BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Penggunaan Bahasa Pakpak Dalam Masyarakat
Desa Juma Teguh, Kecamatan Siempat Nempu, Kabupaten Dairi, merupakan daerah yang berbatasan dengan Desa Juma Siulok dimana mayoritas masyarakatnya menggunakan bahasa Batak Toba, sehingga bahasa yang digunakan dalam masyarakatnya juga menjadi dwibahasa. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Pakpak dan bahasa Batak Toba. Mayoritas penggunaan bahasa dalam masyarakat Desa Juma Teguh adalah bahasa Batak Toba.
Desa Juma Teguh merupakan salah satu desa di Kecamatan Siempat Nempu. Bahasa Batak Toba sudah menjadi bahasa utama dalam pergaulan sehari-hari oleh masyarakat desa, bukan lagi menggunakan bahasa Pakpak yang seharusnya sudah menjadi identitas Kabupaten Dairi. Seperti yang diungkapkan oleh kepala Desa Juma Teguh (51 tahun) berikut ini:
“…faktor utama na buti, memang halak Toba on nga mendominasi di
Dairi on, kecuali di Pakpak Barat jadi halak Pakpak pe nga menggunakan bahasa Toba kecuali tu sesama halak i….” (Eston Situmorang, 51 tahun, Kepala Desa, tanggal 7 April 2019)
“ Faktor utamanya begini, memang suku Batak Toba sudah mendominasi
di Kabupaten Dairi ini, kecuali di Pakpak Barat jadi, suku Pakpak juga ikut menggunakan bahasa Toba kecuali, sesama suku Pakpak.”
Hasil wawancara di atas menunjukan bahwa, banyaknya suku Batak Toba di Kabupaten Dairi sangat menentukan bahasa apa yang digunakan masyarakat Desa Juma Teguh dalam berinteraksi sehari-hari terutama dalam ranah keluarga.
Seperti yang diungkapkan salah satu warga Juma Teguh (40 tahun) berikut ini:
“…. Termasuk ma lingkungan i kan marbahasa Toba, di son pe jarang
dipakke bahasa Pakpak i paling ma holan beberapa keluarga…..” (Alinafiah Siregar, 40 tahun, petani, tanggal 4 April 2019).
“ Termasuk karena faktor lingkungan yang lebih banyak menggunakan
bahasa Batak Toba, di sini sangat jarang bahasa Pakpak digunakan, paling hanya beberapa keluarga saja.”
Berdasarkan hasil wawancara di atas memperlihatkan bahwa bahasa Batak Toba sudah digunakan dari dulu oleh masyarakat Desa Juma Teguh. Hal ini membuat masyarakat Desa Juma Teguh jarang menggunakan bahasa Pakpak untuk berkomunikasi, hasilnya banyak masyarakat yang mengaku malu ketika menggunakan bahasa Pakpak apalagi di zaman sekarang ini banyak masyarakat suku Pakpak mengganti marga mereka menjadi marga suku Batak Toba, seperti marga Berutu menjadi Sinaga ( Batak Toba), marga Padang menjadi Siahaan ( Batak Toba), Nahampun menjadi Simbolon (Batak Toba). Bahkan sejak kecil anak-anak sudah dibiasakan menggunakan bahasa Batak Toba oleh orang tuanya dari pada menggunakan Bahasa Pakpak.
Fenomena ini sangat memprihatinkan karena sebagian warga masyarakat Desa Juma Teguh yang beridentitas suku Pakpak tidak bisa lagi menggunakan bahasa Pakpak. Perubahan yang terjadi pada masyarakat merupakan perubahan sosial yang terjadi sejak mereka kecil. Seperti yang diungkapkan Sztomka (2004) bahwa perubahan sosial meliputi ‘atom’ terkecil dinamika sosial, perubahan
sistem sosial atau perubahan setiap aspeknya.
Unsur ‘atom’ terkecil yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah
masyarakat Desa Juma Teguh Kecamatan Siempat Nempu yang mulai menggunakan bahasa lain untuk berkomunikasi. Masyarakat lebih memilih menggunakan bahasa Batak Toba untuk berkomunikasi. Penggunaan bahasa Pakpak dalam masyarakat dilihat pada saat sedang berkumpul dengan sesama suku Pakpak dan Batak Toba. Berikut hasil wawancara dengan Jakmen Padang (38 tahun).
