BAB 4 HASIL PENELITIAN
4.1.7 Pengetahuan Responden tentang Risiko Anak Kedua dengan
Distribusi frekuensi jawaban responden pada lembar jawaban kuesioner pengetahuan responden tentang risiko anak kedua dengan bibir sumbing setelah memiliki anak dengan bibir sumbing selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 9. Distribusi frekuensi responden pada lembar kuesioner pengetahuan tentang risiko anak kedua dengan bibir sumbing setelah memiliki anak dengan bibir sumbing
Soal
Benar Salah
n % n %
Setelah memiliki anak dengan bibir sumbing, terdapat risiko anak kedua dengan bibir sumbing.
9 13,4 58 86,6
Berdasarkan tabel 9 di atas, jawaban responden tentang risiko anak kedua dengan bibir sumbing setelah memiliki anak dengan bibir sumbing, mayoritas
responden menjawab salah yaitu sebanyak 58 orang (86,6%) dan responden yang menjawab benar sebanyak 9 orang (13,4%).
4.1.8 Pengetahuan Responden tentang Konsumsi Obat sebagai Salah Satu Penyebab Terjadinya Celah Bibir
Distribusi frekuensi jawaban responden pada lembar jawaban kuesioner pengetahuan responden tentang konsumsi obat sebagai salah satu penyebab terjadinya celah bibir selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 10. Distribusi frekuensi responden pada lembar kuesioner pengetahuan tentang konsumsi obat sebagai salah satu penyebab terjadinya celah bibir
Soal
Benar Salah
n % n %
Konsumsi obat seperti aspirin dan antiepilepsi tanpa instruksi dokter serta konsumsi jamu-jamuan termasuk salah satu penyebab terjadinya bibir sumbing
35 52,2 32 47,8
Berdasarkan tabel 10 di atas, jawaban responden tentang konsumsi obat sebagai salah satu penyebab terjadinya celah bibir, mayoritas responden menjawab benar yaitu sebanyak 35 orang (52,2%) dan responden yang menjawab salah sebanyak 32 orang (47,8%).
4.1.9 Pengetahuan Responden tentang Nutrisi Ibu saat Hamil sebagai Salah Satu Faktor Risiko Terjadinya Celah Bibir dan Langit-langit
Distribusi frekuensi jawaban responden pada lembar jawaban kuesioner pengetahuan responden tentang nutrisi ibu saat hamil sebagai salah satu faktor risiko terjadinya celah bibir dan langit-langit selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 11. Distribusi frekuensi responden pada lembar pengetahuan kuesioner tentang nutrisi ibu saat hamil sebagai salah satu faktor risiko terjadinya celah bibir dan langit-langit.
Soal
Benar Salah
n % n %
Nutrisi ibu seperti asam folat, vitamin B12, vitamin A, zinc dan kalsium saat hamil berpengaruh terhadap kejadian bibir sumbing
21 31,3 46 68,7
Berdasarkan tabel 11 di atas, jawaban responden tentang nutrisi ibu saat hamil sebagai salah satu faktor risiko terjadinya celah bibir dan langit-langit, mayoritas responden menjawab salah yaitu sebanyak 46 orang (68,7%) dan responden yang menjawab benar sebanyak 21 orang (31,3%).
4.1.10 Pengetahuan Responden tentang Penggunaan Suplemen Asam Folat dalam Menurunkan Risiko Celah Bibir dan Langit-langit
Distribusi frekuensi jawaban responden pada lembar jawaban kuesioner pengetahuan responden tentang penggunaan suplemen asam folat dalam menurunkan risiko celah bibir dan langit-langit selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 12. Distribusi frekuensi responden pada lembar kuesioner pengetahuan tentang penggunaan suplemen asam folat dalam menurunkan risiko celah bibir dan langit-langit.
