TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Teori Pedestrian
2.5. Pengertian Walkability
Definisi Walkability bervariasi berdasarkan ilmu terapannya (Forsyth, 2015). Walkability sering digunakan untuk mendapatkan desain yang lebih baik dan merupakan salah satu solusi untuk masalah perkotaan. Seilo dalam (Abley, 2005) mengatakan Walkability merupakan ukuran dari kualitas serta ketersediaan infrastruktur pejalan kaki (trotoar, jalan, jembatan serta jalur penyeberangan).
Walkability adalah suatu kondisi yang menggambarkan sejauh mana suatu lingkungan dapat bersifat ramah terhadap para pejalan kaki (Livi & Clifton dalam Abley, 2005; Land Transport New Zealand 2007).
Rasa aman dan nyaman dalam menggunakan jalur pedestrian merupakan reaksi yang timbul dari kondisi lingkungan kota. Reaksi terhadap lingkungan kota dapat terjadi pada 2 tingkatan yaitu fisik dan psikis (emosional). Menurut Southworth dalam Forsyth,(2015) Walkability dapat diartikan sebagai suatu ukuran tingkat keramahan suatu lingkungan terhadap para pejalan kaki dalam suatu area.
Dari perspektif desain perkotaan (Soutworth (2008) dalam Rahmiastiani dan Ujang, 2013) mendefinisikan lingkungan walkable yang terbagi dalam lima jenis lingkungan.
a. Tutup: lingkungan yang mudah diakses yang jaraknya dekat dengan tujuan. Definisi ini berkaitan dengan perhitunan biaya-manfaat individu.
b. Bebas hambatan : lingkungan yang mudah dilalui tanpa hambatan utama dimana, yaitu mudah dilalui anak-anak, orang tua dan orang cacat.
c. Aman : lingkungan yang aman dari kejahatan dan aman dari lalu lintas berkendaraan.
d. Penuh dengan inrastruktur dan tujuan pejalan kaki: lingkungan yang tampak menampilkan infrastruktur pejalan kaki penuh sepeti trotoar atau jalur yang terpisah,penyeberangan pejalan kaki yang bertali, furnitur jalan dan lain lain.
e. Menyenangkan untuk semua kalangan.
Kobelke (2007) mengatakan bahwa untuk dapat mendukung terciptanya suatu lingkungan yang walkable, terdapat empat hal yang harus di perhatikan, yaitu:
a. Akses / access: Menciptakan suatu akses yang mudah menuju ruang terbuka dengan cara berjalan kaki, bagi semua orang. Serta memastikan tersedianya fasilitas yang dapat menunjang bagi kaum manula, difabel serta orang-orang yang membawa kereta bayi dengan menciptakan jalur yang lebar dan landai serta di tandai dengan ada nya signage. Selain itu perlu juga diperhatikan tempat parkir bagi kendaraan bermotor dan non bermotor serta lokasi pemberhentian bus.
b. Estetika/ Aesthetics: Perlunya menciptakan suatu lingkungan yang memberikan pengalaman menyenangkan dalam lokasi, dengan memberikan perhatian terhadap penataan landscape, serta pengendalian terhadap pengelolaan sampah.
c. Keselamatan dan keamanan/ Safety and security: Para pejalan kaki harus dapat merasa bahwa mereka dan barang-barang mereka aman dari tindak kejahatan. Para pejalan kaki harus dapat menikmati perjalanan merekda dengan bersantai, hal ini dapat di bentuk dengan menciptakan suatu lingkungan yang terpelihara dengan mengadopsi prinsip desain yang dapat mencegah terjadinya tindak kejahatan.
d. Kenyamanan/Comfort: Para pejalan kaki harus dapat merasanya nyaman ketika berjalan pada suatu lingkungan, hal ini dapat diciptakan dengan menyediakan fasilitas seperti adanya bangku-bangku umum, shelter tempat beristirahat serta adanya fasilitas air minum bagi publik. Selain itu untuk menciptakan lingkungan yang walkable perlu adanya perhatian terhadap faktor-faktor seperti: mengintegrasikan komunitas dengan perumahan, pertokoan, tempat bekerja fasilitas sekolah taman serta akses menuju kendraan umum yang saling terkoneksi dengan jalur pejalan kaki yang di sertai orientasi yang tepat.
Walkability adalah dukungan keseluruhan untuk lingkungan pejalan kaki.
