• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGGUNAAN WARNA KABEL

Dalam dokumen Penghantar Listrik (Halaman 37-50)

H. MACAM-MACAM SAMBUNGAN KABEL

I. PENGGUNAAN WARNA KABEL

Menurut PUIL 2000 pasal 7.2 Tentang Identifikasi penghantar dengan warna dijelaskan bahwa :

7.2.1.1 Peraturan warna selubung penghantar dan warna isolasi inti penghantar yang tercantum dalam pasal ini berlaku untuk semua instalasi tetap atau sementara, termasuk instalasi dalam perlengkapan listrik.

Hal tersebut di atas diperlukan untuk mendapatkan kesatuan pengertian mengenai

penggunaan sesuatu warna atau warna loreng yang digunakan untuk mengenal penghantar, guna keseragaman dan mempertinggi keamanan.

7.2.2.1 Warna loreng hijau-kuning hanya boleh digunakan untuk menandai penghantar pembumian, penghantar pengaman, dan penghantar yang menghubungkan ikatan penyama potensial ke bumi.

7.2.3.1 Warna biru digunakan untuk menandai penghantar netral atau kawat tengah, pada instalasi listrik dengan penghantar netral. Untuk menghindarkan kesalahan, warna biru tersebut tidak boleh digunakan untuk menandai penghantar lainnya. Warna biru hanya dapat digunakan untuk maksud lain,   jika pada instalasi listrik tersebut tidak terdapat penghantar netral atau kawat tengah. Warna biru tidak boleh digunakan untuk menandai penghantar pembumian.

7.2.4.1 Untuk pengawatan di dalam perlengkapan listrik disarankan agar hanya digunakan satu warna, khususnya warna hitam, selama tidak bertentangan dengan 7.2.2.1 dan 7.2.3.1. Bila dalam pembuatan dan pemeliharaan perlengkapan tersebut, dianggap perlu menggunakan lebih dari satu warna, maka penggunaan warna lain dan warna loreng lain tidak dilarang. Jika diperlukan satu warna tambahan lagi untuk mengidentifikasi bagian pengawatan secara terpisah, dianjurkan mendahulukan pemakaian warna coklat.

7.2.6.1 Kabel berselubung berinti tunggal boleh digunakan untuk fase, netral, kawat tengah, atau penghantar pembumian asalkan isolasi kedua ujung kabel

yang terlihat (bagian yang dikupas selubungnya) dibalut dengan pembalut berwarna yang dibuat khusus untuk itu, atau dengan cara lain yang memenuhi

Tabel 7.2-1.

Guna mendapatkan kesamaan pengenal menggunakan kabel pada instalasi digunakan teknik identifikasi warna atau lambang.

- Fasa 1 L1/R merah U/X - Fasa 2 L2/S kuning V/Y - Fasa 3 L3/T hitam W/Z - Netral N biru

- Pembumian PE Loreng setrip hijau kuning - Kutub positif L+

- Kutub negative L-- Kawat tengah m

J. Aplikasi Penghantar Pada Distribusi Listrik Klasifikasi Saluran Transmisi Berdasarkan Tegangan

Sumber:(http://dunia-listrik.blogspot.com/2009/11/klasifikasi-saluran transmisi.html)

Selama ini ada pemahaman bahwa yang dimaksud transmisi adalah proses penyaluran energi listrik dengan menggunakan tegangan tinggi saja. Bahkan ada yang memahami bahwa transmisi adalah proses penyaluran energi listrik dengan menggunakan tegangan tinggi dan melalui saluran udara (over head line). Namun sebenarnya, transmisi adalah proses penyaluran energi listrik dari satu tempat ke tempat lainnya, yang besaran tegangannya adalah Tegangan Ultra Tinggi (UHV), Tegangan Ekstra Tinggi (EHV), Tegangan Tinggi (HV), Tegangan Menengah (MHV), dan Tegangan Rendah (LV).

Sedangkan Transmisi Tegangan Tinggi, adalah:

1. Berfungsi menyalurkan energi listrik dari satu gardu induk ke gardu induk  lainnya.

2. Terdiri dari konduktor yang direntangkan antara tiang-tiang (tower) melalui isolator-isolator, dengan sistem tegangan tinggi.

3. Standar tegangan tinggi yang berlaku di Indonesia adalah : 30 KV, 70 KV dan 150 KV.

Beberapa hal yang perlu diketahui:

1. Transmisi 30 KV dan 70 KV yang ada di Indonesia, secara berangsur-angsur mulai ditiadakan (tidak digunakan).

2. Transmisi 70 KV dan 150 KV ada di Pulau Jawa dan Pulau lainnya di Indonesia. Sedangkan transmisi 275 KV dikembangkan di Sumatera.