Soal
Benar Salah
n % n %
Penggunaan suplemen asam folat satu bulan sebelum kehamilan dan awal kehamilan dapat menurunkan risiko bibir sumbing pada bayi
47 70,1 20 29,9
Berdasarkan tabel 12 di atas, jawaban responden tentang penggunaan suplemen asam folat dalam menurunkan risiko celah bibir dan langit-langit, mayoritas responden menjawab benar yaitu sebanyak 47 orang (70,1%) dan responden yang menjawab salah sebanyak 20 orang (29,9%).
4.1.11 Pengetahuan Responden tentang Pemeriksaan Masa Kehamilan Membantu Mencegah Terjadinya Gangguan pada Kehamilan
Distribusi frekuensi jawaban responden pada lembar jawaban kuesioner pengetahuan responden tentang pemeriksaan masa kehamilan membantu mencegah terjadinya gangguan pada kehamilan selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 13. Distribusi frekuensi responden pada lembar kuesioner pengetahuan tentang pemeriksaan masa kehamilan membantu mencegah terjadinya gangguan pada kehamilan
Soal
Benar Salah
n % N %
Pemeriksaan rutin masa kehamilan membantu ibu dalam mencegah terjadinya gangguan pada kehamilan
49 73,1 18 26,9
Berdasarkan tabel 13 di atas, jawaban responden tentang pemeriksaan masa kehamilan membantu mencegah terjadinya gangguan pada kehamilan, mayoritas responden menjawab benar yaitu sebanyak 49 orang (73,1%) dan responden yang menjawab salah sebanyak 18 orang (26,9%).
4.1.12 Pengetahuan Responden tentang Paparan Asap Rokok Saat Hamil Berkaitan dengan Kejadian Celah Bibir dan Langit-langit
Distribusi frekuensi jawaban responden pada lembar jawaban kuesioner pengetahuan responden tentang paparan asap rokok saat hamil tidak berkaitan dengan kejadian celah bibir dan langit-langit selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 14. Distribusi frekuensi responden pada lembar kuesioner pengetahuan pasif) tidak berkaitan dengan kejadian bibir dan langit-langit sumbing
28 41,8 39 58,2
Berdasarkan tabel 14 di atas, jawaban responden tentang paparan asap rokok saat hamil tidak berkaitan dengan kejadian celah bibir dan langit-langit, mayoritas responden menjawab salah yaitu sebanyak 39 orang (58,2%) dan responden yang menjawab benar sebanyak 28 orang (41,8%).
4.1.13 Pengetahuan Responden tentang Perkawinan Sedarah dapat Meningkatkan Kejadian Celah Bibir dan Langit-langit
Distribusi frekuensi jawaban responden pada lembar jawaban kuesioner pengetahuan responden tentang perkawinan sedarah dapat meningkatkan kejadian celah bibir dan langit-langit selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 15. Distribusi frekuensi responden pada lembar kuesioner pengetahuan tentang perkawinan sedarah dapat meningkatkan kejadian celah bibir dan langit-langit
Soal
Benar Salah
n % N %
Perkawinan sedarah dapat meningkatkan
kejadian bibir sumbing 20 29,9 47 70,1
Berdasarkan tabel 15 di atas, jawaban responden tentang perkawinan sedarah dapat meningkatkan kejadian celah bibir dan langit-langit, mayoritas responden
menjawab salah yaitu sebanyak 47 orang (70,1%) dan responden yang menjawab benar sebanyak 20 orang (29,9%).
4.2 Pengetahuan Responden tentang Faktor Risiko Celah Bibir dan Langit-langit
Distribusi frekuensi tingkat pengetahuan responden mengenai faktor risiko celah bibir dan langit-langit selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 16. Distribusi frekuensi responden pada lembar kuesioner pengetahuan tentang faktor risiko celah bibir dan langit-langit.
Pengetahuan Frekuensi Persentase
Baik Cukup Kurang
7 22 38
10,4 32,8 56,7
Total 67 100.0
Hasil penelitian diperoleh mayoritas pengetahuan responden tentang faktor risiko celah bibir dan langit-langit adalah kurang yaitu sebanyak 38 orang (56,7%), diikuti responden dengan pengetahuan cukup yaitu 22 orang (32,8%), dan responden dengan pengetahuan baik hanya 7 orang (10,4%).
