BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.7 Penggunaan Kayu Sengon
Pohon sengon merupakan pohon yang serba guna. Dari mulai daun hingga akarnya dapat dimanfaatkan untuk beragam keperluan. Daun sengon,
sebagaimana daun-daun dari famili Fabaceae lainnya merupakan pakan ternak yang sangat baik dan mengandung protein yang tinggi. Jenis ternak seperti sapi, kerbau dan kambing menyukai daun pohon sengon ini. Tidak mengherankan kalau beberapa padang pengembalaan (grazing area) selain rumput-rumputan, disediakan pula dedaunan dari pohon anggota famili Fabaceae, misalnya pohon sengon. Selain sebagai pakan ternak, daun sengon yang berguguran akan dapat bertindak sebagai pupuk hijau yang baik bagi tanah dan tanaman di sekitarnya. Sementara itu tajuk pohonnya berbentuk perisai serta pohonnya yang besar berperan sebagai pohon peneduh di beberapa areal perkebunan.
Sistem perakaran sengon banyak mengandung nodul akar sebagai hasil sim-biosis dengan bakteri Rhizobium. Hal ini sangat mengutungkan bagi tanah dan sekitarnya. Adanya nodul akar dapat membantu porositas tanah dan penyediaan unsur nitrogen dalam tanah. Dengan demikian pohon sengon dapat menyebabkan tanah-tanah di sekitarnya menjadi lebih subur. Selanjutnya tanah ini dapat ditanami dengan tanaman palawija sehingga mampu meningkatkan pendapatan petani penggarapnya. Hal seperti ini telah dilakukan oleh Perum Perhutani, antara lain di BKPH Pare, KPH Kediri yang menumpangsarikan tanaman nanas diantara larikan tanaman sengon. Dalam tumpang sari disarankan tidak menanam pohon pisang dan ketela rambat karena dikhawatirkan akan bersaing dengan tanaman pokok dalam pemanfaatan hara.
Bagian yang memberikan manfaat ekonomi paling besar pada pohon sengon adalah kayunya. Tidak mengherankan jika saat ini banyak kalangan pengusaha atau pengrajin yang bergerak dalam bidang perkayuan beramai-ramai mengusahakan sengon sebagai bahan baku industrinya.
Dengan harga yang cukup menggiurkan saat ini sengon banyak diusahakan untuk berbagai keperluan dalam bentuk kayu olahan berupa papan dengan ukuran tertentu. Selain itu kayu sengon banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan peti, papan penyekat, pengecoran beton dalam konstruksi, industri korek api, pensil, papan partikel dan bahan baku industri pulp-kertas.
2.7.1 Kayu olahan
Kayu sengon dalam bentuk kayu olahan banyak diminati oleh para importir dari negara Jepang, Korea, Amerika Serikat dan negara-negara anggota
Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE). Kayu sengon olahan diekspor dalam bentuk potongan-potongan kayu dengan ketebalan yang bervariasi antara 6 – 13 mm dan ukuran standar 3 m x 56 mm (panjang x lebar). Kayu sengon yang sangat tipis banyak digunakan di Jepang sebagai bahan pembungkus tanaman, souvenir dan lain-lain. Pada tahun 1992 harga kayu sengon dengan ketebalan 13 mm mencapai US$ 480/m3, sedangkan untuk ketebalan 6 mm harganya mencapai US$ 650/m3.
Gambar 3 Dolok kayu sengon yang sedang mengalami proses pengolahan (Anonim, 2010f).
2.7.2 Bahan baku peti
Penggunaan kayu sengon sebagai bahan baku pembuatan peti sudah tidak asing lagi. Sejak dahulu para pengusaha perkebunan teh telah memanfaatkan peti yang terbuat dari kayu sengon untuk mengemas teh hasil perkebunannya. Saat ini perusahaan minuman, misalnya PT Multi Bintang, tiap tahun memerlukan tidak kurang dari 200.000 peti kosong untuk mengepak produksinya. Demikian pula beberapa industri lain seperti pabrik sabun, garam, mesin, oli pelumas, semen, kaca, sayuran, buah-buahan dan lain-lain. Bahkan Perum Peruri (Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia) pun tidak ketinggalan menggunakan peti dari kayu sengon untuk mengemas uang recehnya. Tahun 1988 Perum Peruri memesan peti kosong sebanyak 120.000 buah kepada beberapa perusahaan pembuat peti kosong kayu sengon.
2.7.3 Pulp-kertas
Pemanfaatan kayu sengon untuk bahan baku pulp-kertas dengan cara pengolahan kimia (kraft process) ternyata menguntungkan. Hal ini disebabkan kayu sengon memiliki warna yang terang sehingga dalam proses pemutihannya tidak memerlukan bahan pemutih yang banyak. Berdasarkan sifat anatomi, fisik
dan kimia kayu sengon, pembuatan pulp dengan proses mekanis, baik sejenis maupun campuran dengan serat panjang dapat menghasilkan kertas koran bermutu tinggi.
