• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penggunaan Jilbab Berdasarkan Ruang dan Waktu

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA JILBAB DALAM PERSP (Halaman 118-122)

BAB VI ANALISIS PENGGUNAAN JILBAB DAN KERAGAMAN MAKNA

6.1.1. Penggunaan Jilbab Berdasarkan Ruang dan Waktu

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan, maka penggunaan jilbab di kalangan mahasiswi, dosen maupun seorang karyawati di fakultas hukum UMJ, pada hakekatnya tidak menunjukkan adanya keseragaman, mulai dari bentuk, corak, warna, model maupun ukurannya. Hal ini sebenarnya juga banyak terjadi di beberapa lingkungan kampus lainnya, sehingga ketidaksamaan ini pula yang melahirkan klasifikasi tentang model jilbab di setiap kampus, termasuk fakultas hukum UMJ. Namun keadaan ini berbeda dengan jilbab di lingkungan fakultas agama Islam maupun fakultas kedokteran. Pada kedua fakultas tersebut, jilbab menjadi sebuah ketentuan yang wajib dalam penggunaannya. Bagi mahasiswi fakultas agama Islam misalnya, seluruh mahasiswinya menggunakan jilbab hitam, bahkan ada pula yang bercadar. Sedangkan mahasiswi fakultas kedokteran wajib berjilbab dengan paduan rok panjang tetapi dengan model dan warna yang berbeda. Oleh karena itu jilbab di lingkungan Universitas Muhammadiyah sendiri memiliki karakteristik yang berbeda. Bahkan penggunaan jilbab juga dapat menjadi berbeda jika didasarkan pada tempat maupun waktu.

Beberapa subyek penelitian juga mengemukakan bahwa jilbab ada kalanya hanya digunakan di ruang publik atau tempat umum, seperti kampus atau pusat keramaian, seperti perkantoran, mall, pasar dan gedung pertemuan. Namun ada pula yang menggunakan jilbab dengan tidak memperhatikan tempat, karena dalam keadaan apapun, beberapa subyek penelitian selalu menggunakan jilbab meski disesuaikan pula dengan situasi dan kondisinya. Bahkan ada pula beberapa mahasiswi maupun dosen justru melepas jilbabnya jika berada di rumah. Kalaupun berjilbab, mereka hanya menggunakannya dalam bentuk seperti topi atau kerudung (berupa selendang).

Perbedaan penggunaan jilbab berdasarkan ruang atau tempat, tidak hanya didasarkan oleh faktor keberadaan sebuah wilayah yang melibatkan terdapatnya individu ataupun komunitas yang dikenalnya sebagai muhrim dan bukan muhrim, tetapi juga didasarkan pada batasan jarak (jauh atau dekatnya dengan rumah), serta dipengaruhi pula oleh rasa kenyamanan diri ataupun karena faktor kepraktisan. Hal ini terlihat ketika beberapa informan menyebutkan bahwa jika di rumah tidak perlu menggunakan jilbab, karena jika di dalam rumah berjilbab terasa ‘merepotkan’. Selain itu, tidak berjilbabnya seseorang di dalam rumah juga dipengaruhi oleh keberadaan orang yang dianggap muhrim ataupun bukan muhrim. Hal ini umumnya dilakukan oleh seluruh subyek penelitian. Dengan demikian, jika dikaji berdasarkan keberadaan ruang atau tempatnya dan, maka jilbab yang digunakan dapat diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu :

Tabel 6.1 : Penggunaan Jilbab Berdasarkan Ruang atau Tempat

Rumah Lingkungan Sekitar Rumah Tempat Umum

Seluruh subyek penelitian jika di dalam rumah tidak menggunakan jilbab

1. Beberapa subyek penelitian, seperti Sinta, Yetti, Wiwik, Intan, Upik, hingga batasan jarak tertentu , yaitu sekitar lingkungan rumah masih tidak menggunakan jilbab 2. Ibu Etha menggunakan

jilbab semacam topi (kuplu’) jika berada di sekitar lingkungan rumah

1. Beberapa mahasiswi dan para dosen, pada umumnya

menggunakan jilbab jika berada di ruang publik atau tempat umum, seperti kampus, mall, tempat pertemuan (pengajian atau acara keluarga)

2. Namun sebaliknya, ada pula mahasiswi (Intan) dan seorang karyawati (Upik), justru melepas jilbabnya jika berada di tempat umum (mall) atau di luar kampus

Pengkategorisasian ini pada hakekatnya didasarkan pada penjelasan yang diberikan oleh subyek penelitian tentang jilbab yang digunakan oleh mereka. Perbedaan penggunaan jilbab ini dilakukan karena jika di tempat umum mereka lebih banyak bertemu dengan berbagai macam orang, yang umumnya bukan muhrim bagi mereka, sehingga menurut pemahaman keagamaan beberapa subyek penelitian maka di tempat umum mereka harus berjilbab.

Namun ada pula yang sebaliknya, bahwa ketika berada di luar rumah (mulai lingkungan sekitar rumah maupun ruang publik atau tempat-tempat umum), beberapa subyek penelitian justru tidak berjilbab. Dalam hal ini termasuk pula mereka yang menggunakan jilbab ‘ababil’. Istilah ababil dikemukakan oleh mahasiswi subyek penelitian, yang menggambarkan keberadaan seorang mahasiswi dalam keadaan bingung ketika memutuskan untuk menggunakan jilbab, mulai dari model atau bentuk jilbab hingga penggunaan jilbab yang didasarkan pada situasi dan kondisi. Mahasiswi yang menggunakan jilbab ababil (ABG Labil) ini, biasanya juga disesuaikan dengan persoalan ruang dan waktu.