3. Transmisi 500 KV ada di Pulau Jawa. Di Indonesia, kosntruksi transmisi terdiri dari :

1. Menggunakan kabel udara dan kabel tanah, untuk tegangan rendah, tegangan menengah dan tegangan tinggi.

2. Menggunakan kabel udara untuktegangan tingg dan tegangan ekstra tinggi.

Berikut ini disampaikan pembahasan tentang transmisi ditinjau dari klasifikasi tegangannya:

1. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (Sutet) 200 Kv - 500 Kv

Pada umumnya digunakan pada pembangkitan dengan kapasitas di atas 500 MW. Tujuannya adalah agar drop tegangan dan penampang kawat dapat direduksi secara maksimal, sehingga diperoleh operasional yang efektif dan efisien. Permasalahan mendasar pembangunan SUTET adalah: konstruksi tiang (tower) yang besar dan tinggi, memerlukan tapak tanah yang luas, memerlukan isolator yang banyak, sehingga pembangunannya membutuhkan biaya yang besar.

Pembangunan transmisi ini cukup efektif untuk jarak 100 km sampai dengan 500 km.

2. Saluran Udara Tegangan Tinggi (Sutt) 30 Kv – 150 Kv

Tegangan operasi antara 30 KV sampai dengan 150 KV. Konfigurasi  jaringan pada umumnya single atau double sirkuit, dimana 1 sirkuit terdiri dari 3

phasa dengan 3 atau 4 kawat. Biasanya hanya 3 kawat dan penghantar netralnya digantikan oleh tanah sebagai saluran kembali. Apabila kapasitas daya yang disalurkan besar, maka penghantar pada masing-masing phasa terdiri dari dua atau empat kawat (Double atau Qudrapole) dan Berkas konduktor disebut Bundle Conductor.

Jika transmisi ini beroperasi secara parsial, jarak terjauh yang paling efektif adalah 100 km. Jika jarak transmisi lebih dari 100 km maka tegangan jatuh (drop voltage) terlalu besar, sehingga tegangan diujung transmisi menjadi rendah. Untuk mengatasi hal tersebut maka sistem transmisi dihubungkan secara ring system atau interconnection system. Ini sudah diterapkan di Pulau Jawa dan akan dikembangkan di Pulau-pulau besar lainnya di Indonesia.

3. Saluran Kabel Tegangan Tinggi (Sktt) 30 Kv – 150 Kv

SKTT (Saluran Kabel Tegangan Tinggi) dipasang di kota-kota besar di Indonesia (khususnya di Pulau Jawa), dengan beberapa pertimbangan :

a. Di tengah kota besar tidak memungkinkan dipasang SUTT, karena sangat sulit mendapatkan tanah untuk tapak tower.

b. Untuk Ruang Bebas juga sangat sulit dan pasti timbul protes dari masyarakat, karena padat bangunan dan banyak gedung-gedung tinggi. c. Pertimbangan keamanan dan estetika.

d. Adanya permintaan dan pertumbuhan beban yang sangat tinggi. Jenis kabel yang digunakan:

a. Kabel yang berisolasi (berbahan) Poly Etheline atau kabel jenis Cross Link Poly Etheline (XLPE).

b. Kabel yang isolasinya berbahan kertas yang diperkuat dengan minyak  (oil paper impregnated).

Inti (core) kabel dan pertimbangan pemilihan:

a. Single core dengan penampang 240 mm2 – 300 mm2 tiap core. b. Three core dengan penampang 240 mm2 – 800 mm2 tiap core. c. Pertimbangan fabrikasi.

d. Pertimbangan pemasangan di lapangan.

Panjang SKTT pada tiap haspel (cable drum), maksimum 300 meter. Untuk  desain dan pesanan khusus, misalnya untuk kabel laut, bisa dibuat tanpa sambungan sesuai kebutuhan. Pada saat ini di Indonesia telah terpasang SKTT bawah laut (Sub Marine Cable) dengan tegangan operasi 150 KV, yaitu:

a. Sub marine cable 150 KV Gresik – Tajungan (Jawa – Madura). b. Sub marine cable 150 KV Ketapang – Gilimanuk (Jawa – Bali).

