BAB II : TATA CARA PENULISAN
D. Pengetikan Kutipan
Kutipan adalah pencantuman sebagian atau keseluruhan pernyataan tentang sesuatu yang berkaitan dengan tema/topik yang ditulis dalam proposal skripsi atau skripsi.
Ada 2 (dua) macam bentuk kutipan yaitu:
1. Kutipan Langsung
Kutipan langsung adalah pemakaian kutipan yang dilakukan penulis dengan cara menulis kembali pikiran atau pendapat atau ide atau gagasan orang lain sama persis dengan aslinya. Dengan kata lain, penulis secara langsung memakai teknik copy kemudian paste tanpa adanya pengubahan dari kalimat aslinya. Pengetikan kutipan langsung tergantung pada jumlah kata bagian yang akan dikutip.
6
a. Kutipan langsung 4 (empat) baris atau kurang
Apabila isi kutipan kurang terdiri dari 4 (empat) baris atau kurang, pengetikannya dilakukan secara integrative (tidak dipisahkan) dalam satu paragraf.
Penandaan kutipan dilakukan dengan cara:
1) Isi pernyataan kutipan diketik di antara dua tanda kutip (“..”);
2) Apabila dalam pernyataan terdapat tanda kutip, tanda tersebut diganti dengan tanda kutip tunggal (‘…’).
Contoh:
Utrecht menjelaskan, “Hukum adalah himpunan petunjuk-petunjuk hidup (perintah-perintah dan larangan-larangan) yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat, dan oleh karena itu seharusnya ditaati oleh anggota masyarakat yang bersangkutan”.1
b. Kutipan langsung 5 (lima) baris atau lebih
Apabila isi kutipan terdiri dari 5 (lima) baris atau lebih, pengetikannya dilakukan secara terpisah dari suatu paragraf. Penandaan kutipan dilakukan dengan cara:
1) Isi pernyataan kutipan tidak diketik dalam tanda kutip;
2) Paragraf diketik menjorok ke dalam dengan jarak 1 cm dari tepi kiri tajuk/ bab atau sub tajuk/bab,
3) Diketik dengan spasi tunggal;
4) Apabila dalam pernyataan yang dikutip terdapat tanda kutip, tanda tersebut diganti dengan tanda kutip tunggal (‘…’)
Contoh:
Sianturi juga mengemukakan pendapatnya tentang hukum pidana sebagai berikut:
Hukum pidana adalah dari hukum positif yang berlaku di suatu negara dengan memperhatikan waktu, tempat dan bagian penduduk yang memuat dasar-dasar dan ketentuan-ketentuan mengenai tindakan larangan atau tindakan kekerasan dan kepada pelanggarnya diancam dengan pidana. Menentukan pula bagaimana dalam hal apa pelaku pelanggaran tersebut dipertanggungjawabkan serta kententuan-ketentuan mengenai hal dan cara penyelidik, penuntutan, penjatuhan pidana dan pelaksanaan pidana demi tegaknya hukum yang bertitik berat kepada keadilan.2
c. Kutipan langsung dari Peraturan Perundang-Undangan
Apabila isi kutipan kurang terdiri dari 4 (empat) baris atau kurang, pengetikannya dilakukan secara integrative (tidak dipisahkan) dalam satu paragraf.
Penandaan kutipan dilakukan dengan cara:
1) Isi pernyataan kutipan diketik di antara dua tanda kutip (“..”) dan diketik miring;
2) Apabila dalam pernyataan terdapat tanda kutip, tanda tersebut diganti dengan tanda kutip tunggal (‘…’).