“…. Molo halak Pakpak on buti, contohna adong ma opat halak Pakpak
dohot sada halak Toba. Si halak Toba on dang berusaha menyesuaihon diri supaya boi berkomunikasi tu halak Pakpak, malahan halak Pakpak i do na berusaha marbahasa Toba asa boi berkomunikasi tu sasada halak Toba i….”(
Jekmen Padang, 38 tahun, PNS, 7 April 2019).
“ Kalau suku Pakpak begini, contohnya ada empat orang suku Pakpak dan
satu orang suku Batak Toba dalam satu kumpulan, orang yang bersuku Batak Toba tidak akan berusaha menggunakan bahasa Pakpak untuk bisa berkomunikasi dengan orang yang bersuku Pakpak tadi, tetapi keempat orang yang bersuku Pakpak ini yang akan berusaha menggunakan bahasa Batak Toba agar bisa berkomunikasi dengan satu orang bersuku Batak Toba.”
Berdasarkan wawancara di atas dapat dijelaskan bahwa pada saat masyarakat Desa Juma Teguh berada dalam satu kumpulan dengan suku Batak Toba, mereka akan menggunakan bahasa Batak Toba.
4.3 Pola Pergeseran Bahasa Pakpak - Batak Toba
Hasil penelitian menjunjukan bahwa pergeseran bahasa Pakpak - Batak Toba dalam ranah keluarga di perbatasan Desa Juma Teguh - Desa Juma Siulok Kecamatan Siempat Nempu, kabupaten Dairi telah mengalami pergeseran bahasa berdasarkan peran masing-masing anggota keluarga. Hal itu dapat dilihat dari pada pola hubungan masing-masing anggota keluarga dalam kehidupan sehari-hari. Pola hubungan antar anggota keluarga yang telah mengalami pergeseran bahasa Pakpak - Batak Toba di Desa Juma Teguh Kecamatan Siempat Nempu, Kabupaten Dairi yaitu: (1) pola hubungan suami ke istri, (2) pola hubungan istri ke suami, (3) pola hubungan orang tua ke anak, dan (4) pola hubungan anak ke orang tua.
4.3.1 Pola hubungan suami ke istri
Pola hubungan suami ke istri telah mengalami pergeseran bahasa yang ditandai dengan perubahan pemakaian bahasa Pakpak ke bahasa Batak Toba.
Sikap bahasa ini muncul ketika suami berkomunikasi dengan istrinya. Pergeseran bahasa Pakpak- bahasa Batak Toba oleh suami dalam berkomunikasi dengan istrinya dikarenakan suami menginginkan hubungan komunikasi di antara mereka dapat berlangsung akrab, santai, dan dapat saling dipahami. Untuk itu, suami menggeser pemakaian bahasa Pakpak- bahasa Batak Toba sebagai bahasa
sehari-demikian, akibat kemampuan penguasaan bahasa, perbedaan latar belakang etnis, dan situasi tutur dalam peristiwa tutur antara suami dan istri tersebut menyebabkan pergeseran bahasa Pakpak - bahasa Batak Toba di Desa Juma Teguh Terjadi. Hal ini dapat dilihat dari peristiwa tutur antara p1 (istri suku Batak Toba) dan p2 (suami suku Pakpak) berikut ini:
p1 : Sadike krina kresna tokor jagong ta bari pak butet ?
‘Berapa semua uang hasil menjual jagung kita pak butet ?’
p2 : ah, nga marpilitan i. unang pakke i, Bahasa Toba i ma bahen.
‘ah, sudah salah itu, jangan pakai itu, Bahasa Batak Toba itu saja pakai.’