BAB 5 PEMBAHASAN
Hasil penelitian pengetahuan ibu hamil tentang faktor risiko celah bibir dan langit-langit di Puskesmas Mutiara Kabupaten Asahan menunjukkan bahwa secara garis besar responden memiliki pengetahuan dengan kategori kurang. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan ibu hamil sebanyak 10,4% responden memiliki pengetahuan yang baik, 32,8% responden memiliki pengetahuan cukup sedangkan 56,7% responden memiliki pengetahuan dengan kategori kurang. Hasil penelitian ini diperoleh dari 67 orang responden yang telah mengisi kuesioner tentang celah bibir dan langit-langit.
Celah bibir dan langit-langit merupakan kelainan kongenital berupa jarak pada bibir bagian atas, tulang alveolar atau langit-langit. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 56 responden (83,6%) menjawab benar pada pertanyaan istilah celah bibir dan langit-langit. Hal ini sejalan dengan penelitian Alnujaim dkk yang menunjukkan hasil sebagian besar responden (41,9%) setuju bahwa celah bibir dan langit-langit adalah deformitas wajah kongenital dan merupakan kondisi terbukanya bibir dan langit-langit.10
Insidensi celah bibir dan langit-langit lebih sering terjadi pada pria daripada wanita sedangkan celah langit-langit saja lebih sering pada wanita.25 Perbedaan ini mungkin dapat dijelaskan dari perbedaan waktu tahap penting dalam perkembangan kraniofasial antara janin laki-laki dan perempuan. Celah pada perempuan yang terjadi pada periode akhir embrionik biasanya hanya celah langit-langit sekunder, dan biasanya merupakan hasil dari kegagalan fusi. Celah pada laki-laki umumnya terjadi pada awal dan akhir periode embrionik oleh karena itu sering kali merupakan gabungan celah pada palatum primer dan sekunder. Celah yang lebih sering terjadi merupakan akibat dari kegagalan diferensiasi dan gabungan kegagalan fusi dan diferensiasi.40 Persentase responden yang mengetahui kejadian celah bibir lebih sering terjadi pada bayi laki-laki adalah 18 responden (26,9%) yang menjawab dengan benar.
Celah dapat terjadi hanya celah bibir, celah bibir dengan atau tanpa celah langit-langit, dan hanya celah langit-langit. Sebanyak 35,8% responden menyatakan bahwa kejadian celah bibir tidak selalu diikuti dengan celah langit-langit. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian Alnujaim dkk yang menunjukkan mayoritas responden menyatakan bahwa celah bibir dan langit-langit tidak selalu terjadi bersamaan.10
Secara umum, celah bibir dan langit-langit diduga disebabkan oleh interaksi antara faktor genetik dan faktor lingkungan. Risiko terjadinya celah bibir dan langit-langit pada anak yang orang tuanya mengalami celah bibir dan langit-langit-langit-langit adalah 9%.20 Riwayat keluarga merupakan salah satu faktor genetik yang dapat meningkatkan terjadinya celah bibir dan langit-langit. Jamilan dkk. melakukan penelitian dengan sampel 187 orang dengan tujuan untuk memahami hubungan antara faktor risiko orang tua dan kejadian celah bibir dan langit-langit. Hasilnya mengungkapkan bahwa faktor risiko yang terlibat ketika mempertimbangkan variabel riwayat keluarga adalah rasio odds 7,4 dengan interval kepercayaan 95%. Hal ini menunjukkan secara signifikan insidensi celah bibir dan langit-langit meningkat pada orang tua dengan riwayat celah bibir dan langit-langit.21 Selain faktor genetik, etiologi celah bibir dan langit-langit memiliki beberapa faktor yang dapat dimodifikasi, yang bekerja dari satu bulan sebelum hingga dua bulan sesudah masa pembuahan. Pada dasarnya, faktor ibu saat hamil seperti status kesehatan, gaya hidup, konsumsi obat-obatan dapat memengaruhi lingkungan intrauterin, terutama saat perkembangan embrio, dan telah menjadi beberapa penelitian untuk dilihat keterkaitannya dengan risiko terjadinya celah bibir dan langit-langit.41 Persentase responden yang mengetahui bahwa kemungkinan terjadinya celah bibir dan langit-langit tidak hanya karena riwayat keluarga adalah 67,2% responden
Celah bibir dan langit-langit dapat memengaruhi tumbuh kembang selanjutnya.