Contoh:
Lahirnya Undang-Undang Nomor 41 tahun 2004 tentang Wakaf, diharapkan mampu menghadirkan hal-hal baru dalam pemberdayaan wakaf, seperti pemberdayaan dan pengelolaan wakaf secara produktif dan profesional, sebagaimana dinyatakan fungsi wakaf dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf berbunyi: “Wakaf berfungsi mewujudkan potensi dan manfaat ekonomis harta benda wakaf untuk kepentingan ibadah dan untuk memajukan kesejahteraan umum”.3
Apabila isi kutipan terdiri dari 5 (lima) baris atau lebih, pengetikannya dilakukan secara terpisah dari suatu paragraf. Penandaan kutipan dilakukan dengan cara:
1) Isi pernyataan kutipan tidak diketik dalam tanda kutip;
2) Paragraf diketik menjorok ke dalam dengan jarak 1 cm dari tepi kiri tajuk/ bab atau sub tajuk/bab,
3) Diketik dengan spasi tunggal;
Contoh:
Pasal 49 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf menyatakan bahwa:
Badan Wakaf Indonesia mempunyai tugas dan wewenang:
a. melakukan pembinaan terhadap Nazhir dalam mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf;
b. melakukan pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf berskala nasional dan internasional;
c. memberikan persetujuan dan/atau izin atas perubahan peruntukan dan status harta benda wakaf;
d. memberhentikan dan mengganti Nazhir;4
e. Kutipan yang sebagian dihilangkan
Apabila dalam pengutipan (melalui pertimbangan efesiensi dan keefektifan), ada beberapa bagian (kata/frasa/kalimat) yang akan dihilangkan, penulisan bagian tersebut diganti dengan tanda tiga titik (…). Sedangkan spasi yang digunakan mengikuti kaidah jumlah baris dari isi pernyataan kutipan.
Contoh (pada kutipan langsung 4 baris atau kurang):
Pompe berpendapat bahwa “Hukum pidana adalah semua aturan-aturan hukum yang menentukan terhadap perbuatan-perbuatan apa yang seharusnya dijatuhi pidana ... biasanya diartikan sebagai suatu keseluruhan dari peraturan-peraturan yang sedikit banyak bersifat umum yang abstrahir dari keadaan-keadaan yang bersifat kongkrit”.5
2. Kutipan tidak langsung
Kutipan tidak langsung adalah bentuk pengutipan yang dikemukakan dengan bahasa penulis sendiri berdasarkan isi bacaan yang telah dibacanya. Cara penandaan Kutipan jenis ini, yaitu:
a. Isi pernyataan kutipan tidak ditulis dengan tanda kutip;
b. Ditulis secara integratif (tidak dipisahkan) dalam suatu paragraf.
Contoh:
Sejalan dengan pendapat beberapa ahli, Friedrich menyatakan bahwa upaya untuk mewujudkan keadilan dalam hukum tersebut merupakan proses yang dinamis yang memakan banyak waktu. Upaya ini seringkali juga didominasi oleh kekuatan-kekuatan yang bertarung dalam kerangka umum tatanan politik untuk mengaktualisasikannya.6 E. Pengetikan Peraturan Perundang-Undangan
Pengetikan Peraturan Perundang-Undangan harus lengkap tidak boleh disingkat misalnya UU No. 5 tahun 1960, akan tetapi diketik lengkap yaitu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, atau Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19. Setiap kata dimulai dengan huruf kapital, kecuali kata penghubung dan kata depan.
Penulisan pasal dan ayat yang digunakan adalah huruf awal pada kata pasal selalu ditulis dengan huruf kapital. Contoh, Pasal 27 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Lihat, huruf “P” pada kata pasal diketik
dengan huruf besar, begitupun huruf “A” pada kata ayat, serta nomor ayat diketik dalam tanda kurung.
F. Pengetikan Footnote
1. Pengetikan kutipan menggunakan footnote, namun demikian mahasiswa boleh memberikan keterangan tambahan dalam bentuk catatan kaki untuk menambahkan penjelasan tentang konsep-konsep tertentu yang dianggap penting, yang apabila ditempatkan di tengah paragraf akan mengganggu narasi.
2. Huruf yang digunakan untuk footnote adalah Times New Roman ukuran 10.
3. Setiap item footnote diketik dengan menjorok ke dalam dengan jarak 1 cm.
4. Format pengetikan footnote adalah:
Buku, Kamus dan Ensiklopedia:
Nama Pengarang, (Tahun), Judul Buku (ketik miring), Cetakan/ Edisi (opsional), Kota/
Tempat Terbit: Penerbit, hlm.
Buku Terjemahan:
Nama Pengarang, (Tahun), Judul Buku (ketik miring), Penerjemah, Cetakan/ Edisi (opsional), Kota/ Tempat Terbit: Penerbit, hlm.