Dari percakapan di atas dapat ditemukan bahasa Batak Toba (bergaris bawah) digunakan oleh suami yang bersuku Pakpak karena merasa bahasa Pakpak yang digunakan istrinya tidak benar. Pergantian bahasa yang dilakukan oleh suami membuat bahasa Pakpak mulai bergeser dengan bahasa Batak Toba. Maksud suami mengganti bahasanya agar percakapan lebih santai dan berjalan dengan lancar, di Desa Juma Teguh bahasa Pakpak seringkali diganti dengan bahasa Batak Toba dalam percakapan di ranah keluarga karena terdengar janggal. Seperti hasil wawancara warga (48 tahun) berikut ini :
“…alana campuran, dang na holan halak Pakpak contohna suamiku
padang au boru Siahaan hape dang hu boto marbahasa Pakpak, jadi bahasa Toba ma hu pakke, molo i pakke bahasa Pakpak janggal-janggal. Unang pakke i Toba i ma pakke i nina suamikku do…” (Nurhaida, 48 tahun, Guru, 4 April 2019)
“Karena campuran, tidak hanya Suku Pakpak saja contohnya suami saya Padang (Pakpak), saya Boru Siahaan (Batak Toba) tapi saya tidak bisa menggunakan bahasa Pakpak jadi, bahasa Batak Toba yang saya gunakan, kalau
saya gunakan bahasa Pakpak masih janggal. Jangan pakai itu bahasa Batak Toba saja gunakan kata suami saya.”
Dari hasil wawancara di atas dapat dilihat bahwa penggunaan bahasa Pakpak dalam ranah keluarga di Desa Juma Teguh, Kecamatan Siempat Nempu, Kabupaten Dairi sudah tidak lagi menjadi yang utama, karena terdengar janggal maka masyarakat lebih menmilih menggunakan bahasa Batak Toba dari pada bahasa Pakpak.
4.3.2 Pola hubungan istri ke suami
Pergeseran bahasa Pakpak, pada pola hubungan istri ke suami yang ditandai dengan pemakaian bahasa Batak Toba dalam berbagai peristiwa tutur.
Istri menggunakan bahasa suami selama bahasa yang digunakan suaminya adalah bahasa yang dominan digunakan oleh seluruh anggota keluarga maupun anggota masyarakat. Istri beretnis Pakpak yang mempunyai suami beretnis Batak Toba menggeser bahasa Pakpak ke bahasa Batak Toba jika, bahasa Batak Toba digunakan dalam berbagai peristiwa tutur sehari-hari, baik berkomunikasi dengan anggota keluarga, maupun anggota masyarakat. Sikap bahasa ini muncul karena adanya keinginan istri untuk menjalin hubungan yang akrab dan santai antara kedua belah pihak. Sebagaimana yg diperlihatkan istri dalam menggunakan bahasa Batak Toba yang sekaligus menandai pergeseran bahasa Pakpak. Berikut tampak pada tuturan p1 (istri suku Pakpak), dan p2 (suami suku Batak Toba).
p1 : Beta tu juma, godang sikarejoan
‘ayok ke ladang, banyak yang mau dikerjakan’
p2 : Beta
4.3.3 Pola hubungan orang tua ke anak
Ada pergeseran bahasa Pakpak yang ditandai dengan pemakaian bahasa Batak Toba pada hubungan orang tua ke anak. Hal ini diakibatkan karena adanya hubungan yang dekat, dan bahasa yang dominan digunakan dalam keluarga.
Pergeseran bahasa Pakpak milik orang tua bergeser menjadi menggunakan bahasa batak Toba demi menjaga hubungan tetap akrab dan harmonis kepada anaknya yang hanya bisa menggunakan bahasa Batak Toba. Dominasi pemakaian bahasa yang ada dalam keluarga sangat memengaruhi bahasa yang dimiliki anak sebagai bahasa ibu. Orang tua yang memiliki perbedaan bahasa ibu dengan anak akan menggeser bahasa ibu yang dimilikinya untuk disesuaikan dengan bahasa yang digunakan anaknya.