Beberapa masalah terkait seperti gangguan berbicara, masalah pendengaran, masalah dental, nutrisi, dan masalah psikologis.20 Sebanyak 92,5% responden menjawab dengan benar pertanyaan adanya celah bibir dan langit-langit akan menimbulkan gangguan tumbuh kembang selanjutnya.
Pertanyaan apakah ada pengaruh usia ibu hamil dengan kejadian celah bibir dan langit-langit, sebanyak 47,8% responden menjawab dengan benar. Pada usia ibu di atas 40 tahun risiko terjadinya celah bibir dan langit-langit meningkat. Penjelasan yang memungkinkan terkait peningkatan risiko tersebut adalah terdapat perubahan kumulatif dalam gamet sepanjang hidup sebagai akibat paparan lingkungan atau perubahan kromosom. Faktor potensial lain termasuk proses penuaan sehingga rahim menjadi kurang selektif terhadap embrio yang rusak serta plasenta wanita yang lebih tua lebih permeabel terhadap agen teratogenik. Faktor lain yang juga harus diperhatikan adalah penggunaan obat sepanjang hidup, prevalensi penyakit kronis pada lanjut usia, karakteristik sosial ekonomi serta akses dan kualitas pelayanan kesehatan.32 Penjelasan yang mungkin untuk peningkatan kemungkinan celah bibir dan langit-langit pada ibu yang lebih muda adalah berisiko kekurangan asupan antioksidan dan mikronutrien termasuk suplementasi yang buruk.29
Setelah memiliki anak pertama dengan celah bibir, risiko memiliki anak kedua dengan celah bibir adalah sekitar 2-5% dan setelah dua anak yang terkena, risiko tersebut meningkat menjadi 9-12%.15 Persentase ibu hamil yang menjawab benar pertanyaan setelah memiliki anak dengan bibir sumbing, terdapat risiko anak kedua dengan bibir sumbing adalah 13,4%.
Penggunaan obat vasoaktif untuk ibu, seperti aspirin, obat antiepilepsi, dan obat-obatan yang digunakan dalam pengobatan psoriasis, radang sendi, dan kanker meningkatkan risiko celah bibir dan langit-langit saat anak lahir.25 Pada pertanyaan terkait konsumsi obat-obatan pada masa kehamilan, sebanyak 52,2% responden menjawab dengan benar.
Faktor seperti pola makan termasuk asam folat, vitamin, zinc, dan unsur mikro lainnya memiliki pengaruh besar pada kehamilan.7 Studi menemukan bahwa penggunaan multivitamin sebelum kehamilan dikaitkan dengan penurunan risiko celah bibir dan langit-langit. Berdasarkan hasil penelitian ini 31,3% orang responden mengetahui bahwa nutrisi ibu saat hamil memengaruhi risiko terjadinya celah bibir dan langit-langit.
Mayoritas ibu hamil yaitu 70,1% telah mengetahui bahwa penggunaan suplemen asam folat dapat menurunkan risiko celah bibir dan langit-langit. Penelitian menemukan bahwa penurunan risiko celah bibir dan langit-langit lebih sering terjadi pada ibu yang telah menggunakan multivitamin yang mengandung asam folat selama jangka waktu satu bulan sebelum sampai dua bulan setelah pembuahan. Wanita yang menggunakan multivitamin yang mengandung asam folat secara perikonsepsi memiliki penurunan risiko 25-50% untuk keturunan dengan celah bibir dan langit-langit dibandingkan dengan wanita yang tidak menggunakan vitamin tersebut.
