• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORITIS

2.3 Pengguna Perpustakaan Perguruan Tinggi

Pada umumnya kita telah mengetahui bahwa tugas perpustakaan pada umumnya adalah menghimpun, mengelola, dan menyebar luaskan informasi kepada masyarakat luas. Demikian juga dengan perpustakaan perguruan tinggi, seperti yang dinyatakan oleh Yusup (2010 : 21):

Perpustakaan perguruan tinggi bertugas mengelola sumber-sumber informasi yang mampu mendukung pelaksanaan kurikulum perguruan tinggi yang bersangkutan, dan semua sumber informasi dimaksud dapat dimanfaatkan secara bersama oleh seluruh sivitas akademikanya.

Dalam sebuah perguruan tinggi terdapat berbagai kelompok pengguna yang berbeda-beda, mulai dari bidang ilmu yang dikuasainya, usia, dan profesi seperti dosen, staf perguruan tinggi dan mahasiswa sebagai pelajar. Hal ini seperti yang dijabarkan oleh Jalaludin Rakhmat yang disitir oleh Yusup (2010 : 88) “Dalam masyarakat terdapat kelompok-kelompok sosial berdasar jenis kelamin, usia, pendidikan, jenis pekerjaan, pendapatan, tempat tinggal, dan keyakinan beragama”.

Kebutuhan pengguna perpustakaan akan informasi berbeda-beda sesuai dengan latar belakang kebutuhan pencari informasi, sebagaimana yang dinyatakan oleh Prawati (2003 : 27) “hal tersebut untuk meningkatkan pengetahuan, mengikuti perkembangan baru, mendukung dan merencanakan penelitian, mengajar, manajemen, serta mengutip sitasi bibliografi bagi karya tulis”.

Brophy (2000 : 56) mengatakan bahwa kelompok pengguna perpustakaan perguruan tinggi dapat dikategorikan :

1. Mahasiswa under graduate

2. Mahasiswa postgraduate

3. Mahasiswa peneliti 4. Staf pengajar 5. Staf peneliti

6. Pihak manajemen kampus 7. Alumni

8. Anggota komunitas bisnis lokal 9. Anggota organisasi lokal 10. Pemerintah

11. Badan pendanaan kampus

13. Komunitas peneliti nasional dan internasional 14. Komunitas perpustakaan nasional dan internasional 15. Pustakawan dan profesional di bidang informasi

Berbagai macam kelompok pengguna ini memiliki kepentingan yang berbeda-beda terhadap perpustakaan. Setiap kelompok pengguna merefleksikan harapan dan opini terhadap layanan perpustakaan y ang mereka inginkan atau pernah mereka dapatkan. Perpustakaan harus dapat menjadikan pengguna perpustakaan sebagai fokus dalam penyediaan layanan. Hal ini dikemukakan oleh Montanelli (1999 : 83) bahwa:

Upaya perpustakaan dalam menjadikan layanan perpustakaan dapat dinilai baik oleh pengguna adalah dengan memahami bahwa kebutuhan pengguna terhadap perpustakaan sangat beragam sesuai dengan kelompok dan harapan yang mereka inginkan.

Dari pernyataan di atas dapat diketahui bahwa kebutuhan pengguna terhadap perpustakaan sangat beragam sesuai dengan kelompok dan harapan yang mereka inginkan.

2.3.1 Pengguna Perpustakaan Berdasarkan Profesi

Jika dilihat berdasarkan profesi maka pengguna perpustakaan pada perpustakaan perguruan tinggi dapat digolongkan menjadi, mahasiswa sebagai pelajar, dosen sebagai staf pengajar perguruan tinggi.

(1) Mahasiswa

Perpustakaan akademik memiliki hubungan yang erat dengan mahasiswa. Tingginya aktivitas akademik di sebuah perguruan tinggi akan meningkatkan frekuensi kunjungan dan pemanfaatan layanan di perpustakaan. Hal ini akan menciptakan interaksi yang kuat antara perpustakaan dengan mahasiswa.

Jordan (1998 : 3) menyatakan bahwa:

Kebutuhan mahasiswa terhadap perpustakaan pada umumnya tidak dapat diidentifikasikan oleh mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa yang tidak dapat menjelaskan kebutuhan mereka terhadap layanan perpustakaan merupakan kelompok pengguna yang memiliki tingkat pengetahuan yang rendah. Pada umumnya tidak memiliki kemampuan menyampaikan pendapat mereka terhadap layanan perpustakaan yang

mereka inginkan secara spesifik sehingga perpustakaan tidak dapat mengetahui apa yang mereka inginkan dari layanan perpustakaan. Beberapa mahasiswa bahkan melakukan tindakan instant dengan melakukan pencurian dan vandalism terhadap koleksi perpustakaan.

Kebutuhan mahasiswa terhadap perpustakaan merupakan hal yang tidak dapat ditawar lagi. Namun kebutuhan informasi akan mahasiswa tentu berbeda jauh dari seorang pelajar SMA/SMP, seperti yang dikatakan oleh Tan dalam Yusup (2010 : 98) “seseorang yang mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi lebih banyak mempunyai kebutuhan-kebutuhan dibandingkan dengan orang yang berpendidikan rendah”.

