• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEMBAHASAN

5.3 Pengetahuan Ibu Dalam Pemberian Susu Formula

Menurut Notoadmodjo (2003) pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh pendidikan, pekerjaan, umur, minat, pengalaman, dan informasi. Pengetahuan yang diperoleh berasal dari sumber informasi yang telah disampaikan kepada ibu.pengetahuan seseorang akan memengaruhi sikap dan tindakannya. Notoadmodjo (2003) menyatakan bahwa pengetahuan merupakan salah satu unsur yang diperlukan seseorang individu agar ia dapat berbuat sesuatu, adapun salah satu unsurnya adalah keyakinan dan kebenaran dari apa yang akan dilakukannya.

Berdasarkan hasil penelitian yang ditunjukkan oleh tabel 4.24. dapat dilihat 21 orang (51,2%) memiliki pengetahuan sedang mengenai susu formula. Pada tabel 4.13. sebanyak 20 orang (48,8%) memiliki jawaban susu formula merupakan susu sapi. Pada tabel 4.16 sebanyak 8 orang (19,5%) menyebutkan bahwa susu formula tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi. Menurut Khasanah (2011) susu formula merupakan susu sapi yang susunan nutrisinya diubah sedemikian hingga dapat diberikan kepada bayi tanpa memberikan efek samping. Alasan pemakaian susu sapi

sebagai bahan bakunya antara lain karena banyaknya susu yang dapat dihasilkan oleh peternak sapi perah dan harganya pun relatif murah.oleh karena itu, sebelum dipergunakan untuk makanan bayi, susunan nutrisi susu formula harus harus diubah hingga cocok untuk bayi. Sebab, ASI merupakan makanan bayi yang ideal sehingga perubahan yang dilakukan pada komposisi nutrisi susu sapi harus sedemikian rupa hingga mendekati susunan nutrisi ASI. Menurut sipeneliti pengetahuan responden tentang pengertian susu formula tergolong rendah. Oleh sebab itu, pengetahuan responden tentang susu formula harus ditingkatkan.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah ditunjukkan oleh tabel 4.14. sebanyak 20 orang (48,8%) menyebutkan ASI Eksklusif yang baik diberikan pada bayi usia 0-6 bulan. Pada tabel 4.20 sebanyak 24 orang (58,6%) menyebutkan bubur dan makanan lembut baik diberikan pada bayi usia 4 bulan. Menurut Khasanah (2011) ASI Eksklusif lebih tepatnya pemberian ASI secara eksklusif adalah istilah untuk menyebutkan bayi yang hanya diberi ASI, tanpa tambahan cairan lain, seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan tanpa tambahan makanan padat, misalnya pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi, tim, atau makanan lain selain ASI. Pemberian ASI eksklusif dianjurkan untuk jangka waktu minimal 4 bulan dan akan lebih baik lagi apabila diberikan sampai berusia 6 bulan. Menurut sipeneliti pengetahuan responden tergolong rendah. Sehingga promosi tentang ASI Eksklusif perlu ditingkatkan.

Berdasarkan hasil penelitian yang ditunjukkan oleh tabel 4.15. sebagian besar responden 18 orang (43,9%) mengetahui syarat-syarat pemberian susu formula

kepada bayi adalah ASI tidak keluar sama sekali, tidak cukup dan ibu bekerja di luar rumah. Hali ini sesuai menurut Muchtadi (1994), susu formula dapat diberikan kepada bayi sebagai pelengkap atau sebagai pengganti ASI, dalam keadaan sebagai berikut yaitu air susu ibu tidak keluar sama sekali. Dalam hal ini satu-satunya makanan yang dapat diberikan sebagai pengganti ASI adalah susu formula.

Berdasarkan hasil penelitian yang ditunjukkan oleh tabel 4.17 dapat dilihat 21 orang (51,2%) menyebutkan bahwa susu formula mempunyai dampak diare. Pada tabel 2.21. dapat dilihat 37 orang (90,3%) menyebutkan bahwa diare dan muntah dapat terjadi jika tidak merebus botol dot untuk bayinya. Menurut Khasanah (2011) pengenceran susu formula yang kurang tepat dapat mengganggu pencernaan bayi, sedangkan susu yang terlalu kental dapat membuat usus bayi sulit mencerna, sehingga sebelum dicerna, susu akan dikeluarkan kembali lewat anus yang mengakibatkan bayi mengalami diare. Meskipun tidak membahayakan, diare bisa menyebabkan dehidrasi atau kekurangan cairan. Selain itu penyimpanan susu formula yang kurang steril juga bisa menyebabkan bakteri mudah masuk. Bayi yang diberi susu formula lebih sering sakit diare dan infeksi saluran pencernaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bayi yang mendapat susu botol empat kali lebih banyak dapat menderita diare dibandingkan bayi yang mendapat ASI.