Suplemen asam folat selama awal kehamilan (400 mikrogram per hari) dapat mengurangi risiko celah bibir dengan atau tanpa celah langit-langit sekitar sepertiga.7 Pertanyaan tentang pemeriksaan rutin masa kehamilan dapat membantu ibu dalam mencegah terjadinya gangguan pada kehamilan, mayoritas ibu hamil menjawab dengan benar yaitu 73,1% responden.
Pengetahuan ibu hamil tentang paparan asap rokok saat hamil yang berkaitan dengan kejadian celah bibir dan langit-langit didapatkan hasil 41,8% orang menjawab dengan benar. Paparan asap rokok pada ibu hamil diduga berinteraksi dengan faktor genetik dalam menyebabkan cacat lahir dan meningkatkan risiko terjadinya celah bibir dan langit-langit.37,38 Sebuah meta-analisis menemukan peningkatan risiko celah bibir dan langit-langit sekitar dua kali lipat terkait dengan paparan tembakau yang terjadi pada trimester pertama.39
Perkawinan sedarah dipertimbangkan sebagai faktor risiko terjadinya celah bibir dan langit-langit.34,35Secara genetik, perkawinan dengan hubungan darah yang dekat menghasilkan pewarisan sifat autosomal resesif yang terkait dengan beberapa kelainan kongenital termasuk celah bibir dan langit-langit.33 Pengetahuan ibu hamil tentang perkawinan sedarah dapat meningkatkan kejadian celah bibir dan langit-langit didapatkan hasil 29,9% menjawab dengan benar. Hal ini sebanding dengan penelitian yang dilakukan Alnujaim dkk yang menunjukkan hasil hanya 12,9% responden yang menyetujui bahwa perkawinan sedarah adalah salah satu faktor risiko celah bibir dan langit-langit.10
Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan ibu hamil tentang celah bibir dan langit-langit di Puskesmas Mutiara Kabupaten Asahan sebanyak 56,7% responden memiliki pengetahuan dengan kategori kurang, 32,8% responden memiliki pengetahuan cukup, sedangkan 10,4% responden memiliki pengetahuan baik. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh owotade dkk pada tahun 2012 dengan hasil hanya 19,8% responden yang memiliki pengetahuan yang baik.9 Hasil senada juga ditunjukkan pada penelitian oleh Soeselo dkk pada tahun 2019 di Serang, Banten. Penelitian ini dilakukan pada 26 orang tua sebagai responden dan menghasilkan hanya 3,8% responden yang memiliki pengetahuan baik, sedangkan 96,2% orang memiliki pengetahuan kurang.11 Penelitian lain menyimpulkan hasil yang berbeda. Penelitian yang dilakukan Alnujaim dkk pada tahun 2017 kepada 310 orang ibu hamil menunjukkan hasil 52,5% responden memiliki pengetahuan yang baik.10
Pengetahuan dapat dipengaruhi beberapa faktor seperti pendidikan, pekerjaan, usia, lingkungan, dan sosial budaya. Perbedaan usia dan tingkat pendidikan responden menyebabkan hasil pengetahuan yang berbeda-beda. Semakin bertambah usia seseorang semakin bertambah pula pengetahuannya. Adanya hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan karena tidak dapat dipungkiri bahwa makin tinggi pendidikan seseorang semakin tinggi pula mereka menerima informasi dan pada akhirnya makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya jika seseorang tingkat pendidikannya rendah, akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap penerimaan informasi dan nilai-nilai yang baru diperkenalkan.
Lingkungan pekerjaan juga dapat memengaruhi pengetahuan karena mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baik secara langsung maupun tidak langsung.14
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang telah diperoleh.