Istilah ini digunakan untuk menjelaskan dan mengukur konektifitas dan kualitas dari jalur pejalan kaki atau trotoar di kota-kota (Bank Dunia 2008, ADB 2011
dalam Winayanti 2013). Walkability mempunyai banyak manfaat untuk mengetahui kondisi infrastruktur pejalan kaki, dan mengetahui persepsi dan kebutuhan masyarakat akan hak berjalan kaki di berbagai kota.(Winayanti 2013).
Terdapat sembilan tema dalam mengklasifikasikan walkability ( Forsyith, 2015):
1. Traversability
Walkability dalam pengertian ini adalah tentang infrastruktur fisik yang sangat mendasar dan mudah untuk dicapai dari satu tempat ke tempat lain dan apakah jalan yang dilalui terus menerus dengan permukaan yang masuk akal dan tidak mebahayakan. Hambatan hambatan tersebut berupa hambatan fisik (Leslie et al.2005). Konsep traversability terkait dengan tujuan utama berjalan yaitu untuk mencapai tujuan. Adapun aktivitas dalam tema ini yang mendukung pada pejalan kaki ialah mampu berkeliling dengan berjalan kaki serta ditandai dengan jalan setapak yang relatif datar.
2. Kompak
Definisi ini berfokus pada jarak ke tujuan dan fungsi pelengkap termasuk moda transportasi lain (soutworth 2006 dalam forsyth 2015) seperti toko, taman, transportasi, dan lain-lain, berada dalam satu perjalanan yang wajar untuk ditempuh "(Macquarie Dictionary 2014 dalam forsyth 2015 ) dalam artian saling terhubung. Salah satu alasan utama kurangnya minat untuk berjalan dan bersepeda disebabkan , karena desain rute pejalan kaki yang buruk dan jarak yang ditempuh
orang untuk sampai ke fasilitas dasar seperti sekolah, taman, pertokoan, perhentian bus dan tempat kerja."(Irish Times 2013, 11 dalam Forsyth 2015).
3. Aman
Keamanan pada pengertian ini lebih mengarah kepada akses untuk seluruh pengguna. Orang-orang dari segala usia dan kemampuan dapat dengan aman bergerak bersama dan melintasi jalanan di sebuah komunitas, terlepas dari bagaimana mereka bepergian. Misalnya adalah kaum difabel, oran tua serta berbagai komunitas pejalan kaki. Karena Seorang pejalan kaki adalah orang yang
berjalan, berdiri atau di kursi roda
(Wisconsin DepartemenTransportasi 2002 dalam soutworth. 2005). Dalam hal ini linkungan dirancang dan dioperasikan untuk memungkinkan akses yang aman bagi semua pengguna termasuk lampu penerang jalan.
4. Memikat secara fisik.
Infrastruktur yang berorientasi pada pejalan kaki, termasuk trotoar yang luas dan terpelihara dengan baik, jalan yang aktif, langkah-langkah menenangkan lalu lintas, pepohonan dan vegetasi, jalur penyeberangan, bangku, papan nama, dan penerangan pejalan kaki dan lain lain ( Alhagla. 2012 dalam Forsyth 2015).
Ini adalah definisi walkability yang menonjol dalam media dan profesi desain. Ini mengasumsikan bahwa orang termotivasi untuk berjalan dengan bentuk desain tertentu yang dilihat dengan kasat mata. Secara fisik suatu linkungan binaan perlu menawarkan pengalaman yang membuat mereka ingin berjalan kaki dengan perasaan gembira.
5. Lingkungan yang hidup dan bersosial
Mehta (2008, 238-239 dalam forsyth 2015) mengatakan kebutuhan berjalan menempatkan tema ini sebagai rasa memiliki, selain itu kehadiran orang dan aktivitas ada dalam kategori belakang yang disebut kenikmatan indrawi.
Bagian ini berkaitan dengan keterhubungan sosial, mengusulkan agar tempat-tempat yang mudah dijangkau memiliki modal sosial yang lebih tinggi atau memberikan manfaat kesehatan mental dari interaksi (Berke et al 2007; Rogers et al 2011 dalam Forsyth 2015 ). Misalnya Belanja, kegiatan budaya, rekreasi berjalan kaki, sangat mudah dijangkau dengan transit / mobil.
