• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengguguran kandungan yang terjadi dimaksudkan sebagai jalan keluar dari kehamilan yang tidak diinginkan dan pengguguran kandungan telah ada sejak lama dan dilakukan oleh manusia. Di beberapa negara termasuk Indonesia, pengguguran kandungan dilarang oleh undang-undang, dibeberapa negara lain dibolehkan dengan pembatasan, sedangkan di beberapa negara dibolehkan tanpa ada batasan. Pasal-pasal yang melarang pengguguran kandungan sebagai berikut:

17

TeukuAmir Hamzah, Segi-segi Hukum Pengaturan Kehamilan dan Pengguguran Kandungan, (Disertasi S3 Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 1987), h.30

Pasal 229:

1. Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruhnya

supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak tiga puluh ribu rupiah.

2. Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau

menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia seorang tabib, bidan atau juru obat pidananya dapat ditambah sepertiga.

3. Jika yang bersalah, melakukan kejahatan tersebut, dalam menjalani

pencarian maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu.18

Dalam pasal diatas dijelaskan bahwa seseorang yang melakukan pengguguran kandungan ataupun yang menyuruh menggugurkan kandungan dikenakan ancaman pidana. Kemudian disebutkan juga jika seseorang menjadikan pengguguran kandungan sebagai mata pencarian maka akan dikenakan acaman pidana dan pencabutan izin dari praktiknya tersebut.

Dalam buku kedua Kitab Undang-undang Hukum Pidana bab XIV mengenai “kejahatan terhadap kesusilaan”. Bab ini terdiri dari pasal 281 sampai dengan pasal 303 kitab undang-undang Hukum Pidana meliputi perumusan perbuatan terlarang antara lain: merusak kesusilaan umu, menyiarkan dan sebagainya tulisan, gambar dan barang-barang yang

18

Kitab Undang-undang hukum Pidana Pasal 229 ayat 1-3, Kumpulan Kitab Undang-undang Hukum, (Jakarta: Wacana Intelektual, 2010) h.489

melanggar kesusuilaan mapun alat untuk mencegah atau menggugurkan kandungan, perzinahan, perbuatan cabul dan perdagangan perempuan.

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya pengguguran kandungan meliputi aspek kesusilaan. Aspek kesusilaan terlihat dari pasal 299 Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Alasan dimasukkannya pasal ini adalah kenyataan pembuktian dalam undang-undang pengguguran kandungan yang mengharuskan dibuktikan antara lain bahwa kandungan itu hidup dan bahwa

wanitanya hamil.19

Pasal 347

1. Bahwa barang siapa dengan sengaja menggugurkan kandungan atau

mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.

2. Jika perbuatan tersebut menyebabkan matinya wanita tersebut, dikenakan

penjara paling lama lima belas tahun.

Dalam pasal 347 dijelaskan bahwa seseorang yang menggugurkan kandungan tanpa disetujui oleh wanita dikenakan ancaman pidana paling lama dua belas tahun. Jika saat melakukan pengguguran kandungan, kemudian wanita tersebut meninggal dunia maka diancam oleh pidana penjara paling lama lima belas tahun.

Seseorang yang dapat dikenakan pasal tersebut ialah orang yang menggugurkan kandungan dengan sengaja baik dari hubungan sah maupun

19

Disertasi,TeukuAmir Hamzah, Segi-segi Hukum Pengaturan Kehamilan dan Pengguguran Kandungan, Fakultas Hukum Universitas Indonesia 1987 h.145

tidak sah di karenakan wanita tersebut tidak setuju untuk menggugurkan kandungan.

Pasal 348:

1. Barang siapa dengan sengaja menggugurkan kandungan atau mematikan

kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, maka diancam dengan pidana paling lama lima tahun enam bulan.

2. Jika perbuatan tersebut menyebabkan matinya wanita tersebut, maka

dikenakan penjara paling lama tujuh tahun.

Dalam pasal 348 dijelaskan bahwa seseorang menggugurkan kandungan dengan sengaja diancam pidana lima tahun enam bulan dan jika pada saat pengguguran kandungan menyebabkan kematian pada wanita tersebut maka diancam dengan pencara paling lama tujuh tahun. Subjek hukum dari pasal diatas adalah seseorang dari hubungan yang sah (suami) ataupun hubungan yang tidak sah.

