungkan dengan unsur kesengajaan maka kesengajaan ini harus sekaligus ditujukan baik terhadap perbuatannya, (misalnya menusuk dengan pisau), maupun terhadap akibatnya yakni luka berat.
Istilah luka berat menurut Pasal 90 KUHP berarti sebagai berikut:
a. Jatuh sakit atau luka yang tak dapat diharapkan akan sembuh lagi dengan sempurna atau yang dapat mendatangkan bahaya maut.
b. Senantiasa tidak cakap mengerjakan pekerjaan jabatan atau pekerjaan pencaharian
c. Tidak dapat lagi memakai salah satu panca indra d. Mendapat cacat besar
e. Lumpuh (kelumpuhan)
f. Akal (tenaga faham) tidak sempurna lebih lama dari empat minggu g. Gugurnya atau matinya kandungan seorang perempuan.
Penganiayaan berat ada 2 (dua) bentuk, yaitu:
a. Penganiayaan berat biasa (ayat 1)
b. Penganiayaan berat yang menimbulkan kematian (ayat 2)
5. Tindak Pidana Penganiayaan Berat Berencana
Penganiyaan berat berencana, dimuat dalam Pasal 355 KUHP yang rumusannya adalah sebagai berikut :
(1)―Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana terlebih dahulu, dipidana dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun‖.
(2) ―Jika perbuatan itu menimbulkan kematian yang bersalah di pidana dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun‖.
Bila kita lihat penjelasan di atas tentang kejahatan yang berupa penganiayaan berencana, dan penganiayaan berat, maka penganiayaan berat berencana ini merupakan bentuk gabungan antara penganiayaan berat (354 ayat 1 KUHP) dengan penganiayaan berencana (pasal 353 ayat 1 KUHP). Dengan kata lain, suatu penganiayaan berat yang terjadi dalam penganiayaan berencana, kedua bentuk penganiayaan ini haruslah terjadi secara serentak/bersama. Oleh karena harus terjadi secara bersama, maka harus terpenuhi baik unsur penganiayaan berat maupun unsur penganiayaan berencana18.
Pasal ini berbeda dengan pasal pembunuhan yang menitikberatkan unsur
―dipikirkan lebih dahulu‖ sebagai bagian inti delik, melainkan sebagai keadaan
―memperberat pidana‖. Perbedaan ini sangat penting bagi penerapan Pasal 58
KUHP.19
Pasal 58 KUHP berbunyi ;
‖Dalam menggunakan aturan aturan pidana, keadaan- keadaan pibadi
seseorang yang menghapuskan, mengurangi, atau memberikan pengenaan pidana, hanya diperhitungkan terhadap pembuat atau pembantu (mededader) yang
bersangkutan itu sendiri‖.
2. Kepolisian sebagai Sistem Peradilan Pidana