• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penggunaan Pelat dan Profil untuk Kapal

Dalam dokumen BAB IV PENGELASAN DALAM PERKAPALAN (Halaman 59-63)

Insert Plate

IV.5.2. Penggunaan Pelat dan Profil untuk Kapal

Penggunaan pelat dan profil-profil tersebut disesuaikan dengan fungsi, jenis konstruksi dan tempat dimana konstruksi tersebut disusun pada kapal. Penggunaannya adalah sebagai berikut :

a. Pelat, sebagai bahan utama untuk membangun badan kapal , biasanya dipergunakan untuk lembaran lambung kapal, geladak, sekat-sekat , bangunan atas dan tangki-tangki .

b. Balok berpenampang bujur sangkar biasanya digunakan untuk balok-balok penegar, linggi, lunas dan konstruksi penguat yang lain.

c. Profil berpenampang bulat pada umumnya dipergunakan untuk topang-topang penyangga kecil dan juga dapat dipergunakan untuk pegangan tangan (railing).

d. Profil setengah bulat pada umumnya dipakai pada tepi-tepi pelat sehingga sisi pelat menjadi kaku dan tidak tajam, misal dipergunakan pada tepi ambang palka , bagian atas dari kubu-kubu.

e. Profil siku sama kaki dipergunakan untuk penegar pelat atau penguatan pada lembaran pelat yang lebar, seperti pada atap bangunan atas, penegar sekat dan penegar tangki-tangki.

f. Profil siku gembung ( bulb ) merupakan profil siku yang salah satu sisinya diperkuat dengan pembesaran tepi bentuk menggembung .fungsi dan penempatannya hampir sama dengan profil siku sama kaki.

g. Profil bentuk U adalah profil yang mempunyai kekuatan besar, profil ini dipergunakan untuk kekuatan konstruksi yang lebih besar dari pada yang dipersyaratkan.

h. Profil berbentuk penampang Z sama halnya dengan profil U, profil ini jarang dipergunakan pada konstruksi kapal.

i. Profil H adalah profil yang sangat kuat, profil ini dipasang pada konstruksi yang memerlukan kekuatan khusus .

j. Profil T dipergunakan untuk keperluan penumpu geladak ,dan bangunan atas serta pembujur lambung sisi kapal.

k. Profil I adalah profil yang dalam prakteknya dipergunakan untuk pembentukan lingkaran bagian depan seperti pada lubang haluan orang, pintu-pintu dan dapat pula digabung dengan pelat hadap membentuk profil T.

Spesifikasi pelat dan profil yang dihasilkan oleh pabrik pengecoran baja sangat bervariatif dan ada ukuran mengikuti standar yang berlaku seperti SNI, DIN, JIS, ASME dan lain-lain.

TEKNOLOGI LAS KAPAL

Pemilihan jenis material yang akan digunakan untuk setiap konstruksi kapal ditentukan berdasarkan fungsi dan keberadaan dari konstruksi kapal tersebut oleh bagian perencana serta proses pengelasan yang akan dilakukan dari penyambungan dua material yang mempunyai spesifikasi yang berbeda atau sama.

Penyambungan/pengelasan diantara bahan baja lunak tidak terlampau menimbulkan masalah, namun perlu diperhatikan untuk bagian tertentu dari kapal yang memang direncanakan untuk menggunakan material baja lunak selain grade A seperti konstruksi bilga, pelat lajur atas, tepi ambang palka, maka bila terjadi pekerjaan reparasi nantinya material tersebut hanya dapat diganti dengan material dari grade yang sama untuk dapat dianggap sebagai reparasi permanen.

Selain hal tersebut diatas, bila pada bagian kapal diragukan hasil pekerjaannya secara maksimal maka perlu dilakukan pengujian dengan simulasi dilaboratorium uji material berupa uji mekanik (welding procedure test). Material baja tuang (steel casting) sering dijumpai pada bagian-bagian kapal antara lain gading linggi buritan, pelat kemudi, tabung poros baling-baling, pipa rantai jangkar.

