BAB III UPACARA MALAM SATU SYURA
3.3. Penggabungan Upacara Malam Satu Syura dan Upacara
Dalam penelitian ini, peneliti menemukan data mengapa upacara malam satu Syura diadakan bersamaan dengan upacara panen. Menurut informan dan hasil wawancara. Dari hasil wawancara yang saya dapat dari lapangan mereka memiliki pendapat yang berbeda. Seperti yang dikatakan pak Adi:
“Upacara malam satu Syura bersamaan diadakan dengan upacara panen dikarenakan merupakan bulan yang suci”
Informan lain yang dikatakan pak Budi :
”Upacara malam satu Syura bersamaan diadakan dengan upacara panen karena Orang Jawa menganggap bulan Syura ini sebagai bulan yang keramat. Tabu bagi orang Jawa untuk menyelenggarakan hajatan (misalnya menikahkan anak atau sunatan)”.
Upacara merupakan sarana yang diutamankan dan dilaksanakan oleh masyarakat di desa Kota Pari. Dikarenakan upacara adalah salah satu ritual yang diturunkan oleh nenek moyang mereka. Jika upacara tersebut tidak mereka
laksanakan maka mereka akan mendapat musibah seperti gagal panen dan datangnya tsunami.
Di desa Kota Pari ada beberapa ritual atau upacara yang dilaksanakan oleh masyarakat di desa Kota Pari salah satunya upacara adalah penggabungan upacara malam satu Syura dan upacara panen yang dilaksanakan bertepatan pada tahun baru Islam. Upacara yang diadakan di desa Kota Pari merupakan upacara yang sangat menarik. Dikarenakan upacara tersebut adalah upacara penggabungan antara upacara panen dengan upacara malam satu Syura. Banyak pendapat yang dikatakan oleh banyak masyarakat di desa Kota Pari tentang mengapa upacara tersebut digabungkan.
Seperti yang diungkapkan kakek Kusnun :
“Karena upacara tersebut sebagai awal penanggalan Islam oleh Khalifah Umar bin Khathab, pemindahan arah kiblat dari Jerussalem ke Mekah pada 16 Muharam, dan terbunuhnya cucu kesayangan Rasulullah, Imam Husein bin Ali di Karbala pada tahun 81H/680M.Ulama Khalifah Umar bin Khathab adalah salah satu pejuang Islam”.
Informan lain pak Slamet :
“Bahwa pada upacara tersebut untuk memperkenalkan kalender Islam di kalangan masyarakat Jawa, maka bertepatan dengan tahun 931 H atau 1400 tahun Saka, atau 1443 tahun Jawa baru, yaitu pada jaman pemerintahan kerajaan Demak, Sunan Giri II telah membuat penyesuaian antara sistem kalender Hirjiyah dengan sistem kalender Jawa pada waktu itu. Caranya adalah menggabungkan hari tujuh Hijriyah dengan hari kelima (tepatnya hari lima atau pancawara). Sebelum ada hari tujuh Islam (Itsnain, Tsulatsa', Arba'a, Khamis, Jum'ah, Sabt dan Ahad) ada hari tujuh lama (Soma, Anggara, Budha, Respati, Sukra, Tumpak dan Radite). Adapun pancawara tetap dipakai tidak diganti. Pancawara itu meliputi: legi (manis), pahing (merah), pon (kuning), wage (hitam), dan kliwon (asih atau kasih). Karena perangkapan atau penggabungan ini (hari tujuh Islam dengan pancawara), maka dikenallah hitungan selapan (35 hari) dalam setiap bulan”.jadi mereka menganggap bulan tersebut merupakan sebagai bulan penyesuaian antara sistem Kalender Hijriyah dengan sistem Kalender Jawa.
Upacara malam satu Syura dan upacara panen adalah salah satu upacara yang dilaksanakan masyarakat di desa Kota Pari yang dimeriahkan oleh masyarakat di desa Kota Pari. Upacara ini memiliki mistik yang kuat dan makna persaudaraan yang tinggi. Masyarakat di desa Kota Pari mengeluarkan pendapat mengapa upacara malam satu Syura dan upacara panen yang bersamaan dilksanakan karena bertepatan wafat khalifah Islam pada zaman nabi Muhammad SAW, bulan suci. Menurut orang Jawa adalah bulan syura dimana pada tahun baru Islam merupakan bulan yang sakral dan tidak boleh mengadakan hajatan atau pun pernikahan jika dilanggar akan terjadi marabahaya makanya pada bulan Syura ini orang Jawa mengadakan upacara di ujung desa Kota Pari.
Seperti yang dikatakan ibu Afsah :
“Upacara malam satu Syura dan upacara panen dilaksanakan bersamaan dikarenakan Bulan tersebut adalah bulan penuh musibah, penuh bencana, penuh kesialan, bulan keramat dan sangat sakral. Itulah berbagai tanggapan masyarakat mengenai bulan Syura atau bulan Muharram. Sehingga kita akan melihat berbagai ritual dan upacara untuk menghindari kesialan, bencana, musibah dilakukan oleh mereka. Di antaranya adalah upacara panen yang ada di desa Kota Pari mereka mengadakan upacara agar terhindar dari musibah seperti gagal panen. Karena bulan ini adalah bulan sial, sebagian orang tidak mau melakukan hajatan kecuali upacara panen. Jika melakukan hajatan pada bulan ini bisa mendapatkan berbagai musibah, acara pernikahannya tidak lancar, mengakibatkan keluarga tidak harmonis. Itulah berbagai anggapan masyarakat desa Kota Pari mengenai bulan syura dan kesialan di dalamnya”.
Dalam menyambut upacara malam satu Syura kaum ibu dan remaja putri, secara suka rela membantu agar upacara malam satu syura ini dapat berjalan dengan baik seperti memasak, dan mempersiapkan semua alatnya dengan baik. Setelah memasak selesai, ibu-ibu dan remaja putri dibekali nasi putih, bubur merah putih, kerupuk merah putih, dan urap yang diletakkan di atas tempang (tampi) yang dibawah tempang sudah diletakkan daun pisang. Hal ini merupakan
tradisi masyarakat setempat sebagai ucapan terima kasih, karena telah membantu dalam upacara malam satu Syura tersebut. Kaum bapak dan remaja putra biasanya ditugaskan, membawa bahan tersebut ke ujung desa dengan berpakaian rapi. Mereka melakukan semuanya dengan bergotong royong tanpa ada imbalan. Tradisi ini dilakukan oleh upacara adat yang dikuti oleh seluruh masyarakat desa untuk mensyukuri hasil panen yang didapat dan menolak bahaya agar panen tidak gagal. Upacara ini dilakukan setiap tahun setelah panen .
Upacara malam satu Syura yang bertepatan pada tahun baru Islam dilakukan masyarakat agar terhindar dari marabahaya. Biasanya, Upacara ini dilaksanakan setelah sholat Isya dan semua masyarakat kumpul di ujung desa dengan membawa bahan yang berupa nasi, bubur merah putih, dan kerupuk dan diletakkan di ujung desa. Setelah bahan telah diletakan di ujung desa, kepala suku memulai acara dengan membaca doa ataupun mantra dengan bahasa Jawa. Upacara ini juga dilaksanakan setiap tahunnya. Kalau upacara ini tidak dilaksanakan, malapetaka datang pada masyarakat berupa penyakit yang datang silih berganti dan kehidupan masyarakat bisa kacau. Dikarenakan upacara ini merupakan upacara agar terhindar dari marabahaya.