Berdasarkan hasil penelitian, yang ditunjukkan tabel 4.18 menunjukkan bahwa 9 orang (22,0%) menyebutkan alat yang digunakan untuk memberikan susu formula pada bayi. Menurut sipeneliti, saat memberikan susu pada bayi, akan lebih

baik jika menggunakan cangkir atau sendok, bukan dot. Hal ini dimaksudkan agar saat ibu ingin menyusui bayi kembalinya, bayi tidak menolak menyusu.

Berdasarkan hasil penelitian yang ditunjukkan oleh tabel 4.19. menyatakan bahwa mencuci dan merebus botol dot merupakan hal pertama yang dilakukan sebelum memberikan susu formula pada bayi yaitu sebanyak 32 orang (78,0%). Membersihkan dan mensterilkan peralatan yang digunakan untuk mencegah kontaminasi atau pencemaran susu oleh bakteri. Cuci semua peralatan (botol, dot, sikat botol, sikat dot) dengn sabun dan air bersih yang mengalir. Sterilkan semua peralatan, botol harus terendam seluruhnya sehingga tidak ada udara dalam botol. Panci ditutup dan dibiarkan sampai mendidih selama 5-10 menit. Biarkan botol dan dot di dalam panci tertutup dan air panas sampai segera akan digunakan.

Berdasarkan hasil penelitian yang ditunjukkan oleh tabel 4.22. sebanyak 17 orang (41,5%) menyatakan HIV/AIDS merupakan penyakit yang tidak boleh memberikan ASI pada bayi. Menurut Khasanah (2011) bagi ibu menyusui yang menderita AIDS tidak diperkenankan menyusui bayinya karena dapat menularkan virus HIV kepada bayinya melalui ASI. Ibu yang menderita penyakit tertentu juga tidak dianjurkan untuk memberikan ASI pada bayinya diantaranya Hepatitis B, gagal jantung, kanker, dll dikhawatirkan dapat mengganggu pertumbuhan sel-sel bayinya.

Berdasarkan hasil penelitian yang ditunjukkan oleh tabel 4.23. sebanyak 17 orang (41,4%) menyebutkan bahwa gizi pada ASI Eksklusif belum tentu ada pada susu formula. Menurut Khasanah (2011) susu formula (susu sapi) tidak mengandung

DHA seperti halnya pada ASI sehingga tidak bisa membantu meningkatkan kecerdasan bayi. Terdapat lebih dari 1000 jenis zat gizi dalam ASI diantara lain AA, DHA, taurin, dan spingomyelin yang tidak terdapat dalam susu sapi. Meskipun, produsen susu formula mencoba menambahkan zat gizi tersebut, namun hasilnya tetap tidak bisa menyamai kandungan gizi yang terdapat dalam ASI. Demikian pula susu formula bayi yang difortifikasi dengan zat besi, ternyata tidak meningkatkan pertumbuhan bayi, walaupun dapat membantunya dari penyakit anemia.

Dari uraian-uraian tersebut , peneliti berasumsi bahwa tingkat pengetahuan ibu dalam pemberian susu formula pada bayi usia 0-6 bulan tergolong sedang yaitu 21 orang (51,2%). Hali ini disebabkan masih kurangnya promosi tentang ASI Eksklusif oleh bidan. Promosi susu formula, seharusnya diiringi juga dengan promosi manfaat dan penggunaan ASI. Masih kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI. Penyuluhan kepada masyarakat seputar menyusui masih jarang sehingga banyak di antara mereka yang kurang mengerti akan pentingnya pemberian ASI kepada bayi. Untuk menunjang keberhasilan menyusui, hendaknya bayi disusui segera atau sedini mungkin setelah lahir. Disamping itu, belum semua petugas paramedis diberi pesan dan cukup informasi agar menganjurkan setiap ibu untuk menyusui bayinya, dan adanya praktik yang keliru dengan memberikan susu formula kepada bayi yang baru lahir. Masih banyak rumah sakit yang merawat bayi terpisah dengan ibunya.

Dokumen terkait