Jurnal:
Nama Penulis, (Tahun), “Judul Artikel (ketik tegak)”, Nama Jurnal (tulis miring), Volume Nomor, Edisi (opsional), Tempat (opsional), hlm.
Jurnal Online:
Nama Penulis, “Judul Artikel (ketik tegak)”, Nama Jurnal (ketik miring), Tahun, hlm., Alamat Website, Tanggal Akses.
Website:
Institusi, Judul (ketik tegak), Alamat Website, Tanggal Akses.
Catatan:
- Semua frase pada judul diawali huruf besar kecuali kata penghubung dan kata depan.
- Pengetikan halaman dengan “hlm.” (huruf kecil semua dengan titik setelahnya) bukan
“Hlm. / Hlm, / hlm, / Hal. / Hal, / hal, / hal.” dan yang lainnya.
Contoh:
1 M. Nurrachmad, (2011), Segala tentang HAKI Indonesia, Cet. I. Bantul: Buku Biru, hlm. 54.
2 Peter L. Berger, (1992), Invitation to Sociologi: A Humanistic Perspective. Terjemahan Daniel Dhakidae, Jakarta: Inti Sarana Aksara, hlm. 48.
3 Fajar Nurcahya Dwi Putra, (2014), “Perlindungan Hukum bagi Pemegang Hak atas Merek terhadap Perbuatan Pelanggaran Merek”, Jurnal Ilmu Hukum, Volume X Nomor 2, Edisi: Januari-Juni 2014, hlm. 103-104.
4 Retno Yuniarti, “Analisis Yuridis Terhadap Sengketa Peniruan Merek (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 502 K/Pdt.Sus-HKI/2013)”, Jurnal Ilmu Hukum Universitas Mataram, 2018, hlm.1-11.
dapat diakses online pada https://fh.unram.ac.id/wp-content/uploads/2018/07/RETNO-YUNIARTI-D1A013327.pdf., tanggal 30 Oktober 2019.
5 Hukumonline, “Bagaimana Mengetahui Merek Yang Telah Terdaftar” dapat diakses online pada https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/cl6590/bagimana-mengetahui-merek-yang-telah-terdaftar., tanggal 30 Oktober 2019.
5. Pemakaian istilah Ibid, Op.cit, dan Loc.cit a. Ibid
Ibid kependekan dari Ibidem yang artinya “pada tempat yang sama”, dipakai apabila suatu kutipan diambil dari sumber yang sama dengan yang mendahuluinya, yang tidak disela oleh sumber atau footnote lain.
Contoh: Kalimat pertama akan mengutip dari buku A halaman 10, kemudian kalimat kedua akan mengutip lagi dari buku A di halaman 10 (sama halamannya), maka pengetikannya Ibid. saja, akan tetapi apabila buku yang sama namun halaman berbeda, maka penulisannya Ibid., hlm. 13.
b. Op.cit
Op.cit singkatan dari opera citato artinya “dalam karangan yang telah disebut”, dipakai untuk menunjuk pada suatu buku atau sumber yang disebut sebelumnya lengkap pada halaman lain dan telah diselingi oleh sumber lain. Namun apabila nama penulis sama dan buku yang dikutip lebih dari satu, untuk menghindari kesalahan sebaiknya disebutkan sebagian dari judul buku atau sumber tersebut.
Contoh:
Kalimat pertama mengutip dari buku A halaman 10, kalimat kedua mengutip dari buku B halaman 1, kemudian pada kalimat ketiga mengutip dari buku A lagi halaman 25 (halaman berbeda dari kalimat pertama). Maka penulisannya: Pengarang A, Op.cit, hlm. 25.
c. Loc.cit
Loc.cit singkatan dari loco citato artinya “pada tempat yang telah disebut”, digunakan untuk menunjuk kepada halaman yang sama atau persoalan yang sama dari suatu sumber yang telah disebut dan telah diselingi oleh sumber lain.
Contoh:
Kalimat pertama mengutip dari buku A halaman 10, kalimat kedua saya mengutip dari buku B halaman 1, kemudian pada kalimat ketiga saya mengutip dari buku A lagi halaman 10 (halaman sama dengan halaman pada kalimat pertama). Maka penulisannya: Pengarang A, Loc.cit.
Contoh pengetikan Ibid., Op.cit., dan Loc.cit.