4. Saluran Udara Tegangan Menengah (Sutm) 6 Kv – 30 Kv

Di Indonesia, pada umumnya tegangan operasi SUTM adalah 6 KV dan 20 KV. Namun secara berangsur-angsur tegangan operasi 6 KV dihilangkan dan saat ini hampir semuanya menggunakan tegangan operasi 20 KV. Transmisi SUTM digunakan pada jaringan tingkat tiga, yaitu jaringan distribusi yang menghubungkan dari Gardu Induk, Penyulang (Feeder), SUTM, Gardu Distribusi, sampai dengan ke Instalasi Pemanfaatan (Pelanggan/ Konsumen).

Berdasarkan sistem pentanahan titik netral trafo, efektifitas penyalurannya hanya pada jarak (panjang) antara 15 km sampai dengan 20 km. Jika transmisi lebih dari jarak tersebut, efektifitasnya menurun, karena relay pengaman tidak  bisa bekerja secara selektif.

Dengan mempertimbangkan berbagai kondisi yang ada (kemampuan likuiditas atau keuangan, kondisi geografis dan lain-lain) transmisi SUTM di Indonesia melebihi kondisi ideal di atas.

5. Saluran Kabel Tegangan Menengah (Sktm) 6 Kv – 20 Kv

Ditinjau dari segi fungsi , transmisi SKTM memiliki fungsi yang sama dengan transmisi SUTM. Perbedaan mendasar adalah, SKTM ditanam di dalam tanah.

Beberapa pertimbangan pembangunan transmisi SKTM adalah:

b. Kesulitan mendapatkan ruang bebas (ROW), karena berada di tengah kota dan pemukiman padat.

c. Pertimbangan segi estetika. Beberapa hal yang perlu diketahui:

a. Pembangunan transmisi SKTM lebih mahal dan lebih rumit, karena harga kabel yang jauh lebih mahal dibanding penghantar udara dan dalam pelaksanaan pembangunan harus melibatkan serta berkoordinasi dengan banyak pihak.

b. Pada saat pelaksanaan pembangunan transmisi SKTM sering menimbulkan masalah, khususnya terjadinya kemacetan lalu lintas. c. Jika terjadi gangguan, penanganan (perbaikan) transmisi SKTM relatif 

sulit dan memerlukan waktu yang lebih lama jika dibandingkan SUTM.

d. Hampir seluruh (sebagian besar) transmisi SKTM telah terpasang di wilayah PT. PLN (Persero) Distribusi DKI Jakarta & Tangerang.

6. Saluran Udara Tegangan Rendah (Sutr) 40 Volt – 1000 Volt

Transmisi SUTR adalah bagian hilir dari sistem tenaga listrik pada tegangan distribusi di bawah 1000 Volt, yang langsung memasok kebutuhan listrik  tegangan rendah ke konsumen. Di Indonesia, tegangan operasi transmisi SUTR saat ini adalah 220/ 380 Volt.

Radius operasi jaringan distribusi tegangan rendah dibatasi oleh:

a. Susut tegangan yang disyaratkan. b. Luas penghantar jaringan.

c. Distribusi pelanggan sepanjang jalur jaringan distribusi. d. Sifat daerah pelayanan (desa, kota, dan lain-lain).

e. Susut tegangan yang diijinkan adalah + 5% dan – 10 %, dengan radius pelayanan berkisar 350 meter.

Saat ini transmisi SUTR pada umumnya menggunakan penghantar Low Voltage Twisted Cable (LVTC).

7. Saluran Kabel Tegangan Rendah (Sktr) 40 Volt – 1000 Volt

Ditinjau dari segi fungsi, transmisi SKTR memiliki fungsi yang sama dengan transmisi SUTR. Perbedaan mendasar adalah SKTR di tanam didalam di dalam tanah. Jika menggunakan SUTR sebenarnya dari segi jarak aman/ ruang bebas (ROW) tidak ada masalah, karena SUTR menggunakan penghantar berisolasi.

Penggunaan SKTR karena mempertimbangkan:

a. Sistem transmisi tegangan menengah yang ada, misalnya karena menggunakan transmisi SKTM.

b. Faktor estetika.

Oleh karenanya transmisi SKTR pada umumnya dipasang di daerah perkotaan, terutama di tengah-tengah kota yang padat bangunan dan membutuhkan aspek estetika.

Dibanding transmisi SUTR, transmisi SKTR memiliki beberapa kelemahan, antaralain:

1) Biaya investasi mahal.

2) Pada saat pembangunan sering menimbulkan masalah.

3) Jika terjadi gangguan, perbaikan lebih sulit dan memerlukan waktu relatif lama untuk perbaikannya.

