• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Penggunaan Antibiotika dalam Pakan

Amerika Serikat pada tahun 1940 melakukan penelitian, dimana pakan ayam diberikan produk fermentasi tetrasiklin yang menghasilkan pertumbuhan sangat cepat pada tubuh ayam dibandingkan dengan yang tidak diberikan produk fermentasi tersebut, hal ini kemudian diikuti negara lainnya (Phillips et al., 2004 dan PIC, 2006).

Berbagai penelitian mengenai penggunaan antibiotika dalam pakan dengan dosis subterapeutika yang berpengaruh terhadap penurunan biaya produksi daging, telur dan susu. Anthony (1997) menyebutkan penggunaan antibiotika pada dosis subterapeutika melalui pakan atau air minum berfungsi sebagai pemacu pertumbuhan, mempengaruhi metabolisme seperti tetrasiklin mempengaruhi ekskresi nitrogen dan air, effisiensi nutrisi dengan menekan bakteri intestin yang bersaing dengan host menggunakan nutrisi dan mencegah penyakit. Hewan yang diberikan antibiotika secara rutin, struktur dinding usus lebih tipis dan lebih besar daya absorpsinya, ini yang mengakibatkan antibiotika dapat memperbaiki dan meningkatkan produksi daging sapi, domba, unggas dan babi.

Antibiotika yang digunakan dalam campuran pakan perlu dicermati karena pakan memberikan kontribusi yang besar sekitar 60% dalam usaha pemeliharaan ternak, pemberian dalam jumlah besar dan diberikan secara terus menerus akan menyebabkan akumulasi dalam tubuh ternak tersebut (Teuber, 2001).

Jenis antibiotika, penggunaan dan tujuannya yang direkomendasikan oleh pemerintah seperti tabel dibawah ini :

Tabel 1. Antibiotika sebagai Imbuhan Pakan Ayam Pedaging

No Jenis antibiotika /Ton Pakan Tujuan

1 Avilamisina 2,5g - 15g Perangsang pertumbuhan 2 Avoparsina 7,5g - 15g Perangsang pertumbuhan 3 Bacitrasin zink 50g Perangsang pertumbuhan

4 Enramisina 5g - 10g Perangsang pertumbuhan

5 Flavomycin (Bambermisin) 2,5g Perangsang pertumbuhan 6 Kitasamisin 5g - 15g Perangsang pertumbuhan 7 Kolistin sulfate 2g - 20g Perangsang pertumbuhan

8 Lasalosid 2g Koksidiostat

9 Maduramisina 5g Koksidiostat

10 Lincomisin HCl 2,2g - 4,4g Perangsang pertumbuhan 11 Monensin natrium 70g - 90g Koksidiostat

12 Narasina 60g - 80g Koksidiostat

13 Salinomisin (Na) 60g Koksidiostat

14 Spiramisin (embonate) 5g - 20g Perangsang pertumbuhan 15 Virginiamisin 5g - 15g Perangsang pertumbuhan

Sumber : SK Mentan, 1994.

2.4.1. Avilamisin

Avilamisin termasuk antibiotika kelompok oligosakarida dan hanya digunakan untuk pemacu pertumbuhan. Avilamisin diproduksi oleh Streptomyces

viridochromogenes, antibitika ini merupakan campuran beberapa senyawa mayor

dan minor, aktif terutama terhadap bakteri gram positif (Adam, 2002).

Pemberian avilamisin secara oral 60 ppm diekskresikan hampir seluruhnya pada feses, hanya sedikit residu ditemukan pada babi dan tikus. Jumlah organisme

Clostridium perfringens pada intestin ayam menurun dengan penambahan 10 ppm

avilamisin pada pakan. Avilamisin juga mencegah enteritis nekrotik yang disebabkan Clostridium perfringens pada ayam broiler (Elwinger et al., 1998).

2.4.2. Basitrasin

Merupakan antibiotika polipeptida yang diproduksi oleh Bacillus

licheniformis, lebih stabil sebagai garam zink dan digunakan sebagai pemacu

pertumbuhan dan beberapa preparat topikal pada pengobatan manusia dan hewan. Basitrasin terutama aktif terhadap gram positif. Spektrum antibiotika ini mirip dengan kelompok penisilin (Cain et al., 1993 dan Adam, 2002).

Semua basitrasin menimbulkan nefrotoksik jika diberikan secara parenteral, antibiotika ini diabsorpsi sangat sedikit atau tidak sama sekali dari intestin seperti, yang diperlihatkan pada tikus, babi dan ayam, sehingga tidak ditemukan residu pada daging jika antibiotuika ini diberikan secara oral (Phillips et al., 2004). Penelitian menunjukkan penurunan jumlah enterococci jika basitrasin ditambahkan pada pakan hewan, penurunan ini terutama disebabkan menurunnya jumlah organisme Enterococci fecalis. Jumlah organisme Enterococci faecium

meningkat dibandingkan kelompok kontrol selama pemberian antibiotika yang diperpanjang. Enteritis nekrotik yang disebabkan Clostridium perfringens pada ayam dicegah dengan pemberian basitrasin dengan dosis 55-110 ppm dalam pakan. Selain itu jumlah organisme Clostridium perfringens menurun dengan penggunaan basitrasin (Chalker et al., 2000).