Kenyataan ini didukung oleh pengamatan sifat kayu sengon berumur 5 – 7 tahun yang mempunyi sifat serat yang baik untuk bahan baku kertas. Namun demikian, kayu sengon dari pohon berumur tahun 6 – 7 tahun mempunyai sifat lebih baik lagi. Keterangan mengenal sifat ini sangat penting karena panjang pendeknya serat akan mempengaruhi kualitas kertas yang dihasilkan. Serat yang panjang mempunyai titik tangkap yang lebih luas terhadap gaya-gaya yang mengenainya. Dengan demikian serat yang panjang akan menghasilkan kertas dengan ikatan serat yang kuat sehingga nilai kekuatan sobek kertas menjadi sangat tinggi serta kekuatan tarik, lipat dan jebol yang masih memadai.
Kayu sengon mempunyai panjang serat rata-rata 1,12 mm. Hal ini sudah tergolong cukup panjang untuk jenis kayu daun lebar sehingga menguntungkan sebagai bahan pulp.
2.7.4 Kayu lapis (plywood)
Struktur kayu sengon tidak memiliki batasan yang jelas antara kayu awal dan kayu akhir pada lingkaran tumbuhnya. Bahkan garis-garis lingkaran tumbuh pada kayu sengon umumnya tidak kelihatan dengan mata telanjang. Dengan sifat tersebut ditambah bentuk batangnya yang bulat memanjang menyebabkan kayu sengon mudah dikupas untuk dibuat venir tanpa perlakuan pendahuluan. Venir adalah lembaran kayu tipis yang dihasilkan dengan cara mengupas atau menyayat kayu.
Pembuatan kayu lapis dengan cara menggabungkan beberapa venir yang berasal dari kayu sengon menghasilkan kayu lapis dengan keteguhan lentur dan keteguhan tarik di atas persyaratan standar Jerman, seperti terlihat dalam Tabel 2.
Tabel 2 Sifat kayu lapis sengon (Paribotro, 1991 dalam Atmosuseno,1994)
No macam kayu lapis Kerapatan (g/cm) Keteguhan lentur (kg/cm³) Keteguhan tarik (kg/cm³) Sejajar serat Tegak lurus serat Sejajar serat Tegak lurus serat 1. Tripleks (3 lapis) 0,43 650,3 401,5 433,5 266,4 2. Multipleks (5 lapis) 0,45 610,9 335,2 518,4 484,1
Keteguhan lentur kayu lapis sejajar serat permukaan yang disyaratkan oleh standar Jerman adalah 400 kg/cm², sedangkan yang tegak lurus serat permukaan adalah 150 kg/cm². Dari Tabel 2 dapat diketahui bahwa keteguhan lentur kayu lapis sengon telah memenuhi persyaratan standar tersebut. Angka dalam tabel menunjukkan bahwa kualitas kayu lapis sengon cukup baik dan bermutu.
2.7.5 Kayu pertukangan
Kelebihan lain dari sifat kayu sengon adalah kemudahan dalam pengawetan, pengeringan dan penggergajian. Kemudahan dalam ketiga hal tersebut sangat menguntungkan dalam pemanfaatannya untuk kayu pertukangan. Selain itu, warna kayu yang putih dan bobotnya yang ringan memberi nilai tambah pada keindahan dan kemudahan pengerjaan.
Untuk kayu pertukangan, kayu sengon dimanfaatkan untuk membuat perabotan rumah tangga dan aksesoris dinding berupa rak buku, kotak obat, kotak perkakas, gantungan baju dan lain-lain. Dengan teknik pengawetan yang memadai dapat dibuat lemari, bufet, maupun mapping cabinet yang cukup menawan. Untuk para pelajar dan mahasiswa yang tinggal di rumah kost, kayu sengon tidak asing lagi untuk meja dan kursi belajar. Demikian pula untuk membuat rumah, kayu sengon cukup memadai sebagai bahan konstruksi ringan di bawah atap.
Kegunaan kayu sengon juga sebagai papan penyekat dalam pengecoran beton. Untuk keperluan papan penyekat ini kelebihan kayu sengon terletak pada bobotnya yang ringan, mudah dipaku dan harganya relatif murah.
2.7.6 Kayu bakar
Pada awalnya selain sebagai pohon peneduh di perkebunan-perkebunan teh, kayu sengon dikenal sebagai kayu energi/kayu bakar yang cukup potensial. Karena masih sering dimanfaatkan sebagai kayu bakar, beberapa anggota masyarakat masih menyebut sengon dengan nama kayu api.
Sebagai kayu energi sengon mempunyai nilai kalori yang cukup tinggi yaitu 19.525-20.585 KJ/kg. Tingginya nilai kalori sengon menyebabkan sisa-sisa potongan kayu sengon dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit uap dan pembangkit listrik di industri-industri kayu lapis.
Di Jawa Barat, dalam skala rumah tangga penggunaan kayu sengon untuk kayu energi tidak asing lagi. Pohon sengon ditebang, batangnya dipotong-potong
sesuai ukuran yang diinginkan kemudian dibelah-balah dan diangin-anginkan sampai kering. Setelah kering kayu sengon siap dijadikan kayu bakar.