Al-Qur’an adalah mu’jizat yang diturunkan pada Rasulullah melalui Malaikat Jibril yang diriwayatkan secara mutawatir dan membacanya bernilai ibadah.33
Al-Qur’an merupakan sumber utama dalam ajaran dan kehidupan umat Islam. Al-Qur’an merupakan wahyu (kalamullah) yang disampaikan
Allah kepada Nabi Muhammad SAW.34
Al-Qur’an memiliki banyak faedah lain yang seringkali diabaikan,
yaitu: Al-Qur’an membimbing menuju jalan yang lurus, dikabulkannya do’a khatamul qur’an, di hari kiamat Al-Qur’an akan datang sebagai
syafa’at bagi pengamalnya, menjadi sumber ilmu, media penyelamat dari siksa Allah, dapat menenteramkan dan menenangkan jiwa, mewujudkan keberkahan dan keakraban dengan para malaikat serta menjauhkan dirinya dari setan, bisa memunculkan sakinah, dapat memperkuat daya ingat dan menjaga kemampuan otak, dapat mengobati penyakit hati dan penyakit jasmani, dapat menambah keimanan, mendatangkan pahala besar dari Allah di Hari Kiamat, mendatangkan pahala yang berlipat ganda, dapat menempa akhlak dan meluruskan lisan, dan dapat mencegah malapetaka.35Seperti yang dijelaskan dalam firman Allah QS. Al-Faathir ayat 29 dan Al-A’raf ayat 204 dibawah ini:
33 Mohammad Gufron dan Rahmawati, Ulumul Qur’an: Praktis dan Mudah (Yogyakarta: Teras, 2013), 1.
34Abdul Kodir, Sejarah Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2015), 19.
30
ًةَيِن َلََعَو اًّرِس ْمُهاَنْقَزَر اَّمِم اوُقَفْنَأَو َة َلََّصلا اوُماَقَأَو ِهَّللا َباَتِك َنوُلْتَي َنيِذَّلا َّنِإ
َروُبَت ْنَل ًةَراَجِت َنوُجْرَي
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan rugi”.36
َنوُمَحْرُت ْمُكَّلَعَل اوُت ِصْنَأَو ُهَل اوُعِمَتْساَف ُنآْرُقْلا َئ ِرُق اَذِإَو
Artinya: Dan apabila dibacakan Al-Qur’an,maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat”.37
Penghafal Al-Qur’an disebut dengan sebutan haafidz (bagi laki-laki) dan haafidzah (bagi perempuan). Kata ini berasal dari dari kata haffadza yang artinya menghafal, berarti sebutan ini ditujukan bagi orang yang sudah menghafalkan Al-Qur’an. Tata cara perilaku seseorang yang
telah menetapkan diri menjadi penghafal selanjutnya dibimbing oleh pemahaman terhadap apa yang telah dipelajari dan dikuasainya yaitu
Al-Qur’an dan Sunnah.38Orang yang menyibukkan diri dengan menghafal Al-Qur’an dan meminta kepada Allah, pasti Allah akan memberinya yang
terbaik daripada yang ia minta.39
36Pustaka Al-Hanan, Al-Qur’an dan Terjemahan…, 437.
37Pustaka Al-Hanan, Al-Qur’an dan Terjemahan…, 176.
38 Lisya Chairani dan Subandi, Psikologi santri penghafal Al-Qur’an: Peranan Regulasi Diri,
38.
39Syeikh Muhammad, Etika Membaca dan Mempelajarai Al-Qur’an Al-Karim (Bandung: CV Pustaka Setia, 2003), 42.
31
Para penghafal Al-Qur’an terikat oleh beberapa kaidah penting di
dalam menghafalyaitu:
a. Ikhlas, bermakna bahwa seseorang akan meluruskan niat dan tujuan menghafal Al-Qur’annya semata-mata untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Niat yang tidak lurus sejak awal seperti menginginkan popularitas dan mengharapkan pujian akan mempersulit penghafal dalam proses menghafal Al-Qur’an bahkan
tindakannya dikategorikan sebagai pembuat dosa.
b. Mempebaiki ucapan dan bacaan, meskipun Al-Qur’an menggunakan
Bahasa Arab akan tetapi melafadzkannya sedikit berbeda dari penggunaan Bahasa Arab populer, oleh karena itu mendengarkan terlebih dahulu dari orang yang bacaannya benar menjadi suatu keharusan.
c. Menentukan presentasi hafalan setiap hari. Kadar hafalan ini sangat penting untuk ditentukan agar penghafal menemukan ritme yang sesuai dengan kemampuannya dalam menghafal. Setelah menentukan kadar hafalan dan memperbaiki bacaan maka wajib bagi penghafal untuk melakukan pengulangan secara rutin.
d. Tidak dibenarkan melampaui kurikulum harian hingga hafalannya bagus dan sempurna. Tujuannya dari anjuran ini adalah agar tercapai keseimbangan, bahwa penghafal Al-Qur’an juga disibukkan dengan
32
sempurna tidak akan terganggu dengan hafalan yang baru dan kesibukan yang dihadapi.
e. Konsisten dalam satu mushaf. Alasan kuat dalam penggunaan satu mushaf ini adalah bahwa manusia mengingat dengan melihat dan mendengar sehingga gambaran ayat dan juga posisinya dalam mushaf dapat melekat kuat dalam pikiran.
f. Pemahaman adalah cara menghafal. Yang dibaca merupakan bantuan yang sangat berharga dalam menguasai materi. Oleh karena itu, penghafal Al-Qur’an selain harus melakukan pengulangan secara
rutin, juga diwajibkan untuk membaca tafsiran ayat yang dihafalkan.40 g. Jangan melampaui surat hingga terkait atau terikat antara awal dan
akhir surat. Setelah menyelesaikan suatu surat, seorang penghafal jangan berpindah pada surat lain terlebih dahulu kecuali setelah menyempurnakan hafalannya dan mengikat awal surat dengan akhirnya.
h. Memperdengarkan bacaan secara rutin. Tujuannya dari kegiatan adalah untuk membenarkan hafalan dan juga berfungsi sebagai kontrol terus menerus terhadap pikiran dan hafalannya.
i. Mengulangi secara rutin. Penghafal Al-Qur’an berbeda dengan
penghafal yang lain karena Al-Qur’an cepat hilang dari pikiran.