Pada uji lapang basitrasin terlihat menurunkan lesio intestinal adenomatosis yang disebabkan oleh Lawsionia intracellularis porsin pada babi. Basitrasin meningkatkan kolonisasi Salmonella enterica serotipe enteritidis pada caecum ayam (Chia et al., 1995).

2.4.3. Bambermisin

Menurut Butaye et al. (2003) bambermisin (flavofosfolipol dan flavomisin) merupakan antibiotika glikolipid yang diproduksi oleh speies streptomyces termasuk Streptomyces bambergiensis, Streptomyces ghanaensis, Streptomyces

geysirensis dan Streptomyces ederensis. Bambermisin hanya digunakan sebagai

antibiotika pemacu pertumbuhan pada pakan hewan.

Mekanisme kerja, bambermisin menghambat sintesa peptidoglikan dengan cara menghambat polimerase peptidoglikan merusak aktifitas transglikolase dari protein pengikat penisilin (PBPs). Hambatan ini menghasilkan pada blok spesifik

pembentukan rantai muren polisakarida (Butaye et al., 2000). Aktifitas spektrum bambermisin terutama aktif terhadap bakteri gram positif, juga menghambat beberapa bakteri gram negatif seperti, pasteurella dan brucella. Aktifitas spektrum terhadap streptococci dan stafilococci mirip dengan penisilin G dan makrolida dan anggota enterobactericiae sedikit peka.

Prevalensi resistensi, beberapa publikasi membahas tentang uji kepekaan bakteri untuk bambermisin, data yang ada hanya mengenai konsentrasi hambat minimum untuk spesies enterococci, lactobacilli, staphylococcus dan clostridia. Kasus resistensi belum dilaporkan dengan pasti walupun sebagian besar strain

Enterococci faecium sudah resisten menurut hasil penelitian di Denmark dan

Belanda (Focosi, 2003).

Bambermisin sangat sedikit diabsorpsi setelah pemberian oral pada beberapa spesies. Absorpsi yang jelas dideteksi hanya ketika pemberian antibiotika ini dengan dosis tinggi. Pemberian secara parenteral, bambermisin tetap tidak berubah, dengan perlahan diekskresikan melalui urin. Pada ayam dosis oral 20 ppm tidak menghasilkan residu pada jaringan atau organ. Residu bambermisin tidak dapat dideteksi pada saat pemberian feed aditive dosis tinggi.

2.4.4. Streptogramin

Streptogramin terdiri dari senyawa A dan senyawa B yang bekerja secara sinergis. Antibiotika ini tergolong kelompok makrolida, linkosamida- streptogramin. Sampai sekarang hanya tiga streptogramin yang dijual baik sebagai terapi maupun pemacu pertumbuhan yaitu, virginiamisin, pristinamisin dan quinupristin/dalfopristin (Salyers dan Whitt, 2005).

Virginiamisin telah digunakan baik pada preparat topikal untuk manusia dan obat hewan juga sebagai pemacu pertumbuhan pada pakan hewan. Virginiamisin diproduksi oleh Streptomyces virginiae sebagai campuran alami dua senyawa yang berbeda secara kimiawi, virginiamisin M (senyawa streptogramin A) dan virginiamisin S (senyawa streptogramin B) yang bekerja secara sinergis (Youssef

et al, 1983).

Antibiotika streptogramin memiliki aktifitas spektrum yang luas termasuk bakteri gram positif (terutama staphylococci, streptococci dan enterococci) dan

beberapa cocci gram negatif. Kebanyakan bakteri gram negatif secara alami resisten karena dinding selnya tidak permeabel (Chinali et al., 1988).

Pemberian virginiamisin secara oral tidak diabsorpsi di usus hewan, tidak ada residu virginiamisin ditemukan pada ginjal, hati, daging ayam yang diberi virginiamisin. Jumlah organisme Clostridium prefringens pada intestin ayam menurun dengan penambahan 55 ppm virginiamisin pada pakan. Virginiamisin mengurangi angka kematian dan keparahan enteritis nekrotik yang disebabkan

Clostridium perfringens. Tidak ada efek shedding salmonella pada ayam

(Revolledo et al., 2006).

2.4.5. Ionophore

Kebanyakan antibiotika ionophore diproduksi oleh Streptomyces spp., meskipun stroptopertisillium, nocardiopsis, nokardia dan actinomadura juga dikenal untuk memproduksi antibiotika tersebut. Ionophore aktif terhadap parasit termasuk coccidia (eimeria) dan plasmodium, juga terhadap organisme gram positif dan mikoplasma. Antibiotika ini tidak digunakan pada terapi manusia, pada hewan digunakan untuk pemacu pertumbuhan dan koksidiostat (Prescott dan Baggot, 1997).