Oleh karena itu, jika ditelaah berdasarkan waktu penggunaannya, maka jilbab di kalangan mahasiswi maupun dosen dan karyawati, juga memiliki karakteristik yang dapat membedakan di antara para subyek penelitian itu sendiri. Dalam hal ini, beberapa mahasiswi yang tidak berjilbab, pada akhirnya dapat merubah penampilannya dengan menggunakan jilbab, karena waktu yang didukung oleh keadaan atau peristiwa tertentu yang mengharuskannya untuk berjilbab, seperti karena mengikuti kegiatan BBQ (Bina Baca Qur’an) di kampus yang berkaitan dengan nilai kelulusan, ataupun hal lain yang berorientasi pada upaya peneguhan identitas muslim.

Namun jika didasarkan pada waktu pertama kali seorang subyek penelitian berjilbab, pada hakekatnya terkait pula dengan motif atau alasan berjilbab. Oleh karena itu, pengkategorisasian jilbab yang didasarkan pada persoalan waktu sebenarnya terkait pula dengan adanya suatu peristiwa atau suatu latar belakang momentum untuk menggunakan jilbab yang sekaligus menjadi alasannya pula untuk berjilbab. Seperti yang dikemukakan Lila misalnya, mengemukakan bahwa dirinya berjilbab juga dipengaruhi oleh peristiwa sakit yang dialaminya. Hal ini pulalah yang melatarbelakangi untuk terus berjilbab, meski penggunaannya melalui sebuah perjalanan panjang dan berada dalam proses yang berubah-ubah. Namun di sisi lain, seseorang menggunakan jilbab berdasarkan waktu yang umum dimaksudkan sebagai cermin penggunaan jilbab yang justru tidak dibatasi oleh adanya peristiwa tertentu. Model jilbab seperti ini adalah mereka yang berjilbab sepanjang waktu, tanpa ada alasan apapun untuk melepasnya. Secara ringkas, penggunaan jilbab berdasarkan waktu, dapat pula dikelompokkan menjadi :

Tabel 6.2 : Penggunaan Jilbab Berdasarkan Waktu (Moment)

Khusus Umum Awal (Pertama Kali)

1. Bagi mahasiswi, jilbab wajib digunakan pada saat mengikuti kegiatan BBQ (Bina Baca

Qur’an) di kampus . Kegiatan

ini merupakan kegiatan wajib yang harus diikuti mahasiswa sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan akhir

perkuliahannya (menjelang penulisan skripsi)

2. Ketika mengikuti acara lomba antar kampus di luar lingkungan Universitas Muhammadiyah Jakarta

3. Bagi beberapa dosen, umumnya jilbab digunakan pada saat akan mengikuti pengajian.

Hanya ada beberapa mahasiswi menggunakan jilbab tanpa memperhatikan waktu (menggunakan jilbab sepanjang waktu)

1. Ketika sekolah (sejak sekolah di tingkat SMA atau Aliyah), atau ada pula ketika setelah mengikuti

perkuliahan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, sehingga mulai memutuskan berjilbab sejak semester 2 dan 4

2. Sejak pulang beribadah haji 3. Sejak ikut pengajian

(sekaligus diangkat menjadi ketua Majelis Taklim)

Didasarkan pada perbedaan yang ada dalam upaya pengklasifikasiannya, maka jika dilihat berdasarkan ruang dan waktu, penggunaan jilbab juga dapat melahirkan kategori baru, yang menunjukkan adanya ‘ketidakpastian’ ataupun sifat tidak konsistennya ketika jilbab diterapkan. Oleh karena itu, istilah ‘permanen’ dan ‘tidak permanen’, menjadi bagian dari pengelompokan pengguna jilbab, dengan melihat pola perilaku setiap subyek penelitan. Hal ini setidaknya sejalan dengan konsepsi jilbab yang terkait dengan berbagai macam faktor, seperti konsepsi agama, psikologis (morality), maupun mode pakaian.

Didasarkan pada sifat penggunaannya tersebut (permanen dan tidak permanen), menunjukan pula bahwa penggunaan jilbab yang dilakukan oleh beberapa mahasiswi, dosen, maupun karyawati di lingkungan fakultas hukum UMJ, dapat bergantung pada sebuah situasi ataupun ruang dan waktu yang didasarkan pada upaya untuk merealisasikan praktek dan kepatuhan terhadap ajaran agama, tetapi juga sekaligus dipengaruhi oleh rasa nyaman dalam diri masing- masing. Penggunaan jilbab yang seperti ini, kemudian melahirkan pula cara berjilbab yang

praktis dan sederhana, seperti hanya menggunakan penutup kepala berupa topi atau kerudung (berupa selendang panjang), serta membentuk pandangan masyarakat tentang dapat berubahnya penggunaan jilbab yang dapat disesuaikan pada situasi dan kondisi.

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA JILBAB DALAM PERSP (Halaman 118-122)

Dokumen terkait