Responden yang telah memiliki pengalaman sebelumnya cenderung memiliki pengetahuan yang lebih baik. Sosial ekonomi juga dapat memengaruhi perbedaan tingkat pengetahuan responden. Status ekonomi seseorang dapat menentukan tersedianya fasilitas untuk memeroleh informasi, sehingga status ekonomi dapat
memengaruhi pengetahuan seseorang. Status sosial ekonomi yang rendah juga berkaitan dengan risiko terjadinya celah bibir dan langit-langit.42
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa:
1. Secara keseluruhan, pengetahuan ibu hamil tentang faktor risiko celah bibir dan langit-langit di Puskesmas Mutiara Kabupaten Asahan adalah sebanyak 56,7%
responden memiliki pengetahuan dengan kategori kurang, 32,8% responden memiliki pengetahuan cukup, sedangkan 10,4% responden memiliki pengetahuan baik.
2. Tingkat pengetahuan responden yang termasuk kategori baik (76% - 100%) meliputi pertanyaan tentang istilah celah bibir dan langit-langit serta pertanyaan tentang gangguan tumbuh kembang yang terkait dengan celah bibir dan langit-langit.
3. Tingkat pengetahuan responden dengan kategori cukup (56% - 75%) meliputi pertanyaan tentang kemungkinan terjadinya celah bibir dan langit-langit dipengaruhi riwayat keluarga, nutrisi ibu hamil yang memengaruhi celah bibir dan langit-langit, dan pemeriksaan rutin dalam pencegahan gangguan kehamilan.
4. Tingkat pengetahuan responden dengan kategori kurang (<56%) meliputi pertanyaan tentang kejadian celah bibir yang lebih sering pada laki-laki, apakah kejadian celah bibir selalu diikuti celah langit-langit dan faktor risiko celah bibir dan langit-langit diantaranya usia ibu hamil, risiko terjadinya celah bibir pada anak kedua, konsumsi obat-obatan, nutrisi ibu saat hamil, paparan asap rokok, dan perkawinan sedarah.
6.2 Saran
Saran dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menjadi masukan bagi Puskesmas untuk memberikan informasi bagi ibu hamil mengenai kelainan-kelainan kongenital termasuk celah bibir dan langit-langit.
2. Diharapkan bagi ibu hamil untuk meningkatkan pengetahuan mengenai perilaku saat hamil agar menghindari terjadinya kelainan kongenital termasuk celah bibir dan langit-langit.
3. Diharapkan bagi ibu hamil untuk lebih sering memeriksakan kehamilannya sehingga mendapat informasi yang optimal dari petugas kesehatan serta dapat meningkatkan kesehatan ibu dan bayi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Hupp JR, Ellis E TM. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. 7th ed.
Philadelphia: Elsevier Inc; 2019. 608–611 p.
2. Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Kesehatan RI. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar. Jakarta; 2013.
3. Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Kesehatan RI. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar. Jakarta; 2018.
4. Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Kesehatan RI. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar. Jakarta; 2007.
5. Putri FM, Mariam MS, Emma R, Maskoen AM. Penyuluhan Mengenai Penyebab Kelainan Celah Bibir dan Langit-langit. J Pengabdi Masy.
2019;4(2):31–3.
6. Bhat N, Thakur K, Bhardwaj N, Nandan H, Rawat A, Lathwal A. Cleft Lip and Palate : A Review. Ann Med Sci Res. 2020;10:927–30.
7. Kawalec A, Nelke K, Pawlas K, Gerber H. Risk factors involved in orofacial cleft predisposition – review. Open Med. 2015;10(1):163–75.
8. Angulo-castro E, Acosta-alfaro LF, Guadron-llanos AM, Canizalez-román A, Gonzalez-ibarra F, Osuna-ramírez I, et al. Maternal Risk Factors Associated with the Development of Cleft Lip and Cleft Palate in Mexico : A Case-Control Study. 2017;29(4):189–95.
9. Owotade FJ, Ogundipe OK, Ugboko VI, Okoje VN, Olasoji HO, Makinde ON, et al. Awareness, knowledge and attitude on cleft lip and palate among antenatal clinic attendees of tertiary hospitals in Nigeria. 2014;17(1):6–9.