1 Huala Adolf, (2005), Hukum Ekonomi Internasional Suatu Pengantar, Jakarta: Raja Grafindo Persada, hlm. 10.
2 Ibid.
3 Ibid., hlm. 13.
4 Eddy Pratomo, (2011), Hukum Perjanjian Internasional: Pengertian, Status Hukum dan Ratifikasi, Bandung: Alumni, hlm. 1.
5 Huala Adolf, Op.cit., hlm. 25.
6 Eddy Pratomo, Op.cit., hlm. 3.
7 Huala Adolf, Loc.cit.
G. Penomoran 1. Halaman
a. Bagian awal mulai dari halaman judul sampai ke intisari, diberi nomor halaman dengan angka Romawi kecil, nomor halaman ini diletakkan di bagian tengah bawah.
b. Bagian utama dan bagian akhir, mulai dari pengantar (Bab I) sampai ke halaman terakhir, memakai angka Arab sebagai nomor halaman.
c. Nomor halaman ditempatkan di sebelah kanan atas, kecuali kalau ada judul atau bab pada bagian atas halaman itu, maka untuk halaman yang demikian nomornya ditulis di bagian tengah bawah.
d. Nomor halaman diketik dengan jarak 1,5 cm dari tepi kanan, dan tepi bawah 2 cm.
2. Tabel (daftar)
Tabel (daftar) yang diikuti dengan angka tanpa memperhatikan bab.
3. Gambar
Gambar dinomori dengan angka tanpa memperhatikan bab.
H. Pengetikan Sub Tajuk/ Sub Bab
1. Nomor tajuk, sub-tajuk, anak sub-tajuk, dan seterusnya ditulis rata kiri.
2. Sub-tajuk dan anak sub-tajuk ditulis tanpa titik di akhir kalimat.
3. Nomor hanya diberikan kepada tajuk yang berupa frase.
4. Pengetikan tebal hanya sampai pada sub tajuk/ bab pada tingkatan kedua, seterusnya tidak diketik tebal.
5. Sub tajuk/ sub bab diketik mulai dari batas tepi kiri pada setiap tingkatan. Setiap kata dimulai dengan huruf kapital (kecuali kata penghubung dan kata depan), tanpa tanda baca titik dan tanpa garis bawah.
6. Pembagian tajuk menjadi sub tajuk hanya dilakukan bila tajuk itu terdiri atas sedikitnya dua sub-tajuk.
7. Perhatikan penomoran sub tajuk/ bab di bawah ini:
A. Sub Tajuk Tingkat 1 (Cetak Tebal dan Setiap Kata Dimulai dengan Huruf Capital, kecuali Kata Penghubung dan Kata Depan tidak Huruf Kapital) 1. Sub-Sub-Tajuk Tingkat 2 (Cetak Tebal dan Setiap Kata Dimulai dengan
Huruf Capital, kecuali Kata Penghubung dan Kata Depan tidak Huruf Kapital)
B. Dan Seterusnya (Urutan Tajuk dan Sub Tajuk dan seterusnya sama dengan di atas)
Qwert yuio plkjh gfds hgdsra zxcvbnm wert yuio plkjh gfds hgdsra zxcvbnm. Qwert yuio plkjh gfds hgdsra zxcvbnm wert yuio plkjh gfds hgdsra zxcvbnm. Qwert yuio plkjh gfds hgdsra zxcvbnm wert yuio plkjh gfds hgdsra Qwert yuio plkjh gfds hgdsra zxcvbnm wert yuio plkjh gfds hgdsra.
1. Bcdefg Hijklm Opqrtsu Vwxyz Bcdefg Hijklm Opqrtsu Vwxyz Bcdefg Hijklm Opqrtsu Vwxyz
Qwert yuio plkjh gfds hgdsra zxcvbnm wert yuio plkjh gfds hgdsra zxcvbnm. Qwert yuio plkjh gfds hgdsra zxcvbnm wert yuio plkjh gfds hgdsra zxcvbnm. Qwert yuio plkjh gfds hgdsra zxcvbnm wert yuio plkjh gfds hgdsra Qwert yuio plkjh gfds hgdsra zxcvbnm wert yuio plkjh gfds hgdsra.
a. Bcdefg Hijklm Opqrtsu Vwxyz Bcdefg Hijklm Opqrtsu Vwxyz Bcdefg Hijklm Opqrtsu Vwxyz
Qwert yuio plkjh gfds hgdsra zxcvbnm wert yuio plkjh gfds hgdsra zxcvbnm. Qwert yuio plkjh gfds hgdsra zxcvbnm wert yuio plkjh gfds hgdsra zxcvbnm. Qwert yuio plkjh gfds hgdsra zxcvbnm wert.