Monensin, lasalosid, salinomisin, narasin dan maduramisin digunakan di Eropa, hanya monensin (sapi) dan salinomisin (babi) efektif terdaftar sebagai pemacu pertumbuhan. Ionophore lain yang terdaftar dapat digunakan pada pakan unggas sebagai koksidiostat. Mekanisme kerja, antibiotika polieter menganggu sistem transpor ion natural pada sel prokariotik dan eukariotik (Phillips et al., 2004).

Antibiotika ini diabsorpsi dengan baik pemberian secara oral, sehingga antibiotika ini cukup toksik bagi mammalia dan unggas. Beberapa kejadian dilaporkan mengenai overdosis ionophore pada mammalia kebanyak melibatkan intoksikasi akut, meskipun adanya laporan mengenai intoksikasi kronis. Kuda dan kelinci peka terhadap intoksikasi ionophore, kalkun, dan burung puyuh lebih peka terhadap intoksikasi monensin daripada jenis burung lain (Butaye et al., 2003). Beberapa penelitian menunjukkan efek antibiotika ionophore pada intestin. Tidak ditemukan kemampuan kolonisasi salmonella pada caecum dan tidak ada

seleksi resistensi coliform dan streptococci ditemukan pada ayam. Antibiotika ini menghambat Clostridium perfringens (tipe A dan C) pada ayam dan kalkun, sehingga diperkirakan antibiotika dapat digunakan untuk mencegah enteritis nekrotik. Narasin juga efektif dalam pengobatan dan pencegahan infeksi

Clostridium perfringens pada ayam. Pada babi salinomisin mengurangi lesio dan

keberadaan Lawsonia intracellularis yang menyebabkan proliferasi enteropati pada usus babi (Butaye et al., 2003).

2.4.6. Quinoksalin

Karbadoks dan olakuidoks merupakan antibakteri sintetik yang bekerja dengan menghambat sintesa DNA, antibiotika ini terutama aktif terhadap bakteri gram negatif. Meskipun quinoksalin dianggap sebagai pemacu pertumbuhan, antibiotika ini juga terutama digunakan dalam pencegahan disentri pada babi yang disebabkan Brachyspira hyodysenteriae (Adam, 2002).

2.4.7. Efrotomisin

Merupakan sebagai antibiotika eflamisin, digunakan hanya sebagai pemacu pertumbuhan, namun demikian penggunaannya sangat terbatas sampai sekarang. Dengan alasan yang tidak diketahui produk ini belum dijual secara luas di Eropa. Efrotomisin diproduksi oleh Nokardia laktamdurans, produk ini tidak aktif terhadap bakteri gram negatif karena tidak dapat menembus sel. Spesies streptococci relatif tidak sensitif. Efrotomisin tidak aktif terhadap staphylococci, beberapa spesies lactobacillus, spesies enterococci tertentu dan beberapa spesies bakteri tertentu (Prescott dan Baggot, 1997).

Efrotomisin diabsorpsi secara cepat melalui oral, tidak ada pengaruh terhadap prevalensi tiphimurium serotipe Salmonella enteritica, sheding dan resistensi pada babi. Antibiotika ini menurunkan jumlah organisme Clostridium perfringens pada ileum ayam (Butaye et al., 2003).

Pakan memegang peranan penting dalam keamanan pangan asal hewan karena mutu pakan akan tercermin dalam produk yang dihasilkan. Keamanan pangan hewani berkaitan erat dengan pengawasan pakan atau bahan pakan. Sehubungan dengan itu pemerintah menerbitkan berbagai kebijakan atau

peraturan yang berkaitan dengan pengawasan mutu pakan, seperti SK. Mentan No.241/Kpts/OT.210/4/2003 dan SNI tentang pakan nomor 01-3930-1995. Menurut Butaye et al. (2003), penggunaan antibiotika dalam pakan dapat meningkatkan konversi pakan, pertumbuhan hewan, menurunkan angka sakit dan kematian pada penyakit klinis dan subklinis. Rata-rata peningkatan pertumbuhan berkisar antara 4 – 8% dan manfaat di pakan meningkat 2 – 5%. Mekanisme bagaimana antibiotika sebagai pemacu pertumbuhan belum secara pasti diketahui, penelitian menggunakan germ- free chicken terlihat bahwa aksi growth promoter

dipengaruhi oleh antibiotika. Ada beberapa hipotesa yang dikemukakan untuk menjelaskan hal tersebut yaitu; antibiotika dapat mengamankan nutrisi, antibiotika secara selektif menghambat organisme yang menggunakan nutrisi, penyerapan nutrisi meningkat disebabkan menipisnya barrier usus kecil, antibiotika menurunkan produksi toksin oleh bakteri yang berada dalam usus dan antibiotika menurunkan kejadian infeksi usus subklinis.

Dokumen terkait