Penyesuaian bahasa ini bertujuan agar komunikasi antara orang tua dan anak dapat bejalan dengan lancar, sebab bahasa ibu dari anak - anak perkawinan campuran antara suku pakpak dan Batak Toba di Desa Juma Teguh adalah bahasa Batak toba. Dengan demikian, orang tua yang memiliki bahasa ibu yang berbeda dengan anaknya akan menggeser bahasanya. Dalam hal ini bahasa Pakpak mengalami pergeseran ke bahasa Batak Toba. Berikut dapat dilihat tuturan orang tua p1 (suku Pakpak) Kepada seorang anaknya p2 suku Pakpak :
p1 : Bayon pe dang di boto be hurasa marbahasa Pakpak be.
‘ini pun tidak lagi tahu saya rasa berbahasa Pakpak’
p2 : boi do alai, cituk-cituk.
‘Bisa tapi, sedikit-sedikit’
4.3.4 Pola hubungan anak ke orang tua
Pergeseran bahasa Pakpak, pada pola hubungan anak ke orang tua ditandai dengan pemakaian bahasa Batak Toba yang digunakan dalam berkomunikasi seharihari. Sebagai masyarakat yang berada di wilayah perbatasan Pakpak -Batak Toba, bahasa yang digunakan dalam masyarakat akan sangat berpengaruh terhadap adanya pergeseran bahasa, dalam hal ini pergeseran bahasa Pakpak.
Anak masih mempertahankan bahasa yang dimilikinya ( bahasa Batak Toba), tetapi orang tua tetap menggunakan bahasa Batak Toba. Berikut tampak pergeseran bahasa Pakpak - bahasa Batak Toba pola hubungan anak suku Pakpak (p1) kepada orang tua (p2) suku Batak Toba
p1 : Aha do arti ni i mak. Mak aha do arti na ?
‘apa artinya itu ma. Ma apanya artinya ?’
p2 : Aha ?
‘apa?’
P1 : Arti na
‘artinya’
4.4 Faktor-faktor yang memengaruhi pergeseran bahasa
Penggunaan bahasa Pakpak dalam ranah keluarga mengalami pergeseran.
Baik anak maupun orang tua telah menggunakan bahasa Batak Toba dalam berkomunikasi antar sesama dalam sehari-hari. Pergeseran bahasa dalam ranah keluarga ini tidak begitu saja terjadi, tetapi pergeseran bahasa tersebut didorong oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal dan eksternal.
4.4.1 Faktor internal
Faktor internal yang dimaksud merupakan penyebab terjadinya pergeseran bahasa Pakpak - bahasa Batak Toba yang terjadi dalam ranah keluarga di Desa Juma Teguh, Kecamatan Siempat Nempu, Kabupaten Dairi.
1. Minimnya penggunaan bahasa Pakpak
Faktor dasar dari keluarga sendiri biasanya dilakukan sendiri oleh masyarakat. Dalam hal ini penggunaan bahasa Pakpak, banyak masyarakat Desa Juma Teguh yang mulai berkurang kemampuannya dalam menggunakan bahasa Pakpak yang lebih baik. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu warga (38 tahun) :
“….Sebenarnya karena malu, suku Pakpak malu menggunakan bahasanya
sendiri pada orang lain. Kebanyakan seperti itu, dia nggak mampu mempertahankan bahasanya karena dia merasa malu…” (Jekmen Padang, 38 tahun, PNS, 6 April 2019).
Hasil wawancara ini lebih menunjukan bahwa kemampuan masyarakat, terhadap penggunaan bahasa Pakpak telah bergeser. Kemampuan berbahasa Pakpak bergeser karena tidak didukung oleh orang tua yang telah terbiasa menggunakan Bahasa Batak Toba. Orang tua sudah bersikap biasa saja ketika kemampuan anak-anaknya dalam menggunakan bahasa Pakpak terdengar buruk.
