• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Zakat Mal dan Shadaqah

Dalam dokumen REKONSTRUKSI SIKAP TOLERAN DALAM BERMAZHAB (Halaman 150-155)

BAB VI PROBLEMATIKA ZAKAT

A. Pengertian Zakat Mal dan Shadaqah

enurut Lisan al-Arab arti dasar dari kata zakat (ةاكذ), ditinjau dari sudut bahasa, adalah suci, tumbuh, berkah, dan terpuji: semuanya digunakan di dalam al-Quran dari hadis. Sedangkan maal berarti: harta benda. Menurut Wahidi dan lain-lain, kata dasar Zaka (يكذ) berarti bertambah dan tumbuh, sehingga bisa dikatakan, tanaman itu zaka, artinya tumbuh, sedangkan tiap sesuatu yang bertambah disebut zaka artinya bertambah. Bila satu tanaman tumbuh tanpa cacat, maka kata zaka di sini berarti bersih.

Bila seseorang diberi sifat zaka dalam arti baik, maka berarti orang itu lebih banyak mempunyai sifat yang baik. Seorang itu zaki, berarti seorang yang memiliki lebih banyak

143

sifat-sifat orang baik, dan kalimat “hakim-zaka-saksi” berarti hakim menyatakan jumlah saksi-saksi diperbanyak.

Zakat dari segi istilah fiqh berarti “sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah swt diserahkan kepada orang-orang yang berhak” di samping berarti “mengeluarkan jumlah tertentu itu sendiri”. Jumlah yang dikeluarkan dari kekayaan itu disebut zakat karena yang dikeluarkan itu.

Dalam Islam zakat dibagi dua, yaitu zakat mal (zakat harta) dan zakat fitrah (jiwa). Bahasan ini hanya membicarakan zakat mal. Ada beberapa definisi (istilah) zakat mal yang dikemukakan ulama mazhab.

Ulama Mazhab Maliki mendefinisikannya dengan “mengeluarkan bagian tertentu dari harta tertentu telah mencapai satu nisab bagi orang yang berhak menerimanya, dengan ketentuan harta itu milik sempurna telah haul, dan bukan merupakan barang tambang”. Definisi ini hanya untuk zakat mal, tidak mencakup pengertian zakat fitrah.

Ulama Mazhab Hanafi mendefinisikannya dengan “pemilikan bagian tertentu dari harta tertentu yang dimiliki seseorang berdasarkan ketetapan Allah Ta'ala". Definisi inipun hanya untuk zakat harta, karena pengertian “harta tertentu” dimaksudkan sebagai harta yang telah mencapsi nisab.

Ulama Mazhab Syafi'i mendefinisikannya dengan “sesuatu yang dikeluarkan dari harta atau jiwa dengan cara tertentu”. Dalam definisi itu secara jelas ditunjukkan bahwa zakat yang mereka maksudkan adalah zakat harta dan zakat fitrah, karena pencantuman kata “harta” dan “jiwa” dalam definisi ini mengandung pengertian zakat harta dan zakat fitrah jiwa.

144

Sedangkan ulama Mazhab Hanbali mendefinisikannya dengan “hak wajib pada harta tertentu bagi kelompok orang tertentu pada waktu yang tertentu pula”. Definisi ini pun hanya mencakup zakat harta saja, tidak termasuk zakat fitrah, karena ungkapan “harta tertentu” mengandung pengertian bahwa harta itu telah mencapai satu nisab, sedangkan satu nisab adalah salah satu syarat wajib zakat harta.

Yusuf al-Qardawi mengemukakan definisi “sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah menyerahkannya kepada orang-orang yang berhak”. Menurutnya, zakat juga bisa berarti “mengeluarkan jumlah harta tertentu itu sendiri”. Artinya, perbuatan mengeluarkan hak yang wajib dari harta itu pun dinamakan zakat dan bagian tertentu yang dikeluarkan dari harta itu pun dikatakan zakat.

Penggunaan lafal zakat dengan segala bentuknya di dalam al-Qur'an terulang sebanyak 30 kali dan 27 kali di antaranya digandengkan dengan kewajiban mendirikan salat. Di samping pemaknaan kata zakat dalam berbagai ayat itu, al-Qur'an juga menggunakan lafal as-sadaqah (sedekah) dengan makna zakat.

Zakat wajib ini menurut bahasa al-Quran juga disebut sedekah, sehingga Mawardi mengatakan, “Sedekah itu adalah zakat dan zakat itu adalah sedekah, berbeda nama tetapi arti sama."

QS. At Taubah: 103, Allah berfirman:

ُتَو ْمُهُرُِّه َطُت ًةَقَد َص ْمِهِلاَوْمَأ ْنِم ْذُخ

اَهِب مِهيُِّكَز

...

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka….”

145

Dan firman-Nya juga:

ْاو ُطْعُأ ْنِإَف ِتاَقَد َّصلا ِف َكُزِمْلَي نَّم مُهْنِمَو

ْاْو َطْعُي ْمَّل نوَإِ ْاو ُضَر اَهْنِم

َي ْمُه اَذِإ اَهنِم

َنو ُطَخ ْس

.

“Dan di antara mereka ada yang mencelamu tentang sedekah-sedekah. Tetapi jika mereka diberi sebahagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi mereka menjadi marah.”

ِيِْكا َسَمْلاَو ءاَرَقُفْلِل ُتاَقَد َّصلا اَمَّنِإ

...