Dan seterusnya sesuai tingkatannya.
I. Paragraf
Paragraf merupakan satuan pikiran yang paling dasar dalam suatu tulisan. Dalam suatu paragraf, sekelompok kalimat meliputi (1) kalimat topik, (2) beberapa kalimat penunjang, dan (3) kalimat penyimpul saling berkaitan menyajikan serta mengembangkan satu ide pokok. Jumlah kalimat dalam suatu paragraf bukan merupakan ukuran baik tidaknya suatu paragraf, tetapi keutuhan dan keruntutan pengembangan ide pokok yang menjadi ukurannya.
Kalimat topik merupakan gagasan sentral/ide pokok/utama yang kemudian dikembangkan menjadi satu paragraf. Kalimat ini dapat diletakkan di awal, di tengah, maupun di akhir suatu paragraf. Sedangkan kalimat penunjang merupakan kalimat-kalimat penjelas suatu kalimat topik. Wujudnya dalam suatu paragraf dapat berupa contoh-contoh, ilustrasi, klasifikasi, rincian, cirri-ciri, perbandingan, definisi, karakteristik, uraian pendapat, sebab akibat, dan sebagainya. Kalimat-kalimat penjelas ini tidak boleh menyimpang atau bertolak belakang dengan kalimat topik. Sementara itu, kalimat penyimpul merupakan pernyataan simpulan apa yang diuraikan dalam suatu paragraf.
Wujud penggunaannya ditunjukkan dengan penanda kata jadi, oleh karena itu, oleh sebab itu, dengan demikian, singkatnya, akhirnya, dan sebagainya. Tidak semua paragraf diakhiri dengan kalimat penyimpul ini, adakalanya kalimat penyimpul ini baru dimunculkan setelah beberapa paragraf selesai dikemukakan. Penanda kata misalnya berdasarkan uraian tersebut, berdasarkan uraian sebelumnya, atau sebagaimana telah dijelaskan, dan sebagainya, dapat juga digunakan sebagai pengantar kalimat penyimpul.
Keutuhan suatu paragraf hanya dapat dicapai apabila dalam suatu paragraf terdapat keterpaduan gagasan-gagasan yang ingin dikemukakan. Hanya membahas satu gagasan sentral/ide pokok/ utama (kalimat topik). Semua kalimat penunjang dan kalimat penyimpul mengarah pada penjelasan terhadap satu kalimat topik tersebut. Sedangkan keruntutan suatu paragraf sangat diperlukan dalam rangka mempermudah pembaca untuk memahami dan menangkap makna suatu paragraf. Hal ini dapat dicapai dengan cara (1) menyusun kalimat-kalimat pendukung secara logis, dan (2) menghubungkan antar kalimat-kalimat secara tepat dengan menggunakan piranti pemadu berupa kata penghubung, kata tunjuk, kata keterangan waktu, kata ganti orang, dan sebagainya.
J. Daftar Pustaka
Daftar pustaka hanya memuat pustaka yang diacu yang menjadi rujukan dalam proposal skripsi ataupun skripsi. Daftar pustaka disusun menurut urutan abjad awal nama penulis, diketik dengan satu spasi dengan baris kedua pada setiap itemnya diketik dengan menjorok ke dalam sejauh 1,5 cm, sedangkan jarak antara setiap itemnya 2 spasi. Apabila
ada beberapa pustaka hanya dari seorang penulis, maka nama penulis tidak dicantumkan lagi, tetapi cukup dibuat garis sepanjang 8 (delapan) karakter dari margin sebelah kiri.
Daftar pustaka untuk proposal skripsi dan skripsi dikelompokkan dengan kategori:
Buku, Jurnal, Kamus/ Ensiklopedia, Website, dan Peraturan Perundang-Undangan.