BAB III

A. KESIMPULAN

1. Penghantar listrik atau kabel adalah media untuk mengantarkan arus listrik atau informasi. Bahan dari kabel ini beraneka ragam, khusus sebagai pengantar arus listrik, umumnya terbuat dari tembaga dan umumnya dilapisi dengan pelindung. Selain tembaga, ada juga kabel yang terbuat dari serat optik, yang disebut dengan fiber optic cable. Dalam penyaluran tenaga listrik, ada banyak faktor yang mempengaruhi baik atau tidaknya penyaluran tersebut. Bahan hantaran listrik dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :

a. Konduktor. b. Semikonduktor.

c. Isolator

2. Kabel terdiri dari beberapa macam berdasarkan klasifikasinya. Adapun klasifikasi tersebut adalah :

a. Bahan baku terdiri dari : 1) Tembaga

2) Alumunium 3) Kuningan

b. Konstruksi jenis kabel terdiri dari : 1) Penghantar pejal (solid) 2) Penghantar berlilit (stranded) 3) Penghantar serabut (fleksibel) 4) Penghantar persegi (busbar) c. Jumlah Penghantar terdiri dari :

1) Penghantar simplex 2) Penghantar duplex 3) Penghantar triplex

4) Penghantar quadruplex

d. Kegunaa dan fungsi penghantar terdiri dari : 1) Kabel fleksibel 2) Kabel tanah 3) Keadaan darurat 4) Kabel kedap 5) Penghantar aktif  6) Penghantar bumi 7) Penghantar netral (N) 8) Penghantar PEN (nol) 9) Penghantar pembumian 10) Penghantar pilin

11) Penghantar proteksi (PE)

3. Ada beberapa macam kabel yang biasanya dipakai pada instalasi listrik residensial. Yaitu :

a. Kabel NYA b. Kabel NYM c. Kabel NYAF d. Kabel NYY e. Kabel NYFGbY f. Kabel ACSR g. Kabel AAAC h. Kabel ACAR

i. Kabel BC (Bar Cable)

4. Untuk nomenklatur kabel dapat dilihat pada tabel nomenklatur kabel diatas pada bab dua.

5. Spesifikasi kabel telah ditentukan dalam PUIL 2000 sebagaimana dalam tabel berikut ini :

a. Kabel instalasi dalam tabel di atas tidak boleh dipasang pada atau di dalam tanah, serta tidak boleh pula dipasang sebagai kabel udara.

b. Nilai tegangan pengenal di dalam tanda kurung adalah nilai kerja tegangan tertinggi antara fase dan netral yang diperbolehkan.

c. Untuk kabel berpenghantar tembaga, Nomenklaturnya dimulai dengan huruf N…

6. Rugi tegangan dalam penerangan yang hanya diperbolehkan adalah sebesar 5 persen dari arus nominal. Namun jiga pada instalasi industry seperti motor, rugi tegangannya maksimal sebesar 10 persen.

7. Kemampuan Hantar Arus dipengaruhi oleh suhu penghantar yang di izinkan dan kondisi sekitar sejauh panas yang dipindahkan. Berarti kemampuan hantar arus untuk masing-masing penghantar berbeda ukuran dan spesifikasinya. KHA (Kekuatan Hantar Arus), dengan melihat pada jenis isolasi dan cara pemasangannya; susut tegangan maksimum sesuai impedansi kabel dan karakteristik  beban; kinerja pada hubungan pendek dari arus gangguan yang mungkin terjadi dan karakteristik gawai proteksi; kekuatan mekanik dan pertimbangan fisik lainnya.

8. Menurut PUIL 2000 pasal 7.11.1.1 “Penyambungan antar penghantar harus dilakukan dengan baik dan kuat dengan cara sebagai berikut:

i. Penyambungan selongsong dengan sekrup. ii. Penyambungan selongsong tanpa sekrup. iii. Penyambungan selongsong dipres.

v. Penyambungan dengan lilitan kawat.

vi. Penyambungan las atau las perak (sambungan mati).

vii. Penyambungan puntiran kawat padat dengan memuntir dan memakai las dop.

Menurut PUIL 2000 pasal 7.2 Tentang Identifikasi penghantar dengan warna dijelaskan bahwa :

7.2.1.1 Peraturan warna selubung penghantar dan warna isolasi inti penghantar yang tercantum dalam pasal ini berlaku untuk semua instalasi tetap atau sementara, termasuk instalasi dalam perlengkapan listrik.

Hal tersebut di atas diperlukan untuk mendapatkan kesatuan pengertian mengenai penggunaan sesuatu warna atau warna loreng yang digunakan untuk  mengenal penghantar, guna keseragaman dan mempertinggi keamanan.

7.2.2.1 Warna loreng hijau-kuning hanya boleh digunakan untuk menandai penghantar pembumian, penghantar pengaman, dan penghantar yang menghubungkan ikatan penyama potensial ke bumi.