(2) Dosen

Dosen merupakan seorang staf pengajar pada perguruan tinggi, yang memerlukan sumber informasi termutakhir. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut tentunya perpustakaan sangat berperan penting dalam menyediakan sumber informasi yang dibutuhkan. Harisanty (2008 : 11) menyatakan bahwa:

Pada perpustakaan perguruan tinggi saat ini, jumlah dosen yang memanfaatkan jasa perpustakaan masih relatif sedikit. Pengguna perpustakaan, khususnya dosen, terdiri dari banyak sekali kelompok, strata sosial, lingkungan pendidikan, etnis suku, kebudayaan, agama, dan kepercayaan, serta masih banyak lagi. Oleh karena itu sikap, pandangan, cara berpikir, wawasan dan persepsi terhadap sesuatu juga berbeda. Akibat keterbatasan dari informasi dan komunikasi maka respon terhadap perpustakaan tidak sama.

Penyelenggaraan perpustakaan sebagai sumber belajar merupakan suatu keharusan dalam pendidikan (UU No. 2/1989, pasal 35). “Suatu lembaga pendidikan tinggi tidak mungkin dapat terselenggara dengan baik jika para dosen dan para mahasiswa tidak didukung oleh sumber belajar yang diperlukan untuk penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar”.

Saat ini metode pembelajaran pada tingkat perguruan tinggi tidak lagi menggunakan metode tradisional yang seluruhnya dari dosen.

2.3.2.1 Digital Native

Istilah digital native yang digambarkan oleh Karnain (2006 : 1):

Merupakan istilah yang digunakan untuk seseorang yang lahir dan tumbuh bersama dengan perkembangan teknologi dan komunikasi, digital native

juga merupakan orang yang mengerti nilai teknologi digital dan menggunakannya untuk mencari peluang untuk mengimple-mentasikannya

Pendapat di atas menjelaskan bahwa digital native merupakan istilah yang digunakan untuk seseorang yang lahir dan tumbuh bersama dengan perkembangan teknologi dan komunikasi serta membuatnya menjadi peluang untuk mengimplementasikannya.

Prensky (2001 : 5) mendefinisikan

Digital Native sebagai “penutur asli” bahasa digital yaitu mereka yang akrab dengan dunia digital dan yang lahir dan tumbuh bersama dengan perkembangan teknologi dan komunikasi, hampir semua aktifitas dalam kehidupannya dikelilingi dengan teknologi digital seperti komputer, video game, ponsel dan lain sebagainya.

Sedangkan menurut Marteney yang dikutip Hasugian (2011 : 7) generasi manusia dibagi dalam 6 kategori yaitu:

(a) The Greatest Generation (World War II, 1901-1924), (b) The Silent Generation (1925-1942);

(c) The Baby Boomers (1943-1960); (d) Generasi X (1961-1981);

(e) Millennial (1982-2002);

(f) Digital Natives (Generasi Z atau Internet Generation), mulai tahun 1994 sampai akhir tahun sekarang.

Setelah melihat beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa

digital native merupakan seseorang yang lahir dimulai pada tahun 1994 dan tumbuh bersama dengan perkembangan teknologi dan komunikasi dan hampir semua aktifitasnya dikelilingi dengan teknologi digital.

Siswoyo (2011 : 1) memberikan penjelasan akan ciri-ciri dari seorang

digital native sebagai berikut:

3. Menggunakan istilah-istilah yang baru saat berkomunikasi.

Sedangkan Pujiono (2013 : 2) mengemukakan bahwa ciri-ciri digital native adalah :

Cara berfikir mereka non-linear. Contoh kasus, ketika membaca buku tidak harus dari halaman pertama. Mereka bisa memulai dari halaman mana saja yang ingin mereka tuju (berdasarkan rasa ingin tahu dan yang dikehendaki). Kaitannya, ini dalam hal substansi. Mereka bisa memanfaatkan daftar isi, indeks, dsb., untuk mengarahkan keingintahuan mereka terhadap isi buku. Kedua, mereka akrab dengan gadget. Ini seperti yang telah saya sebutkan di atas. Ketiga, Lahir pada masa era digital sudah ada/marak alias booming. Keempat, dapat melakukan pekerjaan dalam satu waktu.

Dari 2 (dua) pendapat di atas dapat diketahui bahwa ciri-ciri digital native

adalah cara berfikir yang non-linear, akrab dengan gadget terkini, dan lahir pada masa era digital dan dapat melakukan pekerjaan dalam satu waktu.

2.3.2.2 Digital Immigrants

Digital immigrants adalah istilah yang digunakan untuk seorang yang berlatarbelakang kebalikan dari Digital Native.

Prensky (2001 : 6) memberikan contoh untuk seseorang Digital Immigrant, sebagai berikut:

Digital Immigrant tidak percaya bahwa siswa dapat belajar di depan televisi atau sambil mendengarkan musik atau mungkin sambil chatting dengan smartphonenya hanya karena para Digital Immigrant tidak dapat melakukan hal-hal tersebut. Tentu saja mereka tidak bisa, para Digital Immigrant berfikir bahwa belajar seharusnya memang tidak menyenangkan. Sedangkan, para Digital Native sejak awal memulai kegiatan belajar mereka bersama dengan Sesame street, Dora, Barney dsb. Sedangkan Wijaya (2012 : 1) menyatakan dalam wacananya pada blognya bahwa “Digital Immigrant merupakan kelompok masyarakat yang tumbuh dan berkembang pada era transisi atau baru menggenal sumber daya teknologi informasi pada masa dewasa”.

Dari pendapat di atas dapat diketahui bahwa digital immigrant merupakan seseorang yang tumbuh dan berkembang pada era transisi atau baru mengenal

sumber daya teknologi informasi pada masa dewasa, pola pikir digital immigrant

dengan digital native tentu berbeda jauh mengenai teknologi informasi sebagai media pembelajaran seperti yang telah dicontohkan oleh Prensky.

Dokumen terkait