2. Masyarakat merasa malu menggunakan bahasa Pakpak
Bahasa Pakpak yang seharusnya digunakan di Desa Juma Teguh adalah bahasa Pakpak simsim. Masyarakat merasa enggan untuk menggunakan bahasa Pakpak saat bertemu dengan warga lain, hal ini terbawa terus sampai ke ranah keluarganya masing-masing sehingga, dalam keluarga banyak
masyarakat yang lebih memilih menggunakan bahasa Batak Toba daripada bahasa Pakpak. Penggunaan bahasa Batak Toba juga dilakukan oleh warga masyarakat Desa Juma Teguh ketika keluar dari lingkungan desa. Seperti yang diungkapkan salah satu warga (38 tahun) :
“……. kayak dialah, dia lebih pintar dari aku bahasa Pakpak karena dia
lahir di lingkungan orang Pakpak. Tapikan di rumah, dia gak pake bahasa Pakpak, bahasa Toba kan sedangkan dia yang udah lahir di lingkungan orang Pakpak masuk ke lingkungan Toba, pakek bahasa Toba…” (Jekmen Padang, 38 tahun, PNS, 7 April 2019)
Berdasarkan wawancara di atas masyarakat tidak menggunakan bahasa Pakpak karena merasa malu, dalam hal ini ada hubungan yang terjadi antara keluarga dengan masyarakat. Seperti dalam ilmu Sosiolinguistik yang mengkaji tentang bahasa yang dikaitkan dengan kondisi kemasyarakatan.
3. Faktor sosialisasi dalam keluarga
Untuk dapat menggunakan bahasa, maka harus melakukan interaksi atau hubungan sosial dengan orang lain terlebih dahulu. Lalu dari hasil sosial tersebut biasanya akan saling memengaruhi lunturnya penggunaan bahasa.
Seseorang biasanya menganal interaksi pertama kalinya dari keluarga.
Keluarga biasanya mengajari anak-anaknya supaya mampu berkomunikasi dengan orang lain.
Pendidikan dalam keluarga adalah hal pertama yang diterima oleh anak.
Keluarga merupakan pusat sosialisasi pertama, keluarga memperkenalkan cara berbicara dan berbahasa kepada anak-anaknya. Keluarga yang berada di Desa
kepada anak-anaknya, agar nantinya di luar dari ranah keluarga dapat mudah dalam bersosialisasi, karena mayoritas penduduk desa adalah suku Batak Toba. Seperti yang diungkapkan oleh seorang ibu rumah tangga (48 tahun) :
“…… Jadi lingkungan inikan Pakpak memang Karena udah ada
campuran Pakpak Batak Toba, kekmana jarang dipakek bahasa Pakpaknya jadi dari kecil udah di biasakan anak-anak ini pakek bahasa Toba…”
(Nurhaida Siahaan, 48 tahun, 5 April 2019).
Bahasa Pakpak dalam lingkup keluarga sudah mulai beralih menggunakan bahasa Batak Toba. Terjadi perubahan komunikasi di dalam keluarga Desa Juma Teguh. Sztompka (2004) berpendapat bahwa perubahan sosial meliputi
‘atom’ terkecil dinamika sosial, perubahan sistem sosial atau perubahan setiap
aspeknya, tetapi perubahan tunggal jarang terjadi dalam keadaan terisolasi dan perubahan perubahan itu biasanya berkaitan dengan aspek lain. Yang terpenting adalah pemikiran tentang “proses sosial” yang melukiskan rentetan perubahan yang saling berkaitan.
Perubahan bahasa Pakpak dalam keluarga merupakan perubahan kebudayaan yang terjadi di Desa Juma Teguh. Untuk pertama kalinya seorang anak menerima nilai yang baru yaitu masuknya pengaruh bahasa Batak Toba untuk berkomunikasi. Bahasa Batak Toba yang di nilai mudah menggeser bahasa Pakpak dalam ranah keluarga di Desa Juma Teguh. Penggunaan bahasa Batak Toba dalam keluarga menggeser jenis-jenis bahasa Pakpak. Tidak hanya keluarga, pergaulan lingkungan sekitarnya juga menjadikan masyarakat sudah beralih ke bahasa Batak Toba.
4. Faktor interaksi dengan lingkungan sekitar
Faktor pergaulan dalam lingkungan tidak hanya memengaruhi perkembangan sikap masyarakat tetapi juga berpengaruh terhadap pergeseran bahasa Pakpak dalam ranah keluarga di Desa Juma Teguh. Penggunaan bahasa yang biasa digunakan dalam bersosialisasi sehari-hari menjadikan masyarakat terbiasa dengan bahasa Batak Toba. Masyarakat mulai mengalami pergeseran bahasa Pakpak saat berinteraksi dengan masyarakat lain. Desa Juma Teguh merupakan desa yang berbatasan dengan Desa Juma Siulok yang mayoritas masyarakatnya adalah suku Batak Toba, hal ini juga yang membuat bahasa Pakpak semakin bergeser.