10. Alnujaim NH, Albedaie ES, Alyahya LS, Adosary MA, Alotaibi FF, Alnujaim MH, et al. Awareness, knowledge and attitudes of Saudi pregnant women towards cleft lip and palate. 2017;21(4):595–603.
11. Soeselo DA, Suparman ÃAS, Budi AS. Parents ’ Knowledge, Attitude and Behaviour toward Cleft Lips and Cleft palate in Kencana Hospital, Serang, Banten. 2019;30(4):1105–8.
12. Notoatmodjo S. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta; 2012. 138–140 p.
13. Imas Masturoh, Anggita N. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta; 2018.
14. Wawan A, M D. Teori dan Pengukuran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Manusia. Yogyakarta: Nuha Medika; 2017. 12–3 p.
15. Pogrel MA, Kahnberg K-E, Andersson L. Essentials of Oral and Maxillofacial Surgery. 1st ed. West Sussex: John Wiley & Sons, Ltd; 2014. 297–331 p.
16. Paul BC. Cleft Lip [Internet]. 2019. Available from:
https://emedicine.medscape.com/article/877970-overview#a7
17. Krisnarindra. Epidemiologi Sumbing [Internet]. 2018 [cited 2021 Jan 5].
Available from: https://cleftcare.fkg.ugm.ac.id/2018/08/20/32/
18. Fehrenbach MJ, Popowics T. Illustrated Dental Embryology, Histology, and Anatomy. 4th ed. Saunders. Missouri; 2015.
19. Subramanyam D. Journal of Dentistry and Oral Biology An Insight of the Cleft Lip and Palate in Pediatric Dentistry - A Review. 2020;5(2):1–6.
20. Kati FA. Cleft and Lip Palate: Review Article. World J Pharm Med Res. Environmental Exposures and Supplementation Intake with Risk of Nonsyndromic Orofacial Clefts: A Case-Control Study in Heilongjiang Province, China. Nutr J. 2015;7:7172–84.
23. Zhao S-F, Chai M-Z, Wu M, He Y-H, Meng T, Shi B. Effect of vitamin B12 on cleft palate induced by 2,3,7,8-tetrachlorodibenzo-p-dioxin and dexamethasone in mice. J Zhejiang Univ B (Biomedicine Biotechnol.
2014;15(3):289–94.
24. Wallenstein MB, Shaw GM, Yang W, Carmichael SL. Periconceptional nutrient intakes and risks of orofacial clefts in California. Pediatr Res.
2013;74(4):457–65.
25. Oner DA, Tastan H. Cleft lip and palate: Epidemiology and etiology.
Otorhinolaryngol Head Neck Surg. 2020;5:1–5.
26. Martelli DRB, Coletta RD, Oliveira EA, Swerts, Mário Sérgio Oliveira MC, Rodrigues LAM. Association between maternal smoking, gender, and cleft lip and palate. Braz J Otorhinolaryngol. 2015;81:514–9.
27. Deroo LA, Wilcox AJ, Lie RT, Romitti PA, Almind D, Ronald P, et al.
Maternal alcohol binge-drinking in the first trimester and the risk of orofacial clefts in offspring: a large population-based pooling study. Eur J Epidemiol.
2016;31(10):1021–34.
28. Xiao W lin, Liu X ya, Liu Y shan, Zhang D zun, Xue L fa. The relationship between maternal corticosteroid use and orofacial clefts-a meta-analysis.
Reprod Toxicol. 2017;69:99–105.
29. Widayanti N, Sudjatmiko G, Putri NM. Parental Age as A Risk Factor of Children with Cleft Lip in Jakarta Population: Does Paternal Age Play A Role?
29. Widayanti N, Sudjatmiko G, Putri NM. Parental Age as A Risk Factor of Children with Cleft Lip in Jakarta Population: Does Paternal Age Play A Role?