Proses penentuan dan pemilihan material telah direncanakan sebelum proses produksi dilakukan hal ini agar pada saat pelaksanaan material telah siap sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan. Dalam pelaksanaan dilapangan sering terjadi material yang datang mengalami cacat akibat proses pengangkutan maupun penyimpanan.

Cacat yang sering terjadi pada material antara lain berupa : Pitting, lekuk-lekuk, scores dan laminasi.

1. Pitting merupakan cacat yang diakibatkan oleh korosi yang terjadi pada saat material berada dalam penyimpanan, cacat ini sulit diperkirakan karena tidak tampak secara menyeluruh bila dilihat secara visuil. Cacat ini ditandai dengan hilangnya sebagian secara lokal sehingga terbentuklan lubang yang sangat kecil.

Pitting dapat terjadi pada saat material disimpan dalam kondisi lingkungan yang tidak baik

2. Lekuk-lekuk atau takik (scores) sering timbul pada saat proses transportasi atau pada penampungan yang diletakkan mendatar dan ditumpuk.

3. Laminasi merupakan cacat yang sering timbul pada lembar pelat karena adanya gelembung-gelembung gas yang terperangkat dan adanya pengkerutan pada saat pembuatan baja pada tanur tinggi yang tidak hilang pada saat proses pengerolan berlangsung.

Cacat laminasi sulit diketahui karena berada didalam material sehingga cacat ini cukup berbahaya karena akan mengurangi kekuatan material sebagai konstruksi kapal

TEKNOLOGI LAS KAPAL

1. Dalam pelaksanaan pengelasan, peran supervisor las mengawasi persiapan awal sampai dengan hasil akhir dari kegiatan pengelasan. Persiapan awal yang tidak tepat dan proses pengelasan yang salah akan menimbulkan kerusakan pada hasil sambungan las dan bahkan dapat menyebabkan kerusakan pada material induk

2. Ditinjau dari segi pengelasannya, proses pembangunan kapal dengan sistim blok mempunyai beberapa keuntungan dibanding dengan sistim seksi antara lain : c Waktu pembangunan dapat lebih singkat dan produktifitas lebih tinggi mengingat pekerjaan banyak yang dapat dilakukan dengan mesin las otomatis, d Sebagian besar pekerjaan pengelasan dapat dikerjakan dengan posisi datar sehingga lebih cepat dan memudahkan pengelasan, e Pekerjaan didalam dok atau diatas pelataran penyambungan kapal lebih singkat, sehingga fasilitas mesin las dapat dioperasikan dengan efektif, f Kontrol terhadap proses pembentukan dan teknik pengelasan dapat lebih mudah, g Dapat mengurangi pekerjaan las ditempat yang tinggi atau tempat yang sempit, sehingga lingkungan dan keselamatan juru las akan lebih terjamin.

3. Besarnya kapal yang dibangun mempengaruhi tebalnya pelat yang digunakan sehingga proses pengisian kampuh las makin besar pula, untuk itu proses las semi otomatis GMAW atau FCAW sangat membantu dalam percepatan pengelasan.

4. Pada prinsipnya peraturan klasifikasi untuk las kapal mempunyai tujuan untuk mengatur penggunaan teknologi las pada pekerjaan konstruksi kapal secara efisien dalam arti dengan material yang minim didapat kekuatan yang maksimal.

5. Sesuai dengan peraturan tentang klasifikasi dan konstruksi, gambar kerja atau standart kerja yang berisi seluk beluk perencanaan dan tipe sambungan las harus disetujui Badan Klasifikasi, sebelum pekerjaan las dimulai.

6. Kapal terbuat dari penggabungan beberapa pelat yang disambung menjadi satu kesatuan dilengkapi dengan profil-profil sebagai penguatnya menjadi bentuk seksi. Selanjutnya bentuk seksi disambung lagi menjadi satu kesatuan berupa blok, kemudian digabung membentuk kesatuan kapal yang utuh. Penguatan kapal didapat dari profil baja berpenampang L, I, U dan H yang dipasang

RANGKUMAN

TEKNOLOGI LAS KAPAL

I. Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, c, d dan e pada jawaban

Dalam dokumen BAB IV PENGELASAN DALAM PERKAPALAN (Halaman 59-63)

Dokumen terkait