4.4.2 Faktor Eksternal
Faktor eksternal yang dimaksud merupakan penyebab terjadinya perubahan pergeseran bahasa Pakpak yang terjadi pada masyarakat wilayah perbatasan Desa Juma Teguh - Desa Juma Siulok Kecamatan Siempat Nempu, KKabupaten Dairi.
1. Faktor pendidikan
Pada umumnya, sekolah atau pendidikan sering juga menjadi penyebab bergesernya bahasa, karena sekolah selalu memperkenalkan bahasa kedua kepada anak didiknya. Contohnya penggunaan bahasa nasional atau bahasa Indonesia yang mana bahasa ini memang harus dikuasai oleh setiap anak di penjuru negeri ini. Namun karena kurangnya pengenalan kembali terhadap bahasa Pakpak, membuat anak-anak Desa Juma Teguh yang berbatasan langsung dengan Desa Juma Siulok semakin melupakan bahasa Pakpak. Dari
Namun, karena saat beriteraksi sehari-hari dalam ranah keluarga menggunakan bahasa Batak Toba, banyak anak-anak yang tidak berminat lagi untuk mempelajari bahasa Pakpak. Seperti yang dikemukakan oleh kepala Desa Juma Teguh (51 tahun) berikut ini :
“….Jadi contohkan, masuk pun dia gurunya. Toh gak ada lagi
diperhatikan gak ada lagi niat si anak dengan bahasa itu (bahasa Pakpak), karena di lingkungannya udah kek gitu ( suku Batak Toba)…”
Dari hasil wawancara di atas menunjukan bahwa, keinginan anak – anak di Desa Juma Teguh untuk mendalami bahasa Pakpak sudah sangan minim.
2. Faktor lingkungan luar
Faktor lain yang menyebabkan pergeseran bahasa Pakpak - bahasa Batak Toba di perbatasan Desa Juma Teguh - Desa Juma Siulok ialah banyak masyarakat keluar dari desa untuk bekerja, sekolah, dan untuk melakukan kegiatan lain di luar Desa Juma Teguh hal ini juga memengaruhi penggunaan bahasa Pakpak sebab, mau tidak mau masyarakat yang bersuku Pakpak harus menggunakan bahasa Batak Toba, karena memang mayoritas masyarakat yang hidup di Kabupaten Dairi adalah suku Batak Toba. Begitu juga sebaliknya, bahasa Pakpak yang seharusnya digunakan masyarakat desa mulai bergeser dengan adanya kontak langsung dengan masyarakat yang bersuku Batak Toba.
BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Bahwa pola pergeseran bahasa Pakpak - bahasa Batak Toba pada masyarakat wilayah perbatasan Desa Juma Teguh - Desa Juma Siulok dalam ranah keluarga terdiri atas empat pola pergeseran bahasa Pakpak yang didasarkan pada peran masing-masig penutur dalam keluarga.
Emapat pola tersebut adalah (1) pola hubungan suami ke istri, (2) pola hubungan istri ke suami, (3) pola hubungan orang tua ke anak, dan (4) pola hubungan anak ke orang tua. Pergeseran bahasa Pakpak- bahasa Batak Toba pada keempat pola hubungan tersebut ditandai dengan pemakaian bahasa Batak Toba dalam ranah keluarga.