Berikut format dan contoh pengetikan Daftar Pustaka:
Buku
Nama Pengarang, (Tahun), Judul Buku (ketik miring), Cetakan/ Edisi (opsional), Kota/
Tempat Terbit: Penerbit.
Adapun untuk buku terjemahan dengan format:
Nama Pengarang, (Tahun), Judul Buku (ketik miring), Penerjemah, Cetakan/ Edisi (opsional), Kota/ Tempat Terbit: Penerbit.
Jurnal
Nama Penulis, (Tahun), “Judul Artikel (ketik tegak)”, Nama Jurnal (tulis miring), Volume Nomor, Edisi (opsional), Tempat (opsional).
Adapun untuk jurnal online dengan format:
Nama Penulis, “Judul Artikel (ketik tegak)”, Nama Jurnal (ketik miring), Tahun, hlm.,
Institusi, Judul (ketik tegak), Alamat Website, Tanggal Akses.
PeraturanPerundang-Undangan
Bagian ini diurut berdasarkan kategori dan hirarki Peraturan Perundang-Undangan dan diurut berdasarkan tahun yang lebih lama. Hirarki Peraturan Perundang-Undangan yang dimaksud yaitu:
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;
Catatan: Semua frase pada judul diawali huruf besar kecuali kata penghubung dan kata depan.
Contoh:
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Adrian Sutedi, (2009), Hak Atas Kekayaan Intelektual, Cetakan Ke-1, Jakarta: Sinar Grafika.
________, (2010), Hukum Perusahaan di Indonesia, Cetakan Ke-1, Jakarta: Sinar Grafika.
Hanafi Arief, (2017), Pengantar Hukum Indonesia, Yogyakarta: LKiS.
M. Daud Ali, (2012), Hukum Islam PIH dan THI di Indonesia, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
________, (2012), Hukum Islam dan Perkembangannya di Indonesia, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
M. Nurrachmad, (2011), Segala tentang HAKI Indonesia, Cet. I. Bantul: Buku Biru.
Peter L. Berger, (1992), Invitation to Sociologi: A Humanistic Perspective. Terjemahan Daniel Dhakidae, Jakarta: Inti Sarana Aksara.
Jurnal
Fajar Nurcahya Dwi Putra, (2014), “Perlindungan Hukum bagi Pemegang Hak atas Merek terhadap Perbuatan Pelanggaran Merek”, Jurnal Ilmu Hukum, Volume X Nomor 2, Edisi: Januari-Juni 2014.
Hanafi Arief, (2015), “Implementasi Yuridis Perjanjian Kawin dalam Sistem Hukum Positif di Indonesia”, Jurnal Ilmu Hukum, Volume XV Nomor 2, Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Antasari Banjarmasin.
________, (2016), “Domestic Violence and Victim Rights in Indonesian Law Corcerning The Elimination of Domestic Violence”, Journal of Legal Ethical and Regulatory Issues USA, Volume XX Nomor 2, Edisi Desember 2016.
Retno Yuniarti, “Analisis Yuridis Terhadap Sengketa Peniruan Merek (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 502 K/Pdt.Sus-HKI/2013)”, Jurnal Ilmu Hukum Universitas Mataram, 2018, hlm.1-11. dapat diakses online pada https://fh.unram.ac.id/wp-content/uploads/2018/07/RETNO-YUNIARTI-D1A013327.pdf., Tanggal 30 Oktober 2019.
Kamus/ Ensiklopedia
B.N. Marbun, (1996), Kamus Politik, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Hasan Alwi, (2007), Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: PT. Balai Pustaka.
Website
Agustianto, “Wakaf Uang dan Peningkatan Kesejahteraan Umat”, dapat diakses online pada https://shariaeconomics.wordpress.com/tag/wakaf-uang, tanggal 10 Juni 2017.
Badan Wakaf Indonesia, “Memahami Wakaf Uang”, dapat diakses online pada http://bwi.or.id/index.php/wakaf-uang-tentang-wakaf-57.html, tanggal 10 Juni 2017.
Hukumonline, “Bagaimana Mengetahui Merek Yang Telah Terdaftar” dapat diakses
online pada
https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/cl6590/bagimana-mengetahui-merek-yang-telah-terdaftar., tanggal 30 Oktober 2019.