Pasal 349 jika seorang tabib, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan yang tersebut pada pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan uang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal tersebut ditambah sepertiga dan dapat dicabut hak untuk melakukan pencarian dalam mana

kejahatan dilakukan.20

Dalam 349 dijelaskan bahwa jika pengguguran kandungan dilakukan oleh dokter, tabib, ataupun juru obat yang membantu, maka akan dikenakan

20

Kitab Undang-undang Hukum Pidana pasal 347-349, Kumpulan Kitab Undang-undang Hukum, (Jakarta: Wacana Intelektual, 2010) h.508

ancaman pidana berupa penjara dan pencabutan izin praktik. Sanksi tegas juga diberikan kepada dokter, tabib, ataupun juru obat yang membantu melakukan pengguguran kandungan diancam dengan penjara ditambahkan sepertiga dari pasal 47 dan 348.

Undang-undang kesehatan pasal 75:

1. Setiap orang dilarang melakukan aborsi.

2. Bahwa larangan sebagaimana dimaksudkan ayat (1) dikecualikan

berdasarkan indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini, baik yang mengancam nyawa ibu dan atau janinya, kemudian pengecualian lain kehamilan akibat perkosaan yang menyebabkan trauma

psikologis bagi korban perkosaan.21

Pada undang-undang kesehatan nomor 36 Tahun 2009 pasal 75 disebutkan tegas larangan pengguguran kandungan pada ayat satu dan pengecualian dibolehkannya pengguguran kandungan pada ayat dua. Ayat dua menjelaskan diperbolehkannya melakukan pengguguran kandungan berdasarkan kedaruratan medis yang mengancam nyawa ibu ataupun janin yang dikandungnya. Kemudian pengguguran kandungan dibolehkan jika terjadi pemerkosaan sehingga menyebabkan trauma pada korban.

Menurut undang-undang kesehatan pasal 76 menyatakan syarat-syarat

boleh dilakukannya pengguguran kandungan. Aborsi sebagaimana

dimaksudkan hanya dapat dilakukan:

21Departemen Kesehatan Republik Indonesia, “Undang-undang Republik Indonesia nomor 36 Tahun 2009, Kesehatan”, diakses pada tanggal 2 April 2014 melalui website http://www.depkes.go.id/downloads/UU_No._36_Th_2009_ttg_Kesehatan.pdf

a. Sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis;

b. Oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang

memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri;

c. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;

d. Dengan izin suami, kecuali korban perkosaan, dan;

e. Penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh

menteri.

Adapun ancaman pidana untuk pelanggar pasal 75 undang-undang kesehatan diatas terdapat dalam pasal 194 undang-undang kesehatan berikut:

“setiap orang yang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai dengan

ketentuan sebagai mana yang dimaksud dalam pasal 75 dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp.1.000.000.000 (satu miliar rupiah).”

Dalam undang-undang kesehatan nomor 36 Tahun 2009 pasal 194 dijelaskan bahwa setiap orang, dikenakan untuk orang yang menyuruh, wanita yang mengandung, dan orang yang membantu menggugurkan kandungan. Jika dengan sengaja melakukan aborsi secara sengaja yang dimaksudkan dalam pasal 75, dalam pasal 75 sudah dijelaskan pengecualian dibolehkan pengguguran kandungan. Hukuman secara tegas mengaancam penjara paling lama sepuluh tahun dan denda sebanyak Rp.1.000.000.000,- (satu miliar rupiah), ancaman ini diberikan untuk memberikan efek jera terhadap para pelaku.

Menurut hukum yang berlaku, kasus pengguguran kandungan secara

disengaja (abortus provocatus criminalis) merupakan sebuah tindak kriminal

yang diatur dalam kitab undang-undang hukum pidana (KUHP). Yang menerima hukumannya adalah ibu yang menggugurkan kandungan, dokter atau bidan atau dukun yang membantu melakukan pengguguran kandungan,

dan orang-orang yang membantu terlaksananya pengguguran kandungan.22

22

TeukuAmir Hamzah, Segi-segi Hukum Pengaturan Kehamilan dan Pengguguran Kandungan, (Disertasi S3 Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 1987), h.35

44