6. Opsi Transportasi Berkelanjutan
Walkability yang didefinisikan dalam hal menjadi pilihan transportasi berkelanjutan menggabungkan beberapa dimensi kunci termasuk penggunaan ekonomi, sosial, dan energi (Greenberg dan Renne 2005). Namun fokus dalam kelompok definisi ini adalah pada pilihan transportasi. Misalnya jalan kaki dan bersepeda sebagai alternatif untuk mengendarai mobil untuk mencapai belanja, sekolah, dan tujuan umum lainnya dengan jarak yang sesuai(Rattan et al., 2012)
7. Ruang aktivitas fisik
Dalam hal ini, istilah berjalan dapat digunakan secara bergantian dengan istilah aktivitas fisik. Namun, aktivitas fisik jelas lebih luas, termasuk tugas terkait pekerjaan, rekreasi dan olahraga, pekerjaan rumah tangga, bersepeda, bergerak di sekitar bangunan, meski jaraknya tiddak terlalu dekat dan sejenisnya. Secara logis, misalnya, tempat-tempat yang dianggap "walkable" dalam satu definisi
mungkin mudah untuk memungkinkan banyak latihan (Van Dyck et al., 2009a dalam Forsyth 2015). Sehingga mcCormak and sheil lebih mengarahkan defenisi ini kepada akibat/efek dari kemampuan berjalan. Misalnya apakah aktivitas berjalan tersebut dapat mengurangi obesitas.
8. Multidimensi dan terukur
Walkability diartikan sebagai sejauh mana area dalam jarak berjalan kaki mendorong perjalanan berjalan kaki dari properti ke tempat tujuan lainnya . Ini adalah konstruksi multidimensional yang terdiri dari berbagai faktor yang bersama-sama membentuk satu konsep teoritis tunggal. Atribut yang berkontribusi meliputi kepadatan perkotaan, pencampuran penggunaan lahan, konektivitas jalan (yaitu, keterkaitan dan kepadatan koneksi), volume lalu lintas, jarak ke tujuan, lebar dan kontinuitas trotoar, ukuran blok kota, kemiringan topografi, keamanan dan estetika yang dirasakan. (Pivo dan Fisher 2011, 186 dalam Forsyth 2015).
9. Lingkungan investasi.
Walkability dapat menjadi proxy untuk lingkungan yang lebih baik yang menghasilkan investasi, lebih berkelanjutan (dalam hal ekonomi dan sosial serta lingkungan), dan pada umumnya merupakan tempat yang baik untuk dicapai.
Misalnya dalam hal kesehatan dapat mepromosikan gaya hidup sehat "(Jane's Walk 2013 dalam Forsyth 2015).
Gambar 2.2 Tempat Tempat Walkability Sumber : Harvard University's DASH Repository
Dari hasil literatur didapatkan indikator-indikator pada walkability yaitu antara
Travelsabilty Landai, jalur lebar, ada jalur
Table 2.5 (Lanjutan)
Tabel 2.5. Indikator Walkability
Karakter walkability
Indikator Teori soutworth, 2008
Mudah di dan Koschinsky(2013) pada penelitianya mengatakan dianggap walkable jika layanan serta fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan sehari hari berada dalam 0.25
Trotoar, jalur penyeberangan dan street furniture adalah fasilitas pejalan kaki yang mampu mendorong kemampuan untuk berjalan kaki. Trotoar yang dimaksud adalah jalur yang terpisah dengan jalan sehingga pejalan kaki bisa berjalan dengan
Karakter walkability
Indikator Teori soutworth, 2008
nyaman. Sedangkan jalur penyeberangan yang dimaksud adalah jalur khusus bagi pejalan kaki untuk bisa menyeberang dengan aman( zebra cross/jembatan penyeberangan/jalur penyeberanan bawah tanah) serta adanya fasilitas-fasilitas lain (penerangan jalan,rambu-rambu lalu lintas, bangku, boks telepon serta bak berjalan sendiri maupun beramai-ramai, sehingga mereka dapat berjalan dengan santai dan aman dari lalu lintas kendaraan saat berjalan dengan adanya pembatas jalan seperti trotoar.
Karakter walkability
Indikator Teori soutworth, 2008
Menarik Bersih, terdapat bangunan
bersejarah,dan ada grafiti.
Keadaan suatu lingkungan dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi yang menikmatinya.
Jalur yang bersih yaitu jalur yang bebas dari semua sampah-sampah yang ada.
Bangunan bersejarah merupakan bangunan yang memilki cerita tersendiri pada suatu kawasan.
Grafiti yang dimaksud adalah seni yang biasanya terlukis pada tembok tembok pembatas suatu kota.
BAB III
METODE PENELITIAN