Peraturan Perundang-Undangan
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai
Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2018 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak
Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha
Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2015 tentang Impor dan/atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu yang Bersifat Strategis yang Dibebaskan dari Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai
Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 11 Tahun 2015 tentang Penagihan Pajak Daerah dengan Surat Paksa
Diurut berdasarkan tahun dan jenis aturan
BAB III SISTEMATIKA
A. Sistematika Proposal Skripsi untuk Pengajuan Seminar Proposal Skripsi 1. Bagian Awal
Bagian awal terdiri atas:
a. Halaman Sampul Proposal Skripsi
Sampul proposal terdiri 2 (dua) rangkap pada bagian luar dijilid softcover berwarna merah marun dan kertas putih pada bagian dalam. Sampul dicetak dengan tinta hitam, memuat logo UNISKA, Judul, Prposal Skripsi, disusun untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum, Nama dan NPM, Fakultas Hukum Universitas Islam Kalimantan dan tahun (contoh lampiran 1).
b. Halaman Pernyataan Orisinalitas (contoh lampiran 6) c. Lembar Persetujuan Seminar Proposal Skripsi
Lembar persetujuan seminar proposal skripsi ini memuat rumusan judul proposal skripsi, nama, NPM, dan tandatangan pembimbing (contoh lampiran 3).
d. Kata Pengantar e. Daftar Isi 2. Bagian Utama
Bagian utama adalah bagian inti dari proposal skripsi, yang mana bagian ini diketik dengan sistematika dan penomoran sub tajuk sebagai berikut:
A. Judul Proposal Skripsi
Merupakan format kesimpulan isi dari seluruh penelitian atau kerangka referensi untuk keseluruhan skripsi atau kata kunci dari konsep penelitian yang akan dilakukan di mana memuat variable yang akan diteliti.
B. Latar Belakang Masalah
Menerangkan keternalaran (kerasionalan) mengapa topik yang dinyatakan pada judul skripsi itu diteliti. Untuk menerangkan keternalaran tersebut perlu dijelaskan dulu pengertian rumusan topik yang akan diteliti.
C. Rumusan Masalah
Rumusan masalah adalah hal yang perlu dipecahkan atau yang perlu dijawab dalam penelitian. Rumusan dibuat dalam bentuk kalimat tanya dan mengandung kata yang menyatakan persolan, y akni apa, siapa, berapa, seberapa, sejauh mana,
18
bagaimana (bisa tentang cara atau mewujudkan keadaan) di mana, ke mana, dari mana, mengapa dan sebagainya.
D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian terdiri dari tujuan umum mengacu pada makna yang tersirat dalam judul dan tujuan khusus yang mengacu pada pertanyaan atau rumusan penelitian.
E. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian terdiri dari manfaat teoritis dan manfaat praktis, untuk menunjukan bahwa masalah yang dipilih memang layak untuk diteliti. Dengan demikan manfaat penelitian biasanya selaras dengan pemecahan masalah, rumusan kebijakan, pengembangan ilmu, perbaikan model dan lain-lain.
1. Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis ialah manfaat penelitian dari aspek teoritis, yaitu manfaat penelitian bagi pengembangan ilmu.
2. Manfaat Praktis
Manfaat praktis ialah manfaat penelitian dari aspek praktis atau aplikatif, yaitu manfaat penelitian bagi Program Studi, Instansi, Steakholder, ataupun masyarakat sebagai sumber informasi bagi mereka.
F. Tinjauan Pustaka
Tinjauan kepustakaan terdiri dari:
1. Penelitian Terdahulu 2. Landasan Konseptual G. Metode Penelitian
Metode penelitian adalah cara atau strategi untuk mendapatkan jawaban yang akurat atas permasalahan penelitian yang telah dirumuskan.
Sistematika metode penelitian hukum normatif minimal harus memuat:
1. Jenis Penelitian 2. Pendekatan Penelitian 3. Sumber Data
a. Bahan hukum primer b. Bahan hukum sekunder c. Bahan hukum tersier
4. Teknik Pengumpulan dan Pengolahan Data 5. Analisis Data
Sistematika metode penelitian hukum empiris minimal harus memuat:
5. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel 6. Teknik Pengumpulan Data
7. Analisis Data
H. Sistematika Penulisan
H. Sistematika Penulisan