7.2.3.1 Warna biru digunakan untuk menandai penghantar netral atau kawat tengah, pada instalasi listrik dengan penghantar netral. Untuk menghindarkan kesalahan, warna biru tersebut tidak boleh digunakan untuk menandai penghantar lainnya. Warna biru hanya dapat digunakan untuk maksud lain,   jika pada instalasi listrik tersebut tidak terdapat penghantar netral atau kawat tengah. Warna biru tidak boleh digunakan untuk menandai penghantar pembumian.

7.2.4.1 Untuk pengawatan di dalam perlengkapan listrik disarankan agar hanya digunakan satu warna, khususnya warna hitam, selama tidak bertentangan dengan 7.2.2.1 dan 7.2.3.1. Bila dalam pembuatan dan pemeliharaan perlengkapan tersebut, dianggap perlu menggunakan lebih dari satu warna, maka penggunaan warna lain dan warna loreng lain tidak dilarang. Jika diperlukan satu warna tambahan lagi untuk mengidentifikasi bagian

pengawatan secara terpisah, dianjurkan mendahulukan pemakaian warna coklat.

7.2.6.1 Kabel berselubung berinti tunggal boleh digunakan untuk fase, netral, kawat tengah, atau penghantar pembumian asalkan isolasi kedua ujung kabel yang terlihat (bagian yang dikupas selubungnya) dibalut dengan pembalut berwarna yang dibuat khusus untuk itu, atau dengan cara lain yang memenuhi Tabel 7.2-1.

Guna mendapatkan kesamaan pengenal menggunakan kabel pada instalasi digunakan teknik identifikasi warna atau lambang.

- Fasa 1 L1/R merah U/X - Fasa 2 L2/S kuning V/Y - Fasa 3 L3/T hitam W/Z - Netral N biru

- Pembumian PE Loreng setrip hijau kuning - Kutub positif L+

- Kutub negative L-- Kawat tengah m

9. Aplikasi penggunaan kabel terbagi menjadi beberapa macam menurut kebutuhannya. Diantaranya adalah :

a. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (Sutet) 200 Kv - 500 Kv b. Saluran Udara Tegangan Tinggi (Sutt) 30 Kv – 150 Kv

c. Saluran Kabel Tegangan Tinggi (Sktt) 30 Kv – 150 Kv d. Saluran Udara Tegangan Menengah (Sutm) 6 Kv – 30 Kv

e. Saluran Kabel Tegangan Menengah (Sktm) 6 Kv – 20 Kv f. Saluran Udara Tegangan Rendah (Sutr) 40 Volt – 1000 Volt g. Saluran Kabel Tegangan Rendah (Sktr) 40 Volt – 1000 Volt

DAFTAR PUSTAKA

APEI. 2004.   Materi Kursus / Pembekalan Uji Keahlian Bidang Teknik Tenaga  Listrik Kualifikasi : Ahli Muda. Jakarta : PUK2P.

Diakses dari http://dekop.wordpress.com/2010/09/22/persyaratan-umum-instalasi-listrik/ pada tanggal 4 Maret 2011 pukul 23.00

Diakses dari http://ecaknyo.blogspot.com/2009/08/kemampuan-hantar-arus-kha.html pada tanggal 4 Maret 2011 pukul 23.00

Diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Kabel_listrik pada tanggal 4 Maret 2011 pukul 23.00

Diakses dari http://kamuslistrik.blogspot.com/2010/02/jenis-kabel-dan-nomenklatur-kabel.html pada tanggal 4 Maret 2011 pukul 23.00

Diakses dari http://technoku.blogspot.com/2009/01/jenis-jenis-kabel.html pada tanggal 4 Maret 2011 pukul 23.00

Diakses dari http://www.gtkabel.co.id/ pada tanggal 4 Maret 2011 pukul 23.00

Diakses dari http://www.total.or.id/info.php?kk=kabel pada tanggal 4 Maret 2011 pukul 23.00

John B Robertson (1985). Ketrampilan Teknik Listrik Praktis. Bandung: Penerbit Yrama Widya.

Panitia PUIL. 2000. Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 (PUIL 2000). Jakarta : Yayasan PUIL.

Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) Tahun 2000, Jakarta – LIPI

Setiawan dan Van Harten (1985). Instalasi Listrik Arus Kuat I. Bandung: Penerbit Bina Aksara.

Syam Hardy (1985). Listrik Elektronika Rumah Tangga. Bandung: Penerbit Bina Aksara.

Dalam dokumen Penghantar Listrik (Halaman 37-50)

Dokumen terkait