2. Penggunaan bahasa Pakpak pada masyarakat wilayah perbatasan Desa Juma Teguh - Desa Juma Siulok mengalami pergeseran, pergeseran disebabkan masyarakat Desa Juma Teguh telah menggunakan bahasa Batak Toba. Dalam hal ini terdapat faktor-faktor yang memengaruhi pergeseran bahasa tersebut yaitu faktor internal (1) Faktor kurangnya intensitas pemakaian bahasa Pakpak, (2) masyarakat merasa malu menggunakan bahasa Pakpak (3) sosialisasi penggunaan bahasa Pakpak di lingkungan masyarakat masih sangat minim, dan (4) Faktor interaksi dengan lingkungan sekitar yang cenderung menggunakan bahasa Batak
untuk mendalami bahasa Pakpak memudar, dan (2) faktor lingkungan luar menuntut masyarakat memakai bahasa yang mudah di pahami oleh lingkungan sekitar.
5.2 Saran
Saran yang dapat disampaikan dari hasil penelitian antara lain :
1. Agar masyarakat Desa Juma Teguh tidak malu untuk menggunakan bahasa Pakpak, karena bahasa Pakpak merupakan kebudayaan asli yang seharusnya bisa dipertahankan masyarakat Desa Juma Teguh Kecamatan Siempat Nempu, Kabupaten Dairi.
2. Bagi masyarakat Desa Juma Teguh agar berperan serta melestarikan bahasa Pakpak.
3. Bagi pemerintah Kabupaten Dairi agar lebih giat lagi menggalakkan penggunaan bahasa Pakpak terutama agar bisa ditambahkan dalam mata pelajaran muatan lokal bahasa Pakpak.
DAFTAR PUSTAKA
Aitchison, Jean. 2008. The articulate mamma an introduction to psycolingistics.
London : Fifth edition.
Bakti, Hari. 2007. Pergeseran Bahasa Jawa Dalam Ranah Keluarga Pada Masyarakat Multi Bahasa Di Wilayah Kabupaten Brebes. (Skripsi). UNY.
Basrowi. 2005. Pengantar sosiolinguistik. Bogor : Ghlia Indonesia.
Chaer, Abdul dan Leoni Agustina. 1995. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta : Rineka Cipta
Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Edisi Revisi. Jakarta : Rineka Cipta.
Deliana. 2014 “Kajian Ilmu Linguistik” Jurnal Ilmu Bahasa. Medan : USU Prees.
Dittmar, Norbert. 1978. Linguage Of Society. Cabridge : Univesity Press.
Dorian, Nancy 1981. Lenguage Death. The Life Cyle Of a Sottish Gaelich Dialect Philadhelpia : Univesity Of Pennsyl vania Press.
Fasold, R. 1984. Sociolingustics of Society. New York : Basil Blak Well Inc.
Fishman, J.A. 1964. Reading in the Sociology Of Lenguage : New bury House Plublication. Cipta.
Fishman, J.A. 1972. The Sociology of Language. Massachusett: Newbury House Plublication.Cipta.
Gal, Susan 1979 Lenguage Shift: Social Determinats Of Linguistic Change In Bilingual. Austria New York : Academic Press.
Seminar Nasional Pembinaan Bahasa, Sastra dan Budaya Daerah. Bandar Lampung, 29-30 Oktober 2001.
Gunawan. 2006. Pengaruh Bahasa Gaul Terhadap Bahasa Indonesia. Jakarta : Universitas Esa Unggul.
Holmes. 1993. Sosiolinguistics, Hardmon worth : Penguin.
Kridalaksana, 1985. Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia Sintaksis : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.
Kridalaksana. 2008. Kamus Linguistik. Edisi Keempat. PT. Gramedia Pustaka Utama.
Martono. 2007 Penggunaan Bahasa Dalam Ranah Keluarga Muda Jawa Semarang : Universitas Negri Semarang.
Miles, Matthew B dan A. Michael Huberman. 1999. Analisis data kualitatif.
Terjemahan Tjejep Rohidi. Jakarta: UI Press.
Nababan, P.J.W 1984 sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta : Gramedia.
Siregar, Bahrein Umar, et.al. 1998. Pemertahanan Bahasa dan Sikap Bahasa:
Kasus Masyarakat Bilingual di Medan. Medan : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Siahaan, Bisuk. 2005. Batak Toba ; Kehidupan Di balik Tembok Bambu. Jakarta
Siahaan, Bisuk. 2005. Batak Toba ; Kehidupan Di balik Tembok Bambu. Jakarta