40Lisya Chairani dan Subandi, Psikologi santri penghafal Al-Qur’an: Peranan Regulasi Diri,
33
j. Perhatian pada ayat-ayat yang serupa. Al-Qur’an itu sering kali serupa
dalam makna, lafadz, dan ayatnya.
k. Penggunaan tahun-tahun yang tepat untuk menghafal, yang benar-benar telah disepakati yaitu dari umur 5 tahun hingga kira-kira 23 tahun. Alasannya, manusia pada usia ini daya hafalannya bagus sekali, bahkan masa ini merupakan tahun-tahun menghafal yang tepat. 41
Berdasarkan kaidah-kaidah tersebut, terdapat beberapa metode menghafal yang berlaku secara umum yaitu dengan mengulang-ulang bacaan sampai seseorang dapat melafadzkan tanpa melihat mushaf
Al-Qur’an. Sa’dullahmemaparkan beberapa metode yang biasanya digunakan oleh penghafal Al-Qur’an:42
a. Bin- nazhar yaitu: membaca dengan cermat ayat-ayat Al-Qur’anyang
akan dihafalkan dengan melihat mushaf secara berulang-ulang b. Tahfizh yaitu: melafalkan sedikit demi sedikit ayat-ayat Al-Qur’an
yang telah dibaca berulang-ulang pada saat bin-nazhar hingga sempurna dan tidak terdapat kesalahan. Hafalan selanjutnya dirangkai ayat demi ayat hingga hafal.
c. Talaqqi yaitu menyetorkan atau memperdengarkan hafalan kepada seorang guru atau instruktur yang telah ditentukan.
41 Ahmad Salim Badwilan, Panduan Cepat Menghafal Al-Qur’an (Jogjakarta: DIVA Press, 2009), 116.
42 Lisya Chairani dan Subandi, Psikologi santri penghafal Al-Qur’an: Peranan Regulasi Diri,41.
34
d. Takrir yaitu mengulang hafalan atau melakukan sima’an terhadap
ayat yang telah dihafal kepada guru atau orang lain. Takrir ini bertujuan untuk mempertahankan hafalan yang telah dikuasai.
e. Tasmi’ yaitu memperdengarkan hafalan kepada orang lain baik
kepada perseorangan ataupun jama’ah.
Ada beberapa langkah praktis dalam menghafal Al-Qur’an antara
lain:43
a. Ambillah air wudhu dan sempurnakan wudhu anda, lakukan shalat dua rakaat, lalu berdoalah kepada Allah agar memudahkan anda dalam menghafal Al-Qur’an.
b. Batasi kuantitas hafalan setiap hari dan pembacaannya dengan tepat. c. Bacalah makna-makna kalimat yang anda hafal dan sebab turunnya
(asbabun nuzul) dalam kitab Mukhtasar Tafsir ath-Thabari, atau kitab lainnya.
d. Jangan melampaui silabi hafalan harian anda hingga anda memperbagus hafalan tersebut.
e. Janganlah pindah pada silabi hafalan yang baru kecuali jika telah menyempurnakan silabi hafalan lama.
f. Janganlah melampaui surat hingga anda mengikat yang pertama dengan yang terakhir.
35
g. Perhatikan ayat-ayat yang serupa: hal itu bisa dimungkinkan dengan banyak membacanya dalam kitab-kitab, dan kitab yang paling terkenal adalah kitab ‘Awn ar-Rahman karya Abu Dzar al-Qalmuni. h. Konsistenlah pada satu model untuk mushaf hafalan anda.
i. Tulislah apa yang anda hafal serta kenali tempat kesalahnnya. j. Ketika ada waktu senggang, iringi waktu itu dengan sesuatu yang
dibolehkan atau melakukan suatu bentuk ketaatan, seperti puasa, shadaqah, dan shalat.
k. Ulangi apa yang telah anda hafal ketika dalam perjalanan menuju masjid, sekolah, atau tempat pekerjaan.
l. Lakukanlah shalat dua rakaat dan bacalah apa yang anda hafal selama sehari itu.
m. Pada hari berikutnya, bacalah apa yang telah anda hafal di luar kepala sekali lagi, serta melalui (dengan melihat) mushaf untuk kedua kali, sebelum berencana memulai hafalan baru.
n. Jadikan satu hari dalam seminggu untuk mengulang-ulang apa yang telah anda hafal selama satu minggu itu.
Sedangkan menurut kitab Ta’limul Muta’allim ada beberapa
metode dalam menghafal Al-Qur’an yaitu:44
a. Hendaklah menentukan target yang pas untuk hafalannya sendiri
44 Aliy As’ad, Terjemah Ta’limul Muta’allimBimbingan Bagi Penuntut Ilmu Pengetahuan
36
b. Dianjurkan agar menghafal hari kemarin diulang lima kali, pelajaran lusa diulang empat kali, pelajaran kemarin lusa tiga kali, pelajaran hari sebelum itu dua kali, dan pelajaran hari sebelumnya lagi cukup satu kali
c. Hendaknya tidak membiasakan suara lirih/membisik dalam menghafal.