“Sedekah-sedekah itu hanyalah bagi fakir miskin …” Dalam hadis sebagai berikut :136

ملسو هيلع الله ىلص الله لوسر نأ هنع الله يضر يرْدُخلا ديعس يبأ نع

ةقدص رمتلا نِم ٍقسوأ ةسمخ نود اميف سيل(( :لاق

نود اميف سيلو ،

نم ٍدوذ سمخ نود اميف سيلو ، ةقدص ق ِر َولا نم ٍقاوأ سمخ

لبلإا

هيلع قفتم ؛)) ةقدص

َسْيَل َو , ٌةَقَدَص ٍد ْوَذ ِسْمَخ َن ْوُد ِسْيَل َو ,ُةَقَدَص ٍقُس ْوَأ ِةَسْمَخ َن ْوُد اَهْيِف َسْيَل

ٌةَقَدَص ٍقا َوَأ ِسْمَخ َن ْوُداَهْيِف

“Kurang dari lima wasaq tidak terkena sedekah, kurang dari lima zaud tidak terkena sedekah, dan kurang dari lima awaq tidak terkena sedekah”.

Dalam dalam hadis tentang penempatan Mu’az di Yaman, Nabi berkata:137

َوْمَأ يِف ًةَقَدَص ْمِهْيَلَع َض َرَتْفا َ َّاللَّ َّنَأ ْمُهْمِلْعَأَف

ُّد َرُت َو ْمِهِئاَيِنْغَأ ْنِم ُذَخْؤُت ْمِهِلا

َرَقُف ىَلَع

ِهِئا

136Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari (Bayrut, Dar Ibn

Katsir), No. 6174. Juz 2/529

146

“Terangkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan sedekah, yang dikenakan pada kekayaan orang-orang kaya dan diserahkan ke orang miskinnya.”

Semua ayat dan hadis di atas adalah tentang zakat, tetapi diungkapkan dengan istilah shadaqah. Terdapat pula penggunaan istilah mushaddiq buat amil, oleh Karena ia bertugas mengumpulkan dan membagi-bagikan sedekah tersebut. Namun dalam penggunaan sehari-hari kata sedekah itu dipersempit maknanya yaitu hanya berarti sedekah yang diberikan kepada pengemis dan peminta-minta. Tetapi hal itu tidak boleh membuat kita lupa bagaimana sebenarnya pengertian satu kata dalam bahasa Arab pada Zaman al-Quran turun. Kata shadaqah sesungguhnya berasal dari kata Shidq yang berarti benar.

Qadhi Abu Bakr bin Arabi mempunyai pendapat yang sangat berharga tentang mengapa zakat dinamakan shadaqah: "Kata shadaqah berasal dari kata shidq, benar sesuai dengan perbuatan dan ucapan serta keyakinan".

Bangun shad – dal – qaf bermakna “terwujudnya sesuatu oleh sesuatu, atau membantu terwujudnya sesuatu itu”. Contoh di antaranya adalah shidq “mahar” buat perempuan, yaitu terwujudnya dan diakuinya hubungan suami istri dengan diterimanya mahar dan terlaksananya perkawinan menurut tatacara tertentu.

Pengertian zakat memang berubah sesuai dengan perubahan tasrif katanya. “Banyak kata shadaqah dalam berbicara, berarti “benar”, bentuk kata tashaddaqa dalam hal kekayaan, berarti “dizakatkan”, dan bentuk kata ashdaqa kepada perempuan, berarti “membayar mahar” perempuan tersebut. Perubahan tasrif itu dimaksudkan untuk menunjukkan arti tertentu setiap kasus, dan diungkapkannya

147

semua dengan akar kata shadaq dimaksudkan untuk menunjukkan perbuatan menyedekahkan itu: bahwa orang yang yakin hari kebangkitan ada, negeri akhirat adalah negeri tujuan, dan dunia adalah jembatan buat akhirat dan gerbang kejahatan maupun kebaikan, maka orang itu tentu akan bekerja dan mengorbankan apa yang diperolehnya di dunia, untuk kepentingan akhirat tersebut, tetapi bila ia tidak yakin, ia tentu akan kikir, memburu dunia, dan tidak peduli dengan akhirat”.

Menggabungkan kata “memberi” dengan

“membenarkan” dan “kikir” dengan “dusta” dapat dilihat dalam firman-Nya:

ىَقَّتا َو ىَطْعَأ نَم اَّمَأَف

,

ىَنْسُحْلاِب َقَّدَص َو

,

ى َرْسُيْلِل ُه ُرِِّسَيُنَسَف

,

َل ِخَب نَم اَّمَأ َو

ىَنْغَتْسا َو

,

اِب َبَّذَك َو

ىَنْسُحْل

,

ى َرْسُعْلِل ُه ُرِِّسَيُنَسَف

,

“Siapa yang “memberi” dan bertakwa, serta “membenarkan” adanya pahala yang terhaik. Kami sungguh memudahkan baginya jalan menuju bahagia. Tetapi siapa yang “kikir” dan “lupa daratan", serta “mendustakan” adanya pahala yang terbaik, akan Kami mdahkan baginya jalan kepada kemalangan.”

Dengan demikian sedekah berarti bukti “kebenaran” iman dan ''kebenaran nembenarkan" adanya hari kiamat. Oleh karena itulah Rasulullah saw bersabda:

ٌناَه ْرُب ُةَقَدَّصلا

“Sedekah itu adalah bukti”

Dalam dokumen REKONSTRUKSI SIKAP TOLERAN DALAM BERMAZHAB (Halaman 150-155)

Dokumen terkait